Pagi-pagi sekali, Dimas sudah berkutat di depan laptop dan ponselnya secara bergantian di depan teras rumah. Suami dari Anya sekaligus pengusaha properti itu selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Tak lama setelah menutup panggilan telepon dari rekan bisnisnya, ia melihat secangkir teh hangat tiba-tiba mendarat di atas mejanya. Satu senyuman indah merekah dari raut wajah manis Dimas saat berhasil membidik wajah cantik sang istri.
“Minum teh dulu, sayang” Ucapnya sangat lembut.
Itu bagai candu tersendiri yang langsung membuat Dimas menurut dan menikmati momen minum teh bersama sambil bercengkrama.
“Choky belum bangun?” Tanya Dimas setelah menyeruput teh.
“Belum” Anya lantas meletakkan cangkir ke atas meja “Sayang...”.
“Uhmm?”.
“Ini hari Ahad loh. Katanya mau nge-date” Anya mengedipkan sebelah mata.
“Choky gimana?”.
“Gampang. Adik aku kalau Ahad lagi free, nggak kerja”.
Dimas kembali menimbang “Kalau hujan gimana? Kan musim hujan”.
Anya lantas mengambil ponselnya dari saku “Ini tadi aku udah cek di BMKG. Katanya hari ini cukup cerah, loh. Kapan lagi?”.
Mendengar penjelasan sang istri, Dimas tertawa “Kamu niat banget, ya”.
Perempuan berambut sebahu itu mengomel “Ya iya dong, sayang. Kita nggak pernah jalan berdua. Sekali-kali kita jadi ABG, kek”.
Dimas mengusap ubun-ubun sang istri dengan sangat lembut “Ya udah. Hubungin dulu adik kamu”.
Wajah Anya langsung berbinar bagai bintang sirus di malam gelap. Nanar penuh bahagia. Pun Dimas juga ikut merasa senang bilamana sang istri senang. Pria itu memang manis. Punya sejuta kebaikan dan kerap memuliakan dan membahagiakan sang istri.
^^^
Tara!
Musa membuka sebuah karpet bercorak ular tangga di depan Queesha dan Raja.
“Wah!” Queensha dan Raja sama-sama berbinar.
“Gimana? Belum pernah main ular tangga segede gini, kan?”.
“Belum. Gede banget, uncle” Queesha—sulung dari Dokter Harun ini masih terkagum-kagum melihat benda tersebut. Terlebih saat Musa mengeluarkan sebuah dadu super besar yang terbuat dari dakron seperti bantal.
Musa sangat pandai membuat keponakannya itu nyaman berada disampingnya. Ia benar-benar kecintaan anak-anak. Queensha dan Raja sangat senang kala harus melihat Musa turun tingkat, melewati gambar ular yang tertera disana.
“Tiga!” Teriak Raja saat dia harus berjalan tiga langkah di atas karpet.
“Ayo jalan, Raja!” Teriak Queensha.
“Naik tangga, Ja!” Musa menambahi saat Raja berhenti tepat di kotak yang terdapat gambar tangga disana. Lantas bocah lima tahun itu melangkah seolah sedang menaiki tangga menuju kotak yang lebih tinggi.
Setelah bosan bermain ular tangga, mereka beralih bermain petak umpet. Berlari kesana kemari bersama dengan tawa renyah khas anak-anak. Suasana ricuh benar-benar sedang membumi di apartemen Musa.
Musa sendiri sampai kewalahan mengejar Raja yang sangat gesit berlari sampai pria itu kelelahan dan tergeletak di lantai, membiarkan Raja lolos dan memenangkan permainan itu.
"Laja Menang!" Teriaknya.
Kemudian Queensha menunjuk ke arah Musa sambil tertawa "Lihat! uncle Musa kecapean".
Masih mengatur pernapasannya, Musa berucap "Uncle capek. Main yang lain, yuk".
Dokter Harun adalah dokter bedah umum yang sangat sibuk. Sesuatu tak terduga juga bisa terjadi walau di hari libur sekalipun. Ia lantas menitipkan kedua anaknya pada Musa yang sedang senggang.
Musa juga sangat pandai mengajak keponakannya itu bermain dengan sangat nyaman. Bahkan sejak tadi, tawa Musa, Queensha dan Raja menyeruak bebas. Mereka menikmati keseruan bermain ular tangga raksasa.
Ting tong!
Suara bel berbunyi. Seluruh penghuni ruangan Uncle Musa’s World mengarahkan mata mereka ke pintu.
^^^
Choky.
Anak dua tahun itu merengek di depan Musa dan kedua keponakan lainnya. Sementara Musa terus-terusan membuat wajahnya selucu mungkin untuk menghibur Choky, namun tak kunjung berhasil.
“Udah, uncle. Capek” Kata Queensha tak tahan melihat kerja keras Musa yang tak membuahkan hasil.
Musa lantas menarik satu napas berat dan diam-diam melena menghembus seraya mengingat panggilan telepon Anya di sela aktifitas bermain ular tangga bersama keponakannya.
“Musa... gue bawain lo donut kentang buatan gue”.
“Demi apa? Gue mau banget donut buatan lo. Kebetulan ini juga ada keponakan gue”.
“Bagus, dong. Choky ada temennya”.
“Hah?”.
“Gue sekalian nitip Choky bentar, ya. Gue mau nge-date nih sama Dimas. Tadi adik gue ternyata lagi ada meeting di kantornya, jadi ngga bisa nitipin ke dia. Nggak apa-apa kan, Musa? Lo kan pecinta anak-anak”.
Musa mengusap wajahnya kasar. Choky yang masih terlalu kecil ini memang masih mudah menangis. Tapi Musa tak menyerah. Ia terus berusaha mencari cara agar anak dari Anya itu bisa merasa nyaman.
“Queen. Kamu sama Raja nonton kartun dulu sambil senderan disini dulu. Uncle mau ajak Choky ke balkon. Kalian nggak usah ikut” Titah Musa yang langsung dituruti oleh dua keponakan lucunya.
“Aku mau main puzzle aja” Ucap Raja mengeluarkan mainannya dari dalam sebuah kotak yang sengaja ditinggalkan di rumah sang paman.
Lantas dokter berparas menggemaskan itu menghibur Choky di balkon sambil menampakkan pemandangan cantik dari apartemennya.
“Itu ada pesawat, Choky!” Musa mendadak heboh saat benar-benar ada pesawat lewat. Pun tangis Choky perlahan mereda.
^^^
Tak selang lama, bel rumahnya kembali berbunyi. Namun Musa masih sibuk bermain bersama Choky dalam gendongannya di balkon rumah. Sementara Queensha dan Raja mendekati pintu. Mengambil sebuah bangku untuk melihat siapa gerangan dari sebuah layar interkom.
Wajah tampan tanpa cela. Kulit putih bersih serta mata yang teduh.
“Assalamu’alaikum! Musa!” Sapa Ziyan dari luaran sana.
Pun akhirnya pintu terbuka bersamaan dengan Ziyan yang terbelalak saat mengira pintu itu terbuka dengan sendirinya, namun ternyata ada dua bocah yang nyaris luput dari pandangan pria tinggi menjulang itu.
“Oh?!” Kaget Ziyan “Kalian anaknya Bang Harun, kan?”.
“Aku Queensha dan ini adikku---”.
“Laja”.
Jawab mereka polos yang membuat Ziyan gemas. Pria itu lantas membuat setengah duduk agar bisa sejajar dengan mereka.
“Uncle Musa mana?”.
Mereka tak perlu menjawab dan hanya menarik tangan Ziyan untuk melihatnya sendiri. Pun pria itu terbelalak saat menemukan ruang televisi yang dipenuhi mainan, serta Musa yang sedang menggendong Choky di balkon.
“Yaa Allah” Ziyan tercenung cukup lama.
“Oh, mama-boy!” Musa melambaikan tangannya dari luar.
“Gila. Rumah lo udah kaya PAUD” Ziyan masih tak habis pikir.
Musa sengaja memanggil Ziyan dengan maksud terselubungnya agar mau membantu mengurus anak-anak yang ada di rumahnya. Jika Qiara sedang di rumah, ia sudah pasti akan meminta Mak Lampir itu untuk menangani semuanya, tapi Qiara sedang membantu operasi di rumah sakit lain di luar Jakarta yang sedang kekurangan dokter bedah umum.