“Ada apa denganmu Jeff?” tanya Anton begitu lelaki itu memasuki ruangannya.
Jeffrey menghembuskan nafas kasar kemudian bangkit lalu duduk di atas sofa. Beberapa hari ini mood-nya memang sangat buruk. Dimulai dari akhir pekan kemarin ketika ia harus melihat Zeta berpenampilan seksi di atas panggung, hingga lima hari berlalu ia masih saja merasa buruk. Hatinya masih terasa panas, amarahnya pun masih menggunung, semakin menggila disetiap harinya.
Setelah itu semua yang ia lihat serba salah, sekuat tenaga ia menahan amarahnya itu amarahnya tetap meledak ketika pekerjaan yang ia terima tak sesuai dengan yang ia inginkan. Semua yang membuat masalah ia marahi, bahkan ketika ada laporan salah tanda baca saja ia marahi habis-habisan.
Memang ... Seorang ibu itu tak akan pernah salah dalam mengenali anaknya. Ketika ibunya mengatakan ia tak akan bisa melakukan apapun ketika ia cemburu, hal itu benar-benar terjadi. Rasanya ia hampir menggila saat tak bisa melakukan apapun terhadap Zeta. Ia tak bisa mengekang perempuan itu, ia tak bisa melarangnya. Kesal, sangat kesal. Ia benar-benar kesal ketika sadar tak bisa melakukan apapun terhadap perempuan itu.
Jeffrey selalu mencoba mengendalikan pikirannya, sekalipun sulit tapi ia terus melakukannya berulang kali. Sesungguhnya ... setelah ia pergi begitu saja dari arena konser, kepalanya terus berputar. Memikirkan cara agar Zeta jatuh dalam pelukannya, agar ia bisa sesegera mungkin mendapatkan perempuan itu. Tapi ... semua yang ia pikirkan tak ada yang rasional. Terlebih ... karena pekerjaan Zeta yang tak memungkinkannya melakukan hal-hal yang ia pikirkan.
Sekali lagi ... Ibunya memang benar. Seharusnya ia tak tertarik dengan perempuan dengan profesi seperti itu. Tapi ... mau bagaimana lagi? Ia tak bisa mengendalikan perasaannya. Ia tak bisa membalikan hatinya lagi, apalagi berbalik kanan untuk mencintai perempuan lain. Ia tak bisa, ia tak akan pernah bisa melakukan hal itu, sebab saat ini sejak pertama kali ia melihat Zeta, ia sudah mencintai perempuan itu dengan sepenuh hatinya.
“Jangan bilang kau cemburu gara-gara Zeta dance dengan dancer laki-laki?”
Anton mendesah ketika Jeffrey hanya termenung tak memberikannya jawaban. Tubuhnya maju sedikit, kedua tangannya bertumpu pada kedua kaki, menghadap sahabatnya itu, menatapnya dengan penuh selidik.
“Jangan memikirkan hal gila.”
“Baru saja aku berpikir untuk menculik Zeta dan membawanya ke Amerika.”
Sudah ia duga, Jeffrey pasti sedang tak rasional. “Sebaiknya lupakan saja perasaanmu pada Zeta Jeff, kau tak akan kuat mencintai seorang idol.”
“Kau terdengar seperti ibuku.”
Anton menghembuskan nafasnya dengan iris mata yang tak lepas dari gerak-gerik Jeffrey. Sahabatnya itu tak pernah jatuh cinta, hingga ia yakin lelaki itu pasti kesulitan mengendalikan perasaan baru itu. Terutama perasaan cemburu dan posesif yang mulai di rasakannya.
“Kau ada undangan Fashion Week besok, kendalikan dirimu Jeffrey.”
“Kau saja.”
“Kau yakin? Zeta juga di undang ke acara itu.”
Anton menyeringai ketika melihat Jeffrey mengalihkan pandangan dengan cepat. “Kau yakin aku yang pergi? Padahal kau bisa saja berangkat bersama Zeta.”
“Darimana kau tahu jadwalnya?”
“Perusahaan. Aku memang meminta jadwal semua artis.” Anton menjeda ucapannya kemudian menyeringai kembali. “Untuk menyenangkan Boss-ku ini.”
Jeffrey menarik ujung bibirnya. Lihat ... seberapa mengesalkannya Anton lelaki itu yang paling tahu semua yang ia butuhkan sekalipun ia tak meminta. Contohnya ... hal seperti ini. Jadi sepertinya seumur hidup ia tak akan memecat sahabatnya itu.
“Aku pikir kau tahu dari Hana.”
“Jangan membahasnya.”
Kali ini Jeffrey yang berbalik menyeringai. “Kenapa? Ada sesuatu?”
Anton mengedikkan bahu. “Aku bahkan tak pernah benar-benar bertemu lagi setelah hari itu. Jadi ... sudahlah lupakan. Dia mungkin tak ingin berurusan denganku lagi.”
“Menyerah? Aku pikir kau masih mencintainya.”
“Aku tak ingin menahan seseorang yang tidak mencintaiku. Aku bukan kau yang akan melakukan segala cara agar semua hal yang kau inginkan bisa kau dapatkan Jeff. Otakku masih waras.”
Jeffrey terkekeh kecil. “Bukan tak waras Anton, tapi hidupku penuh dengan optimisme. Aku percaya diri, selama aku berjuang ... aku pasti bisa mendapatkan semua hal yang aku inginkan. Termasuk ... “
Jeffrey menyeringai.
“Perasaan Zeta.”
***
Kau harus tahu, aku posesif.
Zeta menghela nafas ketika melihat kalimat yang baru saja ia lihat dari cuitan terbaru Mr. J. Lama tak ia lihat lelaki itu hampir satu minggu lalu ternyata mengatakan hal seperti itu. Entah pada siapa cuitan itu di tunjukkan, sebab kali ini lelaki itu tak me-mention akun official group-nya.
Mungkinkah ... dia sedang sibuk dengan kekasihnya? Sebab cuitan seperti itu benar-benar tak biasa kecuali untuk pasangan.
Zeta menggelengkan kepala kemudian menyimpan benda pipih itu ke dalam tas kecil di tangannya dengan cepat ketika pintu di sebrangnya tiba-tiba terbuka. Zeta menoleh kemdian mengerjapkan matanya beberapa saat.
“Mr. Kendrick?”
“Hi Zeta.” Ujar lelaki itu seraya duduk di sampingnya.
Mata Zeta masih membulat, ia meneguk ludahnya kasar kemudian membasahi bibirnya dengan gugup.
“Tak perlu tegang. Santai saja.”
“Ah? Ya ... Mr. Kendrick ... anda juga akan pergi ke Fashion Week?”
Lelaki itu hanya mengangguk kecil tanpa mengatakan apapun. Dia tampak sibuk dengan gadget di tangannya, jemarinya terus menggulir layar sesaat menghentikannya lagi kemudian kembali menggulirnya. Zeta memalingkan wajah ke arah jendela lalu meremat kedua tangannya, mulai merasa gugup.
Ia pikir seseorang yang ia tunggu itu rekan sesama idol, ternyata ... petinggi?
Zeta membasahi bibirnya lagi sesaat seraya menatap ke arah jendela, menatap Hana yang sedang berbicara bersama dengan asisten lelaki itu.
Mereka berdua tampak menoleh ke arahnya sesaat sebelum Hana terlihat secara terpaksa masuk ke bangku penumpang di depan samping bangku kemudi yang akan di kendarai oleh lelaki yang ia ketahui sebagai asisten lelaki di sampingnya ini.
“Hi Zeta-ssi, perkanalkan aku Anton Kim, Asisten lelaki di sampingmu itu.” ujar lelaki yang ternyata bernama Anton itu.
“Ah ... Hallo Anton-nim.”
“Tak perlu kaku begitu, panggil aku Anton saja. Mungkin Anton Oppa?”
.
.
.
Mata Jeffrey membulat, ia mendelik ke arah Anton, menatap sahabatnya itu yang kini tampak menyeringai padanya.
“Anton Oppa? Ah ... aku ... .”
“Tak apa, agar kita bisa lebih akrab.”
“Ah ... Baiklah Anton Oppa.”
Jika ada predikat untuk orang paling menyebalkan di dunia ini. pasti peringkat pertama di tempati oleh Anton. Lihatlah sahabat sekaligus asistennya itu sekarang seolah tengah meledeknya. Lihat bagaimana mata itu mengerling menggodanya dan juga bibirnya yang menyeringai seolah mengejeknya.
Sahabatnya itu ... benar-benar mengajaknya berperang. Lihat saja, mulai saat ini ia tak akan pernah membiarkan Anton hidup tenang.
Jeffrey mendengus seraya menatap gadget di tangannya lagi, hanya melihatnya untuk mengalihkan perhatian tanpa membaca sedikitpun. Sebab ... jujur saja sekarang ia sangat ingin menghajar Anton dengan semua tingkah yang terus menggodanya.
Setelah beberapa saat ia menggulir layar gadget tanpa tujuan ia termenung sesaat ketika mengingat sesuatu yang ia bawa di dalam saku jas-nya. Ia meletakkan gadget itu lalu mengambil barang yang baru ia ingat, setelahnya ia ulurkan pada Zeta.
.
.
.
Zeta mengerjapkan mata kemudian menoleh menatap lelaki di sampingnya itu. “Apa ini?”
