25. Hujan

1488 Kata
Rinai hujan terus membumi. Ibu kota tersapu oleh basahnya kenangan di musim penghujan. Menjejakkan banjir di setiap sudut perkotaan. Tapi itu sudah menjadi makanan sehari-hari warga Jakarta.             Ruang Kerja 4 Dokter Bedah Umum             Musa mengetuk-ngetuk jemari diatas meja selama beberapa kali sambil sesekali melirik arloji di pergelangan tangannya “Issh! Lama banget, sih!”.             Selanjutnya, sebuah pintu terbuka bersamaan dengan seseorang pria berbalutkan setelan serba biru dengan dua kantong di tangannya.             “Ho.. Hoo..” Musa menepuk-nepuk tangan “Ridwan! Lo beli makanan sebanyak itu.. pantesan lama”.             Ridwan menegeluarkan makanan dari kantong “Kan bukan saya yang pesan. Dokter Musa sendiri yang order di ojol” Kemudian ia berbisik “Saya kan cuma ambil ke bawah”.             Suasana menjadi sekonyong hening, hanya ada suara hujan deras yang mendominasi, serta gemuruh petir di sore itu. Sampai pada akhirnya Musa tergelak. Tawanya renyah membahana.             “Bener juga. Gue yang order, ya” Musa menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.             “Assalamu’alaikum” Ucap Aisyah lesu “Apa dokter UGD boleh makan disini juga?”.             “Boleh, dong” Musa mempersilakan. Pun Aisyah berterimakasih dan langsung mengambil tempat di samping Ridwan. Raut wajah menyedihkan itu membuat Musa menerka-nerka “Ada dua jenis wajah murung seseorang. Satu, karena bokek. Dua, karen putus cinta. Lo yang mana, Aisyah?”.             “S-saya?” Ia menunjuk diirnya sendiri yang dihadiahi anggukan kecil Musa.             Belum sempat menimpali, Ridwan sudah lebih dahulu menyela “Kalau nomor satu udah biasa dan dia enjoy aja. Jadi.. mungkin nomer dua”.             Aisyah membuka sumpit dan menusuk-nusuk dimsum sambil menahan tangis.              “Tuh. Bener, kan?” Ridwan menjadi semakin yakin.             Kemudian pintu kembali terbuka. Menampakkan si anggun nan manis—Rania. Ia sempat tertegun. Takut salah ruangan saat melihat keberadaan Aisyah. Lantas keluar untuk melihat plang yang tertera di depan pintu.             “Bener. Ini bener tempat GS. Saya kira ini tempat UGD” Cerocos Rania polos yang dihadiahi tawa Musa dan Ridwan.             “Duduk, sini!” Ajak Musa.             Rania mengambil tempat duduk di samping Musa sambil mengambil makanan dan menyantapnya dengan sangat lahap.             “Lo kenapa sih.. suaranya gangguin selera makan yang lain tau!” Semprot Ridwan pada Aisyah saat mendengar ada suara dari cairan di hidung “Nggak sopan! Ada Dokter Musa disini”.             Alih-alih terganggu, Musa hanya tertawa “Nangis aja. Jangan ditahan!”.             Detik itu juga Aisyah meluapkan tangisnya yang sejakk tadi tertahan. Terisak sangat kencang. Sepertinya ia benar-benar menafsirkan kalimat, jangan ditahan dengan sangat baik. Tangis itu memekik telinga. Riuh suara hujan dari langit jadi tersamarkan.             “Dokter Jio teganya dirimu!” Ungkap Aisyah di tengah tangis.            Meski gadis berkulit tan itu berucap dengan tidak begitu jelas, namun Musa mampu mendengarnya samar. Ia terus mendekatkan telinganya.             Rania menebak “D-dokter Jio?”.             Pun Aisyah mengangguk dengan sangat tegas “Tega dia nggak pernah ingat nama gue. Nggak pernah menoleh sedikit kebelakang, padahal bayangan gue masih kelihatan di spionnya” Kemudian tangisnya pecah lagi.             “Ah~” Ridwan memahami point terpenting dari segala keresahan hati Aisyah.             Musa masih belum bisa mencerna situasi dengan baik. Ia bertanya pada Ridwan “Dia suka Jio? nggak salah?".             Ridwan mengangguk “Nggak salah lagi”.             “Astaghfirullah” Musa menepuk dahinya sambil tertawa.             “Jodohin saya, Dok” Pinta Aisyah penuh harap.             “Kenapa baru bilang sekarang?” Tanya Musa, pasalnya menjodohkan orang tidak semudah yang dibayangkan. Butuh ancang-ancang yang kuat dan panjang.             “Karena saya jarang ketemu Dokter Musa” Aisyah mengulum bibir bawahanya “Please, Dok. Saya nggak mau patah hati”.             “Belum apa-apa udah patah hati? Emangnya kenapa sampai kamu nangis-nangis kaya gini?” Rania bertanya penuh perhatian lengkap dengan aksen sundanya.             “Waktu Dokter Jio berangkat ke Palembang, saya nyusul ke airport. Trus.. saya bawain jajanan, taunya ada cewek yang nemenin Dokter Jio” Air mata Aisyah kembali berderai “Saya nggak mau patah hati. Patah hati itu sakit”.             Musa terkekeh sambil mengadu mulutnya dengan berbagai makanan. Ia sibuk sekali.            Ridwan meletakkan sendok dari tangannya “Yang namanya siap mencintai, itu berarti harus siap terluka”.             “Wooooo” Seru Musa dan Rania kompak.             Ridwan terbelalak. Kaku dan membeku lantaran dua orang itu nampak sangat kompak. Namun tatapan julid Musa sudah mampu membuatnya kehilangan kata-kata. Hanya bisa membatin.             “Mencintai Qiara membuatmu tumbuh dewasa” Mulanya Musa berucap serius layaknya seorang pujangga dengan puisi dan analoginya. Kemudian ia tertawa geli saat menyadari barisan kata yang baru terlontar dari mulutnya. Pun Rania juga ikut menahan tawa.             Ridwan sudah mati gaya. Ia kikuk dan hanya bisa menggaruk belakang kepala yang tak gatal. Ingin mengelak, namun ia tak bisa membohongi perasaan. Sampai pada akhirnya suara pintu kembali menyeruak, mengejutkan semua penghuni ruangan, ditambah ekspresi Ridwan yang seolah-olah baru saja melihat mbak kunti.             “Kenapa nggak ada yang jawab salam gue?” Tanya Qiara menatap mereka satu persatu dengan mata pedangnya yang menyebalkan itu.             “Ah~”.             “Waalaikumussalaam” Jawab mereka serempak.             Musa langsung bangkit dari tempat duduk “Gue ada jadwal operasi lagi. Bye”, Pun Rania juga ikut beranjak, mengekori Musa. “Aisyah.. UGD butuh lo”.             Sontak Aisyah yang sejak tadi hanya bersandar lesu mendadak bangkit dengan semangat. Seolah lupa dengan penderitaannya. Melihat kelompoknya berhamburan pergi dan hanya menyisakan dirinya dan Qiara membuat rasa canggung itu menggeliat.             “Kok--- pergi?”.             Sampai di depan pintu, Musa mengerem langkah “Kita semua lagi sibuk. Nanti abis maghrib jangan lupa bantuin operasi gue” Ia melambaikan tangan dan ditutup dengan senyum menyebalkan.             Qiara menarik satu kursi di depan Ridwan tanpa canggung dan langsung melahap makanan yang diambil dari dalam kantong tanpa basa-basi. ^^^             Di tengah deras hujan malam, Tiara sedang dalam perjalanan pulang dari kantor. Berbalutkan pakaian casual sehari-hari. Celana kulot coklat curduroy dan kaos hitam panjang serta kerudung lime. Ia mengendarai mobilnya sendiri.             Tanpa sengaja matanya membidik sebuah insiden yang diduga kuat adalah kejahatan. Ia buru-buru meberhantikan mobilnya.             “Tolong”.             “Diam”.             Tiara berlari kencang menerjang hujan “Berhenti!”.             Jika dalam kehidupan sehari-hari, Tiara tampak lebih kalem dari saudari kembarnya, namun jika menghadapi penjahat, ia bahkan lebih gahar dari siapapun.             “Saya polisi. Mundur!” Ia menodongkan pistol ke arah dua lelak jahat yang sedang mengganggu seorang gadis.             “Tolong!” Gadis itu menangis minta tolong. Namun Tiara belum bisa melihat rupanya dengan jelas, sebab saat ini fokusnya menyingkirkan dua penjahat itu dari sekitar.             “Dia adik saya, Bu” Kata salah satu dari mereka yang bisa dipastikan beralibi.             “Merapat ke dinding!” Titah Tiara, perlahan diikuti mereka.             “Sudah dibilang dia adik saya”.             Tapi Tiara memanglah perempuan yang punya empati besar. Ia menyempatkan diri untuk bertanya “Bangun, Mbak. Nggak apa-apa, kan?”.             “I-iya” Jawabnya masih syok.             Momen ini digunakan dengan baik oleh para penjahat untuk mendorong Tiara dengan payung yang dibawanya. Sang Polwan sempat terdorong merapat ke dinding yang lainnya. Sementara satu penjahat kabur.             Tak mau payung itu menekik lehernya. Tiara menggunakan kekuatannya untuk menahan dan menyerang balik saat kekuatannya memadahi. Namun tak berhenti sampai disitu, salah satu penjahat itu masih setia menyerang dengan ujung payung yang runcing. Pun Tiara terus berusaha menghindar dan mengambil sembarang barang yang ada disekitarnya untuk alat perlindungan.             Sebuah papan kayu.             Tiara terus memebrikan tendangan dan sesekali menghindar sampai fokusnya tercapai. Yakni, menyingkirkan payung dari tangan lelaki berbadan kekar itu. Kemudian mendorongnya ke dinding dan memberikan pukulan mautnya tanpa ampun. Lantas menyeret dan memberikan borgol di tangannya dengan napas yang masih tersengal-sengal.             Polwan itu kemudian berlari menghampiri korban berambut panjang yang masih berada di tengah hujan “Mbak-nya nggak apa-apa, kan?”.             “Nggak apa-apa”.             “Ikut saya ke mobil dulu, ya. Disini hujan”.             Lantaran korban masih dalam trauma berat, ia sulit untuk berjalan. Tiara lantas menuntunnya untuk berteduh sejenak di tempat seadanya. Kemudian menghubungi anak buahnya untuk meringkus penjahat tersebut.             “In heal dan ex heal pelan-pelan, ya, Mbak. Supaya tenang” Tutur Tiara lembut yang dipatuhi olehnya.             Dalam hati Tiara sibuk membatin banyak kata saat menatap wajah sang korban yang rambutnya basah ini “Kok nggak asing, ya?”.             “Mbak-nya mahasiswa atau kerja?”.             “M-mahasiswa”.             “Ada nomor wali yang bisa dihubungi?”.             “Jangan!” Ia menyergah panik “Saya tinggal di Jakarta sama kakak saya. Kebetulan beliau lagi tugas di Palembang. Langsung antar ke apartemen kakak saya aja, ya. Disitu, kok. Deket”.             Gadis itu menunjuk sebuah gedung yang letaknya tak jauh dari lokasi mereka saat ini. Pun itu membuat Tiara mengais banyak pikiran. Pasalnya apartemen itu nampak tak asing.             “Kakak kamu kerjanya apa? Cewek atau cowok?”.             “Kakak saya dokter. Laki-laki”.             Itu semakin membuat Tiara bergejolak “Apa mungkin... Dokter Jio?”.              Gadis itu terperangah bukan main. Trauma itu seolah lenyap “Ternyata kakak saya terkenal, ya?”.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN