13. Debaran

1601 Kata
Zeta tak henti meremat kedua tangannya ketika ia berada di lift yang akan mengantarkannya ke puncak gedung. Pikirannya terus berkelana dengan jantung yang semakin berdetak dua kali lebih cepat. Takut ... sungguh saat ini ia sedang ketakutan. Hana saja sampai semarah itu, apalagi dirinya yang benar-benar melakukan kesalahan? Ia pasti akan habis.   Zeta terjengit ketika mendengar suara lift terbuka, ia mengerjapkan matanya sesaat sebelum menghembuskan nafasnya perlahan lalu berjalan ke arah satu-satunya pintu yang berada di sana. Tanpa berpikir dua kali lagi Zeta menekan bell, membiarkan lelaki itu melihat wajahnya di intercom.   Jantungnya semakin berdebar ketika pintu tak kunjung dibuka. Ketika ia hendak menekan bell lagi berasamaan dengan itu suara pintu terdengar dibuka. Zeta kembali terjengit, terkejut dengan suara itu. Jantungnya hampir meloncat jatuh, keringat dingin pun mulai terasa membanjirinya. Takut ... di tambah dengan gugup yang semakin melanda kesadarannya.   Mata Zeta membulat ketika melihat lelaki yang akan ia temui berdiri tepat dihadapannya, menatapnya dengan begitu intens dengan tatapan yang sulit di artikan. Lelaki itu tiba-tiba terasa menjulang tinggi. Membuatnya merasa semakin kecil dan semakin terintimidasi.   Zeta membasahi bibirnya sebelum membungkuk memberi salam lalu kembali menatap lelaki itu. “Selamat siang Mr. Kendrick. Saya datang untuk menyampaikan permohonan maaf saya sendiri. Saya ... .”   “Kenapa hari ini banyak sekali yang meminta maaf padaku?”   “Hng?” Zeta mengerjapkan matanya beberapa kali. Apakah ada yang salah dengan ucapannya? Kenapa Mr. Kendrick menyela? Kenapa lelaki itu seolah tak ingin mendengarkan permintaan maafnya?   Apakah kesalahannya begitu fatal?   “Jika kau mengatakan maaf untuk kesalahanmu kemarin. lupakan. Aku sudah memaafkanmu.”   “Hah?” sekali lagi Zeta mengerjapkan matanya. Masih tak mengerti dengan semua hal yang ia dengarkan. Jika memang ia sudah dimaafkan mengapa Hana datang-datang terlihat marah? Lelaki ini ... berbuat apa pada manager-nya?   “Aku sudah memaafkanmu.” Ujar lelaki itu seraya tersenyum.   Deg!   Senyuman itu ...   Zeta menggelengkan kepalanya sesaat ketika sekelebat bayangan masa lalunya muncul. Tidak tak mungkin lelaki dihadapannya ini adalah lelaki yang ia pikirkan. Tidak. Sangat tidak mungkin.   Sebab ... jika lelaki dihadapannya ini adalah lelaki yang ia cari. Tak mungkin dia tak mengenalnya. Tak mungkin lelaki dihadapannya ini akan bersikap begitu dingin padanya.   “Zeta?”   “Hah? Ah! Maafkan saya Mr. Kendrick. Maaf ... .”   “Kau terlalu banyak meminta maaf.”   “Ma—af?” Zeta mengatupkan bibirnya ketika melihat tatapan dingin itu menusuk matanya, iris matanya bergulir mengalihkan pandangan ke arah lain. Kemanapun asal bukan pada iris mata lelaki itu.   Sekarang ... jika sudah mengatakan ini apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia pulang? Tapi ... entah kenapa ia enggan. Ia masih ingin melihat lelaki dihadapannya ini. Ia masih ingin melihatnya. Haruskah ... ia meminta untuk tinggal beberapa waktu?   Zeta! Jangan gila.   Zeta menggeleng kecil lalu menatap lelaki itu lagi. “Mr. Kendrick aku—.”   “Kebetulan kau di sini. Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan.”   Mata Zeta sekali lagi mengerjap, tak percaya dengan semua yang baru ia dengar. Apakah lelaksi itu bisa membaca pikirannya? Atau mendengar isi hatinya? Bagaimana bisa dia ... memintanya tinggal sementara itu yang ia inginkan?”   “Kita berbicara di luar saja. Bagaimana? Agar lebih santai.”   Zeta tak bisa menjawab ucapan lelaki itu, ia hanya mengangguk kecil kemudian mengikuti langkah lebar lelaki itu menuju bagian belakang penthouse yang ternyata terdapat sebuah gazebo, kolam renang dan juga beberapa kursi layaknya kursi dipinggir pantai.   Udara segar berhembus menerpa wajahnya, perlahan menghilangkan rasa ketakutan yang bersarang dalam hatinya.   “Duduk. Minumlah.” Lelaki itu memberikannya segelas cocktail yang baru saja diantar oleh pelayan.   Zeta menyesap minuman itu sedikit sebelum menyimpannya kembali di atas meja. Ia meneguk ludahnya kasar lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika iris matanya bertemu dengan iris mata lelaki itu yang sedang menatapnya.   Entah mengapa ... setiap kali ia mengalihkan pandangan ke arah lelaki itu, selalu saja iris mata mereka bertemu. Satu kali, dua kali bahkan hingga tak terhitung ia melirik lelaki itu. Selalu saja iris mereka bertemu seolah lelaki itu tak mengalihkan pandangannya sedikitpun darinya.   Jantungnya mulai menggila, debarannya mulai tak normal, hatinya mulai berdesir hangat, dadanya terasa penuh hingga kehangatan dalam hatinya merambat menghangatkan wajahnya. Zeta membasahi bibirnya lagi ketika benar-benar menyadari bahwa lelaki dihadapannya itu tak mengalihkan sedikitpun pandangan darinya.   Ada apakah ini? Apakah ada sesuatu di wajahnya? Ataukah sekarang ia tampak konyol? Zeta menunduk menatap penampilannya sendiri, beberapa saat kemudian ia meringis dalam hati ketika menyadari penampilannya yang tak ada sopan-sopannya sama sekali.   Lagi dan lagi. Mengapa ia harus ceroboh lagi? Kenapa tadi ia tak mengganti pakaian dulu?   Bodoh! Dasar bodoh!   Oh sudah lupakan. Ini sudah terlanjut sekarang saatnya fokus berbicara dengan lelaki itu. ia harus segera menyelesaikan pertemuan ini lalu pulang dan berjuang habis-habisan untuk menyibukkan diri agar ia tak perlu bertemu dengan lelaki itu lagi.   Zeta menatap pemandangan kota yang terlihat sangat sibuk namun begitu indah karena langit yang tampak begitu cantik.   “Cantik sekali. Sangat indah.”   “Ya ... cantik. Memang sangat cantik.”   Zeta tersenyum lebar kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke arah lelaki itu. Berharap lelaki itu memandang apa yang ia lihat. Tapi ternyata ... lelaki itu masih saja menatapnya.   Jadi ... maksudnya?   “Langitnya sangat cantik.”   Oh Zeta! Sepertinya kau sudah terlalu percaya diri.   Zeta kembali tersenyum seraya mengangguk. “Benar Mr. Kendrick. Langitnya memang begitu cantik. Anda pandai sekali memilih hunian. Tampak begitu indah bisa menjadi salah satu tempat untuk menenangkan diri.”   Zeta kembali meringis dalam hatinya. Oh tidak. Apa yang baru saja ia katakan itu? Kenapa terdengar sangat aneh?   . . .     Sementara di sisi lain Jeffrey tak bisa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Zeta. Iris matanya menatap Zeta dengan intens, merekam setiap detik moment indah yang tergambar dihadapannya. Jeffrey benar-benar tak melewatkannya satupun, ia terus memandangnya, melihat bagaimana perempuan itu berkedip, menggigit bibir, mengerjapkan mata karena terkejut. Jeffrey merekam semuanya, menyimpan semuanya dalam memori indah dalam kepalanya.   Jeffrey tak berusaha berpaling sekalipun perempuan itu menatapnya sesaat sebelum menatap pemandangan yang dia lihat lagi. Wajah perempuan itu perlahan merona, bersemu merah, membuat perempuan itu tampak begitu manis. Apakah di sini terlalu panas? Kenapa wajahnya menjadi merah begitu?   “Cantik sekali. Sangat indah.”   Jeffrey menarik ujung bibirnya. “Ya ... cantik. Memang sangat cantik.” Ujarnya dengan iris mata yang tak lepas dari paras cantik itu.   Zeta kembali menatapnya dengan mata yang sedikit membulat. Ia menghembuskan nafasnya perlahan lalu mengalihkan pandangannya ke arah langit yang tampak begitu biru.   “Langitnya sangat cantik.”   “Benar Mr. Kendrick. Langitnya memang begitu cantik. Anda pandai sekali memilih hunian. Tampak begitu indah bisa menjadi salah satu tempat untuk menenangkan diri.”   Jeffrey terkekeh kecil setelah mendengarnya. Andai perempuan itu tahu ia tinggal di sini hanya karena ingin semakin dekat dengannya, dia mungkin tak akan mengatakan itu. Dia mungkin akan menganggapnya aneh atau bahkan menjauhinya.   “Zeta aku membawamu kemari untuk berbicara tentang pekerjaan bukan memandangi langit.”   “Ah ya ... Ma—.”   “Stt ... jangan mengatakan maaf lagi.” Jeffrey menghembuskan nafasnya lalu bersandar pada kursi kayu itu, dengan iris mata yang kembali menatap iris mata pujaan hatinya itu.   “Aku hanya ingin memastikan, apakah kau sudah tahu aturan baru perusahaan?”   “Dilarang berinteraksi dengan idol laki-laki?”   “Ya ... kau tahu kenapa aku seperti itu?”   “Tentu saja karena anda tak ingin anda rugi. Sebab jika ada skandal tentu saja akan sangat merugikan pihak anda sebagai pemegang saham terbesar.”   Dan ... tentu karena aku ingin menjauhkanmu dari b******n tengik itu.   Jeffrey menyunggingkan senyumannya. “Bagus jika kau mengerti. Pastikan tak ada kontak dengan idol laki-laki, ingatkan seluruh membermu.”   Zeta tersenyum lagi kemudian mengangguk. “Tentu Mr. Kendrick saya akan selalu mengingatkan mereka semua.”   “Apa kau keberatan dengan aturan itu?”   “Tidak.” Zeta menarik ujung bibir. “Aku justru merasa bersyukur dengan adanya aturan itu. Aku merasa sangat terlindungi.”   “Baguslah, aku senang mendengarnya.”   “Hng?” Zeta menatapnya dengan kening mengerut. “Senang?”   Jeffrey menghembuskan nafasnya lalu kembali tersenyum. “Ya ... senang. Dengan begitu aku tak perlu merasa dirugikan bukan?”   “Ah! Ya ... tentu saja.”   “Bagaimana dengan persiapan konser? Jika kau membutuhkan sesuatu dan dirasa properti di panggung kurang kau bisa katakan pada asistenku, Anton. Mintalah bantuan dia untuk mengurus semuanya.”   “Terimakasih Mr. Kendrick atas perhatian anda. Saya akan mengatakannya jika memang tidak tertangani agensi dengan baik. Hm ... apakah masih ada yang ingin anda sampaikan Mr. Kendrick? Mohon ma—ah maksudku.”   Jeffrey terkekeh dengan kepala menggeleng. Lucu sekali melihat perempuan itu kebingungan, wajah merona malu itu benar-benar menggemaskan di matanya. “Tidak. hanya itu saja. Kau bisa pergi sekarang.”   “Terimakasih Mr. Kendrick. Kalau begitu saya pamit.”   “Aku antar.”   “Tapi ... .”   “Aku memaksa.”   Jeffrey menggiring Zeta, berjalan berdampingan ke arah pintu, mengantarkan perempuan itu hingga memasuki lift. Jeffrey menatap Zeta seraya menarik ujung bibirnya, tersenyum samar.     Setelah memastikan perempuan itu sampai di lantai dorm-nya. Ia pun kembali beranjak memasuki huniannya. Senyuman Jeffrey mengembang sempurna ketika merasakan buncahan kebahagiaan dalam dirinya meletup-letup tak tertahankan lagi.   Dadanya terasa begitu penuh, setiap ruang dalam hatinya kini terisi tanpa ada celah kosong sama sekali, jantungnya juga terus berdetak dua kali lebih kencang, menambah sensasi kebahagiaan yang menyelimuti hatinya.   “Anton ... sepertinya aku sudah tahu apa yang aku rasakan.” Jeffrey duduk disamping sahabatnya itu.   Anton yang masih menikmati makan siangnya menoleh dengan kening berkerut. “Maksudmu?”   Jeffrey menatap Anton dengan senyuman yang masih tersungging begitu lebar. “Aku sadar ... Aku bukan terobsesi padanya Anton. Tapi ... .”         “Aku ... jatuh cinta pada Zeta.”        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN