Musa menyusuri basemant setelah berhasil memarkirkan mobilnya. Kini berjalan santai sambil bernyanyi ria seolah tak ada beban yang menggelayut. Dokter nyentrik satu ini memang berbeda dari yang lain.
Hari ini tak ada jadwal operasi, melainkan jadwal praktik yang sepertinya akan sangat panjang. Tiba-tiba ponselnya berdering, Musa buru-buru mengusap tombol hijau pada layar ponsel pabrikan Korea itu.
“Apaan?” Serunya sambil membuka bungkus permen, lalu memakannya.
“Lo udah berangkat ke RS?” Suara lembut nan empuk dari seberang sana sudah bisa dipastikan jika sang empu adalah Ziyan.
“Udah” Musa berdiri menanti lift berikutnya.
“Sama Qiara?”.
“Nggak. Mak lampir udah berangkat duluan tadi abis subuh, dia mau bantuin operasi transplantasi Dokter Muji. Kenapa?”.
“Oh, nggak apa-apa. Kalau lo ninggalin Qiara mau gue jemput. Gue lagi pinjem mobil papah dan lagi lewat apartemen dia”.
“Cih! Minjem mulu, lo! Lagian, mana mungkin gue ninggalin Qiara, yang ada dia udah berangkat duluan, walaupun nggak ada jadwal operasi. Hidih” Musa memasuki lift sembari sesekali tersenyum manis saat para pemagang dan suster turut serta disana.
“Lo nggak ke RS, kan hari ini?” Tanya Musa lagi pada Ziyan.
“Nggak. Gue nggak ada praktik hari ini. Gue mau syuting”.
“Lo sekarang jadi artis, ya. Seharusnya duit lo tambah banyak biar nggak minjem mobil papah mulu”.
“Mata duitan banget sih, lo. Selagi papah punya kenapa gue nggak pinjem”.
Musa tertawa “Susah emang ngomong ama Sultan! Udah, gue sibuk! Assalamu’alaikum”.
^^^
Suara gemericik air mengalir menyeruak di ruangan praktik yang dipenuhi dengan stiker dinding lucu khas anak-anak. Mulai dari gambar taman dan kupu-kupu, hingga mickey dan minnie mouse. Ah, lucunya!.
Sebelum membuka jam praktik, Musa mencuci bersih tangannya. Sementara dr. Rania sebagai residen dokter bedah umum yang membantunya sudah siap. Dokter berbalut tudung islami pemilik mata hazel itu sedang membuka data pasien di komputer, serta ada satu perawat perempuan—Suster Mely yang sama siapnya bersama papan berisi nama-nama pasien.
“Pasien pertama, Marissa Faozya” Kata Rania masih berkutat di depan komputer sembari berdiri.
Musa mengeringkan tangannya di bawah alat pengering “Ah~ dia umur 6 tahun, tinggal di Menteng, sekolahnya di Singapore International Elementary School”.
Pipi chubby Rania semkain menggembung. Ia terkekeh “Sekolahnyapun ingat?”.
Musa berbalik, bersiap menuju kursinya “Ya iya lah.. dia kalau ngomong udah ujan bechek, nggak ada ojek” Ia membuat nada bicaranya mirip seperti artis Cinta Laura dengan aksen kebarat-baratan. Mulutnya juga nampak tak simetris. Miring kanan, miring kiri.
Siapa yang tahan dengan suasan seperti itu. Rania dan Suster Mely tergelak. Tertawa terbahak-bahak dengan tingkah dokter menggemaskan satu itu. Ah, Musa selalu berhasil membangkitkan suasana.
“Ssst!” Musa mengarahkan telunjuk di depan bibir merah jambunya sambil mengedipkan sebelah mata. Lantas dua perempuan itu menghentikan tawa “Yuk panggil Cinta Laura” Lanjut Musa tak sadar. Ia sudah kembali fokus ke komputer.
Sontak itu membuat Rania dan Mely terbelalak “Cinta Laura?!”.
Musa berbalik. Memutar kursinya yang beroda itu penuh kejut. Mata sipitnya membulat “Kok Cinta Laura, sih!”.
Pfftt.. Rania dan Mely menutup mulutnya rapat-rapat agar tawa itu tak lagi membahana.
“Aissh! Gara-gara kalian, sih! 2020 loh ini, masih mau bercanda?” Musa menggeleng keheranan seraya terekekeh “Panggil, Marissa maksud saya”.
“Baik, Dok” Mely bergegas menjalankan tugasnya.
^^^
Ruangan praktik hari ini, agaknya cukup ramai dari berbagai spesialisasi. Seperti di depan klinik praktik spesialis jantung dan pembuluh dara yang didominasi pasien empat puluhan tahun ke atas. Beberapa perawat ada yang menghampiri pasien yang masih menanti antrean untuk memastikan data.
“Pak, Tolong sebut tanggal lahirnya sekali lagi”.
“5 Mei 1972”.
“Bapak, Ahmad Khalid Januar”.
Seorang pria setengah abad yang didampingi putra lelakinya itu memasuki ruang klinik dr. Anya Audina Syarifah, Sp.JP.
“Assalamu’alaikum, selamat pagi. Selamat tahun baru” Sapa Anya sangat ramah. Wajahnya nampak berbinar. Begitulah cara Anya setiap kali menyapa pasiennya, sebab tak sedikit dari mereka yang merasa tertekan saat menemui dokter.
Kedua lelaki itu menjawab kompak seraya mengambil tempat duduk di depan meja kerja Anya sembari melemparkan senyuman.
“Dengan Bapak Ahmad Khalid Januar?” Anya memeriksa data dari komputer.
“Iya, Bu”.
“Ini anaknya atau?”.
“Saya Hisyam, anaknya”.
“Uhmm” Anya mengangguk-angguk. Kemudian kembali fokus pada komputer “Bapak baru pertama kali datang konsultasi?”.
“Iya, Dok. Ini pertama kalinya”.
“Okey” Dokter berambut sebahu nan manis itu kembali menatap pasien dan walinya “Gimana? Keluhan apa yang Pak Ahmad rasakan?”.
“Gini, Dok. Saya merasa nyeri d**a sampai menjalar ke punggung, kadang ke dagu juga, tenggorokan” Selama pasien menjelaskan, Anya menyimak dengan sangat baik “Mudah berkeringat, mual, pusing. Detak jantung juga nggak beraturan”.
“Agak sulit bernapas?”.
“Iya. Kadang-kadang agak sesak napas, Dok”.
“Tadinya ayah saya nggak mau ke dokter, Dok. Tapi saya pikir, di usia ayah yang nggak muda lagi memang harus konsultasi. Jadi, saya bawa kesini atas rekomendasi temen saya yang ibunya juga pasien disini katanya” Ungkap sang anak.
Anya mengangguk paham dan memperbaiki sedidkit posisi duduknya “Ah~ bagus.. anak sholeh, ya. Insyaa Allah” Kalimat itu langsung disambut dengan aamiin oleh ayah dan anak tersebut.
Anya dengan keramah-tamahannya kembali menyambung “Banyak orang tidak menyadari terkena serangan jantung, karena serangan jantung acapkali dianggap keluhan biasa, seperti sakit maag atau masuk angin. Banyak juga yang menyepelekan rasa nyeri di d**a, padahal nyeri tersebut sudah berlangsung selama 30 menit dan terasa sangat menyakitkan”.
Masih dengan nada bicara yang penuh kehangatan, dokter tersebut kembali melanjutkan “Tapi, sebelumnya apa Pak Ahmad ada sakit lain? Hipertensi, kolesterol, mungkin?”.
“Sejauh ini, bapak saya sehat terus, Dok” Balas sang anak “Nggak pernah sakit yang macam-macam, alhamdulillah. Paling ya... masuk angin, flu. Umum lah, Dok”.
“Untuk kesehariannya.. apa Pak Ahmad merokok?”.
“Nggak, Dok. Saya nggak pernah merokok. Saya nggak minum alkohol. Ya, biasa aja hidupnya”.
Setelah banyak menanyai riwayat kesehatan dan gejala, Anya lantas melakukan tahap pemeriksaan fisik jantung di atas bangkar dengan empat metode. Seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
Dari empat pemeriksaan tersebut, Anya bisa mendeteksi adanya gejala penyakit jantung. Ia lantas menyarankan Pak Ahmad untuk melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis dengan melakukan EKG[1], Ekokardiogram, CT Scan, Tes darah, rontgen dan angiografi koroner.
^^^
Kini jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Qiara yang sudah membantu dua operasi di cabang subspesialisasi sejak subuh ini lantas ingin mengisi perutnya yang sudah tak bisa diajak kompromi. Mengenakan pakaian setelan serba biru yang dirangkap dengan snelli. Ia berjalan menuju kantin di lantai bawah.
Ia memeriksa ponsel dari sakunya. Tak banyak dari Halaman Belakang Squad yang merespon ajakan makan siang Qiara, sebab semua sedang berkutat pada kesibukannya masing-masing.
“Anya masih praktik. Jio nggak bales tapi dia lagi seminar di luar. Musa?” Qiara menghembuskan satu napas kasar “Musa lagi, Musa lagi. Kalau Ziyan---”.
Langkahnya mendadak terhenti ketika melewati IGD. Bukan karena pasien yang berdatangan, melainkan sebuah tayangan televisi itu membuatnya mengerem langkah.
Halo, sahabat sehat. Kembali lagi dalam acara Hallo, Doc bersama saya dr. Ziyandra Akmal. Sebelumnya saya ingin mengucapkan ‘Selamat tahun baru’ untuk sahabat sehat dimanapun anda berada. Kali ini kita akan membahas......
“Woah, ganteng banget. Kaya oppa-oppa Korea”.
“Shining, shimmering, splendid”.
“Ganteng, pinter, sempurna banget. Tapi sayang.. nggak bisa dimiliki”.
“Tapi dia jomblo tau”.
“Masa?”.
Tak hanya para suster ataupun dokter, banyak pasien yang juga sudah stand bye untuk menonton Ziyan di televisi setiap kali ia membawakan acara tentang dunia kesehatan. Semua heboh. Ziyan tak pelak selalu mencuri hati para wanita dari berbagai kalangan dan usia.
Qiara hanya bisa terkekeh melihat dan mendengar bisikan orang-orang tentang sahabatnya. Ia juga sesekali memperhatikan cara Ziyan membawakan acara tersebut dan memberikannya senyuman penuh kagum dan bangga.
Pun Qiara juga tak sengaja membidik sosok bidadari di ujung lorong yang diam-diam juga sedang menonton Ziyan. Dia, Keysha. Bidadari milik Medical Hopsital itu tak pernah sedikitpun melunturkan senyumnya untuk Ziyan.
“Pengagum rahasia” Gumam Qiara mengangkat senyum tipisnya, lalu segera beranjak dari tempat.
Selanjutnya ponsel pabrikan Korea dalam genggamannya kembali bergetar. Sejenak Qiara antusias, namun saat melihat nama kontak di depan layar, perempuan dingin itu memutar bola matanya malas.
“Apa, lo?” Qiara menjawab panggilan dari Musa.
“Gue nyusul makan! Tunggu di kantin” Panggilan diputus sepihak. Qiara lantas menjauhkan ponsel dari telinga sambil mengernyit.
“Dokter Qiara!” Ridwan tiba-tiba berlari menghampiri.
“Oh?!” Qiara nampak terkejut dan kembali memasukkan ponsel ke dalam saku “Udah selesai workshop-nya?”.
“Udah. Saya mampir ke RS, karena menunya rawon” Celoteh Ridwan yang nampaknya sudah mulai terbiasa berhadapan dengan Qiara.
Dengan senyum tipisnya, Qiara mengiyakan “Ayo!”.
Wajah nanar penuh rona bahagia terpartri jelas dari wajah tampan nan tajam milik Ridwan. Senyumnya tak pernah sedetikpun luntur. Ridwan tau betul jika Qiara tak seburuk apa yang mereka bilang.
^^^
Qiara dan Ridwan sudah duduk saling berhadapan di meja kantin. Suasana siang itu juga tak terlalu ramai, sebab sebagian besar sudah menyelesaikan makan siangnya sejak tadi.
“Wah! Dokter Qiara suka kerupuk udang, ya?” Ridwan terperangah melihat Qiara mengambil banyak kerupuk udang.
Qiara mengangguk seadanya tanpa merasa malu “Aku udah bayar lebih loh, ya”.
Ridwan tertawa renyah “Iya, Dok”.
“Wowowow!” Si tengil—Musa datang sembari menari-nari “Qiara, Ridwan! Perfect couple”.
Jika Musa sudah bertingkah, kepala Qiara mulai sakit dan kini pandangannya fokus pada sosok di belakang Musa “Rania! Sini, duduk”.
“Ah~” Rania, gadis lemah lembut itu menurut dan menarik satu kursi di samping Qiara.
“Lain kali kalau tertekan, kamu boleh cerita, ya. Jangan sungkan!” Qiara mengusap satu bahu Rania.
Musa mengambil tempat di samping Ridwan “Apaan, sih? Seharusnya gue yang bilang gitu ke Ridwan. Ya, kan?” Bergantian mengedipkan sebelah mata pada Ridwan yang disambut senyum indahnya, membuat Musa sempat terperangah penuh takjub “Woah?! Ternyata di rumah sakit ini nggak cuma Ziyan yang cakep, ya”.
Pipi Ridwan menggembung menahan senyum. Buru-buru menelan makanannya “Saya sudah sering mendengar itu”.
Musa terbelalak. Ia benar-benar terkesan dengan sikap penuh percaya diri dari Ridwan. Meletakkan sendok ke atas piring “Wah! Didikan Qiara bagus juga, ya”.
Qiara tak menimpali. Ia sibuk makan. Sementara Rania hanya menyimak seraya tak pernah berhenti tertawa.
“Ngomong-ngomong tadi saya liat Dokter Ziyan di TV keren banget. Kira-kira saya pantes nggak jadi host kaya beliau?” Ridwan antusias.
Musa belum sempat menimpali, Qiara sudah buru-buru menyergah “Urus tesis dan semua ujian spesialismu dulu!”.
“Baik, Dok” Ridwan tak bisa berkutik saat mendapat tatapan tajam bagai belati dari seniornya.
“Ah, saya lupa kalau hari ini jam tayang acara Hallo, Doc” Rania nampak kesal “Saya juga pengen liat Dokter Ziyan”.
“Hari ini praktik lo panjang, ya?” Tanya Qiara memastikan.
“Yah.. lumayan. Biasanya saya dan yang lain suka nonton Dokter Ziyan walaupun cuma sekelebat aja” Pipi Rania bersemu kemerahan.
Musa menyipit, mengasi hipotesa “Woah?! Lo kaya kesel banget nggak bisa nonton Ziyan?”.
“Ya iya dong. Semua juga pasti merasakan hal sama” Celoteh Rania. Pipinya mulai bersemu kemerahan.
Musa mengusap wajahnya kasar “Kalau gue yang bawain acara itu, apa lo bakal sekecewa ini ketika melewatkan satu episode?”.
Dengan polosnya, Rania hanya bisa mengulum bibir sejenak. Ia nampak menggemaskan “Uhmm.. belum tentu”.
“Aissh!” Entah kenapa Musa merasa sangat gondok.
“Hey.. hey! Kalian pacaran?” Pertanyaan Qiara membuat Musa dan Rania mematung. Pun Ridwan juga nyaris tersedak saat meneguk minuman. Berbicara apa adanya adalah gaya khas dokter satu ini. Tatapan matanya menusuk dua target tersebut secara bergantian.
Masih dengan nada bicara yang cuek, Qiara kembali bersuara “Lagian ngapain ribut-ribut nggak jelas kaya ABG” Ia bangkit dari kursi setelah meneguk minuman “Ayo, Ridwan! Kita nggak punya waktu untuk main-main”.
Pria manis pemilik alis tebal itu mematuhi segala titah Qiara dan mengekor di belakangnya, meski sempat menunduk dan memberikan penghormatan pada Musa, lalu melambaikan tangan pada Rania.
^^^
Hari ini Qiara tersisa satu jadwal operasi lagi. Ia membantu menangani operasi dokter spesialis onkologi pada jam 7 malam nanti. Di perjalanan menuju lift, ia sempat bertemu Anya yang baru menyelesaikan praktik dan kini bergegas pulang untuk menemui anaknya yang rewel.
“Pasti Dokter Anya repot banget” Kata Ridwan.
“Yah.. seorang ibu emang kaya gitu” Imbuh Qiara “Kamu nggak ada tugas lagi?”.
“Besok saya ujian lagi”.
Qiara membelalak “Belajar, lah! Ngapain ngikutin saya?”.
“Tadi Dokter Qiara yang ngajak saya” Cerocos Ridwan. Kali ini dia mulai banyak bicara, namun tatapan dingin Qiara membuatnya kehilangan kata-katanya “Baik. S-saya pergi dulu. Belajar”.
Ting!
Mata Qiara yang tenang tiba-tiba beriak saat pintu lift terbuka. Qiara yang dikenal tak punya rasa takut itu harus kehilangan jati dirinya saat menemukan mata teduh milik Dokter Harun.
Hatinya berdesir. Rona canggung menggurat jelas di wajah cantiknya. Tangannya bergetar. Ia membeku.
“Kamu nggak masuk?” Suara berat itu berhasil menggelitiknya.
“Ah~” Sadar Qiara buru-buru masuk lift.
Dua insan itu bermandikan jarak yang cukup jauh. Dalam situasi seperti ini, Qiara tak bisa mengendalikan diri. Ia terus membuang wajahnya.
Dokter Harun hanya mengamati dalam diam seluruh pergerakan dokter mungil itu “Kamu nggak balas pesan saya?”.
“Oh?!” Qiara terkesiap. Bergegas memeriksa ponselnya dan berkahir merutuki diri sendiri “Maaf, Dok. Saya tadi lagi--”.
“Nggak apa-apa. Tapi jangan lupa jam 5 nanti kita ada meeting sama pak kepala terkait masa pensiunnya yang sebentar lagi” Jelas Dokter Harun “Saya tunggu. Jangan terlambat”.
Dokter Harun bergegas keluar pintu lift. Sementara Qiara kehilangan tenaga sembari memaki dirinya lagi yang selalu membuat kesan tidak baik dihadapan orang yang dikaguminya dalam diam. Membenturkan kepalanya beberapa kali ke dinding lift.
_______________________________________________
[1] EKG: Elektrokardiogram adalah tes untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik jantung menggunakan mesin pendeteksi impuls listrik (elektrokardiograf).