Aisyah sengaja memilih tempat paling ujung di kantin spesialis. Dokter Akmal sudah duduk dihadapannya bersama sepiring makan siang. Ia mendengarkan segala curahan hati Aisyah yang sebenarnya hanya pengulangan saja dari segala kegundahan hatinya setiap hari.
“Jadi, intinya lo suka kan ama Jio?” Dokter Akmal sudah sejak awal menemukan kesimpulannya, tapi ia memilih untuk tetap mendengarkan ocehan dokter residen tersebut.
Pun pertanyaan itu langsung membuat Aisyah membeku. Suasana sekonyong hening. Aisyah seolah telah kehilangan akalnya.
“Udah gua tebak” Dokter Akmal kemudian mengunyah ayam.
Aisyah menghentikan aktifitas menyendok. Ia meletakkan semua alat makan di atas meja “Tapi disisi lain juga kesel” Ia mengerucutkan bibirnya sembari membayangkan sosok Jio “Asli.. dia jaim banget. Udah berapa kali disapa, jawabnya sok cool, padahal aslinya juga cupu” Wanita berambut ikal sebahu itu mengingat kembali setiap menyapa Jio. Pria itu pasti hanya menyunggingkan gurat senyum kaku. Ia sangat menjaga image-nya.
Dokter Akmal menarik satu napas sembari menghentikan aktifitas mengunyah “Emang gitu. Kaku banget anaknya. Dia nggak semudah itu kenal sama orang baru”
“Jadi.. perasaan lo ke Jio gimana?” Tambah Dokter Akmal yang kebingungan.
Aisyah menggeleng pasrah “Nggak tau, Dok. Suka tapi kesel juga”.
“Yang lo suka dari dia apa? Udah tau anaknya susah banget dikecengin”.
“Dia kalau pakai snelli (Jas dokter) tuh keren banget. Kalau ngomong tegas.. Beuh, keren deh” Pipi Aisyah tiba-tiba memerah membuat Dokter Akmal menggeleng keheranan.
“Kalau Jio.. gua nggak bisa bantu. Dia susah banget. Semangat berjuang!” Dokter Akmal mengepalkan tangan ke udara. Kemudian ia membelalak saat teringat sesuatu “Oh iya.. Si Jio bulan depan mau ke Palembang tuh”.
Aisyah melebarkan matanya.
^^^
“Jantung dan tekanan darah sudah normal, Dok” Kata Dokter Arvin spesialis anestesi.
Qiara hanya mengangguk masih fokus mengurus hal lainnya “Bovie!” Mintanya pada Suster Sarah. Pun ia segera memberikan alat tersebut padanya.
“Dokter Qiara, ada panggilan dari IGD. Ada pasien korban kecelakaan mobil tunggal” Suster Bintang menyalakan mode speaker, lalu mendekatkannya ke Qiara. Mempersilakannya untuk bicara.
“Gimana.. gimana?” Tanya Qiara sambil fokus pada pembedahannya.
“Jadi, ini ada korban kecelakaan, laki-laki dewasa. Dia mengalami kaki retak dan ada pendarahan, tapi tidak terlalu banyak” Jelas Dokter Aisyah, dokter residen yang bertugas di IGD.
“Vitalnya?” Tanya Qiara tenang. Fokusnya dalam pembedahan sama sekali tak terpecahkan.
“Untungnya tekanan darah 119, denyut nadi 130. Saat bis diangkat, dekompresi menyebabkan sindrom crush[1], tapi saya sudah melakukan BGA[2], Dok”.
“Hmm.. bagus---”.
“Oh?! Itu Dokter Ridwan!” Sela Aisyah sebelum Qiara menyambungkan kalimatnya.
“Kalau gitu.. suruh Dokter Ridwan tangani itu. Saya akan menyusul” Balas Qiara sebelum panggilan diputus sepihak.
Hingga waktu terlewati dengan berbagai suara-suara dari alat operasi. Mulai dari suara pisau bedah, mesin pengisap, hingga suara gunting yang mendenting saat memotong benang jahit dalam kesunyian ruang operasi yang tak pelak memungkinkan membuat seorang dokter bedah frustasi. Waktu seakan berdetik lamban saat berada di dalam sana.
Qiara menengadahkan kepala ke langit sejenak, untuk menstabilkan lehernya yang mulai kaku “Okey.. tutup ini, saya harus mengurus yang lain” Titah Qiara pada Dokter Residen di depannya.
Qiara membuka jubah operasi, dilemparkannya ke sebuah tong khusus untuk baju-baju operasi usai pakai. Ia mencuci tangan dengan bersih sebelum kembali melakukan aktifitas lainnya.
Jantung Qiara beradu cepat seiring dengan langkah kakinya yang melangkah begitu cepat. Ia harus mengikuti oeprasi pasien kecelakaan berikutnya. Melewati lorong, kemudian turun ke lift. Hingga satu hal menghentikan langkahnya saat melihat sosok Ridwan yang berbeda dari biasanya.
Pria pemilik alis tebal itu bergerak gesit dan sangat cekatan menahan sementara pendarahan dengan kedua tangannya saat bangkar pasien hendak dibawa ke ruang operasi. Seragam pria tersebut dipenuhi bercak darah. Bukannya Qiara tak ingin membantu, tapi ia punya alasan kenapa dirinya hanya membeku di tempat.
Qiara sengaja membiarkan pria itu bekerja keras. Membiarkannya untuk peka dan menghilangkan rasa takut yang sempat singgah dalam dirinya. Pada akhirnya satu senyum tipis itu merekah, meski hanya sekilas.
“Silakan dimulai, Dokter Ridwan” Kata Qiara tegas saat keduanya sudah saling berhadapan di ruang operasi, lengkap dengan seragamnya.
Kalimat itu sontak membuat Ridwan ternganga. Ia membiru dan tak mempercayai situasi ini. Benarkah Qiara membiarkannya memulai operasi? Menjadi dokter utama?.
“Ayo!” Qiara menyerukan ultimatumnya agar segera memulai operasi “Kamu yang memimpin, dan aku akan membantu”.
“B-benaran, dok?” Tanya Ridwan masih tak percaya.
Qiara mengangguk “Ayo! Kamu pasti bisa!”.
Entah mengapa seluruh kalimat yang disuarakan Qiara selalu menjadi sebuah penyemangatnya. Ia seperti tak ingin mengecewakan siapapun.
Ridwan menarik satu napas “Saya mulai! MES!” Ia meminta pisau bedah yang kemudian langsung diberikan oleh Suster Farah “Forsep!” Pintanya lagi saat sudah membuka bagian.
“Agak dipindahkan ke kanan, dok” Kata Qiara sambil memperhatikan pergerakan Ridwan yang hendak mengikat pembuluh darah.
“Baik, dok” Seru Ridwan tegas.
“Fokus. Jangan terburu-buru. Yang tenang dan hati-hati” Qiara kembali menyuarakan ultimatumnya. Pun Ridwan selalu menurut.
Operasi terus berjalan. Seperti yang Qiara perintahkan agar selalu fokus dan berhati-hati. Semua ini demi persiapan Ridwan sebelum mengakhiri masa residennya dan segera tumbuh menjadi dokter spesialis yang hebat.
“Pengikatan di mulai!” Seru Ridwan mulai menutup dengan jahitan.
“Okey. Bagus!” Qiara menyambut.
“Gunting mosquito!” Pinta Ridwan masih fokus.
“Satu lagi!” Tambah Qiara meminta benda yang sama, ikut membantu.
Hingga satu jam berlalu dengan dipenuhi kesunyian, hanya ada suara dentingan alat-alat operasi bersama jam yang terus berdetak. Pun semua tim menyuarakan pujian untuk Dokter Ridwan yang sudah bekerja dengan baik sebagai pemimpin operasi darurat hari ini. Ridwan juga tak menyangka jika ia bisa menyelesaikannya dengan baik.
Satu bayangan menghentikan senyumnya. Ridwan menoleh ke belakang dan menemukan Qiara yang baru saja keluar dari ruang operasi. Perempuan itu melepas maskernya dan menarik kedua sudut bibirnya tipis, kemudian mengacungkan ibu jari dihadapannya tanpa bersuara.
Ridwan lantas tak bisa menahan bibirnya yang sudah berkedut ingin tersenyum luas beserta pipinya yang mengembang. Senyum pria itu nampak sangat manis.
Qiara mendekat setelah meletakkan jubah operasinya ke tong “Tingkatkan lagi kemampuanmu dan jangan sampai pujian itu membuatmu goyah. Pujian itu seperti racun dan tepuk tangan itu seperti pisau” Ia menepuk satu bahu Ridwan kencang sebelum akhirnya berbalik.
Perempuan berkaca mata itu seolah kembali mentransfer energi pada Ridwan. Pria itu tak hentinya tersenyum lebar bersama giginya yang berbaris rapi disana. Ia telah berhasil berdamai dengan ketakutannya, dan membuat ketakutan itu menjadi sebuah rintangan yang harus dilewati. Semua tak pelak dari kalimat menghangatkan pembangkit semangat seorang dokter berhati dingin.
Lagi, betapa riang hatinya saat mendapatkan pujian dari pujaan hati? Ia bahkan tak bisa menggambarkan betapa bahagianya saat ini.
"Dokter Qiara!" Panggilnya menghentikan langkah Qiara. Perempuan dingin itu berbalik. Kedua tangannya bertengger di saku.
Ridwan yang nampak berbinar itu berlari kecil menghampiri seniornya "Gimana kalau kita makan di luar? Di luar jam kerja".
Qiara terkekeh "Mau jajanin aku atas pujian itu? Kalau gitu aku harus banyak memuji kamu".
Ridwan masih menatap manik-manik mata cantik milik Qiara dengan tenang "Nggak. Saya mau makan di luar bukan sebagai dokter. Melainkan sebagai Ridwan dan Qiara".
Mata teduh Qiara nampak beriak. Sebuah kerikil terlempar di permukaan telaga yang tenang. Menatap bingung pria yang lebih tinggi darinya.
^^^
Musa dan Rania duduk bersama di taman samping rumah sakit sembari menikmati es krim coklat mereka. Sekedar mengedarkan pandangan di sekeliling taman sebagai penyejuk mata setelah melakukan dua jam operasi pada seorang anak. Setidaknya ini bisa menjadi refreshing agar tidak stres karena selalu menghirup aroma darah di ruang operasi.
Angin sore melambai, mengayunkan dedaunan di setiap pepohonan taman rumah sakit. Menyebarkan aroma kesegaran yang merasuk indera penciuman.
“Hmmm...” Seru Rania saat angin menerpanya yang sedang asyik mencecap es krim “Wah.. makasih banyak, Dokter Musa untuk semuanya. Juga untuk es krim dan piknik ini”.
“Piknik?” Musa terkekeh “Yah.. dokter juga butuh waktu untuk bernapas dari pengapnya ruang operasi” Sambungnya sambil menatap langit sore.
“Tapi..” Rania menoleh pada Musa, pun keduanya saling menatap “Selama operasi tadi.. saya nggak banyak melakukan kesalahan, kan, Dok?”.
“Nggak kok.. kamu udah berusaha keras” Jawab Musa santai, kemudian mencecap es krimnya sejenak “Salahpun dikit. Hasil jahitanmu juga bagus”.
“Beneran?” Rania membelalak.
“Iya” Ucap Musa membuat dokter residen itu kegirangan “Eh.. kaya gini nggak boleh dibiarin aja” Musa menjadi serius dengan tatapan intens.
Rania menyatukan alis agak panik “Kenapa, Dok?”.
“Nanti malam.. eh.. besok malam, makan bareng yuk, aku traktir” Musa berdiri membuang sampah es krim ke tempat sampah yang ada di seberangnya.
Kalimat itu seketika membuat Rania mematung. Dalam otak sibuk mencerna. Dalam hati sibuk berbisik. Pun jantungnya bergemuruh begitu kencang. Pipinya yang semula berwarna kuning langsat, perlahan berubah kemerahan.
“Oii! Gimana? Mau nggak?” Musa menjentikkan jari tepat di dahi Rania.
“Ah?!” Rania mengerjap “M-makan malam? berdua?”.
Musa lantas tertawa mendengar pertanyaan Rania yang membuat wanita itu menahan malu “Lo kenapa sih? Bareng ama anak-anak yang lain, dong”.
“Uyuuu!” Musa mengusap kepala Rania acak. Ia gemas melihat tingkah Rania yang selalu polos dan apa adanya. Pun Rania sedang sibuk mengatur degup jantungnya yang semakin tak beraturan.
Tanpa mereka tau, ada Anya yang menjadi penonton setia dari kejauhan. Wanita beranak satu itu, mulanya ingin ke lobi untuk pulang setelah menyelesaikan praktik, namun langkahnya terhenti saat melihat Musa yang asyik mengobrol dengan Rania disana.
Anya bisa melihat raut wajah Musa yang berseri-seri. Musa memang seperti itu, tapi setelah insiden dan luka besar yang mencabik hatinya, Anya menjadi banyak menaruh perhatian pada sahabatnya itu. Setidaknya ia memastikan semua orang yang berada disisi Musa tak boleh membuat si jenaka itu kembali murung.
[1] Sindrom Crush : Kondisi medis yang parah ditandai dengan shock serta cedera otot rangka.
[2] BGA (Blood gas analysis)