Seorang ojek online berseragam serba hijau beserta penumpangnya berhenti tepat di pintu utama Metro Medical Center. Sang penumpang turun sembari melepaskan helm hijau yang sempat bersarang di kepalanya, lalu mengembalikan pada si tukang ojol.
“Makasih ya, bang” Kata Ziyan setelah mengembalikan helm. Ia kemudian mengeluarkan selembar uang berwarna merah “Nih buat abang”.
“Loh? Kan Pak Dokter sudah bayar saya pakai aplikasi” Kaget tukang ojol.
Ziyan menarik satu senyum teduhnya “Ambil aja buat makan siang”.
“Alhamdulillah!” Seru tukang ojol kegirangan “Makasih Pak Dokter. Semoga sehat selalu, lancar rejeki”.
“Amiin Yaa Allah.. Iya sama-sama. Hati-hati di jalan, bang” Ziyan menepuk satu bahu tukang ojol tersebut sebelum akhirnya berbalik memasuki gedung utama rumah sakit.
Sembari membenarkan ransel yang hanya ia kalungkan di lengan kanannya, ia mengangguk dan tersenyum membalas sapaan para suster yang menyapanya. Hari ini, Ziyan datang pukul sepuluh pagi sebelum memulai praktiknya pada jam sebelas.
Ketika melewati lorong, ia berhenti sejenak untuk mengambil buku tabungan dari ranselnya. Tak hanya satu, melainkan ada empat buku tabungan di tangannya. Dokter tampan pemilik kulit putih itu berjalan lamban sembari memeriksa banyak hal dari buku-buku tabungan yang ada ditangannya.
“Mama boy!!!”.
Ziyan belum sempat menoleh, seseorang sudah bertengger di punggungnya, layaknya seorang anak kecil yang meminta gendong belakang pada ayahnya. Namun Ziyan sudah bisa menebak siapa gerangan.
“Aduuh! Turun lo, Musa!” Rengek Ziyan saat merasa tak nyaman karena Musa terlalu berat untuk digendong. Terlebih ada suster dan pasien yang juga sedang berlalu-lalang. Itu membuatnya malu.
Musa lantas turun dari punggung Ziyan. Tapi matanya tak sengaja membidik empat buku tabungan di tangan pria berwajah oriental itu. “Buku tabungan anak sultan mah beda. Banyak bener!”.
Ziyan buru-buru menutupnya agar tak diselidiki Musa “B-bukan apa-apa”.
“Lo mah tabungan banyak, tapi kemana-mana masih aja pakai ojol” Celoteh Musa heran. Pun keduanya berjalan bersama menyusuri lorong.
“Emangnya kenapa? Semua kalangan boleh naik ojol, kan?” Ziyan mengernyit.
“Ya boleh dong.. gue aja juga suka naik ojol” Musa bertutur ria sembari menggerak-gerakkan tangannya “Tapi buat lo beda, Zi. Lo anak sultan. Banyak mobil mewah di rumah lo. Sayang kalau gak dipakai”.
“Itu semua punya bokap. Males juga gue”.
“Beli dong.. lo dari dulu gak pernah beli mobil. Padahal lo kuat banget buat beli cash” Musa masih merasa ganjal dengan sikap Ziyan yang sejak dulu terlalu sederhana untuk kebutuhannya sendiri.
“Bawel lo!” Ziyan lantas berjalan lebih dulu, membuka ruangannya yang kini sudah terdapat Jio dan Anya disana “Kalian masih disini?”.
“Gue praktik siang.. jadi pengen nyantai dulu laah. Semalam abis begadang” Jawab Jio sambil memejam diatas sofa.
“Gue masih ada setengah jam sebelum mulai” Sahut Anya melirik arloji di tangannya.
Ziyan meletakkan tasnya ke meja. Membuka jaket denim yang tadi membalut tubuh kekarnya. Sementara Musa duduk santai di meja kerja Ziyan sembari membuka ponselnya.
“Qiara ada operasi?” Tanya Ziyan, kemudian mengambil tempat disamping Jio.
Anya mengangguk sambil memotong brownies yang dibawanya untuk dibagikan pada teman-temannya “Kasihan dia sibuk mulu. Eh.. buruan nih makan. Gue bikin sendiri loh kemarin sore!”.
Semuanya langsung merapat, tak terkecuali Musa yang langsung mendekat untuk merasakan brownies buatan Anya. Bagaimana tidak? Masakan Anya ini terkenal enak diantara mereka.
“Gue baca artikel, katanya di China ada virus yang udah menyebar” Kata Jio saat kembali menemukan artikel di ponselnya.
“Suami gue juga cerita itu. Temennya ada yang kerja di daerah Wuhan” Timpa Anya di tengah aktifitas memakan.
Musa mengangkat kedua alisnya “Kok gua baru denger? Apa belum viral beritanya?”.
“Iya gue juga baru dengar” Ziyan kompak mengiyakan kalimat Musa.
Jio menjentikkan jarinya “Ini berkaitan ama pernapasan”.
“Woahh” Musa membelalak “Kalau virus.. itu memungkinkan menjadi wabah. Tapi kategorinya gak bisa ditentukan. Bisa jadi hanya epidemi dan kalau parah bisa pandemi”.
“So far jarang banget ada virus yang jadi pandemi” Jio menimpa, menatap teman-temannya satu persatu “Tapi si corona itu udah menyebar di beberapa wilayah luar Wuhan juga”.
Anya bergidik ngeri saat membayangkannya “Udahlah.. berodoa yang baik-baik aja. Semoga semuanya baik-baik aja. Kalau ada apa-apa, kita juga yang kerepotan sebagai tenaga medis”.
Semua kompak mengangguk dan mengucap Aamiin bersamaan, berharap tak ada hal buruk kedepannya. Mereka juga kembali asyik menikmati brownies coklat dan brownies ubi ungu tersebut. Pun tak lupa untuk menyisakan Qiara yang saat ini sedang bergelut di ruang operasi.
“Ji.. lo bulan depan jadi seminar di Palembang?” Tanya Musa yang dibalas dengan anggukan kepalanya, lantaran Jio sedang asyik memakan brownies sekaligus membalas pesan di ponselnya.
Musa meneguk air mineral sejenak “Jangan lupa pempek ya!”.
Senyum menyebalkan Musa itu membuat dirinya semakin terlihat menjengkelkan. Pun Jio hanya bisa menatap sahabatnya itu dengan tatapan kosong yang tak dapat diartikan. Pasalnya Musa selalu saja merepotkan teman-temannya bila sedang ada tugas di luar kota.
“Mmmm” Ziyan segera meneguk air mineral, meletakkan gelas diatas meja lagi. Ia langsung mengambil ponsel di sakunya “Nya, fotoin gue dong. Gue lupa nih harus posting endorse”.
“Cielah.. tau deh yang followers-nya udah 200.000” Musa menepuk tangannya “Bravo!”.
“Pasti gara-gara lo beberapa kali di undang di tipi” Tambah Jio.
“Sini! Lo mau difoto dimana?” Anya mengambil ponsel milik Ziyan yang saat ini resmi menjadi selebgram.
Ziyan beberapa kali mengulas sudut ruangannya untuk menjadi latar foto “Sini aja dah” Akhirnya ia memilih untuk duduk di meja kerjanya. Lalu mengeluarkan sebuah botol kecil—seperti botol obat. Kemudian mencari gaya yang tepat.
“Lo di-endorse obat peninggi badan?” Ejek Musa lalu tertawa. Pun Jio juga tak bisa menahan tawanya. Pasalnya banyak iklan obat peninggi badan di kolom komentar i********:.
“Enak aja! Ini permen buat masuk angin. Permen menthol” Sarkas Ziyan “Gue udah tinggi, buat apa endorse peninggi badan?”.
“Lah.. justru itu. Orang bakal percaya karena yang review aja tinggi” Musa berkelakar sembari tertawa menyebalkan.
“Gue mah jujur ya anaknya” Ziyan menjulurkan lidahnya pada Musa “Lo tuh yang kudu minum peninggi badan. Dasar Bogel!”.
Musa masih tertawa sambil menunjuk Ziyan “Dia ngejek gua!”.
“Udah! Berisik bener” Timpa Anya yang sejak tadi sudah siap memotret, namun sang model justru sedang sibuk berdebat “Buruan, Zi!”.
Seketika Ziyan menjadi lebih profesional. Ia langsung berpose dengan permen menthol. Gayanya yang keren, membuat visualnya semakin paripurna, membuat kamu hawa bergetar.
Drrt..
Musa bergegas mengambil ponsel dari sakunya. Ia menusap ikon berwarna hijau disana sebelum mengarahkan ponsel di telinga.
“Wa’alaikumussalaam” Seru Musa sangat bersemangat membuat semua terperangah.
“Pasien sudah mulai anestesi, Dok”.
Musa heboh lagi “Okeyy. Siap-siap.. ntar gue—eh saya nanti menyusul” Ia merubah gaya bicaranya menjadi lebih formal, kemudian mengangguk sembari mengulas satu senyum “Wa’alaikumussalaam”.
“Kaya kenal suaranya” Ucap Jio sebelum meneguk air mineral.
“Itu.. si Rania, kan? Dokter Residen GS yang suka ngintilin Musa” Anya menduga-duga.
“Bukan ngintilin. Emang tugasnya bareng gua” Musa menjulurkan lidah “Hari ini dia jadi dokter bedah utama”.
“Serius?” Semua kompak berseru.
“Berarti ini operasi pertama Rania?” Tanya Ziyan penasaran.
Musa mengangguk sembari berdiri “Gue cabut, yah.. gue harus jadi asisten Dokter Rania Syarifah” Ia membuat hormat di kepalanya dengan gaya sok keren sebelum akhirnya berbalik.
“Gue juga cabut” Kata Anya setelah melihat arloji di tangannya yang sudah menunjukkan waktu praktiknya meninggalkan Ziyan dan Jio disana.