Baru sampai di rumah sakit, Qiara sudah kembali disambut dengan suasana gegap gempita. Ia bergerak cepat menekan pump botol hand sanitizer sebelum berhadapan dengan pasien kecelakaan kerja.
“Pak? Apa ini sakit?” Qiara menyentuh bagian bahu dan disambut jeritan darinya “Hmm..” Ia seperti memahami situasinya “Aisyah, tolong ambilkan suture kit[1]. Suster Ajeng CT-nya?”.
“Ini, Dok”.
“Ridwan, tolong tangani luka pasien itu dulu!” Qiara memberi ultimatum seraya mendekati pos UGD melihat hasil rongten yang menampilkan ada keretakan di bagian bahu pasien “Panggil Dokter Ortopedi, siapapun itu”.
“Baik, Dok” Suster Ajeng kembali ke dalam bilik. Membuat panggilan ke poli ortopedi.
Baru hendak berbalik ke pasien, Qiara sudah dikejutkan dengan kehadiran Musa yang sedang melayangkan senyuman menyebalkan tepat disampingnya.
“Bang SMS siapa ini bang. Bang pesannya pakai sayang sayang” Musa bersenandung ria dengan menyanyikan salah satu lagu dangdut fenomenal pada masanya nyaris tanpa suara. Mungkin hanya Qiara yang mendengar.
“Apaan, sih?” Qiara mulai jengkel “Gua lagi sibuk. Lo nggak lihat?”.
“Jadi lo nggak mau cerita tentang es krim itu?” Musa melayangkan tatapan intimidasi.
“Nggak ada apa-apa!” Qiara berusaha abai, namun langkahnya kembali tertahan oleh Musa “Aishh! Iya, nanti gue ceritain!”.
Musa melipat kedua tangan di depan d**a masih membawa tas di tangannya. Ia bahkan masih berbalut pakaian formal “Jaminannya apa?”.
Qiara berdecak kesal “Lo pikir pinjaman?”.
“Iya. Emang. Lagian ngapain lo kabur dari gue sejak kemarin?” Musa menaikkan sebelah alisnya.
Diam-diam satu napas berat itu melena perlahan. Qiara pasrah “Jelly. Ambil semua jelly gue kalau gue nggak cerita. Puas?!”.
“Wohooo!” Musa kembali melayangkan tatapan menyebalkan “Mana gue tau kalau lo masih punya stok jelly”.
Bug!
Satu pukulan super itu mendarat tepat di punggung Musa. Ada banyak mata menatap. Untungnya hanya sekilas, toh hari itu juga masih terlalu pagi, jadi masih belum banyak orang.
“Tanya Tiara kalau nggak percaya” Hardik Qiara. Tatapan pedangnya menusuk hidup Musa dan langsung melenggang pergi.
Sementara Musa hanya bisa merengek sepanjang jalan. Berkali-kali mengusap punggungnya. Sesekali masih sembari menyapa para internship yang sedang berlalu-lalang. Kemudian memasuki lift yang sepi.
“Dokter Musa!” Rania dan Ridwan berlari agar bergabung di satu lift yang sama dari pada harus menanti giliran berikutnya. Musa segera menahan satu tombol agar pintu tetap terbuka. Sesekali meringis kesakitan.
“Assalamu’alaikum. Selamat pagi, Dok” Rania dan Ridwan kompak. Musa hanya tersenyum sambil terus mengusap punggungnya bersamaan dengan pintu lift yang sudah tertutup. Membawa mereka naik.
“Kok kalian datang bareng?” Musa menerka-nerka.
“Ah~ dokter nggak tau? Kita ini sepupuan, kaya Dokter Musa ama Dokter Harun. Rumah kita satu komplek apartemen, beda tower aja” Jelas Ridwan yang membuat Musa cukup lega.
“Alhamdulillah.. kirain”.
Ridwan mendadak terbelalak “Hah?!”.
“D-dokter Musa kenapa? Sakit?” Rania buru-buru memecah suasana agar Ridwan tidak membuat pikiran liarnya menjalar kemana-mana.
Musa mengerucutkan bibirnya sambil mengangguk “Sakit banget”.
“Apa perlu di rongten?” Ridwan ikut simpati.
“Aishh!” Musa mengerjap “Nggak perlu. Gue udah tau kalau badan gue remuk. Gara-gara gebetan lo, tuh”.
“Gebetan?” Ridwan mengerutkan keningnya “Ah~ Dokter Qiara” Ungkapnya entah sadar atau tidak.
Rania ikut terkejut dengan pengakuan Ridwan “L-lo? Beneran suka sama Dokter Qiara?”.
^^^
“Papah berapa kali nyuruh aku ambil bola?” Ziyan terkekeh seraya mengambil bola basket yang keluar lapangan. Sementara Papah Fardan sedang sibuk mengatur pernapasannya.
Ayah dan anak ini selalu kompak melakukan olahraga menyenangkan di awal hari sebelum memulai pekerjaan masing-masing. Meski Papah Fardan sudah lebih dari setengah abad, namun ia masih sangat bugar, sebab sejak muda hingga usia senjanya selalu berpikiran positif dan sangat gemar berolahraga serta selalu memeriksakan kesehatan secara rutin pada anaknya sendiri.
Ziyan sangat menjaga kedua orang tuanya dengan baik. Setiap bulan, ia selalu memeriksa kesehatan mereka dan mencatat perkembangannya sebagai rekam medis. Sungguh beruntung Papah Fardan dan Mamah Linda memiliki anak berbakti.
Ziyan kembali berlari mebawa bola basket kembali ke lapangan dan langsung dihadang Papah dengan penuh semangat. Pun pria pemilik kulit putih bersih bagai s**u itu lantas mengerahkan teknik deny defense. Yakni berusaha menjaga lawan yang tidak membawa bola dengan menutup passing line dari lawan.
Kedua mata ayah dan anak itu saling menukik dan saling menatap tajam satu sama lain.
“Kamu nggak boleh natap orang tua kaya gitu. Nggak sopan!”.
“Papah!” Ziyan reflek menjatuhkan bolanya. Papah lantas menggunakan kesempatan itu, menggiring ke ring dengan mengerahkan teknik slam dunk ala-ala. Maklum saja, Papah Fardan memiliki badan yang tinggi dan menurun langsung pada sang putra sematawayangnya itu.
“Yes!” Papah Fardan mengepalkan tangan ke udara.
Ziyan terkekeh sambil berkacak pinggang “Wah! Nggk fair, nih. Masa papah selalu pakai jurus kaya gitu”.
“Kenapa? Anak itu harus sopan sama orang tua, kan?”.
“Tapi kita lagi main, pah. Papah mah curang”.
Papah Fardan melemparkan bola basket itu dan langsung ditangkap dengan sangat baik oleh sang putra.
Keduanya lantas duduk di sebuah bangku di dekat lapangan basket pribadi mereka. Ziyan membukakan botol minum dan memberikannya pada sang ayah.
“Kamu nggak pernah ketemu Keysha di rs?” Tanya papah, kemudian meneguk minumnya.
“Pernah. Tapi jarang” Jawabnya sembari menutup kembali tutup botol air mineral yang baru ditenggaknya.
“Dia anak baik. Sebenernya papah udah males mau jodoh-jodohin kamu. Toh selama ini nggak ada yang nyantol” Ungkap papah atas segala kegelisahannya sambil menatap awan sirus “Sebenernya calon istri yang kamu mau kaya gimana, sih?”.
Ziyan justru tertawa sembari menyipit saar cahaya matahari pagi merambah, melintasinya “Asal baik agamanya, Insyaa Allah pribadinya akan baik”.
Papah menjadi sangat antusias. Kini menatap putranya intens “Makanya cari orang itu! Bawa ke papah sama mamah. Masalah setuju atau enggak.. itu belakangan. Toh papah yakin akan pilihan kamu”.
“Nggak sekedar nyari, Pah. Ziyan juga harus memperbaiki diri supaya dapat yang Ziyan mau”.
“Gitu aja terus alasannya” Papah menggeleng keheranan. Ziyan hanya mengulas satu senyum “Kamu mau nikah nggak, sih?”.
“Mau, Pah”.
“Jangan menunda sesuatu yang sudah bisa kamu lakukan---” Papah menepuk satu bahu Ziyan “—atau kamu akan menyesalinya”.
Kalimat sederhana yang mungkin sering didengar banyak orang itu mengalun, membuat gema yang cukup memekik telinga serta menampar hidup Ziyan begitu saja. Sendirian menyelami makna. Sepi dan terhakimi.
^^^
Sore mendung itu mengumpulkan Jio, Anya dan Musa di markas mereka, yakni ruang kerja Qiara. Namun sang pemilik tempat justru sedang berkelana di ruang operasi, sedang Ziyan sedang pergi ke suatu tempat. Entah kemana.
Musa dan Anya banyak menyantap camilan yang dipesan melalui abang ojol. Mulai dari cilok, sate padang, batagor hingga siomay tengiri. Jio? Ah, pria itu memulai hobi yang sudah lama ditinggalkan karena kesibukannya. Merajut.
“Besok main ke rumah gue, napa, Nya?” Rengek Musa sambil mengadu mulutnya dengan cilok sambal kacang.
“Kita semua?”.
“Iya. Bawa si Choky juga. Katanya laki lo mau ke Surabaya”.
“Ya udah.. nanti kasih tau yang lain. Gue siap aja” Balas Anya santai sambil mengambilkan siomay untuk Jio “Makan!”.
“Uhmm” Tak memandangi sang empu, ia asik membuat rajutan.
Musa menggeleng heran, lalu mengambil gitarnya yang sengaja ditinggalkan di sudut ruangan Qiara bersamaan dengan turunnya hujan “Ayo, nyanyi!”.
“Uhmm” Anya memeriksa ponselnya “Gue pengen nyanyi lagu Korea”.
“Okey. Apa judulnya?”.
“Karena ini lagi mendung banget, Secret Garden – IU[2] boleh lah. Buat penyegaran” Anya nampak sangat senang dengan lagu itu. Senyumnya merekah cantik bagai Kamelia bermekaran cantik di tepi Kota Busan. Tapi senyumnya mendadak redup saat teringat sesuatu “Lo ngerti kuncinya, nggak?”.
Tak perlu menjawab. Musa langsung membuktikannya dengan sebuah aksi. Mendentingkan senar gitar dengan lihai, sempat membuat Anya termangu cukup lama.
“Lo mau nyanyi nggak, sih!” Gertak Musa.
“Oh.. iya” Anya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal dan segera menyenandungkan melodi saat Musa sudah menyelesaikan intro.
Vokal lembut dan manis yang dimiliki Anya sangat menyegarkan. Hujan yang semakin deras, serta awan gelap itu seolah berubah menjadi cerah seketika. Kupu-kupu beterbangan, burung camar tinggi melayang. Jio yang semula hanya fokus merajut, kini ikut terkesima dengan nuansa lagu dan suara Anya sangatlah serasi.
Eoje-ui ildereun ijeo
Nuguna jogeumssigeun teullyo
Wanbyeokhan sarameun obseo
“Assalamu’alaikum---” Qiara yang baru saja membuka pintu mendadak mematung. Menutup pintu perlahan seraya termangu lama sekali mendengar nyanyian merdu sang sahabat “Woah!” Ia mengambil tempat di lengan sofa, menyimak lagi suara indahnya.
Nan dashi tae-eonan geotman gatta
Geudae-reul mannagobuteo
Geudae na-ui chorahan maeumeul
Badajun sunghan buteo
Rallaralira~
Qiara menjadi orang yang paling semangat memberikan tepuk tangannya. Meriah dan heboh meski dengan air wajah dinginnya.
“Gila.. suara lo mirip banget sama IU” Musa ikut terpesona. Sontak Anya langsung melongo, tersanjung.
“Jujur, ya.. dari dulu gue ngerasa muka lo juga ada mirip-miripnya sama IU. Tapi gue males ngomong aja” Imbuh Qiara sembari menatap wajah manis kawannya.
Sepanjang mereka membuat heboh tentang IU, Jio masih banyak berpikir “IU (ai-yu) itu siapa? Ayu ting-ting?”.
Anya, Musa dan Qiara menoleh bersama dengan mata yang membulat dan menepuk dahi serempak. Jio terlalu polos. Tak kenal artis manapun kecuali artis Indonesia, pun dia hanya mengenal mereka yang bersinar di tahun 90an.
“Udah! Lo ngerajut aja, sana! Bikin topi buat anak gue!” Anya kembali menyantap sate padang.
“Ngerajut?” Qiara terperanjat “Lo hari gini masih ngerajut?”.
Jio kembali fokus pada setiap rajutannya “Uhmm.. dari dulu gue juga masih suka, Cuma kadang waktunya nggak ada”.
“Lo nggak mau main game?” Qiara masih keheranan dengan pria kuno itu.
Jio menggeleng santai tanpa memandangi sang empu “Trauma”.
Detik itu juga Anya yang sedang makan mendadak tersedak. Ia buru-buru minum dan menyambung tawanya “Trauma gara-gara Musa kemarin. Di game vr?”.
Tawa Musa dan Qiara turut meledak. Tak ada yang menyangka bila sejak dikerjai Musa waktu itu, Jio langsung trauma dan tak ingin lagi mendekati permaninan modern. Baginya, merajut adalah hobi yang paling menyenangkan.
^^^
Suasana sore itu cukup tenang, ditemani gemericik hujan yang cukup deras diantara hamparan gedung pencakar langit ibu kota. Pandangan Ziyan memencar ke segala arah dari balkon gedung lantai 3. Ke manapun matanya memandang, selalu terselip kalimatullah. Berdzikir mengagungkan nama Allah.
“Dokter Ziyan ternyata disini” Ibu Arumi selaku pimpinan Yayasan Nurul Khasanah yang menaungi panti jompo itu mendekatinya. Senyum Ziyan merekah indah bagai temaram senja di penghujung hari “Ini hujan loh, Dok. Nggak mau masuk aja?”.
“Nanti. Saya pengen menikmati momen lain dimana setiap orang berhamburan masuk ke dalam rumah saat hujan datang” Ucapnya lembut.
“Uhmm.. setiap dokter datang sendiri ke sini, pasti Dokter Ziyan ada di balkon”.
“Masa?” Ziyan tertawa “Terkadang tempat seperti ini bisa menjadi perenungan” Ia kembali menatap hujan “Bisa melihat dengan jelas segala siklus kehidupan manusia. Apalagi ketika kita melihat eyang-eyang kita yang tinggal disini berkumpul di taman.. mereka pasti sudah merasa bahwa masa tua adalah siklus terakhir sebelum hidup berakhir. Nyatanya tak harus seperti itu”.
“Uhm.. perenungan” Ibu Arumi mengangguk paham.
“Coba ibu lihat hujan ini” Ziyan mengarahkan tangannya untuk merasakan tetesan hujan “Sebagian orang takut hujan datang, sebab ada petir dan mengganggu beberapa kegiatan” Ia kembali menjauhkan tangan dari hujan “Tapi nyatanya Allah selalu turunkan hujan sebagai sumber keberkahan. Dimana kita yang tak punya ladang bisa merasakan manfaatnya” Melirik sekilas ke arah Ibu Arumi “Tidak lain... saat turun hujan adalah waktu yang mustajab untuk berdoa”.
Wanita setengah abad itu ikut tersenyum. Memahami segala makna dari kalimat panjang Ziyan bagai hujan yang turun di musim kemarau.
“Kalau gitu.. saya mau berdoa” Ibu Arumi mendadak fokus menengadahkan tangan ke langit. Membuat Ziyan menyipitkan mata, memperhatikan apa yang akan dimintanya.
Dengan raut wajah serius, Ibu Arumi memohon dengan sungguh-sungguh “Yaa Allah.. Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang menguasai seluruh dunia dan seisinya. Di Hujan yang penuh berkah ini, saya memohon agar Dokter Ziyandra Akmal Wirawan yang baik ini beserta keluarga dan teman-temannya selalu dalam perlindungan-Mu, Yaa Rabb. Dan berikanlah jodoh terbaik untuknya. Aamiin”.
Sebuah senyum teduh itu merekah. Ziyan ikut menyambung “Dan berikanlah waktu yang tepat, Yaa Allah. Aamiin~”.
“Oh.. jadi ini hanya soal waktu?” Ibu Arumi jadi kepo. Pun Ziyan hanya tersenyum seperti biasanya beserta sesuatu tersirat disana.
___________________________________________
[1] Suture Kit: Alat jahit luka.
[2] IU (dibaca ai-yu): Penyanyi sekaligus artis Korea Selatan.