16. Jeffrey Oppa?

1605 Kata
  Anton menatap seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun yang tengah terbaring di bangsal rumah sakit. Iris matanya tak lepas memandangi paras tampan anak laki-laki itu, dari pertama kali ia melihat wajah itu hingga hampir dua jam berlalu ia terus memandanginya dalam diam.   Hmm ... ya ... sekitar dua jam yang lalu Hana berseru panik ketika melihat anak laki-laki itu sudah pucat pasi, tergeletak tak berdaya dengan kondisi tubuh lemah dan juga begitu panas. Seketika air mata Hana mengalir deras, perempuan itu menangis tersedu ketakutan melihat kondisi anak itu. Dia bahkan memeluk anak laki-laki itu dengan erat, seolah ... ketika pelukan itu terlepas, anak itu akan menghilang.   Pertanyaannya ... siapakan anak ini?   Anton menghela nafas panjang dengan iris mata yang masih menatap paras anak laki-laki itu.   Clek!   “Kau bisa pulang sekarang Minhyun.” Ujar Hana sesaat setelah perempuan itu berdiri di samping bangsal yang bersebrangan dengannya. “Aku tak ingin melihatmu di sini.”   “Pergilah.” Tambah Hana seraya menatapnya dengan tajam.   “Hana ... .”   “Aku bilang pergi Minhyun!”   “Setidaknya katakan padaku siapa anak ini? Siapa dia? Kenapa ... dia mirip denganku?”   Hana tertawa ngambang, perempuan itu terkekeh pahit seraya memalingkan wajah, menatap ke arah anak laki-laki yang masih tertidur itu.   “Mirip denganmu? Jangan gila Minhyun. Dia tak mirip denganmu.”   “Dia mirip denganku ketika aku kecil.”   Hana menarik nafas panjang lalu menghembuskannya lagi dengan berat. “Lalu? Memang kenapa kalau mirip? Di dunia ini mungkin masih banyak anak lain yang mirip denganmu ketika seusia mereka. Tak cuma Minhee. Jadi sebaiknya simpan omong kosongmu itu lalu pergi dari sini. Kau hanya mengganggu pandanganku!”   Mata Anton memicing ketika mendengar bantahan yang terasa begitu keras dari Hana. Seolah perempuan itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.   “Apa dia anakku?”   “Tutup mulutmu Kim Minhyun!”   “Kecilkan suaramu Cho Hana.” Balas Anton dengan nada yang sangat rendah, penuh peringatan. “Cukup jawab ya jika dia memang anakku. Apa yang sulit?”   Hana mendesah kencang seraya menyeka wajahnya dengan kasar. Setelah itu menatap ke arahnya lagi, dengan tatapan penuh keyakinan. “Bukan, dia bukan anakmu Minhyun.” Jawab Hana dengan tenang.   “Kau puas dengan jawabanku? Sekarang pergilah sebelum Minhee benar-benar bangun.”   Anton bergeming, ia semakin memicingkan matanya menatap curiga pada Hana. “Jika memang dia bukan anakku, kenapa kau tak ingin dia bertemu denganku? Seharusnya bukan masalah ketika dia sadar aku masih berada di sini.”   Anton melihat Hana mengepalkan tangannya, di tambah dengan iris mata yang menatapnya dengan nyalang. Perempuan itu ... tampak kesal. Dia benar-benar penuh dengan emosi tertahan.   Anton menghela nafas panjang lalu menghuskannya secara perlahan, berusaha menenangkan dirinya sendiri untuk menghadapi kerasnya perempuan itu.   Anton menatap Hana setenang yang ia mampu. “Sebenarnya ada apa denganmu Hana? Seharusnya ketika kita bertemu aku yang marah padamu, bukan kau. Seharusnya aku yang bertingkah sepertimu sekarang, bukan kau.”   “Apa kau bilang? Seharusnya kau?” Hana mendesah lagi seraya tertawa pahit. “Sudahlah hentikan omong kosongmu Minhyun. Aku lelah, aku benar-benar membutuhkan ketenangan, aku butuh istirahat. Jadi ... pergilah.”   “Hana ... .”   “Jam besuk sudah habis. Silahkan pulang.”   Anton melirik ke arah jam yang menggantung di dinding kamar itu. Lalu menghembuskan nafasnya lagi sebelum bangkit.   “Ingat Hana ... urusan kita belum selesai. Aku akan kembali.” Ujar Anton sebelum melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan rawat itu. Berat hati ia melangkah, ia bahkan sempat menatap ke arah anak laki-laki itu lagi, menatapnya lamat sesaat sebelum benar-benar menutupkan pintu lalu beranjak pergi.   Hana ... kau tak akan pernah bisa menyembunyikan apapun dariku.   Sementara itu di dalam sana Hana terkulai lemas, ia menunduk dengan kepala yang di topang di ujung bangsal. Nafasnya memburu, tubuhnya pun bergetar menahan marah yang tak bisa ia luapkan sama sekali.   “Eomma ... .”   Seketika Hana menyeka air mata yang menggenang di ujung matanya lalu menegakkan punggung menatap anak laki-laki dihadapannya ini. “Minhee-ya, kau sudah bangun?”   “Eomma ... siapa ... dia?”   “Hng?” Hana membulatkan matanya. “Siapa maksudmu?”   “Lelaki tadi. Apakah dia ... Appa?”   Hana mengerjapkan matanya beberapa saat kemudian tersenyum tipis dengan kepala menggeleng.   “Bukan Minhee ... dia bukan Appa-mu.”   ***   “Anda memberikan hadiah macam apa Mr. Kendrick? Sampai-sampai media membuat artikel khusus tentang kalung yang anda berikan ini.” ujar Zeta ketika mereka berada di dalam mobil yang akan membawa mereka berdua kembali ke apartemen.   Beberapa saat lalu setelah ia memasuki mobil, ia segera mencari berita tentang dirinya sendiri melalui ponsel. Bukan untuk mengagumi diri sendiri, tapi hanya untuk me-review penampilannya, untuk dikemudian hari diperbaiki jika memang ada kekurangan. Begitu membuka portal berita, benar saja beritanya berada di halaman utama, selain karena kedatangannya yang datang bersama Jeffrey mengejutkan banyak pihak, ternyata kalung yang ia kenakan menjadi salah satu sorotan utama.   “Bukan apa-apa. Tak perlu dibaca, tak penting.”   Tak penting? Zeta memicingkan matanya, beberapa artikel mengatakan ia mengenakan perhiasan mahal dengan desain eksklusif. Mereka bahkan menduga ia yang mendesainnya sendiri, hingga banyak yang mengaguminya. Ya ... kagum dan takjup dengan prediksi harga fantastis perhiasan yang ia kenakan. Jika memang ia yang mendesainnya sendiri tentu saja ia akan sangat bangga, tapi ... ia sendiri tak tahu menahu tentang harga perhiasan yang ia kenakan tersebut. Jadi ... tak penting di sebelah mananya? Ia harus tahu apapun yang ia kenakan.   “Anda mendesain-nya sendiri?” tebak Zeta, sebab hanya itu yang paling mungkin.   “Desain seperti itu banyak dipasaran.”   Mata Zeta semakin memicing, tak percaya. Ia masih tak puas dengan jawaban lelaki itu. “Tapi tak ada bentuk seperti ini. Aku bahkan sudah mencari sendiri di website. Tak ada kalung seperti ini sekalipun barang limited edition. Jadi ... kemungkinannya satu hal. Anda benar-benar mendesain kalung ini sendiri?”     Jeffrey tak langsung menjawab, ia menghela nafas panjang kemudian menatap Zeta yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Penuh rasa ingin tahu.     “Mr. Kendrick sudah sampai.”     Jeffrey mengalihkan pandangan pada sopirnya sesaat sebelum menatap ke arah Zeta lagi. “Ayo keluar.”   “Mr. Kendrick. Anda harus menjawabnya dulu.”   “Kita bicara di luar.”     Zeta menatap lelaki itu dengan ragu, tapi setelah lelaki itu keluar dari dalam kendaraan yang membawa mereka ia pun dengan terpaksa keluar dari mobil tersebut kemudian secara berdampingan berjalan memasuki area apartemen. Sesekali Zeta menghela nafas panjang. Padahal ia hanya ingin kejujuran lelaki itu. Tapi mengapa dia terus menghindar?   “Penthouse-ku atau taman belakang?”   Zeta menoleh seraya mengerjapkan matanya. Ia pikir ajakan tadi hanya basa-basi saja. Ternyata lelaki itu benar-benar akan mengajaknya berbicara? Zeta mendadak gugup membayangkan pembicaraan mereka, ia meneguk ludahnya kasar lalu membasahi bibirnya sebelum menjawab pertanyaan itu.   “Taman belakang.”   Lelaki itu mengangguk, mereka pun akhirnya berjalan berdampingan ke area belakang apartemen yang memang hampir tak pernah di kunjungi orang-orang ketika malam hari. Tak lama setelah itu mereka sampai di area belakang apartemen. Taman yang sebenarnya tak begitu luas, yang juga dipadukan dengan sebuah kolam dengan air mancur yang memperindahnya.     “Duduk.”   Jeffrey menatap ke arah Zeta yang duduk di sisi kanannya. Perempuan itu tampak termenung, dengan kedua tangan memeluk dirinya sendiri. Jeffrey menghela nafas kemudian tanpa berpikir dua kali ia menyampirkan jas yang sebelumnya ia pakai pada bahu perempuan itu.   “Mr. Ken—.”   “Tak bisakah kau memanggilku Jeffrey saja saat di luar jam kerja?”   “Hah?!”   “Jeffrey Oppa?”   Zeta mengerjapkan matanya dengan cepat. Apa ia tak salah dengar?   “Oppa?” tanya Zeta lagi dengan mata yang masih mengerjap takjup. Rasanya ... jika ia memanggil orang terpenting di perusahaan dengan cara seperti itu ... itu terlalu intim. Maksudnya ... entahlah ... ia hanya merasa ada yang aneh jika ia memanggil seperti itu. Rasanya tidak pas.   Tidak pas karena membayangkannya saja sudah membuat jantungnya berdebar kencang. Ia tak sanggup jika benar-benar memanggil lelaki di hadapannya ini dengan panggilan seakrab itu.   “Tapi ... Mr. Kendrick ... aku merasa ... tak pantas. Bagaimana jika aku akan berbicara santai ... tapi ... tidak dengan memanggil Oppa?” Zeta tersenyum kaku ketika memberikan sebuah penawaran.   Lelaki itu malah memicingkan mata padanya, lelaki itu bahkan mendekatkan wajah padanya semakin dekat hingga membuat Zeta harus memundurkan kepalanya hingga punggungnya terantuk pada sandaran kursi.   “Mr. Ken—.”   “Kau terlalu banyak menawar Zeta. Apakah ini kebiasaanmu? Aku dan Anton sebaya, kenapa kau bisa memanggilnya I tapi padaku tidak?”   “Hah? Aku hanya ... itu ... berbeda Mr. Kendrick. Sangat berbeda.”   Jeffrey semakin menyudutkan tubuh Zeta hingga hidungnya kali ini hampir bersentuhan dengan ujung hidung perempuan itu. “Apa bedanya?”   “Hm itu ... pokoknya beda saja! beda.” Ujar Zeta dengan sangat cepat seraya bergeser, menjauhkan tubuhnya dari jangkauan lelaki itu.   Jeffrey mendesis seraya menegakkan tubuhnya kembali. “Sepertinya aku memang seburuk itu. Benar kata Anton, aku tidak terlihat menyenangkan sampai-sampai kau ketakutan seperti sedang melihat penjahat yang akan membunuhmu.”   “Tidak tidak ... tidak begitu maksudku ... .” Zeta menatap Jeffrey yang tak memandangnya sama sekali, ia meringis, kemudian tersenyum kaku ketika melihat wajah Jeffrey yang tampak tak baik. Apakah ia seburuk itu? padahal ia tak maksud begitu.   Zeta menggigit bibirnya sesaat. “Maaf ... aku tak bermaksud begitu ... Jeffrey Oppa.”   Jeffrey tersenyum penuh kemenangan. Lelaki itu kini kembali menatap ke arahnya dengan air muka yang lebih baik. Tidak semenyeramkan sebelumnya.   “Ya ... .”   “Ya?” kening Zeta mengerut ketika mendengar kata yang secara tiba-tiba lelaki itu layangkan. “Apa maksudmu ... Oppa?”   “Ya ... aku memang mendesain sendiri kalung yang kau pakai.”                    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN