Kini Jio tak bisa berkutik saat dihadapkan dengan sang sahabat sekaligus calon iparnya. Bahkan wajah canggung bercampur takut itu lebih mendominasi dari pada saat dirinya menghadap persis dengan calon ayah mertuanya. Percayalah, sorot mata Qiara sangat mencekam. Sejak habis subuh, Qiara sudah menyambangi kediaman Jio, bahkan masih lengkap dengan piyama dan kerudung bergo. Siapa yang tak terkejut? Mengingat Jio juga baru landing pada malam lepas isya’. “Kok diem? Kenapa lo nggak bilang-bilang gue dulu?” Qiara memberikan penekanan. “Uhmm” Jio sedang sibuk merangkai kata di otaknya, namun tatapan Qiara membuatnya gelisah “T-takut” Lanjutnya pasrah. “Takut?” Qiara melotot. Matanya seolah ingin keluar, membuat Jio meneguk salivanya

