“Padahal kau tak perlu mengantarku Oppa. Kau bisa langsung pergi ke penthouse-mu. Kau juga pasti lelah.”
Zeta menatap Jeffrey yang memaksa mengantarnya sampai pintu masuk dorm padahal bisa saja lelaki itu langsung pergi ke tempatnya sendiri. Tanpa harus mengantarkannya sejauh ini.
Jeffrey tersenyum, lelaki itu mengangkat tangan, mengusak puncak kepalanya sesaat sebelum menepuk-nepuknya perlahan. “Tak masalah. Masuklah ... setelah ini kau harus istirahat. Nikmati liburanmu.”
Zeta mengulum senyumannya kemudian mengangguk kecil, wajahnya memanas, hatinya pun menghangat, diiringi dengan desiran halus yang terus menerus menerobos masuk memenuhi setiap sudut ruang di dalam hatinya. Sekarang ia benar-benar malu sekaligus berdebar. Entah mengapa ... mendadak ia merasa benar-benar mendapatkan perlakuan spesial dari lelaki itu. Ia merasa diperlakukan lain. Bukan hanya sebagai rekan bisnis. Tapi ... lebih dari itu.
Lihatlah ... apalagi tatapan matanya yang tajam. Tajam tapi terasa begitu lembut dan juga hangat. Ia benar-benar menikmatinya. Ia benar-benar nyaman dengan tatapan yang diberikan lelaki itu terhadapnya. Serasa seperti ... tatapan yang selama ini ia rindukan.
“Zeta? Kenapa melamun? Masuk. Ini sudah malam.”
Zeta mengangguk lagi kemudian mulai memasukkan passwords dorm-nya. Setelah pintu itu terbuka Zeta menatap Jeffrey lagi sekilas sebelum masuk.
“Bye ... .” Zeta melambaikan tangannya sesaat sebelum menutup pintu dorm tersebut.
“Bye ... good night.”
Zeta menutup pintu itu kemudian menyandarkan punggungnya pada pintu tersebut, meletakkan tangan kanannya di d**a yang terus berdebar kencang. Zeta menghela nafas panjang dengan senyuman lebar yang tak lepas dari bibir tipisnya, matanya terpejam dengan kedua tangan yang masih memegangi d**a bagian kirinya, merematnya perlahan, menikmati kehangatan dan desiran halus yang masih tersisa, yang masih terasa memenuhi setiap sudut hatinya.
Ponselnya berdering, pertanda sebuah pesan masuk, dari orang yang sama dengan orang yang sedang ia pikirkan.
.
Lihatlah ... dilihat dari sini langitnya lebih indah.
.
Senyuman Zeta kembali tersungging setelah membaca pesan itu dan melihat sebuah potret langit malam dengan bulan yang bulat sempurna. Memang ... tampak begitu indah. Apalagi tempat Jeffrey berada di lantai paling atas gedung apartemen mereka.
Zeta mengedikkan sebuah pesan balasan.
.
Aku ingin melihatnya lagi.
.
Ingin kemari?
.
Zeta mendesis sebelum membalas pesan tersebut.
.
Maksudku aku ingin fotonya lagi Oppa.
.
Bagaimana kalau melihatnya secara langsung saja?
.
Zeta terkekeh kecil dengan kepala menggeleng sesaat.
.
Tidak. terimakasih. Seseorang mengatakan padaku aku harus segera beristirahat. Bye bye ...
.
Zeta tersenyum penuh kemenangan seraya menyimpan ponselnya ke dalam tas yang ia bawa. Setelah itu ia melangkah memasuki dorm-nya yang tampak begitu sepi.
“Ternyata kau.” Ujar Ella yang muncul dari dapur dengan semangkuk salad di tangannya. “Aku pikir siapa yang masuk tapi tak juga muncul.” Lanjutnya seraya mendudukkan diri di sofa.
“Yang lain kemana?”
“Chloe pulang merayakan ulang tahun ibunya, Nia juga pulang, sudah lebih dari setengah tahun dia belum pulang, Lucy juga pulang ... dia mengatakan neneknya sakit.” jelas Ella. Ella memang terkadang membantu Zeta mengurus semua member, bukan Zeta yang meminta tapi karena dia merasa dia yang tertua, jadi harus ikut bertanggung jawab.
“Kau sendiri tak pulang? Bukankah tiga hari kedepan tak ada jadwal?” Zeta bergabung duduk bersama Ella.
“Hana Eonni tidak bisa memastikan kapan akan kembali. Anaknya benar-benar parah, sampai dibawa kerumah sakit. Jadi ... aku yang akan menjaga kalian.” Ella menghela nafas panjang. “Tapi sampai sekarang aku tak tahu dimana Juliet, dia bahkan tak membalas pesanku sama sekali.
“Summer?”
“Sedang berbicara dengan Mr. J-nya.” Ella melirik Zeta sesaat seraya menghela nafas. “Aku jadi heran, kenapa grup kita banyak sekali penggemar dengan nama J, dimulai dari Summer, Lucy lalu kau.”
“Mr. J?” Zeta menyunggingkan senyumannya. “Mr. J-ku sepertinya menghilang Eonni. Dia bahkan sudah tak ada kabar lagi. Dia juga tak muncul memberikan hadiah ulang tahun.”
“Kau mengharapkannya?”
“Tidak! Tidak begitu. Maksudku ... bisa saja dia hanya fans musiman? Jadi ... sudahlah lupakan Mr. J. Aku juga sudah mulai melupakannya.”
“Lagipula untuk apa memikirka Mr. J yang tidak pasti bukan?” Summer muncul, lalu duduk disampingnya, merangkul bahunya dengan erat. “Mr. Jeffrey Kendrick tampak lebih nyata. Benarkan? Mr. J barumu.”
Zeta mendesis seraya melepaskan rangkulan itu. “Tak ada Mr. J baru. Tak ada lagi Mr. J Mr. J!”
“Wajahmu memerah.” Goda Summer. “Zeta ... mengaku saja. Kau ada apa dengan Mr. Kendrick? Sejujurnya aku tak pernah ingin tahu urusanmu tapi ... ini benar-benar menarik. Aku bahkan melihat kalian hampir berciuman dihalaman belakang.”
Uhuk!
Zeta menyemburkan minuman yang baru saja ia teguk, Ella pun tersedak dengan saladnya sendiri.
“Aku ... tidak!” Seru Zeta panik. “Kami tidak hampir berciuman! Kami tidak melakukannya. Itu ... hanya salah paham. Itu ... kami hanya berbicara ini itu dan ... dia ... .”
“Dia ... ? apa?”
“Ih! Pokoknya tak ada yang hampir ciuman!!! Dia hanya menjawab pertanyaanku. Sudah, itu saja.”
“Sedekat ini?” tanya Summer seraya mendekatkan wajah pada wajahnya. Sangat dekat, sedekat yang dilakukan Jeffrey beberapa saat lalu. “Percakapan macam apa yang harus menjawab dengan sedekat ini?”
Mata Zeta membulat sempurna lalu mendorong Summer lagi. Ia meraih gelas milik Ella lagi lalu meneguknya dengan cepat. “Bukan hal penting. Hanya tentang kalung. Dia memberikanku kalung sebagai hadiah ulang tahun dan kalung yang dia berikan menjadi berita panas. Aku hanya menanyakannya saja tapi dia menjawabnya sambil menggodaku. Dia hanya mengejekku yang panik gara-gara berita-berita itu. Sudah begitu! Dia benar-benar hanya mengejekku karena aku terlalu kelimpungan dengan beritanya.”
Summer menatap Zeta dengan tatapan curiga, sementara Ella hanya menatap keduanya biasa saja seraya menikmati salad di tangannya.
“Hanya itu? Sedekat ini?” tanya Summer dengan mendekatkan wajah mereka lagi.
“Iya!!!” Zeta mendorong Summer lagi, sebal dengan godaan itu. “Aku juga melihatmu berfoto dengan Mr. J, dia datang ke acaramu?”
“Berhenti memanggilnya Mr. J Zeta. Kami sempat salah paham gara-gara panggilan itu.”
“Kau menduga hadiah yang di terima Zeta dari Jonathan?” tanya Ella menyela seraya melangkah pergi ke dapur.
Summer tak langsung menjawab, Zeta kali ini yang menyeringai, bersiap menggoda sahabatnya itu. Jonathan adalah number one fans-nya Summer. Dia seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang properti. Dia sering memberikan hadiah mewah pada semua member dan termewah pada Summer. Lelaki itu bahkan sering memberikan hadiah pada orangtua Summer juga, entah hadiah ulang tahun atau hanya sekedar buah tangan setelah perjalanan bisnis.
Sekilas Jonathan terlihat sangat obsesif, tapi sebenarnya tidak. Summer bilang, Jonathan benar-benar tulus sayang padanya, lelaki itu ... lelaki yang tanpa sengaja dia temui dulu, enam tahun lalu sebelum Summer menjadi idol, lelaki itu yang sempat menolongnya saat Summer hampir mendapatkan tindakan pelecehan. Setelah itu banyak hal yang terjadi antara mereka, sampai ketika orangtuanya menawarkan Jonathan untuk dekat dengan Summer. Jonathan menolak dengan alasan tak ingin mengganggu karirnya. Tapi beberapa bulan ini Summer-lah yang membuka peluang. Hingga kini mereka dekat dan ... Summer menjadi sangat posesif pada lelaki itu.
“Kau benar-benar berpikir hadiah itu dari Jonathan?” tanya Zeta tak percaya.
“Sempat. Tapi dia menjelaskan dia tak mungkin memberikan hadiah lebih mewah pada member lain melebihi hadiah yang diberikan padaku. Jadi ... yasudah. Aku percaya.”
“Jangan terlalu posesif, semua hal di curigai.” Ujar Zeta. “Aku heran, bagaimana kau menjadi sangat posesif padahal seharusnya dia yang posesif dan terobsesi padamu Summer. Kalian kebalikan.”
“Tunggu sampai kau merasakannya Zeta.” Balas Summer. “Suatu saat kau akan merasa posesif pada Mr. Kendrick.”
“Ya! Mana mungkin bisa begitu? Pertama dia bukan fansku! Kedua ... aku tidak berminat menjalin hubungan rumit seperti kau dan Jo!”
“Menyebalkan. Aku paling tua di sini. Tapi sepertinya kalian berdua yang akan lebih cepat menikah.” Ujar Ella seraya duduk diantara Zeta dan Summer.
“Eonni! Tak ada yang akan menikah!”
“Siapa yang tahu? Bagaimana jika tiba-tiba Mr. Kendrick memintamu menjadi istrinya?”
Blush!
Wajah Zeta mendadak memanas setelah mendengar pertanyaan itu. Meminta menjadi istri? Mata Zeta mengerjap sesaat sebelum menatap Ella. “Jangan mengada-ada. Jeffrey Oppa hanya atasan kita. Tak lebih dari itu.”
“Jeffrey Oppa?” tanya Ella dengan alis yang naik turun. “Sejak kapan Mr. Kendrick berubah menjadi Jeffrey Oppa?”
“EONNI!!!” Seru Zeta tak terima dengan godaan-godaan itu. “Berhenti menggodaku atau aku akan marah.”
Ella mengedikkan bahu. “Marah saja, asalkan jangan melaporkanku pada Jeffrey Oppa-mu itu.” goda Ella lagi dengan alis yang naik turun.
“Tapi menurutku ... bisa saja dia benar-benar tertarik padamu Zeta.” Ujar Summer seraya meletakkan ponselnya. “Bisa saja dia sama seperti Jonathan? Bedanya Jonathan secara terang-terangan mengatakan bahwa dia penggemarku. Tapi Mr. Kendrick secara diam-diam. Ini ... jadi berkorelasi ... aku tak akan heran jika Mr. Kendrick itu Mr. J-mu.”
Zeta terkesiap, ia bergidik sesaat ketika membayangkan hal itu adalah kenyataan. Rasanya benar-benar aneh, membayangkannya saja, terasa mengeringan? Entahlah.
“Jangan-jangan Mr. Kendrick mengakuisisi perusahaan kita juga karena ingin dekat denganmu.” Ujar Summer lagi, menambahi. “Kau harus ingat Zeta, perusahaannya Ken Motor Corporation. Perusahaan otomotif, tak ada sangkut pautnya dengan dunia entertaiment. Akuisisi yang sebenarnya menurutku seperti tak masuk akal.”
Zeta mendelik menatap Summer yang kini tengah menatapnya juga. “Jangan mengada-ada. Jangan menduga-duga begitu! Kau ... terlalu sering menonton drama Summer.”
“Drama juga bagian dari kenyataan bukan?” Summer menarik ujung bibir dengan tangan menyentuh pundaknya. “Sudah ... Tak perlu di pikirkan. Nikmati saja kedekatan kalian.”
“Tapi Zeta ... bagaimana reaksimu jika memang benar Mr. J itu Mr. Kendrick? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Ella setelah hanya menyimak saja.
Zeta terdiam, ia termenung beberapa saat. Mencoba berpikir, tapi tak ada apapun yang terlintas dalam pikirannya.
Bagaimana jika Jeffrey benar-benar Mr. J itu?
“Aku ... aku tak tahu. Aku tak mau memikirkan hal-hal tak masuk akal seperti itu.”