Kana memandang kosong kearah makan siangnya, lagi-lagi pikirannya bercabang. Kenapa rasanya semakin lama Kana mengenal Arka semakin jungkir balik perasaannya ini? Padahal awalnya mereka berjanji untuk menjadi pasangan ‘pura-pura’ untuk membalaskan dendam mereka masing-masing. Tapi, kenapa semuanya seperti ‘nyata’ bukan ‘pura-pura’? dan... semuanya membuat Kana merasa... bawah perasaannya berangsur-angsur berubah, bolehkah ia mencintai Arka dalam sebuah hubungan friend with benefit ini? “Aduh si Neng Geulis, kunaon atuh ngelamun wae?[1]” tanya seseorang membuat Kana tersadar akan semua yang ia lakukan. Kenapa ia harus memikirkan hubunganya dengan Arka? Toh Arka sendiri juga tak pernah perduli dengan hubungan mereka bedua. “Ah, Nenek Ani! Apa kabar?” Kana menyambut riang kedatangan Nenek A

