28. Rahasia

1432 Kata
Setelah subuh, biasanya Musa selalu melakukan kegiatan rutinnya seperti mengaji, namun tidak untuk kali ini. Pria mungil pemilik wajah super awet muda itu justru kembali berbaring, karena ia terjaga sepanjang malam. Belakangan pikirannya yang sudah tenang bak telaga di sebuah pedesaan itu kembali beriak.             Setelah Musa membuka mata, ia terduduk seperti orang terkejut lalu terdiam selama beberapa detik, mengulas beberapa pesan singkat dari Meira yang semalam ia baca. Ia buru-buru meraba nakas, mengambil ponsel disana dan kembali membuka pesan tersebut. Musa: Lo sehat, kan Mei? Meira: Alhamdulillah. Kamu gak usah khawatirin aku lagi. Sekarang aku ama suami udah pindah rumah untuk sementara. Jadi, istri pertama dan anaknya gak akan neror aku. Setidaknya ini untuk sementara, sampai suami bisa menenangkan keadaan. Makasih banyak ya, Musa. kamu emang orang baik.             Tarikan napas itu terdengar begitu bertenaga. Musa tak habis pikir oleh jalan rumit yang dipilih mantan istrinya tersebut. Sebenarnya ia tak ingin lagi menghubungi Meira bilamana tak ada urusan mendesak, namun keadaan Meira bulan lalu membuat Musa selalu kepikiran. Bahkan sampai saat ini masih terus mengganjal.             Setidaknya jika sudah ada kabar baik seperti ini, Musa menjadi lebih tenang. Selanjutnya, Musa tak ingin lagi menghubungi Meira demi menjaga diri dari fitnah.             Detik selanjutnya ponselnya kembali berdering. Melihat satu kontak yang terpampang, ia bergegas menjawab.             “Buruan, sarapan!”             Musa tersenyum innocent “Siap, mak lampir!” Kemudian panggilan ditutup sepihak.             Tanpa menyisir rambutnya yang super berantakan itu, Musa langsung meninggalkan ranjangnya menuju rumah samping. Sejak ia bertetangga dengan Qiara, ia nyaris tak pernah memasak sendiri. Setiap waktu makan, Musa pria jenaka itu selalu makan bersama dengan si kembar.             Musa membuka pintu, langsung dipersilakan masuk oleh Tiara yang sedang menata piring di atas meja. Pun Musa langsung menarik satu kursi di meja makan. Ia bisa melihat dengan jelas sosok mungil Qiara yang berbalut daster batik panjang bermotif mega mendung dengan warna hitam dan oranye yang mendominasi, serta kerudung bergo oranye pula. Ia sedang sibuk mengaduk nasi goreng dengan porsi banyak.             “Lo masak banyak banget!” Seru Musa bangkit dari duduknya menuju kulkas untuk mengambil s**u dan menuangkannya ke dalam gelas.             “Yang lain mau sarapan disini juga” Jawab Qiara sembari mematikan kompor, lalu menuangkan nasi goreng ke sebuah wadah yang dibawakan Tiara.             Musa yang sedang meminum s**u mendadak terbelalak. Ia menjauhkan gelas dari mulutnya, menyisakan bercak putih di sekitar bibir, layaknya bayi “Hahh?!”.             “Lo gak liat grup?” Tanya Qiara sambil membawa wadah nasi goreng ke atas meja makan melewati Musa.             “Gue belum buka grup” Musa mengekor di belakang Qiara, kemudian kembali ke tempat duduknya bersamaan dengan bel yang berbunyi nyaring.             Itu Ziyan.             Pria itu langsung memejam, menghirup aroma nasi goreng yang begitu menggoda. Kemudian menyusul Musa dan mengambil tempat duduk di samping Qiara, sedang Tiara berada di tempat paling ujung. Kini hanya tersisa Anya yang belum datang.             Qiara membagikan nasi ke piring masing-masing.             “Jio pulang besok, kan?” Tanya Ziyan memastikan. Sontak pertanyaan itu membuat Tiara menghentikan aktifitas menyendoknya.             “Iya besok siang” Kata Musa.             “Lo masih contact-an ama Meira?” Tanya Qiara memberikan sepiring nasi pada Musa.             Musa mengambil sendok “Sesekali aja. Kata lo nanti bisa jadi fitnah”.             Qiara mengangguk. Mulutnya sedang beradu mengunyah makanan, lalu menelannya “Kasihan banget sih dia. Tapi itu emang resiko” Kemudian ia menghening. Memikirkan sesuatu “Gimana kalau gue ama Anya nyamperin dia?”.             “Buat apaan?!” Kaget Musa. Mulutnya masih dipenuhi oleh makanan.             “Untuk memastikan keadaan aja, lagi pula dia hamil loh.. takut kenapa-napa. Ibu hamil kan rentan. Kita juga mahram. Sama-sama perempuan”.             Musa langsung menggeleng “Dia lagi sembunyi. Gue juga gak ngerti lah. Katanya kalau keadaan sudah kondusif, baru dia mau berkeliaran”.             Ziyan terkekeh sambil menambahkan acar ke nasi gorengnya “Bener-bener gak se-level ama lo, Musa. Pokoknya hukum tabur tuai itu ada”.             Musa meletakkan kembali gelas ke atas meja setelah meneguk air mineral “Qi. Pasien VIP lo kemaren siapa?”.             Kressh.. Qiara menggigit kerupuk udang “Anak YG corp” Musapun mengangguk paham “Ngomong-ngomong soal operasi--” Qiara menyambung sembari menelan makanannya “Emangnya Dokter Harun punya sakit ya?”.             “Bang Harun?” Musa menyipit, dihadiahi anggukan kepala Qiara “Nggak ah.. dia tuh bugar banget. Dadanya aja sebidang itu, enak banget kayanya buat bersandar” Ia lantas terkekeh sendiri “Emang kenapa?”.             “Kemarin dia agak aneh gitu. Dia tiba-tiba jatuhin pisau bedah gitu aja dan itu udah yang ketiga kalinya gue nemuin dia kaya gitu” Qiara masih merasa janggal “Apa mungkin karena efek jam terbang yang panjang. Tangan kan juga perlu istirahat”.             “Itu juga masuk akal” Timpa Tiara.             “Hmmm” Musa meletakkan sikunya ke atas meja sambil mengais hipotesa “Tunggu deh.. apa mungkin efek kecelakaan 3 tahun lalu? Dia tuh pernah cidera tangan dan sempat rehat 4 bulanan gitu. Lo ingat gak sih, Zi?”.             “Oh iya.. gue ingat” Ziyan mengerjap. Pasalnya Ziyan dan Musa sudah menjadi penghuni senior Metro Medical Center dari pada tiga teman yang lain.             “Bisa jadi sakitnya yang dulu kambuh karena efek banyak operasi. Coba ntar gue tanyain lagi deh” Tutur Musa. Kemudian ia menghentikan aktifitas menyendok “Eh.. btw lo khawatir banget ya, Qi?” Ia mengedipkan sebelah matanya.             Pun Ziyan merasa sesuatu menghantam hatinya. Ia menoleh, memastikan bahasa tubuh Qiara yang saat ini sedang salah tingkah. Perempuan itu menunduk sembari memegangi bagian lehernya. Membuat banyak pergerakan.             Tiba-tiba ponsel Qiara di ruang tamu berdering. Perempuan itu buru-buru mengambilnya bersamaan dengan Anya yang datang, ia membuka pintu, mempersilakan temannya masuk. Pun Qiara terkejut melihat satu kontak di layar ponselnya sambil kembali menutup pintu.             “Masyaa Allah!” Qiara berbinar sambil berjalan menuju ruang makan, itu membuat yang lainnya penasaran akan sikapnya “Akhirnya si klimis nyimpen nomer gue!” Hebohnya sambil menunjukkan layar ponselnya yang disambut mata membelalak penuh kejut dari yang lainnya.             Uhuk... Tiba-tiba Tiara tersedak. Wanita itu meneguk segelas air mineral.             Qiara kembali ke tempat untuk menjawab video call dari Jio.             “Hy guys!” Pria yang selalu berpenampilan rapi itu begitu ceria menyapa teman-temannya yang sedang berada di Jakarta, menikmati makan pagi bersama.             “Lo seneng banget kayanya. Kenapa?” Pertanyaan Anya mewakili rasa penasaran yang lainnya. Pun Tiara yang ada di ujung hanya mematung sembari mengulum bibir.             “Iya dong.. pagi ini di Padang lagi cerah banget, guys!”.             Semua membelalak “Padang?!!”. Pasalnya yang mereka tau, Jio ini sedang menghadiri undangan sebagai narasumber seminar di sebuah perguruan tinggi di Palembang, dan tak ada jadwal ke Padang.             “Di kampung gue dong” Celetuk Qiara sambil terus memegangi ponsel ke udara agar semua wajah terpampang disana.             “Liat deh siapa di samping gue” Jio mengarahkan ponselnya ke samping. Sontak itu membuat semua terperangah bukan main, terutama Qiara dan Tiara.             “Amak? Abak?” Qiara dan Tiara berseru bersamaan, lalu mata keduanya saling menatap hingga pandangan bersirobok mengail heran beriring gerak bahu.             “Hai anak-anak, sehat semua?” Sapa orang tua si kembar pada lima sekawan itu antusias.             Qiara masih tak bisa mencerna situasi dengan baik “Jio! Lo ngapain ke rumah gua gak bilang-bilang?”.             “Guys! Akhirnya gue dapet restu!!!” Jio bersorak penuh semangat. Qiara semakin mematung. Pun sang kembaran juga sedang kikuk di belakang.             “Woahh.. lo yang pernah ngarepin gue berjodoh ama Qiara ternyata lo sendiri yang mau ambil dia” Cerocos Musa masih belum sepenuhnya percaya, begitu juga dengan yang lainnya.             “Jio.. L-lo?” Qiara nyaris kehilangan kalimatnya “Jadi selama ini... lo suka ama gue?!” Ia menunjuk dirinya sendiri.             “Tiara! Akhrinya kita dapat restu.. ayo nikah!” Jio tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.             “Qiara atau Tiara?” Anya menyelidik sembari menyipitkan mata. Pasalnya kedua nama si kembar itu hampir sama. Namun tatapan Jio lurus ke arah yang jauh.             Qiara, Ziyan, Musa dan Anya kompak menoleh kebelakang. Juga melayangkan tatapan penuh kejut untuk beberapa detik. Pun tatapan itu membuat tenggorokan Tiara terasa kering. Ia seperti seorang tersangka yang sedang diselidik oleh pihak berwajib. Perempuan berhati lembut itu meneguk segelas air mineral untuk menutupi kecanggungan.             “Jadi.. Scoo-be-doo itu Jio klimis?” Tanya Qiara masih belum sepenuhnya mempercayai.             Tiara mengedarkan pandangannya menatap satu-persatu dari mereka sampai akhirnya ia mengangguk begitu samar.             “Astaghfirullah” Semua kompak menyebut, lalu menumbangkan kepala ke meja makan bersamaan pula. Tepatnya mereka telah kehabisan kata-kata atas kejadian tak terduga hari ini. Sama sekali tak ada yang menyangka bilamana Jio akan begitu niat untuk membawa Tiara ke jenjang yang lebih serius sebegitu cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN