Setelah melakukan ritual pokok di pagi hari, mulai dari sholat subuh hingga tadarus sudah dilakukan Musa. Perlahan langit hitam itu mulai terang, namun matahari masih malu-malu untuk menunjukkan eksistensinya di muka.
Musa duduk disebuah sofa yang disampingnya terdapat nakas, sebuah figura terpampang disana, menampilkan foto keseruan Halaman belakang squad. Pria itu membuka ponselnya untuk melihat pesan-pesan yang belum sempat dibalasnya. Akhir pekan seperti ini memang menenangkan. Ia bisa sedikit bernapas, setidaknya untuk setengah hari atau satu hari, jika memang tak ada panggilan mendesak dari rumah sakit.
From : Rania
Dok, saya tadi menitipkan coklat ke Suster Fira. Sudah diterima belum? Kalau sudah, selamat makan. Hehehe.. katanya Dokter Musa suka yang manis-manis ^_^
“Oh iya!” Musa menepuk dahinya. Ia mengambil coklat tersebut dari tas-nya “Yah.. meleleh” Ia buru-buru memasukkannya ke dalam lemari es, namun fokusnya pecah kala menemukan emotikon senyum di depan bungkus coklat. Musa menarik kedua sudut bibirnya, menyunggingkan sebuah senyum gemas disana.
“Perhatian banget sih orang-orang tuh” Celoteh Musa kembali ke sofa “Eh tunggu!” Ia menyadari sesuatu “Perhatian secara natural atau ngasihanin gue karena barusan jadi duda?”.
“Au ah bodo” Musa tak peduli, mengacak-acak rambutnya “Apapun itu yang penting semuanya merhatiin gue” Ia terkekeh sembari membalas pesan Rania, sekaligus untuk berterima kasih padanya. Selanjutnya, ia beralih ke televisi yang digunakan khusus untuk bermain game. Jemarinya juga sudah mulai menari di atas stik.
Ting tong!
Suara bel itu memecah keasyikannya yang sedang nyaman besandar di punggung sofa. Ia lantas merutuk karena sudah tau sosok dibalik itu “Aisshh!!”.
Musa melangkah, membuka gagang pintu dan saat itu juga ia terkesiap menemukan Qiara yang sedang berlutut sembari mengangkat kedua tangannya, membawa sekotak s**u berwarna merah jambu, seolah sedang memberikan sesajen. Detik selanjutnya, wanita yang saat ini tengah mengenakan kerudung bergo itu menampakkan senyum innocent, dengan barisan giginya yang rapi disana.
“Dasar! Ternyata ini yang bikin lo seneng tetanggaan ama gua. Masuk lo!” Musa mempersilakan Qiara yang saat ini mengekor di belakangnya.
Perempuan yang matanya selalu terlindungi oleh kaca mata bulat itu menggeleng heran saat menemukan barang-barang yang masih berserakan di setiap sudut unit apartemen Musa “Beresin napa?!”.
“Gue nunggu kalian datang” Jawab Musa asal-asalan yang dihadiahi tatapan sinis Qiara. Musa menusuk kotak s**u pemberian Qiara dengan sedotan saat keduanya sudah duduk bersamaan di atas sofa “Apa aja yang mau lo tau tentang Bang Harun?”.
Qiara yang jutek dan super datar itu akhirnya menampakkan wajah berserinya—Ralat! Lebih tepatnya ekspresi bar-bar, untuk pertama kali, membuat Musa terperangah “Gila! Ini serius? Lo beneran, Qiara? Qiara Shandriena, kan?” Lelaki itu mengoyak kedua bahu Qiara.
“Issh!” Qiara menghempaskan tangan Musa kasar “Kenapa sih?”.
Musa tertawa heran “Gue nggak percaya aja kalau lo akhirnya punya naluri seorang perempuan yang lagi falling in love”.
“Ah bawel! Buruan ceritain semua tentang Dokter Harun” Qiara sudah melakukan ancang-ancang untuk menyimak kalimat Musa. Ia bahkan sudah memposisikan duduknya bersila di atas sofa agar lebih nyaman.
“Okey.. okey.. karena ini hal langka, gue harus bantuin lo.. nggak buruk juga sih kalau seandainya kalian menikah” Musa meletakkan s**u kotaknya ke meja “Tapi.. lo yakin mau ama duda anak dua?”.
“Gak masalah. Asalkan bukan suami orang”.
“Bener.. bener.. Apa ya?..” Musa sedang membayangkan sosok Dokter Harun di matanya “Dia baik kok. Kompeten juga dan penyayang abis sih, apalagi sama anak-anaknya”.
“Istrinya meninggal karena kecelakaan, kan?” Selidik Qiara.
Musa mengangguk “Waktu itu adalah waktu terapuh buat Bang Harun.. dia kehilangan istri sama anak ketiga yang ada di kandungannya. Mungkin trauma itu masih ada, makanya sampai tiga tahun setelah kejadian itu, Bang Harun masih gak berani buat nyopir sendiri. Selalu pakai sopir”.
“Sedih banget pastinya” Qiara turut membayangkan “Tapi.. apa dia trauma untuk menikah lagi?”.
“Kurang tau sih kalau itu. Yang jelas dia butuh seorang istri. Dua anaknya masih kecil semua. Tahun lalu, dia pengen berhenti jadi dokter dan beralih meneruskan perusahaan ayahnya”.
“Hah?!” Mata teduh Qiara beriak bagai telaga bening yang terlempat kerikil disana.
“Iya.. karena dia harus totalitas ngurus anak. Dia nggak mau anaknya harus terus-terusan diurus orang lain. Tapi di sisi lain, dia sudah nyaman dengan dunianya sebagai seorang dokter yang merupakan pekerjaan mulia” Tambah Musa lagi “Jadi, dia masih dilema gitu ceritanya”.
Qiara mengangguk paham “Kalau gue jadi dia, pasti juga ngerasa dilema” Ia kembali menatap Musa “Gue tuh pernah ketemu dia di supermarket. Kayanya lagi belanja bulanan gitu. Trus anak-anaknya tuh pecicilan banget, gak yang cewek, gak yang cowok, semuanya rusuh.. tapi Dokter Harun bisa nenangin mereka dengan penuh kesabaran dan disitu gue berpikir, wahh.. that’s my style” Pipinya memerah bagai buah persik.
Musa tertawa sembari menggaruk kepalanya yang gatal “Woaahh! Lo beneran jatuh cinta, ya? Emangnya sejak kapan lo suka ama dia” Ia lantas kembali mengambil s**u kotaknya di atas meja, dan menikmatinya.
Qiara menutupi kedua pipinya yang bersemu merah dengan kedua tangan. Ia nampak begitu menggemaskan “Sebenarnya sih.. first sight?”.
“Jangan bilang pas di lift itu?” Selidik Musa yang dihadiahi anggukan kepala Qiara “Yaa Allah...”.
“Ya awalnya dari situ.. terus dia juga atasan gue, kan.. ketemu terus dan gue bisa membaca karakternya gitu” Qiara membayangkan setiap momennya “Yah.. kaya orang bilang.. kalau cinta itu datang karena terbiasa” Ia lantas terkekeh sendiri dengan kalimatnya yang terkesan puitis.
Musa menggeleng ngeri, baginya kalimat Qiara sangat menggelikan. Apalagi semua itu terucap dari perempuan berkepribadian dingin.
“Tapi dia nggak lagi deket sama cewek lain, kan?”.
“Setau gue.. dia sempat beberapa kali mau dijodohkan tapi sampai sekarang gue nggak dengar apa-apa lagi” Musa membenarkan posisi duduknya sejenak “Tunggu.. kenapa nggak to the point aja?”.
“Maksud lo?” Qiara menyatukan alis.
“Gue bilang aja ke dia, ‘Bang mau nggak gue jodohin ama Qiara’, gitu?”.
Qiara melemparkan bantal yang ada di sofa ke wajah Musa “Gila lo.. gue orangnya emang nggak suka basa-basi, tapi kalau untuk masalah cinta beda lagi”.
Musa merapikan rambutnya “Biar cepet, Qi”.
Qiara mengulum bibir. Tersingkap kemurungan di wajahnya “Gue nggak bisa Musa.. Harus pelan-pelan. Dia udah menilai gue jelek dengan sifat gue yang kaya gini”
Wanita itu menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Ia sedang menimbang banyak hal di kepalanya. Perasaannya pada Dokter Harun sudah terlanjur membesar, tetapi ia tak tau harus bereaksi apa. Qiara hanya bisa mematung dan tenggelam dengan perasaannya. Membiarkan orang yang dicintainya menilai dirinya dengan keburukan. Inilah alasan mengapa ia benci jatuh cinta.
^^^
Hari minggu menjadi hari sibuk bagi seorang ibu, dimana anak dan suami tinggal di rumah selama seharian penuh. Begitu pula yang dirasakan Anya. Kini, ia bukanlah seorang dokter, ia menjelma menjadi seorang ibu dan istri yang mengurus semua urusan rumah tanpa bantuan pembantu.
Setelah sholat subuh, ia langsung menyiapkan teh hangat untuk suaminya. Membersihkan rumah dari depan hingga ke sudut-sudut yang bahkan nyaris tak terjangkau. Memasukkan baju kotor dari keranjang ke mesin cuci. Menekan tombol on dan meninggalkannya sampai kering untuk mengurus hal lain.
Seorang ibu harus bisa mengatur waktu dengan baik. Begitulah keseharian Anya. Ia adalah wanita yang hebat, bisa merangkap segala pekerjaan dengan baik. Mulai dari mengurus suami, anak dan rumah. Menjabat sebagai menteri keuangan dalam rumah tangga. Mengurus pasien yang perlu diobati serta berkumpul dengan teman-temannya. Wanita adalah makhluk paling tangguh dan paling multitalenta di dunia.
Tak salah bilamana sebuah hadits mengatakan, Dari Abu Hurairah R.A, beliau berkata : Seseorang datang pada Rasulullah SAW dan berkata “Wahai Rasulullah, kepada siapa aku harus berbakti pertama kali?” Rasulullah SAW menjawab, “Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?”. Rasulullah SAW menjawab, “Ibumu”. Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?”. Beliau menjawab “Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi, “Siapa lagi?”. Rasulullah SAW menjawab, “Kemudian Ayahmu”. (HR. Bukhori).
Rasulullah bahkan menyebut ibu sebanyak tiga kali sebagai orang yang wajib kita berikan bakti kepadanya. Betapa mulianya seorang ibu.
“Choki!” Panggil Anya. Pun anak tersebut masih bermain. Dengan penuh kesabaran, Anya menghampiri dan mengajak putranya untuk mandi pagi “Yuk, mandi sama dinonya. Dinonya juga bau asem” Choki lantas tertawa dan membawa mainan dinosaurusnya untuk mandi bersama.
Dengan telaten, perempuan berambut pendek sepanjang leher itu memandikan putranya. Kemudian memakaian baju untuknya. Mengambil sisir agar rambut putranya itu rapi.
Tak hanya sampai disitu. Anya kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Ia mengeluarkan nugget organik yang sempat ia racik beberapa hari lalu untuk Choki, kemudian menggorengnya. Sementara untuknya dan suami memakan sereal gandum dan s**u.
“Nih sarapannya” Kata Anya menyajikan semangkuk sereal di hadapan suaminya yang sedang fokus dengan pekerjaannya di depan laptop. Ia lantas menggendong Choki untuk duduk diatas kursi khusus.
“Makasaih, ya sayang” Ucap Dimas berbinar. Pria ini memang sangat gemar memberikan pujian bertubi pada sang istri.
“Sama-sama, suamiku” Kemudian Anya menarik satu kursi disampingnya. Ia menikmati sarapan sembari menyuapi buah hatinya.
“Sayang, kamu tau nggak? Ada virus yang lagi menyerang warga Wuhan, China” Dimas berucap sembari membaca sebuah pesan di ponselnya.
“Masa? Epidemi?” Selidik Anya sambil mengusap mulut Choki yang belepotan.
“So far belum jadi epidemi. Tapi udah hampir seratus orang yang terjangkit dan beberapa juga meninggal karena virus itu” Dimas menyendok serelanya.
“Teman kamu lagi tugas disana?”.
“Iya. Arvin lagi tugas di Wuhan” Dimas kemudian menatap sang istri “Makanya dia mau menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin. Kita gak ada yang tau perkembangan virus itu”.
“Virus apa emangnya?” Giliran Anya menyendok sereal.
“Katanya namanya Corona, menyerang pernapasan gitu. Awalnya dari hewan yang kemudian menyerang manusia” Dimas mendengus kasar “Aku dulu pernah ke Wuhan, banyak orang yang jual makanan gak lazim dan pastinya gak halal”.
“Corona?” Anya sedang mengais hipotesa “Kayanya Corona itu satu jenis sama virus SARS 2002 dan MERS di tahun 2012 deh, sayang”.
Dimas mengangguk paham “Aaah~ semoga baik-baik aja, ya” Detik selanjutnya ia menghentikan aktifitas menyendoknya “Tapi.. kira-kira memungkinkan bisa jadi pandemi, gak?”.
“Kita liat aja perkembangannya ke depan gimana. Semoga aja enggak”.
“Iya sih.. semoga cuma lewat doang kaya virus-virus lain”.
^^^
Malam membentang. Bulan dan bintang bersemayam cantik di hamparan hitam langit malam. Lima sekawan itu sedang berkumpul di apartemen milik Musa yang berdampingan dengan milik si kembar Qiara dan Tiara.
Perkumpulan ini bukan tanpa sebab. Bukan karena mereka tak memiliki kegiatan. Tentu saja mereka sangat sibuk. Tapi permintaan konyol Musa tak lagi mampu ditolak oleh para sahabatnya itu. Semuanya kompak datang untuk membantu Musa membereskan rumah barunya.
Semua barang-barang yang berserakan, kini sudah tertata rapi di tempatnya, hasil kerja sama mereka ditambah tenaga dari Tiara yang tak hanya tinggal diam.
“Udah, nih!” Seru Ziyan setelah mengangkat meja bersama Jio.
“Masyaa Allah.. makasih banyak ya” Musa terharu, namun gayanya cukup berlebihan dan memuakkan “Kalian itu bagai bintang terang yang tak pernah lelah menyinari hati aku” Satu bantal sofa itu melayang tepat di kepalanya. Siapa lagi jika bukan Qiara yang melakukannya “Akhh!”.
“Okey.. okey.. ayo kita makan-makan mewah” Musa lantas menampakkan senyum innocent saat melihat tatapan belati dari teman-temannya yang kasarnya sudah diperbudak olehnya.
“Gue di rumah aja, deh” Kata Tiara.
“Kenapa?” Jio menjadi orang pertama yang bertanya dengan maksud terselubung “Lo juga kadang ikutan makan-makan ama kita. Santai aja” Bersandiwara seolah tak ada hubungan apapun diantara keduanya.
“Ada kerjaan yang harus gue kerjain” Jawabnya.
Pun akhirnya tak ada yang bisa memaksa. Semuanya bisa memahami situasi. Lima sekawan itu berangkat menuju tempat makan tanpa Tiara. Sebelum berbalik, Jio menyempatkan diri untuk mengedipkan sebelah mata beserta love sign kecil dari jarinya untuk Tiara. Wanita itu lantas berusaha kerasa menahan tawanya saat melihat rona kaku dari gurat wajah Jio yang berusaha romantis.
“Jangan lupa bungkusin buat gue, Qiara!” Teriak Tiara yang hanya disambut dengan bahu Qiara yang bergidik naik turun.
Meskipun terkenal cuek, datar dan dingin, Qiara tak akan pernah melupakan orang-orang disekitarnya. Ia selalu peduli dengan caranya sediri.
^^^
Warung Bakso kaki lima di pinggir jalan menjadi tujuan mereka berlima alih-alih restoran. Duduk saling berhadapan sambil banyak obrolan seru yang dibicarakan sembari menanti pesanan mereka dihidangkan. Entah mengapa ada banyak hal yang selalu dibicarakan meski selalu bertemu setiap harinya.
“Ini pesananannya!”.
Kelimanya membelalak saat abang tukang bakso menurunkan nampan yang berisi beberapa mangkuk bakso beserta mi ayam. Lalu datang lagi abang-abang yang membawa nampan berisi es teh dan es jeruk.
“Baca doa dulu!” Seru Musa sembari mencampurkan mi ayam agar bumbunya merata.
Baru saja hendak memasukkan makanan ke dalam mulut, Musa dan Anya dibuat heran dengan tiga kawannya yang ada dihadapan mereka. Ketiganya menuangkan banyak sambal di mangkuk, hingga semua sambal habis. Jio yang merupakan orang jawa asli tak pelak tertular dengan kebiasaan Qiara dan Ziyan si penggila pedas. Padahal notabenenya orang jawa tidak terlalau menyukai makanan pedas, terlebih jawa tengah. Olahan makanan dari jawa tengah, selalu mengusung rasa manis.
Qiara, Ziyan dan Jio memakan bakso dengan lahap. Terlihat rapi saat makan, namun nampak menggairahkan nafsu makan siapapun yang melihatnya.
“Hmmm” Ziyan mengerjap saat kuah bakso itu menyentuh lidahnya. Kaldu sapi itu terasa begitu gurih, terlebih saat bertemu dengan renyahnya tauge yang tercampur disana.
“Wah.. wenak puoll” Seru Jio yang baru memulai sudah berkeringat.
Dua orang itu nampak begitu menikmatinya sembari mengungkapkan perasaan mereka ketika bergelut dengan makanan yang dicintai seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Namun hal itu tak terjadi pada Qiara. Ia sama sekali tak berkutik saat makan. Ia hanya fokus dalam mengunyah. Diam dan khusyu. Ia seolah memiliki dunianya sendiri.
“Aaa! Bakso mercon” Tutur Ziyan mengarahkan bakso di garpu ke mulut Qiara. Pun Qiara tak mengelak. Ia melahapnya dengan tenang meski ada banyak cabai di dalam sana.
“Cobain bakso urat gue” Qiara menyuapi Ziyan dan Jio secara bergantian. Dua pria itu lantas tak bisa menyembunyikan kehebohannya.
“Wahhh?!” Anya masih melongo “Mereka bertiga selalu paling asyik kalau makan”.
“Namanya juga KJA Indonesia, selalu menghibur diri dengan makan” Ceplos Musa sembari membeku menatap ketiga temannya.
Anya menoleh, mengerutkan keningnya “KJA Indonesia?”.
“Komunitas Jomblo Ambyar Indonesia” Jawab Musa tanpa menoleh ke arah sang empu. Ia masih asyik mengamati para foodie maker.
Hahahah.. Anya tertawa sembari mengambil sebuah cermin dari tas, kemudian meletakannya dihadapan Musa, membuat pria imut itu menyipit “Nih, ngaca dong! Lo juga jomblo sekarang!”.
Musa terperanjat. Ia seperti baru saja terbangun dari mimpi panjangnya “Oh iya.. Gue sekarang jomblo, ya?” Pun Anya mengangguk pelan “Yaa Allah” Musa menepuk kepalanya dengan kedua tangan.
Setiap hari selalu berada di sisi teman-temannya, terlebih ia juga bertetangga dengan Qiara, membuat Musa benar-benar lupa jika dirinya telah resmi menyandang status duda.
^^^
Qiara terduduk di meja kerja bermandikan cahaya laptop. Kaca mata bulat itu selalu bertengger di hidungnya untuk membantu penglihatannya yang kurang baik. Sesekali ia menggerakkan mouse untuk melihat bagian terbawah dari layar. Ia selalu menyempatkan diri untuk belajar sebelum tidur. Meskipun sudah memiliki gelar spesialis, nyatanya seorang dokter memang harus terus belajar, karena akan ada banyak kasus yang tak terduga di muka.
Wanita pemilik wajah menggemaskan itu tetap berkutat pada pekerjaannya dan tak terpecahkan meski suara ponsel milik saudari kembarnya terus-terusan berdering. Namun fokus itu akhirnya pecah karena deringan itu tak kunjung berhenti. Ia bangkit dan mengambil ponsel milik Tiara. Matanya menyipit kala melihat satu nama di layar.
“Tiara!” Qiara menghampiri saudari kembarnya itu yang sedang menggosok gigi di depan wastafel di kamar mandi.
“Kuenapoa?” Tanya Tiara berucap tak begitu jelas lantaran sedang menggosok gigi.
“Berisik banget nih hp lo” Keluh Qiara “Siapa lagi nih? Scoo-be-doo?”.
Kalimat Qiara membuat Tiara terbelalak. Ia langsung menghampiri dan menyahut ponselnya dari tangan Tiara, buru-buru mengusap tombol merah untuk dimatikan.
Melihat aksi Tiara yang aneh, Qiara menyelidik. Ia menyipit setelah menemukan asumsinya “Hmmmm.... Lo lagi deket sama cowok ya? atau malah pacaran?”.
“Eungg..” Tiara sedang mencari kalimat dalam otaknya “Nggak. Temen gua itu”.
“Temen?” Qiara semakin mendekat “Gak percaya. Gue yakin itu gebetan lo”.
Dalam otak sibuk merangkai kata. Tiara berusaha membuka mulut, namun pada akhirnya ia menyadari bahwa tak ada kata yang bisa diucapkannya. Tatapan mengintimidasi Qiara itu meruntuhkan segalanya.
“Nanti ya, Qi. Nanti gue ceritain” Tiara akhirnya kalah.
“Gak biasa banget. Biasanya lo langsung cerita. Gue jadi makin kepo” Qiara melipat kedua tangan di depan d**a “Tapi terserah sih... Yang jelas gue cuma mau mengingatkan. Jangan lama-lama menjalin hubungan yang nggak ada artinya, ntar jadi maksiat. Lagian kita juga udah tua. Kalau sudah saling cocok, suruh cowok itu datang ke Abak” Tukas Qiara bagaikan alarm baginya. Ia lantas berbalik meninggalkan Tiara yang masih sibuk mencerna kalimat saudari kembarnya tersebut.
Detik selanjutnya, ponsel Tiara kembali berdering. Ia buru-buru keluar kamar mandi. Mengusap tombol hijau untuk menjawabnya. Ia menutup setengah mulutnya dengan suara pelan agar Qiara tak mendengar.
“Wa’alaikumussalaam” Jawab Tiara sembari berbisik “Apa?!” Ia lantas menutup mulutnya saat sedikit berteriak dan kembali merendahkan suaranya “L-lo di bawah?” Tiara membuka sedikit gordyn untuk menyelidik.
Matanya lantas berbinar saat ada gelembung bertaburan di bawah sana bersama seorang pria yang tangan kanannya sedang meniup sabun dengan tongkat peniup gelembung. Sedang tangan kiri masih memegangi ponsel di telinga. Tiara tak bisa menyembunyikan pipinya yang bersemu. Matanya berpijar cantik.
Keduanya saling terbawa suasana tanpa banyak kata, menikmati malam dengan caranya, meski jarak jelas menganga. Di negara ini memang tak ada musim semi, namun hati mereka bagai musim semi yang bunganya selalu bermekaran indah. Menggambarkan perasaan satu sama lain.
Pertemuan keduanya memang sudah sejak lama. Bersamaan dengan Qiara yang masuk fakultas kedokteran. Sejak lama pula mereka mengenal, namun tak ada perbincangan intens. Seiring waktu berjalan, keduanya semakin menjauh karena kesibukan masing-masing. Pertemuan tak terduga di bulan November lalu membuat keduanya kembali merangkai bongkahan puzzle yang selama ini hilang.
___________________________
Dimas: Yeo Jin Goo