Riuh suara air kopi yang diseduh dalam mesin penyeduh otomatis menyeruak di sebuah lorong. Musa mengambil cup dari sana dan memberikannya pada Ridwan. Pun ia kembali membuat kopi untuk dirinya. Kedua pria itu masih berbalutkan setelan serba biru duduk di balkon lantai 4 sambil menikmati kopi setelah lelah menghadapi operasi pada seorang anak.
“Ah!” Seru Ridwan menyeruput kesegaran kopi di malam yang membercak bekas hujan “Makasih kopinya, ya, Dok”.
Musa terkekeh menyenggol satu lengan Ridwan “Ey! Apaan? Gue yang makasih banyak udah dibantuin operasinya”.
“Itu sudah tugas saya” Tawa Ridwan.
“Tapi jujur, keahlian operasi lo udah meningkat pesat” Kagum Musa.
“Makasih banyak, Dok” Ridwan merespon dengan sopan.
“Didikan Qiara yang keren atau cinta lo ke Qiara yang keren?” Musa mengangkat satu alis dengan senyum gelinya.
Jika Musa sudah menggoda, siapapun tak bisa lepas dari jeratannya. Pipi Ridwan mulai bersemu kemerahan bak buah persik yang menanti untuk dipetik.
“Elaah!” Musa menyenggol lagi lengan Ridwan.
“Apaan sih, Dok. Ya itu semua menjadi sumber penyemangat aja” Elak Ridwan membayang penuh semangatnya belajar memang murni termotivasi oleh Qiara. Sosok yang dikaguminya.
Musa meneguk sejenak kopinya, lalu menumpu kaki kiri diatas kaki kanan “Trus.. kapan lo maju? Nggak cuma Qiara yang tuir, lo juga udah dewasa. Nggak mungkin dong main-main doang. Serius kaga lo?”.
“Saya udah mantap. Saya juga udah cerita banyak tentang Dokter Qiara ke orang tua, mereka menyambut dengan baik. Tapi Dokter Qiara suruh saya buat nyelesaiin tesos dulu” Terang Ridwan memasung wajah cemberut di akhir kalimat.
Musa tergelak. Tawanya terdengar renyah “Sama aja lo digantungin”.
“Makanya.. Nggak ada kepastian, kan?” Ridwan bersandar ke punggung kursi pasrah “Tapi.. asal Dokter Qiara nggak ada calon, insyaa Allah masih aman, sih” Kemudian ia kembali duduk tegap “Nah.. Dokter Musa kan sahabatnya, nih. Emangnya Dokter Qiara udah punya calon?”.
Musa menarik satu napas pelan. Diam-diam melena menghembus “Mau ada calon atau nggak.. jodoh itu urusan Allah. Yang udah nikah kaya gue, ujungnya nggak jodoh, kan?” Selama Musa bertukas, Ridwan masih menyimak dengan baik sambil mengangguk paham “Ada atau enggaknya calon, itu semua bisa diubah sama Allah. Yang penting sebagai laki-laki kita harus memperjuangakan sosok wanita hebat untuk meraih surga bersama”.
“Maasyaa Allah” Ridwan terkagum-kagum dengan senior yang kerap berkelakar itu berubah menjadi bijaksana dalam urusan percintaan “Jadi, apa Rania termasuk sosok yang layak diperjuangakn untuk Dokter Musa?”.
Detik itu juga Musa sempat tercekat, namun bukan Musa jika tak mengalihkan dengan candanya. Ia tertawa “Kenapa nanya ke gue?”.
“Kalian kompak banget, sih. Dokter Musa suka perhatiin Rania. Rania juga suka salting”.
Tawa Musa kembali mengalun renyah dan heboh “Hey! Lo nggak tau siapa gue?! Gue Musa, dokter kesayangan seluruh anak-anak di Medical Hospital. Gue perhatian sama semua orang. Lo nggak liat gue akrab sama semua dokter, suster, residen, anak magang sampai staf kebersihan”.
Jika dipikir-pikir, apa yang dikatakan Musa benar adanya. Ia adalah orang yang sangat mudah bergaul dengan siapapun. Pribadiny yang santai dan menyenangkan membuatnya disenangi banyak orang. Pun dugaan Ridwan yang tak berdasarpun luluh.
“O-oh?! Itu si Silver Queen, bukan, sih?” Musa menghentikan aktifitas meneguk kopi kala melihat seseorang yang dikenalnya.
Ridwan mengerutkan kening “Silver Queen? Manusia Silver?”.
“Aisyah!” Teriak Musa. Pun orang tersebut menoleh. Ya, tidak salah orang.
Wajah manis Aisyah yang serupa cokelat Silver Queen itu masih berbalut kusut. Ia berlari kecil menghampiri Musa dan Ridwan.
“Wah! Kalau kaya gini muka lo nggak akan semanis Silver Queen” Musa berdecak heran “Sampai kapan mau terus-terusan galau?” Lalu menyipit, menerka sesuatu “Jangan bilang lo kaya gini juga pas di UGD?”.
Aisyah duduk disamping Musa “Nggak lah. Saya kalau kerja profesional. Kalau selesai kerja baru inget lagi”.
Musa menepuk satu bahu Aisyah, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku “Nih, obat anti galau”.
Aisyah menerimanya sambil terbelalak “Hah?! Permen lolipop? Emang saya anak kecil?”.
“Ya gue nggak bawa apa-apa buat ngehibur lo” Tutur Musa apa adanya. Namun akhirnya, Aisyah tetap menikmati makanan manis yang dicintai semua anak-anak itu.
“Eh” Lanjut Musa mengais asumsi “Lo bilang ketemu Jio di bandara sama cewek?”.
“Kok malah dibahas lagi?” Aisyah merengek.
“Gue kepo!” Musa tak kalah nyolot “Dia tuh anaknya tertutup banget, tapi belakangan ini dia suka main HP. Dan itu bukan Jio yang gue kenal”.
“Ceweknya pokoknya pake seragam polisi”.
“Seragam polisi?” Musa menggaruk kepalanya sambil merangkai teka-teki yang masih jadi misteri.
“Heleh.. siapa tau itu bukan pacarnya. Tapi emang lagi kena tilang atau ada masalah berkas atau yang lainnya di bandara” Ridwan berusaha menengahi.
Aisyah, pemilik mata bulat itu semakin membulatkan matanya penuh kejut “Bener juga, ya”.
Tiba-tiba satu ponsel berdering kencang, mengejutkan mereka bertiga yang tengah rehat sejenak. Semua mendadak panik, terutama Aisyah yang notabenenya selalu dipenuhi dengan kepanikan di ruang UGD.
“Tenang-tenang. HP gue” Musa hanya bisa tersenyum innocent pada para residen yang kini menjadi lebih tenang. Pun Musa tak langsung menjawab panggilan itu sampai beberapa kali dan pada akhirnya sang penelpon menyerah. Musa hanya bisa membasahi bibir bawahnya.
^^^
“Hah?! Kenapa dunia ini begitu sempit? Ternyata kakaknya ini pacar Mas Jio yang polwan itu?!”.
Di dalam mobil, Tiara terpaksa mematikan lagu yang sejak tadi memang terputar di tape recorder lantaran tertelan ocehan Gina yang sangat heboh. Anak itu banyak sekali berbicara kesana-kemari.
“Bukan pacar” Kata Tiara sambil fokus pada roda kemudi “Tapi.. ada komitmen, lah. Doain, ya.. adik ipar”.
Tiara yang berkisah, Gina yang histeris. Ia tertawa renyah seraya menendang-nendang kakinya heboh seolah tak ada hal mencekam yang sempat mengganggunya. Pun Tiara juga sempat keheranan dengan sikap Gina yang banyak tingkah.
Keduanya lantas terhenti di sebuah depan sebuah tower kawasan apartemen. Tiara mengantar calon adik iparnya itu agar tetap aman sampai rumah. Ia tak menyangka bilamana bisa bertemu dengan Gina meski di situasi tidak kondusif.
“Habis ini ganti baju, ya” Tutur Tiara mengusap ubun-ubun Gina dengan sangat lembut saat sudah sampai di sebuah unit apartemen di lantai 9.
“Makasih banyak, ya, kak” Gina terharu atas semua rentetan kejadian malam itu “Kakak baik banget. Keren banget” Ia mengacungkan kedua ibu jarinya yang disambu tawa lembut Tiara.
“Besok-besok jangan keluar malam lagi, ya”.
“Iya, Kak. Tadi abis naik MRT jalan bentar malah ketemu ama orang jahat” Gina mengerucutkan bibirnya.
Tiara dengan segala ketulusannya kembali mengingatkan “Makanya jangan pulang terlalu malam. Nggak baik”.
“Iya, Kak”.
“Ya udah, kakak pulang dulu, ya”.
“Tunggu-tunggu!” Gina menahan satu tangan Tiara penuh harap “Tidur sini aja, Kak. Nemenin aku” Pun Tiara sempat menekuri lantainya “Kalau keberatan.. mampir minum dulu, yuk. Yuk.. Yuk”.
Kalimat Gina terdengar seperti permohonan yang dilandasi pemaksaan. Namun Tiara tak keberatan. Demi menghormati satu sama lain, ia mengiyakan permintaan Gina. Sementara gadis berambut panjang nan menggemaskan itu membersihkan diri, Tiara sedikit memperhatikan setiap sudut ruang tamu kediaman Jio.
Apartemen berluaskan 63 meter persegi. Cukup dua kamar dan satu kamar mandi. Desain modern-minimalis yang didominasi oleh warna putih, coklat muda dan biru dongker. Terdapat pula beberapa pigura yang menampilkan foto masa kecil sampai foto dimana Jio wisuda lulus sarjana kedokteran hingga program spesialis.
Sesekali Tiara tertawa melihat pose foto Gina yang bergelantungan di punggung sang kakak saat kelulusan spesialis, sementara ekspresi Jio tetaplah datar.
Suara pintu menyeruak. Gina membawa handuk kecil di bahunya “Ah.. lama, ya, Kak?”.
“Nggak”.
“Mau tambah kopi lagi?”.
“Udah. Ini masih”.
Gina melirik pigura di tangan Tiara “Ngeliatin calon suami”.
Kalimat itu membuat pipi Tiara memanas “Ah~”.
“Bener deh, Kak. Aku restuin banget Kak Tiara jadi istri Mas Jio. Emangnya pertama ketemu dimana?” Rasa penasaran Gina semakin meningkat.
“Kamu tau sahabat-sahabat Jio?” Tanya Tiara memastikan yang disambut anggukan antusias dari Gina “Tau Qiara, dong?”.
“Uhmm.. Yang cantik, mungil, tapi juteknya minta ampun”.
Tiara terkekeh setiap orang lain mengutarakan kesannya pada saudari kembarnya itu “Aku saudara kembarnya”.
“Hah?!” Gina terperanjat sampai harus naik ke punggung sofa.
Gadis itu tak percaya bilamana Tiara—ibu kapolsek yang cantik, tinggi, ramah, baik hati namun tetap keren saat bertugas adalah saudara kembar dari sahabat kakaknya yang super jutek dan dingin.
“Kenapa kaget?” Tiara tertawa “Aku juga harusnya kaget liat kamu adiknya Jio”.
Begitulah definisi saudara. Setiap kakak dan adik akan memilikii berbagai sifat yang bertolak belakang dan tak bisa disamakan, sekalipun memiliki rupa yang sama.
^^^
Qiara menumbangkan diri diatas sofa yang ada di ruang kerjanya. Lalu ada Anya yang sibuk membenahi kuku-kuku cantiknya di atas kursi kerja Nyai Qiara.
“Nya! Lo nggak pesen makanan gitu?” Qiara menepuk-nepuk perut, sesekali memijat bagian leheranya yang tegang akibat lama berkutat dalam operasi.
“Pesen, gih! Gue bayar”.
Mendengar itu, Qiara langsung bangkit penuh semangat. Segera membuka ponselnya untuk memesan makanan pada ojek daring. Ia nampak menggebu-gebu kegirangan.
“Holaaa!” Teriak Musa memekik telinga. Anya dan Qiara buru-buru menutup telinga saat kedatangan sang perusuh “Aissh! Dikacangin gue” Musa lantas duduk disamping Qiara.
“Gue mau pesen. Pizza, Burger, Kentang goreng---”.
“Junk Food semua?”.
Qiara mengangguk “Sekali-kali nggak apa-apa” Lalu menjauh dari layar ponsel sejenak “Lo abis dapet bulanan dari Dimas?”.
Tanpa perlu mengucapkan sepatah kata. Raut wajah nanar penuh bahagia dari Anya sudah mampu terbaca oleh para sahabatnya.
Qiara berdecak “Kapan gue bisa dikasih bulanan gitu?”.
“Lo kan dikasih bulanan sama rumah sakit” Celoteh Musa sambil asyik dengan gawainya yang disambut sinis oleh Qiara.
Tiba-tiba suara pintu terbuka kembali menyeruak. Dengan wajah girang, Ziyan datang memanggil-manggil Qiara sembari membawa satu boks.
“Apaan?” Tanya Qiara penasaran.
Ziyan lantas mengusir Musa yang sudah pw disamping Qiara untuk pindah ke sofa kecil “Minggir lo”.
Musa tergelak “Enak aja! Udah pw tau!”.
“Minggir!” Tegas Qiara yang langsung membuat Musa menurut. Kini Ziyan sudah berada disamping Qiara “Lo bawa apa?”.
Ziyan membuka boks tersebut “Bantal terapi leher yang lo mau udah datang!”.
“Wah.. lo pinter manfaatin temen, ya, Qi” Kaget Anya saat melihat bantal terapi mahal dari Ziyan.
“Namanya juga Nyai” Musa menambah-nambahi.
Qiara buru-buru menyergah “Nggak! Gue nggak minta. Gue cuma nanya, Papah Fardan beli bantal terapi itu dimana? Gitu doang”.
“Itu secara nggak langsung minta Ziyan beliin” Musa kembali nyolot.
“Udah! Qiara nggak minta, gue yang inisiatif beliin” Setelah menyetel beberapa tombol, Ziyan segera memakaikannya ke belakang leher Qiara “Kasihan kan, Qiara pasti pegel abis operasi”.
Musa langsung bangkit sambil berkacak pinggang “Woy! Lo kira yang operasi Si Mak Lampir doang? Gue apa kabar?!”.
Ziyan seolah tak peduli “Lo nggak bilang kalau butuh bantal ini, sih?”.
“Wah!” Musa mengusap wajahnya kasar “Qiara lo jangan suka manfaatin cowok-cowok dong”.
“Cowok-cowok? Siapa?” Qiara terkekeh heran “Cowok yang baik cuma Ziyan, nggak kaya lo ama Jio yang pelit!” Ia menjulurkan lidahnya sejenak membuat Musa semakin panas.
“Lo manfaatin Ridwan buat jajanin lo di luar” Musa tak mau kalah telak.
Mendengar itu, Ziyan langsung menoleh ke arah Qiara seolah butuh penjelasan “Ridwan? Lagi?”.
“Iya. Ridwan kan suka sama Qiara!” Tegas Musa.
“Itu kejadian yang kemaren, Zi. Ridwan yang ngajakin gue karena mau merayakan peningkatan skill operasinya. Whats wrong?” Celoteh Qiara dengan bahasa tubuhnya yang songong.
“Abis Ridwan, Ziyan besok Bang Har----”.
Mata Qiara yang tenang mendadak beriak saat ada satu nama yang hendak diucapkan Musa nyaris mengusik telinga. Mata mungilnya melotot, memberikan tatapan intimidasi pada Musa.
“Har---” Tambah Musa lagi yang kembali disambut dengan rahang Qiara yang mulai mengeras “Har---” Musa masih membuka mulutnya sampai pada akhirnya keluar kalimat yang nyaris membuat Qiara mati gaya.
Tapi.. apalah daya, Musa akan selalu tunduk dengan ultimatum Nyai Qiara “Har----Hari ini~” Ali-alih mengucapkan satu nama yang terasa sangat sakral, pria penuh kelakar itu justru menyanyikan lagu dangdut milik Rita Sugiarto lengkap dengan cengkoknya “—Saya umumkan~ pada bulan. Pada bintang~”.
Ziyan dan Anya yang semula ikut menerka makna terselubung diantara percakapan keduanya mendadak salah fokus dengan tingkah kocak Musa yang tak pernah ada habisnya. Tergelak penuh tawa. Wajah putih bagai s**u milik Ziyan menjadi merah membara, pun begitu dengan Anya.
Belum selesai menyenandungkan cengkok asyik yang menjadi bagian pamungkas dari lagu tersebu, Qiara sudah mulai memegang bantal. Bersiap untuk menghujami anak itu. Pun melihat situasi menggila dari Qiara, Musa justru buru-buru berbalik menuju pintu.
Dar!
Alih-alih ingin menghindari pukulan maut dari Qiara, Musa justru menabrak pintu yang masih tertutup. Ia lantas terjatuh seolah sedang pingsan. Sontak itu kembali memecah tawa seluruh penghuni ruangan, tak terkecuali Qiara.