Kisah kita, berakhir di januari
-Glen Fredly.Januari-
***
Musa, pria mungil itu menutup kepalanya dengan tudung jaket. Memasukkan kedua tangan ke dalam saku menerjang gerimis malam. Mempercepat langkah menuju sebuah tempat sesuai dengan alamat yang tertera pada sebuah pesan singkat. Pun lokasinya tak jauh dari apartemennya.
Belakangan, Musa sering menerima sebuah panggilan yang sama sekali tak pernah diindahkannya. Tapi kali ini ia menurut, karena tak mau lagi sosok itu mengganggunya.
Pintu kafe terbuka seiring dengan langkah cepat Musa bersamaan dengan suara gerimis yang menyeruak. Warna serba oranye dan hitam itu menyambut kedatangannya. Pria itu sempat menerawang seluruh sudut ruangan kafe estetik tersebut untuk menemukan sosok yang memintanya datang.
Musa tak sengaja mengalihkan pandangannya. Ia menghadap ke sudut ruangan. Persis di hadapannya seorang wanita berambut pendek yang sedang menunduk. Ternyata ia sudah memotong rambutnya.
Satu napas tertarik berat, lalu melena berhembus. Musa menghampiri. Menarik satu kursi di hadapannya, namun wanita itu tak kunjung menatapnya. Yang Musa lihat hanya perutnya yang semakin membesar.
“Ada urusan apa, Mei?” Tanya Musa agak acuh bersamaan dengan pelayan laki-laki yang datang membawa buku menu. Tak mau membuang waktu menunggu wanita itu berucap, Musa segera memesan dua latte dan cake. Akhirnya pelayan tersebut mengangguk dan pergi.
“M-musa” Meira berucap dengan suara bergetar. Tiba-tiba bening air matanya leleh. Suara isakan kecil terdengar.
Musa menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Ia tak tau harus melakukan apa. Terlebih dirinya sudah banyak membuang bayangan Meira dalam hidupnya—meski tak dipungkiri bahwa dirinya pernah mencintai wanita cantik pemilik bola mata coklat light itu. Ia juga berusaha semaksimal mungkin agar tak pernah membenci Meira dengan tak lagi bersitatap. Tapi kini, wanita itu justru menunjukkan eksistensinya dengan menangis? Apa dia sedang memanfaatkannya?.
Musa memejam sejenak. Menetralkan pikirannya yang melanglang “Mei.. lo buang-buang waktu gue tau g---”.
“Musa tolong aku!” Ucapnya di tengah tangis bersamaan dengan dirinya yang mengangkat kepala. Pun Musa terbelalak bukan main saat menemukan banyak warna biru keungunan yang menghiasi wajah mantan istrinya tersebut. Tak hanya itu, gurat luka lainnya juga membercak disana.
“Lo kenapa?!” Rona kekhawatiran itu nampak nyata dalam air muka Musa. Wanita itu semakin memecahkan keheningan dengan air matanya sembari menutup mulutnya agar tak menimbulkan kebisingan “Jawab, Mei!”.
Hhhh... Hela napas berat itu begitu bertenaga “Jangan bilang suami lo yang ngelakuin?” Pria yang menjadi selingkuhan Meira sudah benar-benar menjadi suaminya. Dan Meira hidup sebagai istri muda dari seorang pengusaha kaya raya.
Meira menggeleng bersamaan dengan Musa yang memberinya selembar tissue “Bukan dia Musa. Aku cuma mau minta maaf yang sedalam-dalamnya sama kamu. Aku benar-benar istri gak tau diri. Aku banyak dosa sama kamu” Ia menangis lagi sambil memegangi perutnya “Mungkin ini balasan untukku”.
Meski dalam hati ada luka yang disebabkan sang mantan, namun rasa iba sebagai seorang manusia masih melekat dalam diri Musa.
Jangan membenci siapapun, tidak peduli seberapa banyak mereka bersalah padamu. Hiduplah dengan rendah hati, tidak peduli seberapa kayanya kamu. Berpikir positif, tidak peduli seberapa keras kehidupanmu. Berikanlah banyak, meskipun menerima sedikit. Tetaplah berhubungan dengan orang-orang yang telah melupakanmu dan ampuni yang bersalah padamu. Jangan berhenti berdoa untuk yang terbaik bagi yang kamu cintai—Ali bin Abi Thalib.
“Aku udah lupain semuanya, Mei. Sekarang, lo jawab kenapa muka lo bisa babak belur?” Musa meluluh.
“Kalau anakku lahir.. tolong jaga dia buat aku, ya” Kemudian tangisnya pecah tak karuan.
“Lo ngomong apa, sih?” Musa masih tak bisa mencerna dengan baik.
“Aku takut Musa!” Ucapnya di tengah tangis. Tangannya bergetar. Wajahnya pucat pasi.
“Gue gak bisa bantu, Mei, kalau lo gak cerita detailnya” Musa sedikit menaikkan suaranya “Siapa yang bikin lo kaya gini kalau bukan suami lo yang cuma manfaatin lo?”.
“I-istri pertama dan anak-anaknya” Ucapnya pelan bersamaan dengan seorang pelayan yang meletakkan menu ke atas meja. Pergerakan pelayan berhijab itu nampak hening, membeku. Kemudian tak sengaja menatap bola mata Musa. Pun keduanya saling bersitatap penuh kejut satu sama lain.
“R-rania?” Kaget Musa.
^^^
Malam sudah begitu larut. Kafe sudah berangsur tutup. Kini, Musa dan Rania duduk berdampingan di sebuah tempat duduk yang ada di depan kafe di temani cahaya oranye dari lampu penerang jalan setelah memastikan Meira pulang dengan taksi dan tak lupa memberikan wanita itu obat yang sempat dibeli di apotek seberang kafe. Aroma basah akibat gerimis yang cukup lama masih menjejak indera penciuman.
Rania terduduk dengan rona canggung berlebih. Sebab ia sudah mendengar inti dari pembicaraan kedua mantan pasangan itu secara tidak sengaja.
“Jadi, ini kafe adik lo?” Tanya Musa datar, masih belum mencerna situasi. Ia tak pernah menyangka jika orang lain akan ikut mendengarkan kisahnya yang belum terungkap.
Perempuan berhijab pemilik mata hazel itu mengangguk “Kebetulan saya teh suka bantu kalau ada waktu”.
Musa menarik satu napas bertenaga “Hidup selalu penuh kejutan, ya” Ia berucap sembari memandang pekatnya angkasa “Mungkin semua orang menilai gue hidup dengan baik, tapi akhirnya lo tau kalau ini semua bukan harapan dari sebuah pernikahan”.
“Kalau lo mau ngasih tau orang-orang di rumah sakit juga nggak masalah, kok” Lanjut Musa menatap Rania santai. Ia sudah siap atas segala resiko.
Mojang Bandung itu langsung mengelak “Nggak, dok. Saya teh nggak mungkin berani untuk menyebarluaskan” Ia mulai gelagapan saat berhadapan dengan atasannya “Saya tadi juga gak sengaja dengar.. maaf, jika memang Dokter Musa tidak berkenan” Ia menunduk penuh hormat.
Respon tak terduga justru tersingkap dari sosok Musa yang menimpalinya dengan tawa renyah. Sontak itu membuat Rania kebingungan.
“Rania.. Rania.. lo tuh polos banget, ya” Musa masih terheran dengan sikap Rania yang berbeda dengan lainnya. Kemudian ia berdiri, memberikan usapan halus di kepala perempuan itu “Gue percaya kok. Sampai ketemu besok di rumah sakit” Itu merupakan kalimat terakhir Musa sebelum akhirnya ia berjalan meninggalkan Rania yang masih mematung.
Perempuan berparas anggun itu tak bisa mengedipkan matanya. Jantungnya sibuk bergemuruh. Pipi langsatnya memerah. Ia mengarahkan tangannya ke kepala tempat Musa memberikan usapan bersamaan dengan kedua sudut bibir merah jambunya yang mulai merekah.
Dengan mantap, ia berdiri saat tersadar akan sesuatu. Menatap punggung Musa yang mulai menjauh “Dokter Musa!” Panggilnya agak kuat, pun pria tersebut bisa mendengarnya “Fighting!!!” Teriak Rania mengepalkan tangan ke angkasa. Memberikan semangat untuknya.
Musa tersenyum luas sembari merespon Rania. Mengangkat tangan ke angkasa penuh semangat. Nyatanya ia juga seolah mendapat kekuatan baru dari perempuan tersebut.
^^^
“Jadi.. kenapa gue, bukan Qiara?” Tanya Tiara di tengah aktifitas makan soto. Sebuah pertanyaan yang sengaja tak ia tanyakan sejak awal.
Jio mengaduk sambal bersama soto “Ya kali.. kalau ama Qiara gue jadi suami-suami takut istri, dong”.
Pfftt..Tiara nyaris tak bisa menahan tawa. Ia sedang membayangkan bila hal tersebut benar terjadi. Seorang Qiara yang tegas dan keras tak mungkin bisa bersatu dengan Jio yang kaku dan lugu.
“Gak usah ketawa!” Celetuk Jio. Mulutnya masih beradu dengan makanan “Gue tau, pasti lo lagi bayangain penampilan gue jaman dulu” Selidiknya. Karena ia sadar jika penampilan klimisnya di masa lalu benar-benar ikonik di mata orang.
Kalimat itu semakin membuat polwan cantik itu tertawa. Ia ingat betul style klimis Jio saat kuliah, ditambah dialek jawa yang begitu kental, jauh dari sosoknya yang saat ini sudah lancar mengucapkan bahasa gaul anak Jakarta.
Keduanya sedang menikmati sarapan siang bersama di sebuah rumah makan sederhana di dekat kantor Tiara. Pria itu benar-benar menghampirinya.
“Sebenarnya gue tuh udah ngincer lo sejak awal” Ungkap Jio menatap intens Tiara yang sedang menghentikan aktifitas menyendok demi menyimaknya “Tapi waktu pertama ketemu, lo punya pacar. Trus begitu putus, lo dijodohin.. pas gak jadi nikah, lo dilamar orang, yaah~ meskipun gak jadi nikah juga. Intinya waktunya selalu gak pas. Gak ada celah buat gue masuk ke hati lo”.
Tiara menghela napas pelan. Menangkupkan dagu dengan kedua punggung tangan “Iya juga.. dipikir-pikir gue gagal terus ya” Ia membayang “Lo juga kan? Lo pernah hampir nikah sama Dokter Amel?”.
Jio meneguk es jeruknya sembari mengangguk bersamaan dengan ponselnya yang berdering. Ia bergegas mengusap ikon hijau disana. Mendekatkan benda tersebut ke telinga.
“Wa’alaikumussalaam” Jawab Jio sembari menyimak, sesekali mengerutkan kening “M-maaf. Siapa ya?”.
“Tujuh belas tahun berteman lo masih gak simpen nomer gue?!”.
Teriakan itu membuat Jio mengerjap. Menjauhkan ponsel dari telinganya.
Pun Tiara yang ada dihadapannya ikut meringis ngeri mendengarnya “Qiara, ya?” Selidiknya nyaris tanpa suara yang disambut anggukan kepala Jio penuh gagap.
“Iya, Qi. Gue kesana sekarang” Jawab Jio lembut takut Qiara menyerang bersamaan panggilan yang sudah terputus dari seberang.
Jio bergidik ngeri. Ia buru-buru menyimpan nomor Qiara di ponselnya “Bisa-bisa gua gak dapet restu dari kembaran lo, kan serem” Tiara tak bisa menahan gelak tawanya “Gua cabut, ya” Pamitnya.
^^^
Ziyan sedang bersandar keren di sebuah balkon rumah sakit yang berada dekat dengan ruangannya, satu tangannya bertengger di saku snelli sembari menyimak suara dari seberang sana melalui telepon “Jadi, dananya sudah dibagikan rata ke seluruh posko banjir, kan?.. ya.. ya.. Pokoknya jangan segan untuk selalu menghubungi saya jika ada kendala atau apapun itu. Hmm~ Wa’alaikumussalaam”.
Pria pemilik kaki jenjang itu memutuskan panggilannya. Ia menghembuskan napas begitu lega, kemudian kembali mengurus beberapa hal dari ponselnya. Jemarinya sedang menari-nari di layar sentuh.
Tiba-tiba seorang wanita dari ujung lorong menyelidik. Matanya tersenyum bagai bulan sabit saat mendapati Ziyan sedang sendiri. Ia lantas berjalan mendekat. Suara hentakan yang disponsori oleh heels yang dikenakannya begitu menyeruak lembut, namun tak juga memecah fokus pria oriental tersebut.
Satu cup ice latte tepat berada di hadapan Ziyan “Taraa! Ini buat Dokter Ziyan!”.
Ziyan mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk fokus dengan ponselnya. Ia bisa melihat dengan jelas sebuah kopi yang berada dalam genggaman seseorang. Ia menoleh ke samping, menemukan senyum cantik dari Keysha yang sebelah tangan lainnya juga sedang membawa minuman.
“Oh, Keysha” Ziyan meraih kopi dari tangan wanita cantik yang sering dijuluki princess-nya Metro Medical Center karena visualnya yang nampak begitu sempurna.
“Sudah selesai praktik?” Tanya Keysha ikut berdiri disamping Ziyan. Pria itu kembali sibuk dengan ponsel.
Ziyan mengangguk acuh “Iya. Barusan selesai”.
“Makan siang bareng, yuk! Kita udah lama banget gak makan bareng” Pinta Keysha penuh harap sambil sesekali mencecap es kopinya.
Ziyan buru-buru mengambil pergerakan, kembali berdiri tegap “K-keysha” Ia menatap wanita maha cantik dihadapannya dengan tatapan canggung “Gue ada janji ama temen-temen” Pria itu berbalik meninggalkan gurat kecewa dalam rona wajah Keysha yang selalu diacuhkan olehnya.
“Kak Ziyan kenapa, sih?” Teriak Keysha menghentikan langkah Ziyan “Apa kakak gak bisa lihat perasaan aku?” Wanita itu sudah tak tahan lagi “Sudah sejak masa-masa intern aku menahan semuanya... aku capek, kak”.
Ziyan perlahan berbalik.
Ziyan dan Keysha adalah senior dan junior. Ketika Ziyan menjalani masa residen sebelum resmi menjadi dokter spesialis paru, sementara Keysha menjadi dokter magang.
Tarikan napas yang begitu bertenaga itu menyeruak. Keysha menyeka air matanya yang tiba-tiba meleleh “Kenapa Kak Ziyan selalu menghindar dari aku? Kenapa? Aku akan berhenti jika memang itu mau kakak”.
“Aku hanya butuh kejelasan” Sambungnya dengan nada yang parau.
Bibir Ziyan bergetar. Ia menatap Keysha dengan sorot mata yang menyemai rasa bersalah, bersatu padu dengan berbagai rasa lainnya. Semua itu terasa abstrak. Ia ingat betul bagaimana Keysha selalu berusaha mendekat sejak bertahun-tahun lalu. Wanita itu tak pernah menyerah, pun sejatinya ia tak ingin menolak, tapi satu alasan membuatnya bertahan.