“Aku memiliki anak.”
Jeffrey menoleh dengan cepat pada Anton. “Kau bercanda? Bagaimana bisa kau tiba-tiba memiliki anak?”
Anton mengusap wajahnya kasar lalu duduk tepat di depan meja kerjanya. “Bukan tiba-tiba. Tapi aku baru tahu Jeff. Minhee ... anak yang kemarin. Dia sama persis denganku saat aku masih kecil. Aku sangat yakin dia puteraku.”
“Anak yang Hana ceritakan kemarin?”
“Iya! Minhee! Alasan apa yang menurutmu masuk akal jika dia bukan puteraku? Wajah kami hampir sama persis Jeffrey. Demi apapun, aku yakin aku ayahnya.” Anton mendesah. “Tapi Hana tidak mengakuinya. Dia mengatakan bahwa Minhee bukan anakku.”
“Mungkin memang bukan.”
Anton mendelik. “Kau ini sahabatku bukan? Kenapa tanggapanmu menyebalkan seperti itu?”
Jeffrey menghela nafas panjang seraya mengalihkan pandangan dari komputer didepannya. “Aku hanya berusaha merendahkan harapanmu Anton. Kalau kau terlalu yakin dan ternyata bukan, kau yang akan sakit hati.” Jeffrey menghela nafas. “Berpikirlah yang rasional. Sana, kembali bekerja.”
Jeffrey melirik Anton dengan ekor matanya, sahabatnya itu mulai beranjak pergi meninggalkan ruangannya. Ia menghela nafas perlahan. “Tes DNA saja. Agar semuanya menjadi lebih jelas.”
Anton menoleh lagi ke arahnya seraya tersenyum begitu lebar. “Benar. Aku akan melakukan tes DNA. Kau ... ternyata berguna juga Jeffrey.”
Jeffrey mendelik. “Mau kupecat?!”
Anton mengedikkan bahu. “Pecat saja.” ujarnya seraya beranjak pergi.
Jeffrey mendengus pelan seraya menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan cara berpikir sahabatnya itu. Iris mata Jeffrey bergulir menatap layar ponselnya yang menyala. Ia meraih ponsel itu dengan senyuman tipis yang mulai tersungging pada bibirnya.
.
Selamat pagi juga, Oppa.
Aku baru bangun tidur.
Kau sudah pergi bekerja ya?
.
Lihat jam. Satu jam lagi bahkan waktu makan siang tiba.
Segeralah bangun. Kita makan siang bersama.
***
Uhuk!
Zeta menepuk-nepuk dadanya sendiri sesaat setelah membaca pesan tersebut. Apa katanya? Makan siang bersama? Mata Zeta mengerjap, lalu ia membasahi bibirnya, gugup. Kenapa tiba-tiba Jeffrey meminta makan siang bersama?
.
Ada yang ingin kuberikan padamu.
.
Mata Zeta membulat. Memberikan apa lagi?! Tidak, tidak. Ia tak ingin bertemu lelaki itu sekarang. Ia masih gugup, ia bahkan masih merasa malu dengan kejadian semalam dan semakin malu lagi ketika ternyata Summer melihatnya. Bagaimana jika Summer tahu ia akan makan siang bersama Jeffrey? Habislah. Ia pasti akan terus menerus di goda oleh sahabatnya itu.
.
Maafkan aku Oppa.
Ini aku sedang makan.
Aku tak bisa makan siang lagi.
.
Zeta meringis setelah mengirimkan pesan itu, ia pun melirik meja makan yang hanya tersedia segelas air putih, tanpa ada makanan apapun. Sejujurnya ... pagi ini ia terlalu malas untuk memasak.
.
Kau menghindar?
Yang akan kuberikan ini bukan hadiah.
Tapi barang milikmu.
.
Barang milikku? Pikir Zeta. Barang apa? Apakah ketika ia berkunjung ke tempat lelaki itu ia meninggalkan sesuatu?
.
Apa? Memang aku sempat meninggalkan apa?
.
12.30 di penthouse-ku.
Kau akan melihatnya sendiri.
.
Zeta mendesis. “Dasar pemaksa.”
“Itu berarti dia sangat ingin bertemu denganmu.”
Zeta terkesiap mendengar bisikan itu. Ia kemudian berbalik lalu memukul pelan lengan Summer yang tiba-tiba muncul di belakangnya. “Ya! Sejak kapan kau mengintip?”
“Tak banyak. Dari kau berbohong mengatakan sedang makan padahal tak ada makanan apapun dimeja makan.” Ujar Summer lalu duduk pada salah satu kursi.
Zeta kembali mendesis. “Jika begitu, bukan tak banyak, tapi kau membaca semuanya.”
“Kau ini kenapa Zeta? Kau tak perlu seperti itu, mengindarinya hanya akan membuatnya merasa buruk.” Summer meminum air mineralnya sesaat sebelum menatap Zeta lagi. “Jangan berpikir terlalu berlebihan Zeta. Menurutku Mr. Kendrick tak buruk. Dia tampak baik. Dia pasti akan memperlakukanmu dengan baik.”
“Kau ini berbicara apa Summer?”
“Opiniku. Kau benar Zeta, ucapanku semalam mungkin hanya omong kosong. Tak mungkin Mr. Kendrick adalah Mr. J-mu. Jadi ... jika kau terganggu karena itu yasudah lupakan saja.”
“Aku tak memikirkan itu.”
“Lalu?” Summer menatapnya dengan intens. “Apa lagi yang kau pikirkan? Bukankah kau tak sedang berkencan dengan siapapun? Kau juga mengatakan sedang tak menyukai siapapun. Aku pikir ... tak buruk membuka hatimu untuk Mr. Kendrick.”
Zeta tersenyum kecil. “Aku ... tak pernah memikirkan untuk berkencan dengan siapapun Summer. Aku hanya memikirkan karirku. Tapi ... terimakasih kau sudah memberiku saran. Oh ya, bangunkan Juliet. Dia juga belum sarapan.”
“Nanti aku urus. Sebaiknya kau bersiap saja, temui Mr. Kendrick. Jangan membiarkannya menunggumu yang saaaaangat lama ketika berdandan.”
Zeta mendesis seraya menggelengkan kepalanya. Setelah itu ia tersenyum kemudian berpamitan sebelum beranjak pergi, bersiap bertemu dengan Jeffrey.
***
Zeta tak henti-hentinya melihat jam di pergelangan tangan kirinya sesekali meringis dan mendengus. Sudah terlambat, ia sudah terlambat sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan. Bagaimana bisa tadi ia tertidur saat berendam? Beruntung Summer yang sudah tahu kebiasannya menggedor pintu kamar mandi dan membangunkannya. Jika tidak ... mungkin sampai saat ini ia masih tidur sampai flu di dalam bathtub.
Tangan Zeta saling meremat gugup ketika sampai di depan pintu penthouse itu, bagaimana jika Jeffrey menganggapnya benar-benar tak akan datang? Bagaimana jika lelaki itu sekarang sudah kembali ke kantornya? Zeta meringis lagi beberapa saat sebelum menghela nafas lalu menggembuskannya lagi sebelum ia memberanikan diri menekan bell.
Clek!
Zeta memasuki tempat itu dengan langkah perlahan. Iris matanya bergulir, menyisir setiap sudut tempat itu, mencoba mencari keberadaan Jeffrey. Tak mungkin bukan pintu terbuka sendiri tanpa ada pemilik yang berada di dalamnya?
“Aku pikir kau tak akan datang.”
Zeta mengerjapkan mata ketika melihat Jeffrey menuruni tangga hanya dengan sebuah kemeja putih yang menutupi tubuh atletisnya dan juga celana bahan yang membingkai kaki jenjangnya. Rambut pun tampak begitu rapih, menambah segar penampilan Jeffrey walaupun sekarang sudah tengah hari.
“Maaf ... aku tertidur di bathtub.”
Jeffrey melipat kedua tangannya di d**a, dengan iris mata yang terus memandanginya dengan begitu intens. Zeta berdehem sesaat, iris matanya terus bergulir, kemanapun asalkan bukan pada iris mata Jeffrey yang masih menatapnya.
Lelaki itu pasti marah. Dia pasti merasa bahwa ia tak menghargainya.
“Ayo ... makan siang sudah siap.” Jeffrey melangkah lebih dulu sementara Zeta mengekor, tepat dua langkah di belakang Jeffrey.
Mata Zeta mengerjap ketika melihat berbagai makanan yang berada di atas meja. “Kau memasak?”
Jeffrey tergelak. “Aku tak sesempurna itu Zeta. Aku ... tak pandai memasak. Koki yang memasak semuanya.”
“Ah ... begitu.” Zeta mengangguk-anggukan kepalanya lalu tersenyum kaku. “Aku pikir ... kau memasak untukku. Apakah aku terlalu percaya diri?”
“Kau ingin aku memasak untukmu?”
Blush!
Wajah Zeta seketika memanas. Matanya mengerjap beberapa kali seraya menghindari kontak mata dengan lelaki itu. “Tidak. Tidak, tidak. Bukan begitu. Aku hanya bercanda. Kau bilang mulai kemarin kita berteman, jadi ... aku pikir bercanda seperti itu tak masalah bukan?”
Zeta menggigit pipi bagian dalamnya seraya meringis. Bagaimana bisa ia mengeluarkan kalimat seperti itu? Sungguh. Itu sangat memalukan. Tapi ... niatnya memang benar-benar bercanda. Ia juga sering bercanda seperti itu dengan sahabat-sahabatnya.
“Maaf ... saya kurang ajar.”
Jeffrey tergelak. “Tak masalah Zeta, aku juga hanya bercanda. Kenapa serius sekali?”
“Ah? Benarkah?”
Jeffrey mengangguk. “Tapi jika memang ingin, aku akan memasak untukmu nanti.”
“Ti—tidak usah. Tidak perlu. Aku bisa memasak sendiri.”
“Kalau begitu ... Masakan sesuatu untukku.” Jeffrey mendekatkan wajah, membuatnya harus mundur sedikit memberi jarak antara wajah mereka.
Mata Zeta kembali mengerjap beberapa saat sebelum mendorong bahu lelaki itu menjauh, setelahnya ia mengalihkan perhatian, membalikkan piring yang ada di hadapannya.
“Zeta ... .” tangan lelaki itu terulur, membelai wajahnya. “Wajahmu memerah, kau sakit?”
“Bukan.” Zeta menepis tangan Jeffey dengan cepat, sesekali melirik lelaki itu dengan ekor matanya. Gugup.
“Lihat ... wajahmu semakin memerah.”
“Jangan menyentuhku!”
Jeffrey mematung, tangan kanan lelaki itu menggantung di udara, hampir menyentuh pipinya. “Ah! Maaf. Sepertinya aku terlalu kurang ajar.”
“Tidak tidak. Bukan begitu. Maksudku ... tidak seperti itu. Tapi ... .” Zeta membasahi bibirnya. “Aku hanya gugup. Anda membuat saya gugup Mr. Kendrick.”
“Mr. Kendrick?”
Zeta mengerjapkan matanya lagi lalu menatap Jeffrey. “Maksudku. Oppa. Kalau kau terus begitu kau membuatku gugup. Kau tahu ... semalam saja Summer ternyata melihat kita. Aku hanya ... takut. Seseorang melihatnya lagi nanti mereka semakin salah paham.”
“Di sini tak ada siapapun.”
“Hm?”
“Tak akan ada yang melihat.”
“Ta—tapi! Jangan. Jangan melakukannya! kita hanya berteman Oppa. Ya ... kita hanya berteman.” Zeta mengambil beberapa makanan, memindahkan ke atas piring lalu menyantapnya. Sesekali ia melirik Jeffrey yang kini tampak sibuk dengan ponselnya, kemudian ia menyantap makanan dihadapannya lagi. Mencoba ... menghilangkan rasa gugup yang bersarang dalam dirinya setiap berhadapan dengan lelaki itu.
“Oppa, jadi apa yang akan kau berikan?” tanya Zeta, menghancurkan keheningan yang membuatnya merasa tercekik.
Zeta menatap Jeffrey yang masih saja sibuk dengan ponsel. Tanpa mengatakan apapun dia mendorong sebuah kotak kecil lalu menatapnya dengan tatapan tajam.
Glup!
Zeta meneguk ludah kasar saat melihat iris mata lelaki itu membesar. Apa yang salah? Kenapa lelaki itu tampak marah?
“Oppa ... apa yang salah? Kenapa kau menatapku begitu?”
Jeffrey mendengus lalu memberikan ponselnya pada Zeta. Seketika itu mata Zeta membulat sempurna, jantungnya pun serasa hampir terjatuh ketika melihat judul dari berita tersebut.
“Ba—bagaimana bisa?”