“Kau tampak bahagia Jeff?”
Jeffrey memandangi ibu-nya yang berada di layar iPad-nya, di ujung panggilan video mereka. Jeffrey kembali tersenyum seraya mengangguk kecil. “Aku tak pernah merasa sebahagia ini Ma. Apakah sangat jelas?”
“Terlihat sangat jelas. Bagaimana kabarmu? Sepertinya ... kau menyesuaikan diri dengan baik di sana.”
“Tentu. Ternyata tak seburuk itu Ma. Di sini, mereka menyambutku dengan baik juga. Sama seperti di sana.” Jeffrey kembali tersenyum.
“Jeff ... .” panggil Ibu-nya dengan begitu lembut.
“Kenapa Ma?” Jeffrey mengamati wajah sang Ibu. Sejak panggilan video tersambung, sejujurnya ia menyadari sesuatu yang aneh dari raut wajah sang ibu. Tapi ia belum bisa bertanya. Ia hanya mengikuti alur sesaat sebelum melayangkan pertanyaan yang sejak beberapa menit lalu bersarang dalam pikirannya.
“Apakah sesuatu mengganggu pikiranmu?”
Perempuan paruh baya itu menggeleng kecil. “Mama hanya merindukanmu. Ini pertama kalinya kau berada jauh dari Mama. Mama jadi merasa ... kehilangan.”
“Ma ... bukankah Mama senang akhirnya aku bisa berada di sini? Apakah sekarang berubah pikiran?”
Samantha menghela nafas panjang, pandangannya teralih sesaat sebelum menatapnya lagi. Ibunya itu terlihat sekali sedang bingung, terlihat bimbang dan memikirkan banyak hal yang di sembunyikan. Tapi ... apa? Ini aneh. Tak biasanya Samantha akan seperti ini.
“Ma ... apakah Jeff harus pulang sekarang?”
“Bagaimana tentang ... perempuan yang Anton ceritakan? Kau ... mulai dekat dengannya?”
Jeffrey kembali tersenyum. “Kau mengalihkan pembicaraan Ma. Tapi jika memang kau ingin mengetahuinya aku akan menjawab. Aku tak tahu ini mulai dekat atau tidak. Namun setidaknya kami mulai berbicara beberapa kali. Sayang sekali kami belum berbicara lagi. Beberapa minggu ini aku sibuk di perusahaan, aku sedang merancang project baru jadi aku begitu sibuk. Dia pun ... dia sedang sibuk dengan pekerjaannya.”
“Pekerjaan apa itu?”
“Aku hanya sedang ... .”
“Maksudku perempuan itu. Pekerjaan apa yang dilakukan perempuan itu?
Ah! Sekarang ia sadar, ini yang mengganggu pikiran ibunya. Namun ia tak yakin ibunya tak tahu pekerjaan Zeta setelah melihat bagaimana raut khawatir yang terpatri jelas pada wajah cantiknya itu, Ia yakin ibunya bahkan sudah tahu semuanya sekalipun tanpa ia jelaskan.
“Baiklah jika kau tak ingin memberitahu.”
“Dia seorang penyanyi, artis, idol.” Jawab Jeffrey.
Samantha menghela nafas panjang seraya menatap Jeffrey dengan tatapan yang penuh rasa khawatir. Iris matanya bahkan berkaca-kaca, terlihat sekali bahwa perempuan itu sangat mengkhawatirkan puteranya.
“Kau yakin dengan keputusanmu mencintainya Jeff?”
“Ma ... Aku tidak pernah sey—.”
“Mama akan mendukungmu berhubungan dengan siapapun Jeff, perempuan dengan pekerjaan apapun atau bahkan perempuan yang tidak bekerja sama sekali, Mama akan mendukungmu. Tapi tidak dengan perempuan yang memiliki profesi seperti itu.” Samantha memotong ucapan Jeffrey dengan cepat.
“Maksud Mama? Ma ... Sekalipun dia hanya seorang idol tapi dia perempuan yang baik. Dia bukan perempuan yang buruk. Mama bahkan tak tahu siapa perempuan itu, Mama tak tahu apapun tentangnya. Bagaimana bisa Mama ... melarangku?”
“Jeff ... Mama melakukan ini demi kebaikanmu. Kau ... hanya akan makan hati. Kau hanya akan cemburu setiap saat. Kau ingat Jeff? Kau pencemburu, kau bahkan cemburu saat kucingmu dekat dengan kucing tetangga kita. Kau langsung mengurungnya sampai kucingmu tak bisa ke rumah tetangga kita lagi. Lalu bagaimana kau akan mengatasi perempuan itu? Kau tak bisa mengurungnya seperti kau mengurung kucingmu!”
“Ma ini berbeda! Perempuan itu ... dia manusia. Bukan kucing.”
“Lantas apa yang akan kau lakukan saat kau cemburu nanti?” Jeffrey menatap iris mata ibunya yang tampak khawatir. Ia tahu ... ibunya melakukan ini karena menyayanginya. Ia tahu itu. Sebab seumur hidupnya ia tak pernah mendapatkan penolakan apapun selain demi kebaikannya, selain karena mereka mencintainya.
Tapi kali ini ... Ia ingin membantah.
“Aku akan mengatasinya sendiri.”
“Bagaimana Jeff? Bagaimana kau akan mengatasinya sendiri? Kau hanya akan menggila karena cemburu! Terlebih jika kau tak bisa melakukan apapun padanya.” Samantha mengatur nafasnya beberapa saat sebelum menghembuskan nafas.
“Jeff ... kau sadar bukan, artis itu pekerjaan macam apa? Dia bisa berpasangan dengan lelaki manapun, kapanpun dan dimanapun ketika dia harus dituntut profesional.”
“Aku pun akan profesional jika itu memang pekerjaan.”
“Kau tak akan cemburu? Kau tak akan sakit hati?”
Jeffrey meneguk ludahnya kasar seraya membasahi bibirnya yang tiba-tiba merasa kering. Apakah ia tak akan cemburu? Apakah ia tak akan sakit hati?
Jeffrey mengangguk penuh keyakinan. “Aku. Tak akan pernah cemburu. Aku. Tak akan pernah merasakan hal itu jika memang hanya sebatas pekerjaan.”
Samantha kembali menghela nafas panjang kemudian menyunggingkan senyumannya. Tampak begitu lembut dan tenang.
“Baiklah ... jika memang itu pilihanmu. Mama tak akan keberatan.” Samantha tersenyum lagi. “Tapi ... jika terjadi sesuatu padamu. Mama tak akan pernah segan-segan memisahkan kalian, Mama tak akan peduli lagi kau membantah Mama atau tidak. Kau mengerti?”
Jeffrey terkekeh kecil seraya membelai layar iPad-nya. “Iya Ma iya ... lakukan apapun sesukamu. Di sini, aku akan memastikan aku baik-baik saja dan ... aku akan memastikan, aku membawanya kerumah kita untuk bertemu dengan kalian sebagai calon menantu.”
Samantha kali ini terkekeh kecil. “Kau sangat percaya diri Jeff.”
“Tentu saja. Kepercayaan diriku membawa keberuntungan.”
Perbincangan pun terus berlanjut, Samantha membicarakan banyak hal yang terjadi padanya saat tak bersama dengan Jeffrey, begitu pula dengan Jeffrey, ia menceritakan apapun dengan senyuman yang merekah sekalipun hatinya terasa mengambang, bimbang setelah perbincangan sebelumnya.
***
Hari itu hari dimana konser akan digelar. Seluruh penonton sudah berkumpul memenuhi dome yang akan menjadi saksi betapa hebatnya pergelaran konser tersebut. Tak ada kursi kosong, bahkan masih banyak penonton tersisa diluar dome yang tidak mendapatkan tiket sama sekali. Semuanya benar-benar hebat, terlihat sangat sempurna.
“Aku tak berharap apapun selain hari ini berjalan dengan lancar.” Ujar Zeta seraya mendudukkan dirinya di atas sofa yang berada di tengah ruangan.
Kedua tangannya mengatup, saling meremat, gugup. Ia takut penampilannya akan mengecewakan apalagi setelah kejadian dua hari yang lalu ketika berlatih cederanya kambuh. Ia semakin takut, ia benar-benar ketakutan tak akan melakukan semua hal di panggung dengan sempurna.
“Zeta ... apa yang kau pikirkan?” Summer duduk di sampingnya. “Kau tampak sangat gugup.”
“Memang kau tidak?”
“Aku gugup. Tapi kau tampak lebih gugup dari biasanya.” Summer duduk menghadap Zeta. “Apa yang mengganggu pikiranmu?”
Zeta menghela nafas panjang. “Aku hanya takut penampilanku mengecewakan.”
“Kau tak pernah mengecewakan Zeta. Tak pernah ada satu orangpun yang kecewa dengan penampilanmu. Jadi jangan berpikir berlebihan hm? Kau tahu terkadang semua hal akan terjadi sesuai prasangkamu? Jadi jangan sampai semua yang kau pikirkan benar-benar menjadi kenyataan. Fokuslah. Aku yakin. Kau akan tampil hebat.”
Zeta mengangguk kecil. Benar. Ia tak boleh berpikiran buruk. Ia harus fokus demi penampilannya. “Terimakasih Summer.”
“Eonni.” Nia datang mendekat dengan ponsel di tangannya. “LED ucapan selamat ulang tahun untukmu sudah dipasang. Kau sudah melihatnya? Lihat ... sangat indah. Seluruh New York, China dan Korea tahu kau berulang tahun.”
Zeta terkekeh kecil seraya menggelengkan kepalanya. “Kau ini, kalian juga sering mendapatkannya.”
“Yang tak biasa itu hadiah Van dari Mr. Kendrick.” Balas Summer seraya menegrlingkan matanya. “Katakan padaku, kau ada hubungan apa? Kenapa dia memberikan Van padamu hm? Ayo ngaku!”
Zeta membulatkan matanya. “Apa maksudmu? Kau kan sudah dengar dari asistennya itu hadiah untuk kita semua, fasilitas perusahaan. Bukan hadiah untukku.”
“Tapi yang membuatku penasaran satu hal. Aku penasaran hadiah seperti apa yang akan di kirimkan Mr. J-mu itu Eonni. Setelah perhiasan dua bulan lalu. Aku yakin hadiah ulang tahun untukmu pasti lebih hebat.” Ujar Lucy yang masih berias.
Mr. J? Zeta menyunggingkan senyumannya. Setelah hari itu ia belum melihat posting-an terbaru lagi dari Mr. J. Orang itu seolah menghilang entah kemana. Ia pun tidak terlalu memikirkan orang itu sebenarnya, ia hanya fokus berlatih dan berlatih.
“Mungkinkah hari ini dia datang?” tanya Nia.
Zeta termenung. Apakah dia datang? Ia tak yakin. Dia berbeda Benua dengannya, tak mungkin dia datang hanya untuk konsernya saja bukan?
Tok tok tok!
Zeta mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Seketika ia berdiri begitu juga semua orang yang berada di ruangan itu.
“Selamat datang Mr. Kendrick.” Sapa Hana. “Apa yang membawa anda datang?”
“Aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja. aku akan memantau dari monitor.” Ujar lelaki itu.
Zeta meneguk ludahnya kasar, mendadak gugup setelah mendengar kalimat itu. Matanya mengerjap sesaat ketika lelaki itu menatapnya selama beberapa detik lalu berujar pelan.
“Good luck.” Ujar lelaki itu sebelum beranjak kembali meninggalkan ruangan tersebut.
Fiuh ...
Beberapa orang menghela nafas hampir bersamaan. Begitu juga dengan Zeta. Kenapa ... lelaki itu masih saja terasa sangat mengintimidasi?
“Menakutkan.” Ujar Chloe.
Ya ... sangat menakutkan. Pikir Zeta.
“Kita bersiap. Lima menit lagi akan segera dimulai.” Ujar salah satu staff.
Ketujuh member, tiga manager dan beberapa bodyguard sudah bersiap di belakang panggung, setelah berhias mereka berkumpul saling menautkan tangan dalam keheningan. Berdo’a dengan penuh rasa khidmat sebelum ketujuh member menaiki panggung dengan penuh percaya diri.
***
Jeffrey menikmati pembukaan hingga setengah konser itu. Melihat bagaimana penampilan Zeta membuatnya benar-benar puas. Perempuan itu tampil begitu maksimal dan tidak mengecewakan sama sekali. Mereka semua benar-benar baik, lebih baik daripada yang ia pikirkan. Apalagi Zeta. Suara indahnya, ekspresi wajahnya dan juga lenggokan tubuhnya, sangat sempurna, benar-benar sempurna. Tanpa ada cacat sedikitpun.
“Seharusnya aku berada di bangku penonton. Bukan menondon di sini bersamamu. Membosankan.” Keluh Anton yang sejak beberapa menit lalu hanya bersandar pada kursi, tak bersemangat.
“Jika begini apa bedanya dengan nonton dari rumah?” keluh Anton lagi.
Jeffrey mendelik. “Aku tak pernah memintamu bergabung denganku di sini Anton. Keluarlah kalau kau memang ingin melihat langsung.”
Anton memutar bola matanya seraya melipat kedua tangan di d**a. “Telat.”
Jeffrey menghela nafas panjang seraya mengalihkan pandangannya kembali pada layar di hadapannya. Memokuskan perhatiannya pada penampilan-penampilan solo setiap member. Semua member terus bergantian, kini Ella sedang tampil kemudian tersisa Zeta yang akan tampil terakhir.
“Suara Ella benar-benar indah.” Ujar Anton. “Aku jadi penasaran penampilan seperti apa lagi yang akan Zeta lakukan. Pasti ... hot!” desis Anton tepat di telinga Jeffrey.
Jeffrey mendelik menatap Anton. “Apa maksudmu? Jangan berkata yang tidak-tidak.”
Anton mengedikkan bahunya. “Kau tak pernah menonton konser mereka. Jadi ... lihat saja. Kau akan sangat terkejut melihatnya Jeff. Jangan salah jika setelah itu kau kepanasan.”
Jeffrey mendelik lagi pada Anton yang tersenyum penuh godaan. Ingin sekali ia memukul sahabatnya itu, tapi ia sadar ia sedang di ruang publik. Bisa-bisa ia dikatakan melakukan kekerasan.
“Lihat. Itu dia.”
Jeffrey mengalihkan pandangan ke arah layar kembali. Zeta masuk dengan seorang dancer laki-laki. Perempuan itu ternyata melakukan sexy dance, saling menyentuh, bahkan tak sungkan saling memeluk satu sama lain. Anton benar-benar tak main-main ketika mengatakan ia akan terkejut. Ia benar-benar terkejut melihanya, sangat. Hatinya panas, bergemuruh bagaikan lava gunung yang siap meletus.
Iris matanya tak salah ketika melihat Zeta dengan lihai mengaitkan kaki kanannya pada pinggang lelaki itu, meremat rambut hingga berbaring di atas panggung sebelum pencahayaan di panggung memadam.
BRAK!
Jeffrey berdiri dengan nafas yang memberat. Rahangnya mengatup, kedua tangannya terkepal dengan begitu erat. Letupan dalam hatinya benar-benar semakin membesar, semakin bergemuruh terasa begitu panas hingga puncak kepalanya.
“Hei Jeff! Ada apa?”
Jeffrey menghempaskan tangan Anton ketika lelaki itu mencengkram tangannya, setelahnya ia berjalan keluar dari area tersebut.
Ketika ia mengibaskan tirai pembatas, bertepatan dengan itu pula Zeta turun dari panggung bersama dengan dancer laki-laki tadi.
Rahangnya semakin mengatup, hingga menggerutuk mengeluarkan suara. Saat ini dadanya benar-benar panas, terasa begitu sempit dengan nafas yang semakin memburu menyalurkan seluruh emosi menuju kepalanya. Kakinya maju satu langkah hampir saja menghampiri perempuan itu. Sedetik kemudian ia melangkah mundur, balik kanan meninggalkan tempat itu dengan luapan emosi yang hampir meledakkan kepalanya.
Sepertinya perkataan ibunya memang benar, ia tak akan sanggup. Ia tak akan sanggup jika setiap saat harus menahan cemburu ketika melihat Zeta berpasangan dengan lelaki lain. Ia tak akan sanggup menghadapi ini semua. Tak akan pernah.