“Hadiah ulang tahunmu. Happy Birthday Zeta.”
Deg!
Jantungnya tiba-tiba berdesir ketika mendengar kalimat tersebut. Hatinya mendadak menghangat hingga menjalar di sekujur tubuhnya. Apa ia tak salah dengar? Lelaki disampingnya itu memberinya hadiah ulang tahun lagi? Setelah Van yang diberikan lelaki itu dua minggu lalu, kali ini apa?
“Ah? Mr. Kendrick aku tak bisa menerimanya .”
“Tak pernah ada yang menolak pemberianku.” Ujar lelaki itu seraya membuka kotak di tangannya kemudian mengeluarkan sebuah kalung dari dalam kotak tersebut.
Kalung ... dengan merk yang sama yang ia terima dari Mr. J-nya. Tapi kalung yang ia terima ini tampak lebih elegan dan ... ia belum pernah melihat desain daun seperti ini sebelumnya. Benar-benar elegan dan tampak begitu cantik.
“Mr. Kendrick ... .” bisik Zeta seraya memundurkan kepalanya saat secara tiba-tiba lelaki itu mendekatkan wajahnya. Nafasnya seketika tertahan, dengan mata yang membulat sempurna menatap wajah tampan lelaki itu yang begitu dekat dengan wajahnya.
Deg!
Jantungnya mulai berdetak dua kali lebih cepat ketika iris mata mereka bertemu.
“Bernafas Zeta.”
Zeta menghembuskan nafas perlahan setelah lelaki itu kembali duduk di bangkunya. Apa yang baru saja terjadi? Kenapa ia gugup? Kenapa jantungnya semakin menggila?
Benarkah ... lelaki di sampingnya itu menyukainya seperti yang teman-temannya katakan? Zeta menoleh ke arah lelaki itu lagi yang kini sibuk dengan gadget-nya kembali.
Setelah itu kepalanya menggeleng pelan.
Tidak. Tidak mungkin. Tak mungkin lelaki itu menyukainya.
Tak terasa akhirnya mereka kini sampai di tempat tujuan. Beberapa mobil masih mengantri untuk membiarkan seluruh undangan keluar tepat di ujung blue carpet. Ketika hampir giliran mereka tiba-tiba Hana memekik, terlihat khawatir.
“Apa?! Bagaimana ini?”
Zeta terjengit, ia mengalihkan pandangannya pada Hana. “Kenapa Eonni?”
“Zeta ... tak apa aku tinggal? Aku akan meminta manager lain datang dan menunggumu. Aku harus pulang sekarang juga.”
Zeta mengerjapkan matanya. “Ada apa Eonni? Terjadi sesuatu dengan Minhee?”
Hana mengangguk dengan cepat. “Pengasuhnya mengatakan Minju tiba-tiba demam, aku harus pulang sekarang juga.” Ujar Hana panik seraya membereskan tasnya sendiri. “Zeta ... aku tinggal ya.”
“Tunggu.” Anton menahan lengan Hana. Lelaki itu kemudian mengalihkan pandangan pada lelaki di sampingnya. “Jeff tak apa kau juga kutinggal? Nanti ... kau ikut saja bersama dengan mobil Zeta.”
Zeta mengalihkan pandangan pada lelaki di sampingnya itu. Berharap jika lelaki itu memberi ijin, sebab ia pun mulai merasa khawatir ketika melihat wajah Hana yang semakin pucat pasi.
“Pergilah.”
Lelaki itu mengalihkan perhatian padanya. “Zeta ... ayo turun.”
Zeta mengangguk. “Eonni ... pulanglah dengan Anton Oppa, nanti kabari aku. bye bye ... .” ujar Zeta sebelum keluar dari dalam kendaraan tersebut.
Zeta menghela nafas panjang, lalu menatap kendaraan yang baru saja membawanya pergi meninggalkan vanue.
“Zeta ... .”
“Ah!” Zeta mengerjapkan matanya beberapa saat.
“Ayo ... .”
Zeta kembali mengerjapkan mata ketika melihat lelaki itu memberikan sikut kirinya. Apa yang harus ia lakukan? Menggandengnya?
“Zeta.”
Setelah mendengar panggilan itu dengan sedikit keberanian yang tersisa ia mengaitkan tangannya pada lengan lelaki itu, kemudian mereka berdua berjalan di atas blue carpet dengan begitu tenangnya.
“Zeta ... .”
“Ya?”
“Siapa Minhee?” tanya Jeffrey setelah mereka berada di dalam vanue acara.
“Minhee?” Zeta menatap Jeffrey. Haruskah ia mengatakan hal itu pada lelaki di sampingnya ini?
“Dia ... .”