7. Menyimpan Bintang

2394 Kata
“A-any-nya” Musa kesulitan berucap lantaran pelukan Jio dan Ziyan yang terlalu erat “M-makasih u-udah ngebongkar kedok Meira” Semu terbelalak. Jio dan Ziyan merenggangkan pelukan itu. Qiara juga tak lagi bersandar. Saling memandang satu sama lain, membutuhkan penjelasan. Sementara Anya tersenyum lembut, pipinya menggembung kala mengingat kejadian terkutuk tempo hari. Waktu itu, Anya telah menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Ia lantas mengambil waktu berdua dengan putra sematawayangnya sekaligus untuk membeli kebutuhan bulanan yang kebetulan sudah habis. Kebetulan sang suami sedang bekerja, jadi Anya mengambil peran rangkap sebagai ayah dan ibu saat membawa putranya ke pusat perbelanjaan. Anya membawa putranya dengan kereta dorong agar memudahkan pergerakannya dalam berbelanja. Sebelum membeli belanjaan bulanan, ia menyempatkan diri untuk melihat-lihat gerai parfum—namanya juga perempuan, matanya suka gatal. Di tengah aktifitasnya mencoba parfume tester tak sengaja matanya membidik seseorang yang sangat dikenalinya. Wanita cantik, kulit putih berseri, rambut panjangnya yang hitam serta badan rampingnya. Tapi satu hal terlihat begitu mengganjal. Alih-alih bersama suami, wanita itu justru menggandeng mesra lelaki asing. Asumsi Anya sudah mengatakan hal yang bukan-bukan, namun ia berusaha untuk berperasangka baik. Ia lantas mengamati dari kejauhan, dan asumsi buruk itu seolah semakin menjadi nyata. Yang ada dipikiran Anya saat ini hanyalah perasaan sahabatnya, Musa. “Meira!” Anya menghampiri, wanita itu lantas melepas tangannya yang sempat melingkar di lengan seorang pria. “O-oh, Anya?” Meira nampak gugup. “Itu teman kamu?” Tanya pria asing tersebut. “Saya teman suaminya, Musa. Anda siapa?” Tanya Anya tak mau kebanyakan basa-basi. “S-saya ini atasannya” Jawab pria itu tiba-tiba menjadi gugup terbawa suasana. “Kok pegang-pegangan?” Anya mengintimidasi keduanya yang sedang mati gaya “Gue cuma mau ingetin, kalau Musa lagi berjuang menyelamatkan nyawa orang sekaligus menafkahi istrinya” Ucapnya ketus “Tolong tau diri, Mei”. “Emangnya kamu siapa? Ikut campur urusan rumah tangga orang?” Sarkas Meira memberanikan diri “Mentang-mentang kamu sahabat Musa, terus kamu mau ikut campur kehidupan kita?” Pria itu sempat menarik tangan Meira untuk pergi. “Mau kemana? Urusan kita belum selesai!” Hardik Anya “Bapak ini gak tau sopan santun”. “Kamu yang nggak tau sopan santun! Ini di tempat umum”. Anya terkekeh “Kalian yang aneh.. udah tau ini tempat umum, masih berani menampakkan diri”. “Anya!” Teriak Meira, lalu kembali mendekat “Apa jangan-jangan lo suka ama suami gue? Selingkuh ama Musa dan menutupnya alih-alih persahabatan?”. Anya menyeringai. Tatapannya tajam “Suami? Lo masih manggil Musa suami? Coba lo ngaca, selingkuhan lo itu berstatus suami orang atau bukan?” Ia kemudian menatap pria berkumis yang nampak jauh lebih tua darinya itu “Gue nggak akan mengganggu kehidupan lo, selama lo nggak menyentil sahabat gue. Dan ternyata Meira si mahasiswi kimia yang berprestasi itu gak selevel sama Musa, ya”. Kalimat itu menyayat hati dan sanubari Meira. Ia merasa hancur seperti baru terbangun dari mimpi buruk. Air mata itu sudah membendung di pelupuk. Ia menunduk, mengusap perutnya lembut. Menyesal adalah satu kalimat yang menggambarkan mendungnya dunia wanita itu. ^^^ “Sekarang kita mencari kapsul glisson[1] di segmen tujuh” Kata Dokter Harun masih fokus pada pembedahannya setelah berhasil mendapatkan peluru di dalam sana. Sementara Qiara yang juga membantu pembedahan diseberangnya, sesekali memperhatikan pergerakan dokter tampan berkulit eksotis tersebut. “Ini akan menahan pendarahan dan memperjelas organnya” Sambung Dokter Harun “Bulldog!” Mintanya pada suster, kemudian suster tersebut mengambilkan alat tersebut. Kini Dokter Harun, Qiara dan tim sedang melakukan operasi darurat untuk korban begal yang tertembak. Normalnya, jika ada pasien darurat seperti ini, Dokter Harun tentu bisa mengatasinya hanya dengan bantuan dokter residen, namun tidak untuk kali ini. Entah mengapa ia membutuhkan bantuan Qiara meski ini bukan operasi yang sulit. “Segmen tujuh di lever berubah warna” Tutur Qiara saat menyadari hal tersebut. “Kalau begitu, kita melakukannya dengan benar” Balas Dokter Harun masih tak memandangi sang empu “Bovie!” Mintanya lagi pada suster. Alih-alih mengarahkan alat tersebut pada titik, ia justru menjatuhkannya. Sontak semua terbelalak. Suatu hal yang tak lazim terjadi, terlebih pada dokter senior yang sudah memiliki jam terbang tinggi sepertinya. Dokter Harun memejam seperkian detik, menyadari kesalahannya “Maaf. Saya kurang stretching karena baru saja melakukan operasi lain sebelumnya”. “Bovie!” Qiara mengambil alih dengan sigap dan tanpa mengulur waktu saat menyadari situasinya. Dokter Harun menghening, memperhatikan Qiara lagi sembari merutuki dirinya sendiri. Ia lantas melihat kembali tangannya yang sedikit bergetar. Dokter 45 tahun itu menarik satu napas berat “Tolong berikan CUSA!”. “Dokter baik-baik aja, kan?” Suster Sarah memastikan. “Iya.. nggak apa-apa” Dokter Harun berusaha meyakinkan, hingga pada akhirnya alat tersebut diberikan padanya. Pun Dokter Harun segera melakukan tugasnya dengan baik. Ia meyakinkan diri, berusaha untuk kembali fokus apapun yang terjadi. “Saya sudah menemukan kapsul glisson di segmen tujuh dan memeperbaiki” Tambah Dokter Harun lagi setelah melakukan pekerjaannya dengan baik. “Saya bisa melihat pembuluh darahnya!” Qiara berseru “Tolong stapler vaskular!” Ia meminta pada perawat yang membantu. Sebuah alat panjang itu diberikan padanya. Qiara menyalakan tombol on sebelum menggunakannya. Dengan sigap, ia kerahkan alat stepler itu ke titik pembuluh darah. Aksinya membuat Dokter Harun langsung menatapnya dengan tatapan takjub “Tanganmu sangat terampil” Pujinya. “Terima kasih” Qiara membalas sembari tetap fokus dan tak tumbang hanya karena pujian. “Bagus. Mari periksa sisanya dan tutup kembali” Dokter Harun menyerukan ultimatumnya. “Bovie!” Pinta Qiara memutar, kemudian menggunakan alat tersebut dengan lihai. Ia bahkan menjahit dengan sangat cekatan dan tepat. Operasi itu berjalan sangat lancar dan tepat pada waktunya. Semua orang saling menghargai kerja keras satu sama lain. “Terima kasih atas kerja kerasnya, Dokter Qiara” Dokter Harun meluaskan senyumnya membuat jantung Qiara berdetak diatas rata-rata. Semua terjadi begitu saja. Perempuan itu tak bisa melontarkan kata-katanya. Hanya mengangguk dengan tatapan kaku. Qiara juga masih asyik memandangi punggung Dokter Harun yang semakin menghilang karena berbelok. Ia langsung memegangi jantungnya yang sejak tadi bergemuruh “Astaghfirullah, kenapa selalu kaya gini?”. ^^^ Qiara melangkah menuju ruangannya sembari meregangkan persendiannya yang beku akibat melakukan operasi yang banyak setiap harinya. Matanya mengerjap saat menemukan Ridwan yang sudah ada di depan pintu. Qiara mengerutkan kening, lalu menghampiri “Ada apa?” Tanyanya datar. “Ini untuk, Dokter. Hari ini pasti capek banget” Ridwan memberikan se-cup ice latte. Qiara memandangi cup tersebut “Ah~ maaf, aku gak minum kopi” Katanya terus terang, agak menyayat hati Ridwan “Tapi aku akan kasih ini ke Ziyan, dia suka banget kopi. Makasih ya” Ia menerima pemberian tersebut, bergegas masuk ke dalam ruangan. “Dokter Qiara” Ridwan menghentikan langkahnya. Pun Qiara berbalik. Ridwan menarik satu napas sembari meyakinkan diri. Membulatkan tekad yang sudah ia niatkan selama berhari-hari agar Qiara tau bahwa namanya telah bersemi indah di hatinya “Ini bukan soal kopi. Tapi soal perasaan saya ke Dokter Qiara” Qiara membeku. Ia masih belum mencerna dengan baik “Mungkin saya lancang. Tapi perasaan memang tidak bisa disembunyikan. Saya yakin dokter pasti paham”. Qiara menarik satu napas “Urus saja tesismu dulu” Ia kembali berbalik tak mau memperpanjang. “Apa setelah tesis selesai dan lulus ujian, apa dokter akan membalas perasaan ini?” Ridwan kembali menghentikan pergerakan Qiara yang hendak membuka gagang pintu. Jujur, ia tak pernah menyangka bilamana Ridwan akan memiliki perasaan yang jauh untuknya. Perempuan itu lantas berbalik. Air muka dingin itu terus terpancar dari wajahnya “Kamu tau? Aku ini bukan ABG lagi. Jadi, nggak usah ada omong kosong kaya gini”. “Ini bukan omong kosong, Dok. Saya akan melamar dokter, jika memang sudah diberikan lampu hijau” Jelas Ridwan mengikuti kata hatinya. Sorot matanya menatap lurus pada sosok Qiara. “Okey. Urus tesismu dulu dan akan ku berikan jawaban” Sahut Qiara dengan kalimat tak terduga “Tapi kamu harus ingat, bahwa hanya ada dua jawaban, antara Ya atau Tidak. Kamu harus persiapkan mental untuk keduanya. Allah maha membolak-balikkan hati manusia” Ia langsung memasuki ruangan tanpa menimpali pria yang lebih muda darinya itu. Ia meninggalkan Ridwan yang masih mematung dengan ambisi kuatnya untuk mendapatkan cinta Qiara. “Kenapa sih, dia?” Heran Qiara, kemudian menatap kopi pemberian Ridwan. ^^^ Kini waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Hitam membentang luas di angkasa. Hari ini, Jio dan Ziyan pulang lebih telat dari biasanya. Mereka sedang membereskan barang-barangnya. Keduanya menunggu lift sembari mengobrol dan tertawa sampai sebuah lift terbuka dihadapan mereka. Keduanya melambaikan tangan saat menemukan wajah beku Qiara di dalam sana. Perempuan berhijab itu melipat tangannya di depan d**a. Pun keduanya menempatkan diri disamping Qiara, membiarkan perempuan mungil itu berdiri di tengah-tengah pria dengan tinggi semampai. Sementara Musa menuruni eskalator sambil membalas pesan, juga bersiul. Pria itu berdiri santai sampai tangga berjalan itu membawanya ke lobi. Ia berjalan asyik menyusuri keramaian, melewati lobi sambil menyapa para dokter dan perawat yang sedang lewat. Pribadi yang mudah bergaul membuatnya banyak dikenal seluruh penghuni rumah sakit. “Itu Si Tengil!” Seru Qiara pada kedua temannya saat membidik pria pemilik tinggi badan standar dengan pakaian paling modis. Itu sangat mudah ditebak. Qiara, Ziyan dan Jio langsung mempercepat langkah menghampiri Musa yang berjalan sendirian. Ketiganya merangkul Musa bersamaan sembari meluaskan senyum dan menyapa dengan gayanya masing-masing. Pun Musa sempat merengek saat Qiara menyenggol lengannya begitu keras. Lagi-lagi tawa renyah itu menghiasi atmosfer mereka. Semua beban dan tanggung jawab besar yang dipikul sebagai seorang tenaga medis seolah menguap. Mereka seperti kembali menjadi diri sendiri. Bebas membagi tawa dan keceriaan bersama sahabat. Pim Pim! Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam dov berhenti tepat di pintu utama rumah sakit, menghentikan langkah Qiara, Ziyan, Jio dan Musa. Kaca mobil bagian depan itu terbuka, menampilkan Anya yang mengenakan topi baret—gayanya tetap milenial meski sudah memiliki satu buntut. Qiara, Ziyan, Jio dan Musa melambaikan tangan serentak. “Buruan!” Teriak Anya. Ia memang sudah pulang lebih awal, tetapi tetap mempedulikan teman-temannya. Menjemput mereka untuk pulang bersama. Keempatnya berhamburan menuju mobil. Qiara langsung mengambil tempat disamping Anya. Sementara tiga laki-laki itu menempatkan diri di belakang. Pun Anya memelesatkan mobil ke jalanan. “Lo ngapain bawa mangkuk di kepala, Nya?” Goda Musa melihat topi baret diatas kepala Anya. Musa ini selalu menjadi kritikus setiap style Anya yang nyentrik. “Norak lo. Ini topi baret!” Celetuk Anya. “Udah lama nge-grab ya, mbak?” Kini giliran Jio yang usil pada Anya. Pun semua tertawa puas selama perjalanan. Tawa paling membahana tak luput ketika salah satu diantara mereka melakukan hal hina ataupun mengalami kejadian memalukan dan segala ke-bar-baran mereka. ^^^ Cklek! Uhuk uhuk...hatchih! Semua kompak terbatuk dan bersin saat sebuah pintu dibuka. Qiara menoleh ke belakang seraya menggeleng “Ternyata kalian gak pernah berubah sejak tujuh belas tahun lalu” Ia lantas memasuki ruangan gelap itu untuk menyalakan lampu. “Woah!” Musa, Anya dan Jio membelalak kala melihat beberapa alat musik disana. “Gila! Ini sejak kita kuliah gak pernah dipakai lagi?” Jio mengarahkan telunjuknya ke badan gitar dan mendapati debu yang cukup tebal disana. “Iya. Yah.. paling papah aja yang suka main. Tapi belakangan emang gak pernah lagi main musik. Maklum lah udah tua” Jelas Ziyan sembari memasang kabel. “Nih! Gua barusan minta perkakas seadanya dari bibi” Anya yang sempat keluar dari ruangan musik itu kembali datang membawa perkakas dan membagikannya pada yang lain. “Emangnya gak pernah dibersihin nih ruangan?” Tanya Musa sambil membersihkan kibor. “Tiap minggu dibersihin mulu ama bibi.. tapi namanya jarang dipakai ya begini” Ziyan mengecek microphone-nya “Test! Check! Check!”. “Okey! Karena sekarang kita udah bersatu lagi, tempat ini bakal kita pakai!” Kata Anya tegas “Terlepas dari waktunya kapan.. kalau sempat, kita pakai lagi tempat ini”. Akhirnya Halaman belakang squad setuju atas usulan Anya. Semua berhamburan menuju alat musik mereka masing-masing. Qiara langsung mengambil tempat di belakang drum. Berkali-kali ia memutar lengannya sebagai pemanasan. Maklum saja mereka ini sudah lama tak memegang alat musik lagi. Musa duduk dibalik kibor.. ya, pria imut satu ini, pada saat kuliah sangat ahli membuat instrumen indah dari kibornya. Ia melemaskan jemarinya sesaat dengan nada-nada sederhana, namun enak di dengar, membuat semua berdecak kagum. Jio tak mau kalah, pria berwajah manis dan berwibawa itu mendentingkan gitar listrik yang sudah bertahun-tahun tak sempat ia mainkan. Pun begitu pula dengan Anya yang sudah siap dengan bass-nya. “Aaaa—Iii---doremi.. do.. do.. fasolasidooo~” Ziyan sedang melakukan vocal stretching. Mama-boy satu ini, selain memilki visual yang tampan, ia juga memiliki vokal yang mumpuni. “Are you ready, stars?!” Teriak Jio begitu semangat. Urat nadinya nampak jelas terlihat. Qiara menabuh drum dengan lengan kecilnya yang kuat bagaikan genderang mau perang sebagai intro dari lagu penuh gairah tersebut, disusul dengan gitar elektrik yang melengking dahsyat saat Jio memainkannya. Begitu pula dengan Anya dan Musa yang tak kalah energic memainkan alat musik mereka masing-masing. Lagu ‘Melompat lebih tinggi’ dari band kenamaan, Sheila on 7 yang populer di awal 2000an, menggairahkan semangat penuh makna tersirat yang menggambarkan sebuah arti persahabatan. Lagu ini juga menjadi lagu keberuntungan mereka saat menjuarai kompetisi ‘Anak Band’ se-JABODETABEK di tahun 2004. Kita berlari dan teruskan bernyanyi~ Ziyan membuka lagu tersebut dengan vokal lembut, namun penuh energi. Kita berjalan berpelukan mentari Bila ku terjatuh nanti.. kau siap mengangkat aku lebih tinggi~ Uuuuh.. uuh~ Ziyan beraksi layaknya vokalis band kenamaan, memainkan standy mic ke kanan dan kiri. Tak kalah dengan yang lain, jemari musa menai-nari lincah diatas tuts kibor. Begitu pula dengan tangan Anya yang asyik memetik senar bass menyamakan irama. Semua kepedih yang telah kita bagi.. Layaknya luka yang telah terobati Bila kita jatuh nanti, kita siap melompat lebih tinggi Bersama kita bagi hutan dan hujan Akupun ada karna kau telah tercipta.. Aaaa~ *Ku petik bintang.. untuk kau simpan Cahayanya tenang.. berikan kau perlindungan Sebagai pengingat teman, Juga sebagai jawaban.. semua tantangan (Back to *) Kini Jio menunjukkan aksi lihainya bermain gitar. Meski sudah bertahun-tahun tak memainkannya, nyatanya ia bisa kembali bak pemain gitar profesional yang mampu bersaing dengan Gideon Tengker saat mengisi intro lagu tersebut. Sebelum waktu memisahkan dan kita tertipu Sebelum dewasa menua memisahkan kita Tentukan jantung kita akan selalu seirama Bila kau rindu aku.. (Back to * 2x) [1] Kapsul Glisson : Lapisan jaringan di sekitar hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN