18. Gerimis di Akhir Tahun

2042 Kata
Waktu bergulir sebegitu cepatnya. Malam tahun baru ini terasa begitu berbeda. Hujan sudah sejak sore mengguyur deras ibu kota dan sekitarnya. Bahkan sebagian wilayah sudah mulai tergenang air.             Momen tahun baru ini dimanfaatkan Musa untuk memboyong keponakannya, Queensha dan Raja untuk mengunjungi kediaman barunya seperti yang dijanjikannya pada sang ayah.             “Welcome to Uncle Musa’s wolrd!” Seru Musa saat pintu rumah sudah terbuka. Pun kedua keponakannya itu berhamburan memasuki rumah sangat antusias, meninggalkan sang paman dan ayahnya. Kedua pria itu tersenyum lega melihat kebahagiaan kecil dari anak-anak tersebut.             Kemudian Musa dan Harun menyusul memasuki rumah. Kedua pria itu meletakkan dua kantong belanjaan di dapur, sementara anak-anak asyik menonton kartun yang sempat disiapkan Musa.             Semua belanjaan itu adalah persiapan mereka menikmati malam tahun baru yang begitu sederhana. Dua pria tampan itu tak hanya cakap dalam membedah, namun cukup mahir dalam urusan dapur. Terlebih status keduanya adalah sama-sama seorang duda. Membuat mereka hidup lebih mandiri.            Kali ini mereka akan membuat spageti. Dokter Harun membuka kulkas untuk mencari bahan yang kurang. Namun matanya membelalak saat hanya ada kesunyian dibalik dinginnya suhu di dalam benda persegi panjang itu.             “Musa” Panggilnya masih tak percaya “Lo bener nggak punya apa-apa? Sepi parah kulkas lo. Ini lebih parah dari kulkas orang-orang di tanggal tua” Kulkas itu benar-benar tak ada isinya, seolah benda itu hanya sebatas pajangan.             Musa yang sedang mencuci gelas mendadak tertawa “Emang”.             “Gue butuh bawang bombay, Musa. Gue lupa nggak beli tadi”.             “Okey.. gampang” Musa mengusap gelas dengan lap sebelum ia letakkan di lemari “Lo butuh apa lagi? Gue cariin” Ia mengambil ponsel di atas meja.             “Ini ujan deres banget” Dokter Harun membuka sedikit gordyn “Lo mau keluar?”.             “Kaga.. ntar juga bawang bombay dateng sendiri kalau gue minta” Musa terkekeh santai sembari meletakkan ponsel di telinga, menanti suara dari sana.             “Setelah jadi duda, lo makin gila ya” Dokter Harun melangkah menuju kompor untuk merebus makaroni terlebih dahulu.             Musa menjauhkan ponsel dari telinganya setelah mencoba memanggil seseorang namun sama sekali tak ada respon “Kok nggak diangkat sih? Apa udah tidur?”.             “Lo telepon siapa sih?” Dokter Harun menyalakan kompor.             “Tetangga gue” Jawabnya sembari mengetik pesan.             “Astaghfirullah!” Dokter Harun berkacak pinggang “Gue tau lo kesepian tinggal sendirian. Tapi jangan sampai ngerepotin orang lain. Mending lo ngerepotin gue aja deh” Ia menggeleng heran “Duda ngenes ya begini, nih”.             Musa melangkah, mengambil satu tempat di depan meja makan sembari membuka belanjaan sembari terkekeh “Tetangga gua emang nyebelin, tapi dia sebenernya baik banget, Bang. Gua aja kalau makan ke tempat dia mulu”.             “Jangan dimanfaatin dong! Gila lo!”.             “Oh?!” Musa mengerjap. Mengambil sebuah sekotak yoghurt anggur dari dalam kantong plastik “Ini minuman siapa? Raja?”.             Dokter Harun yang sedang menuang makaroni rebus itu ke mangkok mendadak menoleh “Itu punya Queensha”.             “Bukannya dia nggak suka s**u? Yoghurt kan s**u” Musa sedang mengais asumsi sembari menatap kemasan yoghurt itu. Rasanya sangat familiar.             “Nggak tau juga. Tiba-tiba dia suka minum yoghurt, rasa anggur pula” Jawabnya masih fokus pada piranti memasaknya.             Ting tong!             “Nah.. itu bawang bombay yang lo cari datang!” Musa berlari antusias menuju pintu. Pun Dokter Harun mengerutkan kening.             “Welcome to Mus---” Musa menghentikan celotehan konyolnya kala sosok yang datang bukanlah orang yang diharapkannya.             “Nih.. lo minta bawang bombay, kan?” Perempuan bersuara lembut itu memberikan barang yang diminta Musa.             “Oh iya.. makasih, ya” Musa menerimanya. Ia sangat berterima kasih, namun ada sedikit gurat kecewa dalam hatinya “Mak lampir kemana? Udah tidur?”.             “Ah~ Qiara buru-buru pergi sejak maghrib, ada panggilan dari rumah sakit. Kebetulan hp-nya ditinggal. Karena bunyi mulu, gue buka aja chatt-nya” Pungkas Tiara yang terdengar jelas di telinga Dokter Harun yang sedang memotong daun bawang.             “Jadi.. tetangga Musa itu Qiara?” Dokter Harun bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Tak mau penasaran, ia menghampiri Musa.             “Oh?! Bang Harun, kenalin ini Tiara, polwan kembarannya Qiara”.             Tiara menyapa Dokter Harun dengan ramah. Pun begitu pula dengan pria berkepala empat itu. Namun semua itu tak bisa menutupi rasa bingungnya atas situasi ini. Ia kemudian menatap Musa yang sedang tersenyum innocent dengan tatapan menyelidik. Detik selanjutnya sebuah panggilan darurat begitu mendesaknya.             “Titip anak-anak gua, ya!” ^^^             Langit nampak sepi tanpa keberadaan orbitnya. Hitam pekat berselimut air hujan yang berjatuhan membasahi bumi. Sesekali gemuruh petir menggelegar. Namun semua itu tak meruntuhkan konsentrasi Jio di atas persemediannya.             Pria antisosial itu berkutat pada tumpukan buku yang didominasi buku medis, serta ada laptop yang masih menyala di depannya. Jio sangat rajin belajar. Setiap hari dirinya selalu menyempatkan waktu untuk mempelajari tentang spesialisasinya di bidang penyakit dalam. Bahkan terkadang ia juga belajar spesialisasi lain.             “Mas! Aku mumet! Bantuin skripsi aku!” Tiba-tiba Gina merengek. Perempuan berambut panjang yang kini sedang menyemangatkan roll di bagian poninya itu berusaha menghancurkan fokus sang kakak.             Jio masih bergeming dan tetap fokus pada buku-bukunya dengan kaca mata yang betah bertengger di hidung “Nanti yang dapat nilai Mas Jio, bukan kamu”.             Gina berdecak “Kok kaya ibu to kamu, Mas? Kalau punya kakak dokter ya harus dimanfaatin to?”.             Jio dan Gina ini memiliki kepribadian yang berbanding terbalik. Bagai langit dan tanah. Jio adalah anak pendiam dan hanya peduli dengan dunianya. Kecerdasan yang dimiliki adalah hasil dari belajarnya yang rajin. Sementara Gina adalah gadis b****k yang hanya senang bermain-main.             Jio lantas menutup bukunya kasar, membuat Gina sempat terperangah “Kamu nggak liat Mas Jio lagi ngapain?”.             “Liat, lah” Jawabnya membuat Jio kesal.             “Nggak mau! Mas Jio nggak mau bantuin! Mas udah bayarin kuliah kamu”.             “Wah?! Mas Jio nggak ikhlas bayarin kuliahku?” Gina menggila “Okey.. kalau nggak mau bantuin aku, tak telepon ibu kalau Mas Jio diem-diem punya pacar” Lalu menjulurkan lidahnya. Mengejek sang kakak.             Jio mendadak panik, bangkit dari kursi menarik satu lengan Gina “Lo tau dari mana?”.             “Wah! Ternyata beneran pacar”.             “B-bukan. B-belum..” Jio menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal “Issh! Gina!” Pun sang adik hanya bisa tertawa membahana “K-kamu tau dati mana?”.             “Polwan, kan?” Goda Gina membuat mata Jio semakin memebalalak “Beberapa hari lalu aku lagi duduk-duduk di balkon sama temenku, trus nggak sengaja liat Mas Jio sama polwan itu. dan Mas Jio pergi sama dia. Malem-malem pula”.             Jio mengais hipotesa. Rupanya itu saat Tiara datang mengembalikan mobilnya.             “Ya udah, sini. Mas Jio bantuin” Jio pasrah.             “Seriously?” Gina berlagak terkejut, sebab Jio ini bisa dibilang selalu berlutut di hadapan sang ibu.             “Tapi nggak semua. Mas Jio juga mau kamu berusaha”.             Gina mengangguk-angguk “Siap, masku tersayang”.             “Lagi, jangan bilangin ibu dulu. Mas udah punya waktunya kapan harus bilang ke ibu” Lanjutnya nyaris kehilangan suara.             “Iya, mas. Don’t worry, i’ll keep on my pocket” Gina menepuk-nepuk bahu sang kakak dengan wajah menyebalkan, berlagak memihak sang kakak padahal berselimut maksud lain. ^^^             Hujan deras masih setia mengguyur tanah Ibu Kota dan sekitarnya. Hampir di seluruh sudut kota terendam banjir. Membanjiri malam tahun baru 2020. Pun Qiara yang baru saja melakukan operasi terpaksa harus terkurung di rumah sakit karena tak mau mengambil resiko untuk kembali ke rumah.             Lelah dan mengantuk sedang menyiksa perempuan 34 tahun itu. Ia terduduk di atas kursi, sembari sesekali menguap. Melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Ia kemudian kembali menengok jendela yang basah.             Qiara mengulum bibir “Semoga Tiara paham kenapa gue gak bisa pulang.. mana gue gak bawa hp lagi... Hoaam” Menutup mulutnya yang terbuka akibat menguap.             Seketika Qiara menumbangkan kepalanya ke atas meja, layaknya sedang mengukur benda tersebut dengan hasta bersamaan dengan kesadarannya yang langsung hilang. Perempuan itu benar-benar kelelahan. Ia sudah merasuk ke dalam mimpi. Tubuhnya juga masih terbungkus seragam serba biru.             Tiba-tiba suara pintu terbuka menyeruak “Qi---”.             Ziyan, lelaki berbalut jaket hoodie yang sedikit terkena basah itu menghentikan kalimatnya saat menemukan Qiara tertidur. Pria itu lantas menyunggingkan sebuah senyum tipis dan kembali menutup pintu pelan.             Ziyan mengambil tempat di sebuah tempat duduk depan ruangan Qiara. Pria itu juga meletakkan satu kantong yang berisikan minuman kesukaan sahabatnya, juga roti. Ziyan memilih untuk menunggu Qiara di luar sampai perempuan itu terbangun dengan sendirinya.             Tetap menunggu, sekalipun sampai pagi membentang. Semua tak masalah baginya.             “Qiara pasti kecapean” Ziyan menghela napas pelan sembari bersandar ke dinding. Selanjutnya ia menarik satu senyum “Tapi Insyaa Allah, semua lelah akan menjadi lillah bilamana kita bekerja dengan ikhlas”.             Ziyan kembali menyelidik, melalui jendela kecil. Qiara masih berada di posisi yang sama. Itu kembali membuatnya bersandar. Sesekali menengok arloji di pergelangan tangan kanannya yang kini sudah menunjukkan tepat pukul dua belas, yang mana tahun sudah resmi berganti.             “2020” Gumam Ziyan bersama gemuruh petir yang menggelegar di langit alih-alih kembang api seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Apa seterusnya tahun ini akan menjadi tahun yang berbeda untuknya? Pria pemilik kelopak mata tipis itu terus membayang banyak hal “Permulaannya aja udah gak biasa”.             Menit-menit berlalu tanpa Ziyan sadari, hingga suara gaduh dari dalam ruangan Qiara membuatnya bangkit. Mengambil kantong plastik, bergegas memastikan keadaan di dalam. Seulas senyum yang tak dapat diterjemahkan itu merekah perlahan, ia lantas membuka pintu.             “Qiara!” Ziyan tersenyum begitu luas sembari mengangkat sekantong plastik.             Qiara yang sedang berdiri sambil menguap mendadak terkesiap. Teduh matanya yang sebening telaga beriak. Ziyan melihat kerikil terlempar kesana, membuat kecipak di muka air “Ziyan?!”.             Ia menengok ke jendela yang masih menampilkan guyuran hujan disana bersamaan dengan Ziyan yang kemudian memasuki ruangannya tanpa menutup pintu, terduduk di atas sofa.             “Ziyan.. kalo hujannya sederas ini gak usah kesini” Qiara mengambil satu tempat disamping Mama-boy “Waktu tidur lo selalu berkurang, kan jadinya kalau terus-terusan nyamperin gue yang sering begadang”.             Ziyan tak hentinya melengkungkan senyum sembari menusukkan sedotan ke yoghurt rasa anggur milik Qiara “Nih yoghurt!” Kemudian memandang ke arah wajah polos Qiara yang tetap menawan meski ada guratan-guratan akibat mengukur meja “Minum! biar semangat. Ini udah tahun 2020”.             “Udah 2020?” Kaget Qiara yang disambut anggukan kepala Ziyan. Perempuan itu melirik ke arah yoghurt merasa haru “Gak usah bawa yoghurt juga kalau lagi hujan gini”.             “Kenapa?” Ziyan menghentikan aktifitas meminum yoghurt “Sahabat gue suka banget minum yoghurt, masa gue gak bawain buat dia?”.             Qiara menahan kedua sudut bibirnya yang berkedut demi menahan tawa sembari menatap manis sosok Ziyan “Siapa sih temen lo yang suka minum yoghurt?”.             Ziyan menggeleng pelan, membalas tatapan yang tak kalah manis dan penuh arti dari Qiara “Nggak tau tuh.. yang jelas dia galak banget”.             Kini Qiara tak bisa menahan tawa “Galak? Tapi lo mau berteman ama dia?”.             Ziyan memperbaiki posisi duduknya agar bisa menatap Qiara dengan baik “Dia emang galak, tapi itu pesonanya. Dia dingin tapi sebenarnya dia hangat. Kaya cuaca sekarang yang dingin.. tapi lucunya gue ngerasa hangat banget disamping dia”.             Selama Ziyan berucap, Qiara yang selalu menampakkan wajah hambarnya itu memandang pria dihadapannya dengan tatapan penuh arti. Bibir merah jambunya, perlahan semakin merekah, membentuk sebuah senyum menawan yang jarang ia tampakkan untuk orang lain.             “Lo pikir gue microwave?” Ucapnya menggoda Ziyan yang disambut gelak tawa pria tampan berwajah oriental itu.             Di malam hujan itu, kedua mata indah itu sedang bersitatap. Perasaan sedang meninggi, menjadi gunung. Keduanya punya penafsiran tersendiri pada momen ini.             Tanpa keduanya sadari ada satu mata tajam yang sedari tadi menyimak, memperhatikan dan menyelidik dari luar. Pintu yang tak tertutup membuatnya bisa melihat dengan jelas kedekatan Ziyan dan Qiara yang seperti bukan sekedar sahabat. Hatinya hancur berkeping dibentur godam yang sangat besar. Semua yang sedang ia rencanakan untuk masa depan, seolah sia-sia dan hanya membuang waktu.             Harun.             Pria tampan nan gagah itu bagai tenggelam di tengah ombak yang menggulung. Di antara luasnya laut samudera yang menghampar bumi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN