6. Memetik Bintang

2638 Kata
“Sahabat itu serupa bintang. Ia setia menyinari kita siang dan malam. Meski ia sadar akan matahari yang jauh lebih terang, nyatanya ia tetap memilih untuk tinggal” ***             Suasana pagi itu begitu tenang. Tiara mengenakan setelan olahraga beserta hijab sporty. Saudari kembar Qiara itu mengikat sepatunya dengan kuat. Lari pagi adalah kegiatan rutinnya di pagi hari. Kakinya yang panjang itu seolah sedang melar ketika ia melakukan peregangan. Ia sangat mencintai olahraga.             Berbeda dengan sang kakak—Qiara, yang lebih menikmati paginya dengan berbagai kegiatan rumah tangga bersama daster panjang yang selalu melekat. Mulai dari menyiapkan sarapan hingga membereskan apartemen mereka sebelum bekerja. Pantas saja ia tak tumbuh tinggi seperti Tiara.             Sepasang saudari kembar itu hanya tinggal berdua di sebuah apartemen minimalis yang dibelinya di kawasan Sudirman, menyesuaikan dengan tempat mereka bekerja.             Tiara meninggalkan Qiara yang sedang asyik di dapur. Polwan tersebut mengitari jogging track yang menjadi salah satu fasilitas bagi penghuni kawasan tersebut. Keringat itu terus menetes seiring dengan langkah kaki dan jantungnya yang saling beradu cepat.             Sesekali ia berhenti sejenak untuk mengatur tempo napasnya agar stabil, namun tak sengaja mata lentiknya itu membidik seseorang di ujung sana yang sedang melambaikan tangan padanya.             Satu senyum manis Tiara itu merekah indah. Matanya menyipit seperti bulan sabit kala pipinya ikut mengembang. Sambil menahan pipinya yang merona, ia melangkah ke arah sosok tersebut. Keduanya saling ingin mendekat.             Jio.             Pria itu sudah mengenakan pakaian begitu rapi di pagi hari.             “Surprise!” Seru Jio saat keduanya sudah saling berhadapan “Kaget ya gue datang pagi-pagi?”.             Tiara mengangguk bersama kedua sudut bibirnya yang masih terangkat “Emangnya lo gak siap-siap berangkat ke rumah sakit?”.             “Nih, gue udah siap” Jio merekahkan kedua tangannya. Menunjukkan bahwa penampilannya yang rapi adalah tanda ia telah siap berangkat kerja “Pagi ini mendung, jadi aku pengen liat yang cerah-cerah sebelum berangkat ke rumah sakit”.             Tiara terkekeh “Iya.. iya.. gak usah sok gombal. Sampai kapanpun orang kaku kaya lo gak akan pantes jadi tukang gombal”.             “Masa sih?” Jio menyatukan kedua alisnya. Tak sengaja mata pria itu berkedut saat menemukan seseorang yang berjalan dengan dasternya “Awas!” Ia menarik Tiara untuk bersembunyi di balik semak.             Sontak wanita itu tersentak dan tak bisa bereaksi selain mengikuti pergerakan Jio lantaran tak sempat mencerna situasi. Suasana sekonyong hening, Jio masih mengedarkan pandangan untuk memastikan situasi aman.             “Kenapa sih?” Tanya Tiara bingung.             “Ada mak lampir” Jawab Jio masih memeriksa keadaan sampai akhirnya Qiara menghilang “Tuh anak ngapain sih?”.             “Gak tau juga. Buang sampah kali” Tutur Tiara sempat sedikit mendongak untuk memastikan lagi sosok yang Jio maksud “Emangnya kenapa kalau Qiara liat kita?”.             “Ah jangan!” Jio mengelak tegas “Gua lupa gak ngasih tau lo.. pokoknya jangan kasih tau kembaran lo kalau kita lagi dekat. Dia tuh pemilih, takutnya dia komentar yang enggak-enggak”.             “Ternyata muka tegas dan berwibawa kaya lo takut banget ya ama Qiara” Tiara terkekeh tak percaya “Lagian kita gak ada hubungan yang jelas juga, jadi apa masalahnya?” Jujur Tiara mengisyaratkan sesuatu tersirat disana.             Jio menghening untuk beberapa saat. Hati dan pikirannya membeku untuk mencerna kalimat Tiara dengan baik, hingga pada akhirnya ia berucap mantap “Okey.. aku gak akan lama. Insyaa Allah akan segera aku perjelas”.             Detik itu juga kupu-kupu berterbangan ria di dalam hati Tiara bersamaan dengan angin pagi yang menerpa dedaunan di sekitarnya. Ia bahkan tak kuasa untuk menahan senyum. ^^^ Siang itu, Musa yang baru saja datang setelah dinas dari Tangerang, mempercepat laju mobilnya menuju Metro Medical Center. Rem ia pijak begitu kuat saat sudah berhasil memarkirkan mobil tepat di depan IGD.             Langkahnya juga semakin dipercepat sembari mengenakan snelli (Jas dokter). Ia berlari menghampiri Rania di depan pos IGD.             “Syifa kenapa, dok?” Tanya Musa sambil mengatur tempo napasnya.             “Maaf, dok. Sekarang dia sudah baik-baik saja. Dia masuk IGD karena sempat muntah-muntah, tapi kini sudah membaik” Jelas Rania. Pasalnya, anak sepuluh tahun itu belum lama dioperasi dan harus kembali lagi ke rumah sakit.             “Sekarang gak apa-apa, kan?” Tanya Musa memastikan sembari mengecek di komputer “Tidak demam, kan?”.             “Demam sudah turun setelah diberi obat” Tambah Rania yang disambut dengan anggukan kepala Musa. Rania yang tak enak hati karena sempat panik itu kembali meminta maaf “Maaf, ya, dok. Saya sudah mengganggu”.             “Ah~ gak masalah. Tenang aja” Sahut Musa tak mempermasalahkannya. Ia juga nampak fresh seperti biasanya. “Kalau gitu sampai ketemu di operasi nanti jam dua”.             Menjadi sibuk itu tak masalah, hidupmu menjadi lebih simple dan menyenangkan. Pikiran yang tak berguna itu seolah lenyap, meski hanya sejenak.             Rania mengangguk sambil sibuk menahan pipinya yang bersemu kemerahan. Ia terus memandangi punggung Musa yang semakin menghilang karena menaiki eskalator.             “Hmmm.. ketauan. Lo suka ama Musa, ya?” Tiba-tiba Dokter Akmal menyenggol satu lengan Rania, memecah lamunan perempuan yang selalu berpenampilan chic tersebut.             “A-ah~ Eungg...” Rania nyaris kehilangan kata-katanya “Nge-fan doang, dok. Mengagumi” Ia menjelaskan dengan segala pergerakan tangannya “Lagian beliau udah punya istri”.             “Kalau dia jomblo, lo mau sama dia?” Dokter Akmal menaikkan sebelah alisnya.             Mendengar pertanyaan itu, Rania langsung menciut. Ia berusaha keras menyembunyikan pipinya yang berubah menjadi merah. Selama ini ia memang mengagumi sosok Musa yang humoris namun tetap bertugas dengan baik ketika menyelamatkan pasien, begitu pula ketika berhadapan dengan wali pasien. Ia juga tak berharap lebih pada seorang Musa karena semua orang juga sudah tau bahwa dirinya sudah menikah.             “Nggak jawab?” Dokter Akmal membangunkan kembali lamunan Rania.             “Ah?!” Wanita itu nampak kebingungan.             Dokter Akmal menarik satu napas “Gue mau kasih tau aja, kalau Musa sekarang resmi jadi duda” Dokter berkulit tan itu menepuk satu bahu Rania langsung beranjak pergi.             Mata Rania membulat. Dalam hati penuh kata, dalam otak penuh pertanyaan. Semua kalimat itu seperti candaan. Ia tak bisa mempercayainya begitu saja.             “Masa sih?” Ia bertanya-tanya.             “Bener kok” Sahut Suster Fira dari bilik pos IGD tiba-tiba. Pun Rania mengerutkan kening “Saya dengar dari suster diatas kalau istri Dokter Musa selingkuh”.             “Woaaah!” Rania menggeleng heran “Nggak tau diri banget”.             Kehidupan Musa tak sebanding dengan apa yang orang lihat. Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang periang, jenaka, menebar kebahagiaan dimana-mana, terlihat selalu mesra dengan sang istri, tapi nyatanya ada luka yang begitu bernanah di dalam hidupnya. ^^^             Musa terduduk di kursi kerjanya bermandikan hening. Tatapan matanya nampak kosong. Pikirannya sedang beterbangan ria. Hidupnya seolah sedang tenggelam. Ia kacau dan tak berbentuk saat sedang sendiri. Pengkhianatan itu seolah membunuh jiwanya. Ingin memaki, tapi pada siapa?. Setelah mengetahui fakta terburuk dari sang istri, ia tak pernah memakinya. Yang ia lakukan hanya mengambang seperti ini.             Terkadang, diam adalah sesuatu yang paling tepat untuk mengungkapkan seberapa acak perasaan dan pikirannya saat ini. Sedih, kecewa dan lega tengah bersatu padu dalam jiwa yang bergejolak. Luka ini sama sekali tak berdarah, namun sakit dan menyiksa bagai nanah yang nyaris membusuk.             Musa menghela napas begitu kencang. Meraih bola ping-pong di nakas. Melemparnya berkali-kali ke arah pintu bersama pikirannya yang acak.             Tuk! Tuk! Tuk! Ia kembali mengambil bola tersebut setiap kali memantul dan kembali melemparnya. Terus seperti itu sampai akhirnya pintu itu terbuka, pun bola itu tak lagi memantul. Selanjutnya ia memilih untuk menyembunyikan muka. Meletakkan kepala diatas meja. Memejam untuk menetralisir pikirannya yang kelabu.             Hmmm...             Suara dehaman itu membuat Musa perlahan mengangkat kepalanya lagi bersamaan dengan matanya yang membeku saat berhasil membidik keempat temannya yang sudah berdiri dihadapannya dengan tatapan mengintimidasi. Semua mata itu mengarah padanya. Qiara dan Anya yang berada ditengah sedang menatap sambil melipat kedua tangan di depan d**a. Sedangkan Jio dan Ziyan hanya menatap datar. Menciptakan suasana bisu diantara mereka, pun Musa hanya bisa mengedarkan pandangan ke arah teman-temannya itu satu persatu dengan kikuk. Sampai akhirnya, Jio dan Ziyan mengangkat papper bag di kedua tangan mereka.             “Lunch time!” Teriak Anya mengambil alih papper bag, lalu meletakkan barang bawaannya ke atas meja. Ziyan membantu mengeluarkan kotak makanan dari dalam sana “Mamah Linda bawain bekal buat kita”.             Musa yang tadinya bergeming, mendadak menunjukkan esksitensinya kembali. Ia bangkit dengan matanya yang melebar saat menemukan aneka snack sosis yang sudah tertata rapi di meja.             “Mamah Linda masih ada di bawah?” Tanya Musa datar. Matanya masih fokus pada sosis panggang dan juga macam-macam corn dog.             “Udah langsung pulang tadi” Jawab Anya yang sedang membukakan tutup botol air mineral agar teman-temannya tak kesusahan. Ia adalah ibu dari Halaman squad “Emangnya kenapa, Sa?”.             “Gue mau minta uang jajan kaya mama-boy” Jawabnya datar.             Sontak semua mata tertuju padanya dengan tatapan hening.             Bug!             “Akhh~” Musa merengek. Mengusap punggungnya yang kesakitan karena pukulan maut tangan gatot kaca. Siapa lagi jika bukan Qiara.             “Buruan makan!” Qiara menyerukan ultimatumnya.             Kelimanya mengambil tempat saling berhadapan di atas sofa. Menikmati bekal yang dikirim oleh ibu dari Ziyan.             “Lo ngapain mikirin Meira? Lo masih cinta sama orang kaya dia?” Tanya Jio sambil mengambil corn dog.             Musa meneguk air mineral, lalu meletakkan botolnya diatas meja lagi “Setelah dia mengungkapkan semuanya.. tembok cinta yang udah terbangun megah itu mendadak hancur” Ia mengambil satu napas sebelum melanjutkan kalimatnya sementara yang lain sibuk menyimak “Yang gue pikirin sampai sekarang cuma...” Ia mengedarkan pandangan ke arah teman-temannya “Kenapa dia tega khianatin gue? Kenapa dia menghancurkan kepercayaan kita? Kenapa dia melakukan itu tanpa memikirkan perasaan gue?”.             Kepercayaan itu seperti kaca. Ketika pecah akan tetap retak meski perekat dapat merangkai pecahan-pecahan itu.             Musa mendengus kasar “Mungkin gue juga salah karena terlalu sibuk”.             “Gak bisa disalahkan dong..” Anya berseru sambil menelan makanannya “Pekerjaan lo sebagai ahli bedah anak, ibarat memegang nyawa anak”.             “Ternyata setelah dua tahun pernikahan, gak menjamin kita mengetahui karakter asli pasangan kita, ya?” Jio sedang membayangkan sebelum kembali mengunyah.             “Bukan karakter asli, tetapi sifat dan ego manusia itu mudah untuk berubah kapan saja beriringan dengan situasi dan kesempatan yang ada” Qiara menimpa tanpa memandangi teman-temannya. Ia asyik dengan sosis panggangnya.             “Gua setuju!” Ziyan angkat bicara setelah menelan keripik kentang “Mungkin Meira sebenarnya memang orang baik, tapi karena faktor tertentu, semua itu bisa berubah”.             Jio yang sejak tadi menyimak, mendadak tak fokus saat ada chat masuk di ponselnya. Matanya berpijar. Wajahnya berser-seri saat membuka pesan tersebut. Ia bahkan memakan snack sambil membalasnya. Kedua tangan itu nampak sibuk.             “Ya udah, kalau udah begini, berarti emang si Meira gak se-level ama lo” Tutur Qiara membuat Musa mengangguk paham.             “Terus... apa rencana lo abis ini?” Tanya Anya penasaran.             “Pindah rumah” Musa lantas menggigit makanannya.             Ziyan yang sedang berdiri untuk mengambil tisu mendadak kaget “Ngapain pindah? Yang kalian pakai waktu jadi suami-istri kan rumah lo”             “Emang rumah gua, tapi gua gak mau meninggalkan noda dalam kehidupan baru yang akan gua jalani kedepan” Jelasnya, pun semua mengagguk paham “Gua mau jual rumah itu buat bayar rumah yang baru”.             “Woy! Ngapain lo senyam-senyum sendiri?” Celetuk Ziyan saat menyadari Jio yang sedang asyik membalas pesan.             “Ah?!” Kaget Jio menyembunyikan senyumnya “Nggak.. nggak ada apa-apa”.             “Gue curiga, dari kemarin dia main hp mulu.. padahal Jio yang kita kenal jarang banget main hp. Di hp dia cuma ada aplikasi bawaan. Kalian tau lah.. apa yang mau dimainin kalau kaya gitu? Chatting juga ama siapa? Dia kan gak punya temen lain selain kita” Qiara terheran-heran sembari melayangkan tatapan menyelidik atas keanehan sahabatnya yang terkenal kuper dan gaptek.             “E-emangnya gua nggak boleh main hp? Banyak kerjaan gua disini” Jio berdalih sambil menunjukkan ponselnya.             “Jangan-jangan---” Anya menyipit “Ada nomer cewek di kontak lo?”.             “Padahal nomer kita nggak pernah disimpan sama dia” Ziyan terkekeh heran setelah meneguk minumannya, kemudian membuka laman game online favoritnya.             “Gue curiga dia bener-bener punya pacar” Ceplos Qiara membuat tangan Jio bergetar. Bahkan mata pria berdarah jawa itu perlahan berkedut Wajahnya membeku. Berusaha keras menghindari tatapan maut Qiara.             “Musa, Lo udah punya rumah baru?” Tanya Jio berusaha keluar dari jaring laba-laba yang menjeratnya. Pun Qiara, Anya dan Ziyan menggeleng heran sambil mengedikkan bahu.             “Udah.. gua udah pindah semalem ke apartemen di Sudirman” Musa menjawab santai sambil mencocol kentang goreng ke saus keju.             Mendengar kalimat itu, Qiara yang sedang asyik mencecapkan makanan di dalam mulutnya mendadak nyeplos bersama sikap cueknya “Sudirman? Deket rumah gua dong”.             “Emang.. samping unit lo” Balas Musa asal-asalan. Mulutnya sedang beradu dengan makanan.             “Hah?!!!” Qiara yang terkenal cuek dan datar mendadak ekspresif. Ia sampai bangkit dari duduknya dengan mata membulat. Menghentikan aktifitas mengunyah. Hening beberapa saat sampai akhirnya ia menelan makanan dalam mulut “Disamping unit gua?! Kita tetanggaan?!” Sebenarnya ia tak perlu bertanya. Ini hanya pengulangan untuk memastikan apa yang di dengarnya tak salah.             “Kemarin siang udah deal, semalem gua nyicil mindah barang” Sambung Musa lagi.             Qiara masih mengambang sembari mengulas apa yang terjadi semalam “Pantesan semalem ada rame-rame. Taunya---” Ia nyaris tak sanggup melanjutkan kalimatnya “Wah!!! L-lo.. wah!!” Qiara menggeleng, bangkit dari duduknya “Parah lo, Musa!”.             “Apakah ini takdir? Apa harapan gua di masa lalu akan terwujud?” Jio terperangah saat menanggapi situasi tak terduga ini “Yang satu jomblo.. yang satu lagi duda” Ia mengarahkan tangannya ke arah Qiara dan Musa bergantian, lalu segera menutup mulutnya yang sejak tadi terbuka lebar. Begitu pula kagetnya Anya yang juga satu pemikiran. Tapi berbeda dengan Ziyan yang menyingkapkan rona datar dan kaku dari wajahnya. Banyak pikiran yang beterbangan di kepala mama-boy.             Mengetahui tatapan mengintimidasi dari Qiara, Musa kembali bersuara “Ayolah.. gua lagi kesepian, Qi. Mau pindah kemana lagi? Kalau di dekat Ziyan, mana mampu beli, gua? Gua cuma butiran rinso.  Isinya aja sultan semua di kompleknya. Di komplek Anya, udah nggak ada yang available. Mau nebeng di tempat Jio nggak boleh ama dia”.             “Ye kali.. gua kan tinggal ama adik cewek gua” Tambah Jio.             “Ok, kan, Qi?” Musa membuat ‘o’ dengan jarinya, menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya, seolah sedang merayu Qiara agar bisa menjadi tetangga yang baik.             “Wah?! Gue sama sekali gak pernah bayangin ini semua” Qiara memegangi kepalanya dengan dua tangan “Tapi gak masalah.. gue suka” Ia lantas menahan senyum, membuat semuanya saling bertatapan mengerutkan kening.            Qiara meredupkan senyumnya “Jangan salah paham! Gue terima apapun untuk kebahagiaan sahabat gue”.             “Sayang Musa!” Jio yang sejak tadi duduk di punggung sofa langsung menarik Musa kedalam pelukannya dari belakang, atau yang lebih dikenal dengan back hug.             Musa sempat meronta, terlebih Ziyan juga menerjangnya, memberikan pelukan yang tak kalah manisnya. Sedangkan Qiara dan Anya tertawa renyah menyaksikan kehangatan ini, kemudian mendekat ke arah mereka dan bersandar di bahu Musa.             Sahabat sejati selalu memiliki caranya sendiri untuk membuat kesedihan dan kerapuhan itu lenyap. Bahkan tanpa melakukan apapun, dengan kehadiran mereka disisi kita sudah mempu memijarkan sebuah kebahagiaan dalam relung hati yang memurungkan jiwa.             Sahabat akan ikut teriris bilamana salah satu diantara mereka ada yang mengurai tangis. Namun sahabat juga yang pertama kali meraih tangan dan mengangkat lebih tinggi untuk kembali bangkit dan menjadi manusia yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.             “A-any-nya” Musa kesulitan berucap lantaran pelukan Jio dan Ziyan yang terlalu erat “M-makasih u-udah ngebongkar kedok Meira” Semu terbelalak. Jio dan Ziyan merenggangkan pelukan itu. Qiara juga tak lagi bersandar. Saling memandang satu sama lain, membutuhkan penjelasan. Terima kasih telah membaca! ~Gomawo~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN