Rambut Aisyah nampak setengah basah. Ia baru saja usai mandi dan kembali berpakaian setelan serba biru untuk bertugas lagi. Lagi? Ya, Aisyah harus mengerjakan tugasnya berjaga malam. Beginilah nasib dokter residen yang selalu dipenuhi kehebohan dan kesibukan setiap harinya, terlebih Aisyah bertugas di UGD.
Gadis manis berkulit sawo matang itu melakukan visit untuk memeriksa keadaan pasien yang sempat berada dibawah penanganannya. Kemudian bahunya terjatuh lemas saat tau ada pasien baru yang datang. Aisyah sudah melakukan berbagai penanganan sampai EKG dan juga CT Scan.
“Suster Dewi, tolong panggilkan dokter ortopedi!” Pintanya.
Tak butuh waktu lama, Dokter Kevin datang dengan sigap “Pasien apa?”.
“Itu pasien kecelakaan yang mengalami fraktur tulang rusuk. Dia terus mengeluh sakit di dadanya, Dok” Jelas Aisyah.
“Bagaimana hasil CT-nya?”.
Aisyah menunjukkan laptop yang menampilkan hasil pindai CT-nya “Paru-paru terlihat baik-baik saja dan tidak ada perdarahan. Saya melakukan EKG dan memeriksa enzim jantungnya dan semuanya baik-baik saja”.
Masih fokus memperhatikan hasil pindai CT, Dokter Kevin kembali bersuara “Suster Dewi”.
“Iya, Dok?”.
“Suster memeriksa obat apa yang dia minum?”.
“Hanya pil untuk tekanannya”.
Pun disela-sela pembicaraan keduanya, Aisyah sempat menahan kantuk. Nyaris menguap beberapa kali, namun berusaha menahannya kuat-kuat.
“Dokter Aisyah. Saya ambil alih ini” Kata Dokter Kevin.
“Baik, Dok”.
Keresahan itu lenyap sudah. Kini, Aisyah bagaikan air yang mengalir deras dari langit dan bergegas mencari muaranya. Ia mengambil tempat di pos para perawat lantai lima yang bernaung di poli persalinan dan onkologi. Selain itu, mereka dikenal dengan pos gosip.
“Dokter Aisyah capek banget, ya” Ucap suster Feby mengambil tempat disampingnya. Pun itu hanya disambut anggukan kepalanya samar.
“Suster Feby~” Dua suster lain dan satu pemagang laki-laki datang membawa makanan “Ayo lah makan dulu cemilannya”.
“Ini kalau di tempat saya namanya onde-onde” Kata Suster Feby.
Mata Aisyah berbinar kala melihat kue bulat yang diselimuti wijen “Aku mau, dong. Laper banget. Nggak sempat makan” Ia makan dengan sangat lahap seperti tak makan beberapa pekan.
“Oh?! Rania!” Aisyah melambaikan tangan saat melihat Aisyah yang hendak berjalan menuju lift “Sini!”.
Kebetulan poli persalinan hanya berbeda satu lantai. Rania lantas berlari kecil menghampiri kawan sejawatnya itu. Pun poli ini juga merupakan ruang singgah banyak dokter, perawat atau bahkan staff kebersihan rumah sakit untuk menghilangkan penat.
“Aku boleh ikutan makan?” Tanya Rania sangat berhati-hati.
“Makan aja!” Suster Heni yang merupakan perawat senior itu berusaha membuat siapapun nyaman di sekitarnya “Kita ini pejuang! Harus banyak makan”.
Mereka lantas tertawa dan menikmati makanan seadanya untuk mengisi tenaga. Tak jarang mereka juga menggoda sang pemagang dengan bualan mereka, sebab Akbar adalah satu-satunya laki-laki diantara mereka.
“Jangan tertekan loh, Bar”.
“Nggak, kok. Saya sudah paham” Tawa Akbar “Oh iya, Suster Feby... hari ini ada gosip apa?” Tambahnya berbisik.
“Woah! Akbar jadi suka gosip” Aisyah menggeleng keheranan.
Suster Heni menyenggol satu lengan Aisyah “Akbar sekarang jadi admin lambe turah”.
Suster Feby meletakkan satu tangan di dagu sambil berpikir “Dokter Harun”.
“Dokter Harun?” Semua berteriak nyaris tanpa suara.
Dengan mulutnya yang licin itu, Suster Feby antusias berkisah “Bukan apa-apa, sih.. tapi dokter-dokter onkologi suka banget godain dia, padahal dia geli sama mereka. Dokter Harun nerima makanan dari mereka cuma buat menghormati. Padahal dokter-dokter itu udah punya laki”.
“Ih! Nggak tau diri!” Tiba-tiba Rania emosional.
“Ah! Aku jadi keinget Dokter Musa” Tandas Akbar “Kalian tau kan.. kalau istrinya selingkuh dan bahkan sampai hamil sama atasan kerjanya”.
“Hah?!” Teriak Rania bangkit dari kursinya. Semua pasang mata tengah tertuju padanya. Rania yang lemah lembut itu telah berubah? Ia buru-buru duduk dengan tenang saat menyadari tatapan itu.
“Lo kenapa?” Tanya Aisyah.
“Shock” Jawabnya canggung “Aku baru tau. Bisa-bisanya---” Rania kehilangan kata-katanya.
“Uhmm.. bisa-bisanya selingkuh, padahal Dokter Musa itu romantis dan sayang banget sama istrinya”.
“Apa Dokter Musa juga main perempuan?” Timpa suster lainnya.
“Enggak lah! Dokter Musa emang b****k, tapi dia tulus banget. Dokter Rania pasti tau cara dia memperlakukan anak-anak” Tukas Akbar yang dihadiahi anggukan kecil Rania “Dokter Musa juga sabar banget. Belum bisa punya anak, dia tetep tabah”.
Obrolan itu tak pernah ada habisnya. Bisa dibilang nge-gosip adalah cara mereka yang berjaga malam untuk tetap stabil dan tidak merasakan kantuk. Rania yang tak kuasa mendengarkan gosip itu memilih untuk kembali ke tempatnya.
Telinga Rania sudah sangat panas. Emosinya juga naik turun saat mendengar kejelasan tentang retaknya rumah tangga Musa dan istrinya. Rasanya jika mendengarkan gosip terlalu lama, ia tak bisa menebak reaksi apa yang akan ia tampilkan di hadapan mereka. Mendengarkan penderitaan orang lain, rasanya terlalu menyakitkan.
Rania kembali memeriksa kamar demi kamar, bangsal demi bangsal. Ia bahkan juga memeriksa ruang PICU. Mencatat setiap perkembangan pasien anak. Sudah hampir dua jam ia mengitari poli bedah anak, kini kembali ke pos jaga.
Ada satu tarikan napas bertenaga yang dihembuskannya. Sesekali memukul-mukul bahu dan lehernya yang sudah kaku.
“Taraaa!” Satu cup kopi hangat mendarat di hadapan Rania.
Mata kecilnya terbelalak penuh kejut “D-dokter Musa?”.
“Hai!” Musa melambaikan tangan. Melihat reaksi Rania yangg terlalu sopan, ia segera menyergah “Udah nggak usah berdiri. Duduk aja! Nyantai, relax”.
Rania lantas menuruti ultimatumnya “Makasih, Dok”.
“Uhmm” Musa melipat kedua tangan di atas bilik pos. Matanya menatap Rania penuh “Minum! Biar semangat”.
Keduanya lantas duduk berdampingan di depan sebuah dinding, tepat depan pos jaga, di atas bangku abu-abu berjaring. Memegang cup kopi masing-masing.
“Dokter Musa kan nggak jaga malam” Rania menatap sekilas pria berparas menggemaskan di sampingnya.
“Ah! Kopinya enak” Musa baru saja meneguk kopi panasnya. Lalu menghadap ke arah Rania yang tertunduk malu. Ada senyum berbalut kehangatan disana “Kan aku udah bilang kalau siap nemenin kamu jaga malam”.
Rania tersenyum sekilas “Saya bisa lakukan pekerjaan saya dengan baik. Dokter Musa bisa istirahat di rumah”.
Musa mengempas napas. Membuang pandangan sesaat. Menatap langit-langit putih rumah sakit “Rumah sudah seharusnya menjadi tempat kembali. Tapi itu dulu” Kembali menatap Rania penuh “Sekarang aku bahkan nggak tau tujuanku. Aku nggak tau dimana tempatku kembali. Rumah tak lagi menjadi tempat yang di rindukan”.
Mojang itu memahami situasinya. Rania lantas tersenyum, menyeruput kopinya sejenak sebelum melanjutkan kalimat “Tak ada yang abadi di dunia ini. Kesedihan dan kebahagiaan, semua itu sesaat”.
“Uhmm” Musa masih menatap langit-langit “Setidaknya untuk saat ini, aku menemukan halte sebagai ruang singgah untuk berteduh dari hujan”.
Rania terpaku. Hatinya membisik banyak kata. Mata teduh itu ikut beriak melampaui perasaannya yang tiba-tiba bergejolak. Kemudian berusaha keluar dari jaring laba-laba yang bersemayam di hati.
“D-di luar hujan?” Rania bangkit dari bangku untuk menutupi rona canggung yang bersemayam. Menelaah ke jendela maha besar yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya duduk “Woah, deras hujannya”.
Musa hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah polos Rania yang benar-benar terlihat salah tingkah. Tentu saja untuk apa memastikan keadaan alam dengan penuh susah payah. Toh Rania sudah seharusnya tau jika malam ini sedang hujan deras.
Namun hal inilah yang membuat Musa terpikat olehnya. Rania berbeda dari yang lain. Tapi.. pria itu masih perlu memastikan lebih jauh atas gejolak yang sedang dialaminya. Untuk saat ini, biarkan air hujan bermuara pada tempatnya.
^^^
Sebuah embun tergambar jelas di sebuah pintu etalase dekat halaman samping rumah sakit yang disponsori oleh kegilaan Gina. Gadis 22 tahun itu membuang napasnya di depan pintu kaca dan dibuatnya bentuk love dengan satu telunjuk.
“Astaghfirullah!” Aisyah terperanjat saat mengetahui tingkah aneh itu. Ia lantas menghampiri “Kamu ngapain? Udah gede kok masih mainan kaya gini, sih. Jorok tau! Kasihan juga staf kebersihannya”.
Gina mengernyit “Ini di lap pake tisu juga ilang” Ia mengusapnya dengn tisu travel.
Aisyah masih tak habis pikir “Tapi kamu udah gede. Ngapain coba?”.
“Ya udah. Yang penting udah bersih lagi” Kelakuan Gina memang abstrak. Kemudian matanya membulat, tak sengaja membidik sang kakak yang sedang lewat “Mas..” Ia melambaikan tangan.
Pun Aisyah jadi dibuat penasaran dan ikut berbalik. Detik itu juga ia mematung bersama mulut yang terbuka lebar.
“Mas Jio!”.
Jio tak kalah terkejutnya. Mata yang selalu tenang dan datar mendadak panik saat menemukan sang adik di tempat kerjanya. Pria berbalut sneli dengan kaca matanya itu berlari kecil menghampiri Gina “Ngapain disini?”.
“Ngapain disini? Ya main-main, lah” Cerocos gadis berambut panjang itu.
“D-dokter Jio?” Aisyah masih belum bisa mencerna situasi.
“Ah~” Jio mulai kikuk. Image kaku dan selalu profesional ketika di rumah sakit mendadak runtuk karena kehadiran ‘kuntilanak’ satu itu “O-oh, Ayo pergi!”.
“Mau kemana? Sakit, tau. Ishh!” Gina berontak saat satu tangan Jio mencengkramnya. Kemudian ia menyempatkan diri untuk menjulurkan lidahnya pada Aisyah yang masih mematung di tempat.
Aisyah lantas hanya bisa memandangi punggung Jio dan Gina yang perlahan menjauh. Ia bisa melihat dokter lugu nan kaku itu menarik telinga sang adik yang kelewat bandel.
“Jadi... itu adiknya Dokter Jio” Gumam Aisyah penuh sesal.
Tiba-tiba seseorang mensejajarkan kaki dengannya “Uhmm.. Gina namanya”.
“Dokter Akmal?”.
“Walaupun wajah mereka mirip tapi karakternya---” Dokter berkulit Tan berseragam serba biru itu menggeleng-geleng seraya menghela satu napas berat “—Gina ngeselin nggak ada obat”.
Aisyah juga ikut membuang napas kasar “Seharusnya aku mengenali wajah itu dan bersikap baik sama Gina. Kira-kira kalau kaya gini, aku masih dapat restu untuk jadi kakak iparnya, nggak?”.
“Bersiaplah”.
“Buat apa?!” Aisyah kembali meningkatkan kepanikannya. Sebenarnya ia tak perlu bertanya, tapi ia tak mau membuat asumsinya menjadi kenyataan.
Dokter Akmal terperangah melihat tingkah Aisyah. Gadis itu nampak cinta setengah mati pada sosok Jio “Sumpah! Gue baru kali ini lihat orang secinta itu sama Jio!”.
Dokter residen pemilik kulit sawo matang nan manis itu mengerucutkan bibirnya “Berarti masih ada kesempatan buat saya, kan?”.
“Kata siapa?” Masih dengan nada bicaranya yang santai namun berwibawa, Akmal kembali menyambung “Justru Jio itu bukan tipe laki-laki bayangan. Dimana semakin kamu kejar, dia semakin jauh” Pria itu lantas memberikan satu tepukan di bahu Aisyah sebelum akhirnya melenggang pergi karena harus ada konferensi.
Aisyah masih dilema. Merasa belum siap atas akhir apa yang terjadi pada perasaannya untuk seorang Jio. Ia frustrasi. Lututnya tak mampu menopang tubuh lagi. Terjatuh sembari mengacak rambutnya.
“Kamu ngapain?”.
Suara itu membuat Aisyah kembali berdiri tegap. Menyingkirkan rambutnya di sekitar mata dan terbelalak saat menemukan Anya disana.
“Kamu tugas di UGD, kan?” Tanya Anya memastikan.
“I-iya, Dok”.
Anya memasukkan kedua tangan ke dalam saku “Cepat balik kerja. Disana lagi genting!”.
^^^
Suasana kantin Mtero Medical Center benar-benar nyaman dengan ratusan rupa makanan yang mengundang selera. Letak kantin ini sendiri berada di gedung utama. Begitu masuk ke dalamnya, siapapun akan menemukan nuansa berbeda dari sebuah kantin rumah sakit. Warna abu, putih, hitam dan gold membuat suasana terlihat mewah dan elegan.
Para dokter, perawat dan semua tim medis bisa menghabiskan waktu makan dengan nyaman dan tenang. Pun begitu dengan wali pasien, semua bisa datang dan menikmati makanannya. Tak hanya kantin, di lantai atas ada kafe estetik yang dimiliki rumah sakit ini.
Ziyan dan Anya sudah mengambil tempat mereka. Menyantap aneka lauk yang sudah singgah di piring besar mereka sambil bertukar cerita. Ada saja yang bisa mereka bicarakan.
“Abis ini mau langsung pula, Nya?” Tanya Ziyan menengok arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
Anya masih sibuk mengaduk sup iga “Iya”.
“Entaran kek.. fotoin gue dulu” Pinta Ziyan.
Anya menahan tawa “Endorse?”.
Ziyan mengangguk kecil. Bibirnya ikut mengerucut. Ketampanan itu berubah menjadi menggemaskan seperti bayi “Eh.. nggak usah. Gue minta tolong Qiara aja”.
“Qiara sibuk. Lo tau sendiri hidupnya GS seribet apa”.
Si tampan nan rupawan itu menyendok makanannya dan menyantap dengan lahap seraya mengangguk “Biarin. Gue liat Qiara sibuk di UGD tadi, ntar lagi juga selesai. Lagian gue pengen difoto pake vibes malem gitu”.
“Kali ini di-endorse apa lo?” Tanya ibu satu anak itu sambil menggigit daging iga.
“Baju muslim. Kurtah Pakistan, gitu”.
Tiba-tiba terdengar suara berisik menyeruak. Sontak Anya dan Ziyan mengerutkan kening.
“Si kembar” Kata Ziyan terkekeh.
“Si kembar? Qiara-Tiara?” Anya lantas ikutan menoleh ke sumber suara dan menepuk dahinya saat tau kebisingan itu disponsori oleh kakak beradik, Jio dan Gina.
Jio lantas menyuruh sang adik untuk duduk disamping Anya “Duduk sini! Mas ambilin makan. Jangan kemana-mana! Awas!”.
Gina melayangkapan tatapan pedang ke arah sang kakak yang kini beranjak mengambil dua porsi makan, selanjutnya bergantian menatap Ziyan dengan senyum termanisnya.
Tingkah adik Jio membuat Anya tergelak. Tertawa geli “Kayanya lo lebih suka Ziyan jadi kakak lo dari pada Jio”.
“Ya iya lah, Kak” Gina menggebrak meja, sempat menjadi tontonan beberapa orang yang lewat “Kak Ziyan ganteng, pinter, tinggi. Sempurna”.
Ziyan terkekeh mendengar penuturan Gina yang selalu heboh “Lo udah cocok jadi adiknya Jio. Liat muka kalian! Kaya anak kembar”.
Tawa Anya kembali membahana “Qiara-Tiara yang kembar aja nggak semirip itu”.
Gina mendengus kasar. Bersandar di punggung kursi sambil melipat kedua tangan di depan d**a “Itu dia yang paling gue sebel. Kenapa kita harus semirip itu?”.
“Itu dari Allah!” Jio membanting piring ke depan sang adik. Itu sempat mengejutkan semua penghuni meja itu. Pria bermata bulat itu duduk di samping Ziyan, berhadapan dengan Gina.
“Sebagai anak tunggal, gue kepo deh.. kalian ini ngapain berantem sampai rumah sakit?” Ziyan penasaran.
“Lo nggak perlu nanya lah, Zi kalau tau tingkah Gina” Jio menjelaskan sambil menahan ego, sementara Gina asyik melahap makanan tanpa merasa berdosa telah mengganggu sang kakak.
“Anak ini, nih.. suka rusuh kalau datang ke RS. Kalian udah tau dari dulu, kan?” Sambung Jio menahan kepalanya yang berdenyut. Lantas dihadiahi tawa Ziyan.
“Tau. Dia suka rusuh. Suka gangguin perawat, suka main ke taman dan ngerusak tanaman. Suka sok dekat sama semua orang.. itu ngeselin banget, sih” Anya mengingat jelas semua kerusuhan Gina sejak kecil “Apalagi di sini banyak kaca. Pintu kaca. Dia suka nempelin muka di kaca waktu dulu”.
“Sekarang juga masih” Jio menyendok makannya dengan terpaksa.
“Hah?!” Anya dan Ziyan terbelalak.
“Gue bilang apa? Dia nggak pernah mau berubah padahal dia udah gede” Jio terus bercerocos tiada henti bagai hujan yang datang tiba-tiba di musim kemarau berkepanjangan.
“Ya udah.. tinggal sebarin aja ke orang-orang kalau Mas Jio punya cew---” Belum sempat menamatkan kalimatnya, Jio sudah buru-buru menutup mulut sang adik yang serupa ember bocor.
Sontak itu menarik perhatian Anya dan Ziyan. Mereka saling memandang, mengais pikiran yang sedang beterbangan menginginkan sebuah kejelasan.