21. (Masih) Mengharapkanmu

2746 Kata
            Lampu temaram di sudut ruangan itu nampak redup. Suara hujan menyeruak, menemani hari-hari sepi. Musa yang semula sedang mempersiapkan operasi untuk besok, kini harus terjebak oleh secuil rasa yang sempat tumbuh subur di dalam hatinya.             Tak sengaja, ia menemukan foto kebersamaannya dengan Meira di awal pernikahan. Benda itu terselip diantara lembaran di dalam buku medis.             Musa tertegun, mengingat cipta bayang kebersamaan mereka di masa lalu. Tanpa ada noda sedikitpun. Ketulusan dalam bait cinta itu penuh. Tak pernah menyangka bilamana semua akan berakhir luka. Namun lucunya, luka itu masih belum sepenuhnya membuat Musa melenyapkan rasa itu. Begitulah gambaran besar dari cinta Musa pada Meira.             Diam-diam ada satu tarikan napas berat yang melena. Pria yang terkenal gemar berkelakar itu mendadak terbawa suasana hati. Ia mengusap wajahnya kasar beberapa kali. Sesekali matanya memerah, namun berusaha keras ditahannya.             “Mencintaimu menebarkan jalan asmara serta menaburkan aroma luka di saat yang sama”—Kata Musa mengukir asa dalam kanvas batin yang lusuh.             Perpisahan itu memang menyakitkan. Pun itu bukan kehendak Musa. Dengan segala pertimbangan dan segala situasi yang tak bisa dipaksakan, melapangkan jalan bagi Meira adalah satu-satunya jalan terbaik.             Ia lantas memandangi setiap sudut rumah yang hanya bermandikan sepi, seolah menggambarkan gelap hati Musa. Itulah alasan mengapa Musa malas sekali untuk pulang. Kemudian ada satu panggilan masuk. Musa terbelalak saat meliat kontak seseorang yang dulu pernah sangat dicintainya. Sekali diabaikannya. Sampai panggilan kelima kembali diabaikan.             “Kenapa dia masih kaya gini, gimana aku bisa melupakan semuanya?” Ucapnya lirih nyaris tanpa suara. Dalam hati ingin menjawab panggilan tersebut, namun otaknya bekerja untuk menolak.             “Lo kenapa?” Tiba-tiba Jio keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah. Musa memaksa Jio untuk bermalam dengannya agar bisa menemani kesendiriannya.             “Nggak~” Musa mengelak.             Itu membuat Jio penasaran. Ia mendekat, mengambil tempat di sofa dekat meja kerja Musa “Gue nggak pernah mengalami apa yang lo alami, tapi gue tau itu menyakitkan”.             Musa tertawa kosong sambil mengangguk “Seharusnya gue udah bisa move-on dan nggak merepotkan kalian”.             “Cuma waktu yang bisa membuat semua berubah” Lanjut Jio “Lo nggak perlu menyalahkan diri sendiri”.             Musa menekuri lantai sambil mengangguk paham “Uhmm.. ternyata berlebihan terhadap berbagai hal memang salah. Termasuk cinta”.             “Udah 2020, Allah punya jalan yang baru buat orang sabar kaya lo, Musa”. ^^^             Di musim penghujan ini, matahari tetap saja malu-lamu untuk menampakkan eksistensinya meski sudah memasuki pukul satu siang lebih. Udara yang lembab membuat siapa saja merasa kegerahan.             Setelah melakukan operasi, Qiara bergegas menuju kafe untuk membeli es krim kesukaannya. Ia membeli dua sekaligus. Satu rasa choco mint dan satu lagi rasa durian vanilla. Hanya perlu membayar dengan cara mengarahkan id card ke sebuah barcode sebagai alat transaksi.             Qiara ini hobi sekali makan, beginilah senangnya perempuan itu saat berhasil membawa dua porsi es krim dalam bentuk cone yang hendak dibawanya ke taman kafe. Sepertinya menikmati dibawah pohon akan sangat menyegarkan.             Di pintu kafe menuju taman, cipta bayang itu harus runtuh saat tak sengaja tersandung. Qiara hanya pasrah bilamana tubuh dan es krimnya harus meleleh bersamaan di tanah.             Namun asumsi itu salah. Qiara tak jatuh ke tanah. Lalu kemana?.             Ah! Bruk!             Detik-detik itu berlalu sekonyong hening sampai akhirnya menyadari bahwa ia jatuh dalam genggaman seseorang.             “Dokter Qiara, are you ok?” Suara berat itu...            “Hah?!” Tercetak jelas bagaimana dokter berbakutkan tudung islami itu terkesiap dan buru-buru menjauh. Wajahnya nanar penuh rasa canggung.             Qiara tak menyangka bilamana ia bisa bertemu dengan Dokter Harun di kafe rumah sakit. Mulanya, pria itu sedang menikmati minuman bersama koleganya, namun tak sengaja berpapasan dengan Qiara yang tersandung. Dengan cekatan, dokter manis pemilik lesung pipi itu segera menahan satu lengan Qiara agar tak terjatuh.             Selanjutnya, Qiara panik saat menyadari ada noda es krim di snelli Dokter Harun. Ia berusaha mencari jalan “D-dok.. maaf. Nanti saya cucikan---”.             Belum sempat menyelesaikan ucapan panjang penuh gugupnya, Dokter Harun tiba-tiba mengambil posisi setengah duduk yang membuat Qiara membeku. Pria itu mengarahkan tangannya, berlutut di depan Qiara yang lagi-lagi hanya melongo dalam mode pause.             “Oh, jadi ini yang bikin tersandung” Kata Dokter Harun meraih tali sneaker Qiara yang terurai. Kemudian membuat simpul dengan kuat dan cantik.             Wajah Qiara bersemu malu. Memerah seperti terbakar. Ia tak bisa bereaksi apapun. Jantungnya berdegup terlalu kencang dan tak beraturan.             “Sudah” Kali ini Dokter Harun berdiri kembali menghadap Qiara dengan senyum tipis seadanya. Namun tak mendapat respon apapun dari perempuan itu. Akhirnya ia menghilang begitu saja dari hadapannya.             Pun Qiara akhirnya mampu bernapas dengan baik, meski dalam keadaan tersengal-sengal saat Dokter Harun sudah beranjak. Mengutuk dirinya yang hanya bisa mematung dan bahkan tak mengucapkan terima kasih.             “Kenapa gue kaya gini terus?” Qiara menepuk-nepuk kedua pipinya.             “Ini, rasa choco mint”.             “Hah?!” Teriak Qiara heboh. Jantungnya nyaris menggelinding saat tiba-tiba Dokter Harun kembali datang membawakan es krim yang baru.             Pun dokter tampan nan manis itu ikut terperanjat dengan respon Qiara yang nampak berlebihan, namun ia berusaha tenang. Meraih satu tangan dokter cantik itu agar menggenggam es krim pemberiannya. Diam-diam, Dokter Harun bisa merasakan jelas getaran dahsyat di tangan Qiara.             “Dimakan! Yang tadi kan sudah jatuh” Ucap Dokter Harun.             “S-snel.. b-baj---” Lagi-lagi Qiara frustrasi kehilangan kata-katanya, sementara pria itu sudah terlanjur berbalik.             “Ah!” Dokter Harun mengerem langkah. Kembali menoleh ke arah Qiara yang terus membeku “Snelli ini biar saya yang urus” Kemudian melenggang pergi tanpa eskpresi. Dalam hati, ia juga dirundung penuh rasa canggung.             Qiara terus menatap punggung Dokter Harun yang semakin lama semakin menghilang karena berbelok, bahkan sampai tak sadar bilamana es krimnya mulai meleleh.             “O-oh?” Kaget Qiara langsung mencari tempat duduk dan menyantap es krimnya.             “Wah... bagi, dong!” Goda Musa yang datang bersama Rania.             Qiara membalikkan badannya seperti anak kecil yang tak ingin diganggu “Beli sendiri sono!”.              Tanpa ada yang tau, diam-diam Qiara menikmati es krim itu seraya menutupi pipinya yang kembali memerah saat menyadari bahwa es krim yang disantapnya adalah es krim berbalutkan cinta. ^^^             Gemericik air mengalir lembut, membasahi sebuah snelli yang sengaja diarahkan Dokter Harun ke bawah keran air. Ia memberikan sedikit gosokan untuk menghilangkan bekas noda es krim. Meskipun noda itu bisa bersih sempurna, paling tidak sampai berubah menjadi samar.             Di tengah aktifitasnya, momen beberapa menit lalu menggoyahkan hati. Dokter Harun bisa menangkap betul wajah kikuk penuh canggung dari Qiara. Dan ia juga memuji dirinya yang begitu spontan melindunginya.             Senyum dokter tampan nan manis itu membuat sudut matanya memancarkan sebuah rasa. Ia ingat betul setiap detik dari pertemuannya dengan Qiara.             Tak mau berlama-lama terlarut dalam bayangan semu, ia segera keluar dari kamar mandi setelah dirasa noda di snelli itu sudah cukup bersih.             “Astaghfirullah!” Kaget Dokter Harun. Matanya membulat serta badannya yang sedikit melompat saat menemukan Musa bersandar di sofa ruang kerjanya sambil menyantap es krim “Lo bisa nggak sih... nggak ngagetin gue?!” Dokter berbalut setean serba biru itu mengusap dadanya berkali-kali.             Musa tergelak dengan tawanya yang membahana “Gue nggak ada niatan ngagetin lo, bambang! Lo aja yang kagetan. Eh copot ayam.. ayam” Ia menirukan cara orang-orang latah.             Harun membentangkan snelli ke hanger dan digantungnya dekat jendela “Lo tiba-tiba duduk disitu juga ngagetin gue secara nggak langsung”.             “Terserah lo. Yang penting gue nggak niat ngagetin” Musa yang sedang menikmati es krim mendadak mengerutkan kening “Snelli lo kenapa?”.             “Ketumpahan es kr---” Harun mengerem kalimatnya, lalu menoleh ke arah Musa yang kini sedang menaikkan satu alisnya “—krim” Lanjutnya pasrah.             “Oh” Musa nampak tak begitu peduli “Tadi Qiara juga di kafe, kalian nggak ketemu?”.             Pertanyaan itu membuat Harun tak punya pintu untuk berlari. Ia membeku, mencari kata-kata “Q-qiara? Uhmm..”.             Tiba-tiba Musa melayangkan tatapan jahil “Apa gue harus ngundang lo ke rumah lagi supaya bisa makan malem bareng?”.             “Maksud lo?” Harun sinis.             “Makan malem aja sama tetangga gue sekalian” Celoteh Musa begitu lancar dengan maksud terselubung yang sudah dipahami betul oleh Harun.             Bug!             “Akhh!” Musa merengek saat satu bantal terlempar dan mendarat tepat di atas kepalanya “Gila lo... jangan-jangan lo jodohnya Qiara”.             Tok tok tok!             Sontak terdengar suara ketukan yang sedikit tersamarkan akibat bersahutan dengan rengekan Musa. Harun lantas menyuruh adik sepupunya untuk diam.             “Siapa?” Seru Harun memastikan.             “Qiara, Dok”.             Itu lantas membuat Harun meneguk salivanya kasar. Belum sempat menimpali, Musa sudah lebih dahulu berteriak dengan suara yang sedikit dibuat berbeda sebelum berlari ke dalam kamar mandi “Masuk!”.             Dokter Harun dibuat terperangah dan panik bukan main. Saat Qiara sudah masuk ke dalam ruangannya, Harun masih belum bisa mencerna situasi dengan baik.             “O-oh.. a-ada apa, Dokter Qiara?”.             Qiara sedang sibuk mempersiapkan nyali “Uhmm... s-saya mau berterima kasih sekaligus minta maaf, karena saya snelli dokter jadi kotor”.             “Jadi biangkeroknya Qiara?” Musa tiba-tiba keluar dari kamar mandi mengejutkan Harun dan Qiara. Perempuan itu berteriak kencang dan langsung berlari tunggang langgang. Asal-asalan tak menentu arah, asalkan ia keluar dari ruangan itu.             Musa tertawa terpingkal-pingkal. Mata sipitnya itu turut tenggelam. Ia bahkan sampai tak bisa menopang tubuh akibat energi yang terbuang hanya untuk tertawa melihat situasi tak terduga itu. Sementara Dokter Harun hanya bisa memijat keningnya yang berdenyut.             “Woah.. apa-apaan ini?” Musa menyempatkan diri untuk bertanya di tengah tawa “Nggak~ kenapa harus kucing-kucingan?”.             Musa menarik napas sejenak. Ia berkacak pinggang sambil masih mengatur tawanya “Kalian pacaran?”.             Dokter Harun memekik “Lo pikir gue ABG?!”.             “Ya terus kenapa kaya gitu?”.             Belum sempat dijawab oleh Harun, deringan ponsel itu memecah situasi. Ia buru-buru menerima panggilan darurat dari UGD untuk pasien kecelakaan dan membutuhkan bantuan dokter spesialis bedah umum berpengalaman untuk menanganinya.             “Uhmm.. saya turun sekarang” Dokter Harun buru-buru mengenakan snelli lainnya.             “Gue anggap jawaban lo utang, ya!” Teriak Musa melambaikan tangan pada Harun yang kini sudah menghilang dengan cepat. ^^^             Setelan serba biru itu serta kerudung bergo senada masih membungkus tubuh mungil Qiara yang baru saja keluar dari ruang operasi setelah menyelesaikan penanganan pada korban begal yang terkena luka tusuk. Ia Berjalan dengan sangat cepat seolah terdesak waktu.             Ia buru-buru menjawab panggilan sembari menekan tombol lift menuju lantai 7 “Uhmm.. gue naik sekarang, Zi”.             Ting!             Pintu lift terbuka dan menemukan ada beberapa wali pasien disana. Qiara menyempatkan diri untuk tersenyum menyapa mereka. Sebuah senyum yang cukup dan tak berlebihan. Hanya tipis saja. Pun selama alat tersebut membawanya naik, Qiara hanya mengulum bibir dan tak membuka pembicaraan walau hanya sekedar basa-basi.             Tak perlu memakan waktu lama, pintu lift terbuka di tempat tujuannya. Ia berjalan agak cepat menuju taman balkon. Ziyan sudah menunggunya sejak tadi disana.             Angin malam berhembus mesra menyambut kedatangan dokter imut pemilik kepribadian dingin itu bersama lambaian dan senyum manis dari dokter paling populer seantero Medical Hospital yang kini terlepas dari seragamnya. Mengenakan pakaian khas Pakistan yang membuat ketampanannya semakin paripurna.             Senyum teduh Ziyan selalu meluluhkan Qiara. Perempuan itu mampu membalasnya dengan merekahkan senyum yang sangat luas. Barisan gigi itu terlihat rapi. Kedua mata itu saling bersitatap walau masih bermandikan jarak, menyiratkan sebuah kata yang ingin disampaikan.             Ziyan meninggikan harapan. Setiap kali melihat Qiara tersenyum lebar seperti saat ini, bayangan ketika awal mula bertemu selalu melintasi pikirannya. Pria itu banyak menggumam kata...             Mata indah yang selalu menatapku seperti matahari, seperti takdir.             Seseorang yang indah di hari itu.             Bahkan pekatnya malam di musim penghujan akan nampak bersinar saat aku melihatmu berjalan dibawahnya bagai purnama.             Kamu bahkan tidak pernah tau jika selama ini telah mengubah hidupku. Hari-hariku.             Aku sangat bahagia melihatmu datang kepadaku dengan cahaya itu.             “Oy!” Qiara menyenggol satu lengan Ziyan saat sudah saling berdampingan “Sorry ya gue lama”.             “Katanya lo nggak ada operasi. Tapi tadi apa?” Ziyan ngambek.             Qiara menaiki sebuah bangku di dekat railing balkon agar tingginya bisa melampui Ziyan “Dokter bedah itu bisa menerima operasi dadakan kapan aja. Lo tau sendiri, kan?”.             “Yakin?” Ziyan menyipitkan sebelah mata, menggoda Qiara yang saat ini sudah lebih tinggi darinya. Pun perempuan itu menyipit “Tadi gue nanya ke Ridwan, katanya lo udah mau pulang. Tapi tiba-tiba gantiin posisi Dokter Shofi untuk menangani pasien dadakan itu. Lo sengaja bikin gue nunggu, ya?”.             “Nggak!” Sarkas Qiara “Nggak ada, Zi. Iya gue emang sengaja pengen selesai kerja lebih malam bukan buat ngerjain lo, tapi---” Ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal “Gue lagi nggak pengen ketemu Musa”.             Ziyan tertawa “Apaan, sih? Kalian berantem lagi? Jelly lo dicolong dia lagi?”.             “Nggak” Qiara menunduk, membasahi bibir bawahnya sejenak. Wajahnya nampak sangat menggemaskan seperti anak kecil yang sedang bertengkar dengan kawannya “Ya.. pokoknya ada lah. Lo tau sendiri Musa suka bikin gara-gara”.             “Tapi kan lo bisa ketemu di rumah. Kalian tetanggaan”.             “Seenggaknya gue nggak mau ketemu dia di rumah sakit” Qiara memainkan jemarinya “Ah udah!” Melompat dari bangku “Sini HP lo! Mau difoto dimana?”.             Ziyan tak bisa menyembunyikan rasa gemasnya. Lantas mengusap kepala Qiara layaknya pada seorang adik. Pun perempuan itu sempat membeku, namun berusaha untuk tak mempedulikan, sebab Ziyan memang sering seperti itu sejak dulu.             “Kenapa nggak minta difotoin Anya atau Jio?” Tanya Qiara sambil mempersiapkan pengaturan kamera HP berlogo buah apel.             “Kemarin gue udah minta Anya, tapi kasihan Choky. Jadi gue tunda satu hari aja, nungguin lo”.             1, 2, 3. Ckrik!             Qiara mengambil gambar terbaik untuk Ziyan. Sesekali menunduk, setengah duduk dan bahkan nyaris tengkurap untuk menemukan pengambilan gambar yang epic bak photographer profesional. Ziyan bahkan tak sanggup menahan tawa melihat Qiara yang berlebihan.             “Udah, nih. Coba dicek” Qiara memberikan ponsel pada Ziyan. Alih-alih memeriksanya, pria itu langsung memasukkannya ke dalam saku. Pun Qiara mengerutkan kening “Udah?”.             “Udah. Ayo, gue traktir matcha” Ziyan melenggang terlebih dahulu.             Qiara menaikkan sebelah alis “Orang ganteng kalau candid gimanapun bentuknya ya tetep ganteng” Ia lantas berlari mengejar Ziyan “Tunggu!”.             “Gue pengen matcha sama kue, Zi”.             “Lo nggak takut gendut? Ini udah malem, lo makan yang manis-manis pula”.             Ziyan dan Qiara menanti lift terbuka sambil bercengkrama. Sesekali tertawa karena Ziyan terlalu gemas dengan sikap Qiara yang selalu manja padanya, berbeda dengan sosoknya saat dihadapan orang lain yang belum akrab.             Namun sikap manja dan bahkan tawa dari Qiara mendadak memudar saat pintu lift terbuka dan mendapati Dokter Harun disana. Mata Qiara membulat, napasnya tersendat, begitu pula rona canggung yang tergambar di wajah pria berkulit eksotis pemilik lesung pipi disana.             “Bang Harun!” Sapa Ziyan ramah langsung masuk ke dalam dan hanya dihadiahi senyum canggungnya. Sesuatu tersirat.             “Ayo, Qi!” Ziyan menyadarkan lamunannya.             Berharap bisa berdiri di ujung ruang, tapi Ziyan justru terlanjur berdiri disana. Kini, Qiara diapit dua pria tampan nan tinggi yang membuatnya tak bisa banyak bereaksi. Tubuh mungilnya seolah sedang berdiri diantara menara kembar Petronas.             “Z-ziyan baru mau pulang? Jam segini?” Tanya Dokter Harun membuka obrolan.             “Iya. Tadi abis nungguin Qiara buat foto endorse”.             “Ah~”.             “D-dokter Qiara juga? Baru mau pulang?” Harun tak ingin terlihat canggung.             Perlahan dengan penuh keraguan, Qiara menatap pria manis yang lebih tinggi darinya itu sambil menampakkan senyum kaku “Iya, Dok”.             “Ah, iya. Gue lupa kalau hari ini Musa emang minta gue nginap di apartemennya” Celoteh Ziyan.             “Serius?!” Qiara heboh “Kenapa nggak bilang?”.             “Gue baru ingat. Mobil lo di parkiran, kan?”.             “Kebiasaan nggak bawa kendaraan sendiri. Tapi lo yang nyopir, ya?” Pinta Qiara yang dihadiahi acungan ibu jari dari Ziyan.             Saat pintu lift terbuka dan sudah di lantai utama, ketinya berpisah. Ziyan mengucapkan salam pada Dokter Harun sementara Qiara hanya seperti biasa, tersenyum kaku dan turut mengangguk-angguk apa adanya.             “Kapan-kapan main ke tempat Musa, Bang” Ziyan melambaikan tangan sebelum berbalik bersama Qiara.             “Tapi janji beli matcha dulu, loh”.             “Iya.. gemesss”.             Dokter Harun hanya bisa mengamati Ziyan dan Qiara yang nampak sangat lengket. Qiara bahkan tak pernah menampakkan kecanggungannya sedikitpun. Rasanya ada yang retak, tapi bukan kaca.  Sebuah rasa yang diam-diam bersemayam, mengambang penuh harap dalam kekecewaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN