24. Masih di Januari

2235 Kata
Cklek!             “Guys! Parah.. parah!”.             Alih-alih mengucap salam, Jio justru membuat heboh satu ruangan dengan teriakannya, dengan kepanikannya. Anya dan Ziyan sontak mengerjap.             “Astaghfirullah” Ziyan mengelus d**a.             “Salam kek!” Anya mengernyit “Ngagetin tau!”.             “Sorry..sorry” Jio mengambil satu tempat di atas sofa, tepat disamping Anya “Kalian tau gak? Virus corona itu udah menyebar di berbagai negara di Asia timur” Ia kembali heboh, pun Anya dan Ziyan menyimak santai “Gue abis nimburung suster-suster di pos, gue ngeliat video orang yang kena corona. Dia lagi berdiri diam tau-tau tumbang, kejang-kejang gitu. Kan serem”.             Mulut Anya terbuka untuk menimpali, namun Jio kembali menyahut.             “Terus.. dokter ama susternya seharian pakai baju hazmat, mereka ampe pakai pampers gara-gara gak sempat ke kemar mandi, saking banyaknya orang yang kena corona” Jio bergidik ngeri membayangkan semua itu.             “Ji” Panggil Anya menepuk satu bahunya “Jangankan Asia timur, Singapura aja udah ada yang kena”.             “Hahhh?!” Jio membelalak. Pasalnya Singapura adalah negara tetangga. Memungkinkan virus masuk lebih cepat.             “Malaysia juga, Thailand juga” Tambah Ziyan yang sudah tidak begitu terkejut dengan kabar itu.             Jio membeku sejenak “I-indonesia gimana?”.             “Kata pemerintah sih belum ada yang terpapar. Yang jelas jangan panik, karena panik bisa membuat sistem imun lo menurun, Ji” Tukas Anya.             “Iya juga ya” Jio menghembuskan napasnya “Tapi masuk akal juga sih kalau Indonesia gak ada yang kena” Ia sedang mengais hipotesa “Kalian liat sendiri, banjir begini orang-orang malah pada berenang di air kotor dan sehat-sehat aja, padahal disana banyak banget bakteri loh. Bisa jadi warga +62 ini udah terlalu bebel sama penyakit karena otaknya jauh dari beban berlebih, banjir tetap happy”.             Ziyan tertawa renyah “Konyol banget pemikiran lo. Tapi masuk akal juga loh”.             “Ada kemungkinan lain” Anya juga sedang mengais asumsi, disambut dengan antusiasme dua temannya yang siap menyimak “Atau pemerintah yang gagap dalam menangani kasus ini, sehingga tidak terdeteksi sejak dini”.             Kalimat itu membuat Ziyan dan Jio saling bersitatap dalam hening, lalu keduanya mengangkat tangan sambil berseru kompak “No comment!”.            “Assalamu’alaikum” Musa datang sambil menepuk-nepuk lehernya yang kaku setelah melakukan operasi.             “Wa’alaikumussalaam” Yang lain menjawab serempak.             Musa memaksa Jio untuk pindah ke kursi lain, agar dirinya bisa duduk di sofa panjang. Ia mengambil tempat disamping Ziyan sambil mengerang “Zi.. pijitin leher ama pundak gue dong. Sakit banget nih” Pun pria berkulit putih itu tak mengelak sama sekali. Ia memang berhati malaikat.             “Eh, si Mak Lampir mana? Dia nyuruh gua kesini tadi?” Sadar Jio saat baru merasa ada yang kurang.             “Qiara lagi ada operasi pasien VIP” Jawab Anya sambil berdiri, mengambil sebuah kotak dari atas meja kerja, lalu meletakkannya di atas meja—tepat di hadapan Jio “Tuh, kita sisain martabak buat lo”.             Jio membelalak. Ia langsung duduk tegap, bersiap untuk menikmatinya “Siang-siang dapet martabak dari mana?”.             “Tau tuh Qiara. Dapet dari Ridwan katanya” Jawab Anya.             “Aduhh.. sakit bener!” Rengek Musa saat merasakan pijatan yang kuat.             Sembari memijat, Ziyan teringat sesuatu “Eh.. Si Meira gimana jadinya?”.             Musa terdiam sejenak, menarik satu napas pelan “Gimana ya?.. gue juga bingung. Dia kan bukan siapa-siapa gue lagi. Trus itu urusan keluarga dia. Gue gak mau ikut campur. Tapi seenggaknya gue memastikan dia dalam keadaan baik”.             “Itu udah bagian dari resiko” Celetuk Anya sembari membuka ponsel lagi “Selingkuh ama laki yang udah punya bini? Pasti gak akan baik-baik aja kehidupannya, dan itu jalan yang Meira pilih dari pada hidup tenang dengan seorang pejuang medis”.             “Gue setuju tuh!” Musa mengacungkan ibu jari.             “Tapi lo serius gak mau nanyain hal mendalam tentang kejadian itu ama suaminya?” Tambah Jio sambil sibuk mengunyah martabak.             “Ngapain?!” Musa terkejut “Yah~ awalnya ada niatan begitu, tapi setelah gue konsultasi ama mak lampir yang punya mental baja, gue putuskan untuk gak mau ikut campur karena khawatir jadi fitnah”.             “Trus.. lo nantinya mau ngurus anak Meira ama si hidung belang itu?” Ziyan pensaran.             Ck. Musa berdecak kesal “Kaga! Gue kan belum kasih jawaban ke Meira. Yang jelas gue gak mau hidup gue terbebani lagi, tapi gue juga gak mau membenci dia”.             “Bagus.. bagus!” Anya merasa sangat puas “Lo harus bahagia, Musa. Cari istri baru yang jauh lebih baik” Kalimat itu membuat Musa yang sedari tadi membelakangi teman-temannya, mendadak berbalik dengan gurat rona penuh kejutnya.             “Udahlah.. cari istri yang baik juga gak semudah itu.. meding tanding ama gua, yuk di Taken” Cerocos Ziyan masih asyik memijat bahu Musa.             “Cakep!” Mata Musa berbinar “Abis ini gue mau ngerekap data pasien gue dulu, abis itu gue kesini deh”.             “Ok! Gua udah gak sabar pengen ngalahin lo lagi” Ziyan tertawa penuh antusias. Sementara Anya dan Jio hanya bisa mengulum bibir, terkucilkan setiap kali mereka asyik membahas soal game.   ^^^             Tawa matahari di muka bumi meredup seiring dengan langit yang memekat gelap. Begitu cepat waktu bergulir. Seperti kebiasaannya jika pulang lebih awal, Dokter Harun selalu menemani kedua anaknya sampai benar-benar tertidur.             Dokter Harun duduk di bibir ranjang mungil milik si bungsu, Raja. Ia mengusap kening putranya yang kini berusia enam tahun itu dengan lembut. Itu sudah menjadi ritual yang wajib dilakukan semenjak masih ada sang ibu.             Pria tampan berkulit eksotis itu memberikan usapan seraya menyerukan sholawat agar putranya cepat tertidur. Benar saja, tak perlu waktu lama, si bungsu itu sudah memejam dalam mimpi.             Kini giliran si sulung yang sedari tadi asyik bermain dengan bonekanya di atas ranjang. Kedua anaknya memiliki ranjang mungilnya masing-masing.             “Queensha, tidur, nak!” Dokter Harun mendekat. Mengambil tempat di bibir ranjang “Bonekanya ditaruh dulu, ya”.             “Iya, ayah” Gadis delapan tahun itu meletakkan boneka disisinya “Selamat malam!”.             Senyum Dokter Harun menyemai sebuah ketulusan seorang ayah sejati. Ia menarik satu selimut, diarahkannya pada sang putri kecil. Mengusap ubun-ubunnya lembut “Baca doa dulu”.             “Bismika Allahumma ahya wa bismika aamut” Queensha mengusap wajah mungilnya, lalu memejam.             Dokter Harun juga melakukan hal serupa pada sulungnya. Menyenandungkan sholawat sampai ia terpejam. Momen seperti ini adalah momen yang paling kedua anaknya nanti, pasalnya sang ayah selalu pulang larut. Namun Dokter Harun selalu memberikan pengertian, bahwa pekerjaannya seperti avangers.             Pria tampan berkulit eksotis itu menyunggingkan senyum lembut kepada dua anaknya secara bergantian. Sebuah senyum tulus penuh dengan rasa. Ayah.. seorang pahlawan abadi dalam hidup setiap anak.             Luput matanya indah mencermat pertumbuhan kedua buah cintanya bersama sang istri yang telah lebih dulu Allah panggil. Pelupuk matanya membendung sebuah air. Membayangkan pertumbuhan anak-anaknya tanpa seorang ibu. Malam hujan itu mengundang sendu dalam angan. Tapi ia tak luput dari rasa syukur dalam kanvas batinnya, atas amanah yang Allah berikan padanya. Anak-anak yang selalu membuat hidupnya lebih baik, bangkit dari keterpurukan yang meluluh-lantakkan hidupnya 3 tahun lalu.             Kemudian pikirannya mengembara liar entah kemana. Ia mengambil satu kalender yang bertengger di atas nakas. Membuka lembarannya. Nampak sebuah garis yang melingkar di tanggal 30 April. Satu tarikan napas bertenaga begitu melena nyaring. Senyumnya kian meredup saat kembali menatap tangan kanannya yang bergetar.             Semua itu mengingatkannya akan kejadian siang tadi saat melakukan operasi pasien VIP, pun Qiara juga ikut serta di dalamnya. Untuk yang kesekian kalinya, tangan Dokter Harun bergetar. Pisau bedah itu terlepas dari genggamannya. Jatuh di lantai. Dengan cekatan, Qiara langsung menutupi hal yang tak biasa bagi seorang ahli bedah senior itu. Perempuan itu membuat semua orang di dalam ruang operasi yang semula menghening menjadi kembali fokus melakukan operasi tanpa menghiraukan apa yang sedang terjadi.             Dokter Harun memijat keningnya yang berdenyut kala semua itu teputar jelas di otaknya “Astaghfirullah”.             “Semoga ini keputusan yang terbaik untuk semua” Dokter Harun berusaha menyelaraskan hati dan pikirannya yang beradu tak sejalan. Keraguan dan bimbang sedang menyulut hati bagai bulan terkungkung oleh malam. ^^^             Aisyah menoleh ke arloji di pergelangan tangan kirinya yang kini sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB saat dirinya keluar dari sebuah taksi online tepat di lobi Bandara Internasional Soekarno-Hatta.             Wanita berambut ikal dengan simple style, kaos hitam polos beserta celana berwarna kunyit yang sedang tren di tahun ini mempercepat langkah menuju sebuah terminal keberangkatan setelah bertanya pada customer service mengenai jadwal penerbangan menuju Palembang.             Ia berjalan dengan perasaan campur aduk, namun ia juga tampak bersemangat sembari menggenggam papper bag coklat vintage saat hendak menjumpai seseorang, hendak membawakannya bekal untuk perjalanan.             Hingga pada akhirnya satu pandangan meruntuhkan tebing cinta yang selama ini sudah terbangun kokoh. Meluluh-lantakkan lautan perasaan yang selama ini semakin luas bagai samudera. Seketika tangannya lemas, papper bag di tangan terlepas begitu saja dari genggamannya saat melihat Jio berdampingan dengan sosok perempuan berbalut seragam abu-abu. Keduanya nampak dekat. Saling tertawa dan memandang penuh rasa.             Cemburu? Untuk apa. Jio bukan miliknya. Aisyah hanyalah wanita biasa yang mengagumi sosok yang sangat keras untuk direngkuh. ^^^             Hujan turun begitu deras. Ridwan melangkah cepat menuju pintu keluar utama rumah sakit. Hari ini bukanlah jadwal jaga malamya. Ia bersyukur bisa bertemu keluarganya lebih awal.             Satu pandangan menghentikan langkah pria berwajah timur tengah itu, tepat sebelum keluar dari pintu. Kedua sudut bibirnya merekah, membuat senyum manis tiada tara disana saat mendapati seorang perempuan mungil berhijab yang berbalut overall panjang. Ia seperti sedang menunggu. Mungkinkah menunggu hujan reda?.             Ridwan memantapkan diri untuk melanjutkan langkahnya. Mensejajarkan kaki dengan sosoknya sembari ikut menatap hujan.             “Ridwan?”.             Entah mengapa suara agak berat itu membuat hatinya berdesir.             “Dokter Qiara mau pulang?” Tanyanya basa-basi.             Qiara tersenyum tipis sembari mengangguk. Matanya masih menatap lurus ke arah hujan “Iya. Kamu sendiri? Hari ini gak piket malam?”.             “Nggak, dok. Kemarin saya sudah tiga hari berturut-turut” Jawabnya begitu sopan “Dokter pulang sendiri? atau pesan taksi online?”.             Qiara menoleh “Saya menunggu seseorang”.             “Aaah~” Ridwan mengangguk paham dan sama sekali tak berspekulasi apapun bersamaan dengan sebuah mobil sedan mewah buatan Eropa yang menerjang hujan, berhenti di depan pintu utama, tepat di hadapan Qiara dan Ridwan. Kedua pasang mata terfokus pada benda tersebut.             Tiba-tiba jendela terbuka, menampilkan sebuah maha karya Sang Pencipta yang begitu menawan. Ketampanan itu nampak paripurna “Buruan, Qi!” Ziyan yang berbalut jaket denim itu menampakkan dirinya dibagian kemudi—Boyfriendable.             “Dia orang yang saya tunggu. Duluan, ya” Kata Qiara sebelum akhirnya berlari kecil menerjang hujan, masuk ke dalam mobil. Pun Ziyan menyempatkan diri untuk menyerukan klakson mobil sebelum memelesat sebagai tanda keramah-tamahannya pada Ridwan yang saat ini sedang membeku di tempat.             Seperti terdengar suara yang begitu meggelegar, tapi bukan petir. Ya.. itu suara hati Ridwan yang retak. Dunianya seolah sedang berhenti berputar. Ia berharap besar bahwa yang dilihatnya hanyalah mimpi buruk.             Sebenarnya ia tak ingin berasumsi apapun, toh mereka hanya berteman. Tetapi posisi mereka adalah pria dan wanita yang sudah sangat lama menjalin pertemanan, mungkinkah kedekatan itu hanya sebatas teman?.             “Udah gue duga.. pasti Qiara”.             Tiba-tiba sebuah suara lain datang. Seorang wanita berdiri sejajar dengan Ridwan disana. Pria itu lantas menoleh, menemukan Keysha yang sedang menatap lurus dan kosong. Keduanya sedang berada dalam situasi yang sama. Sama-sama hancur.              “Kenapa Kak Ziyan selalu menghindar dari aku? Kenapa? Aku akan berhenti jika memang itu mau kakak. Aku hanya butuh kejelasan”.             Bibir Ziyan bergetar. Sorot matanya menyemai rasa bersalah yang bersatu padu dengan berbagai rasa lainnya. Semua itu terasa abstrak. Ia ingat betul bagaimana Keysha selalu berusaha mendekat sejak bertahun-tahun lalu. Wanita itu tak pernah menyerah, pun sejatinya ia tak ingin menolak, tapi satu alasan membuatnya bertahan.             “Karena ada orang yang aku cintai. Maaf”.             Semua kejadian kemarin siang, akhrinya mampu membuat Keysha menemukan jawaban atas teka-tekinya selama bertahun-tahun ini. Andai saja ia tak memberanikan diri untuk mengungkap perasaannya, selamanya ia tak kan tau situasi ini sampai Ziyan menikahi wanita pujaannya. ^^^             Anya, Musa dan Jio sudah berada dibalik alat musik mereka masing-masing. Berlatih mempersiapkan lagu yang akan mereka bawakan malam ini tanpa sang pemilik rumah. Pun Qiara dan Ziyan datang menyusul, langsung bergerak menuju alat mereka.             Kini lima sekawan itu siap menyanyikan kembali tembang lawas yang populer ditahun ’97 oleh solois bersuara merdu, Fatur. Sebuah lagu ballada penuh makna yang menyentuh jiwa. Menggambarkan keraguan seseorang atas cintanya, seolah sedang menggambarkan kegundahan yang melanda Aisyah, Harun, Keysha dan juga Ridwan.             Tangan Musa mengayun indah diatas tuts piano sebagai intro manis dan menyentuh dari lagu tersebut.             Bersandar di pelukmu.. menatap di matamu             Apakah kau ragu padaku? Kini aku ragu padamu             *Adakah cinta yang tulus kepadaku.. adakah cinta yang tak pernah berakhir 2x             Selalu untuk selamanya~             Qiara mulai menabuh pelan drum bersamaan dengan gitar yang terdenting dari tangan Jio dan bass yang dipetik Anya.             Termenung di keningmu. Basah di matamu             Apakah itulah caramu.. Ooh` untuk membuktikan cintamu             (Back to *). Pun drum, bass dan gitar dimainkan dengan power yang lebih kuat, membuat intro yang lebih menggetarkan. Nada-nada itu saling sinkron satu sama lain.             Sesungguhnya dirimu di hatiku, dan diriku di hatimu             Walau ada ragu yang membara, ragu yang harus kau jawab             Ooo` Aaa~`             Ooo~             Ziyan melayangkan high note-nya tanpa cacat bersamaan dengan alunan musik yang mulai memelan sebagai akhir dari lagu tersebut.             (Back to *).
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN