5. Antah Berantah

1908 Kata
            Habis gelap terbitlah terang. Sebuah buku yang dituliskan R.A Kartini adalah gambaran dari situasi Qiara saat ini. Ia seolah mendapat cahaya bulan purnama di malam yang gelap. Rasanya sangat bahagia saat teman-teman menyambut dikala lelah menggelayut.              Menghabiskan waktu berjam-jam di dalam operasi adalah hal gila. runag yang tertutup, bertarung melawan waktu ditemani oleh cairan merah yang memuakkan pandangan. Belum lagi leher yang kaku. Percayalah, menjadi seorang dokter bedah bukan perkara mudah. Bahkan tak sedikit yang mengalami trauma.             Lantas apa alasan Qiara bisa bertahan? Mereka. Sahabat adalah alasannya untuk tetap bertahan. Kekuatan dan ketangguhan itu hadir diantara mereka.             Terlebih, Qiara adalah ratu. Semua sahabatnya itu akan selalu memberikan perhatian lebih, serta menuruti perkataannya dengan senang hati. Lantas bagaimana dengan Anya yang juga perempuan diantara lima sekawan itu? Anya punya jiwa yang kuat. Ia lebih dewasa dan sudah menjadi ibu diantara lingkar persahabatan itu sendiri.             “Mama-boy!” Panggil Jio pada si anak mami—Ziyan, ditengah aktifias makannya. Ia teringat sesuatu.             “Apaan?” Balas Ziyan meneguk air mineral, lalu kembali asyik bermain game.             “Kayanya si Keysha suka ama lo, deh” Ceplos Jio sembari mengingat raut wajah setiap menemukan Keysha dan Ziyan dalam satu waktu, seperti tadi. Kalimat itu membuat Musa membelalak, sedang Qiara hanya fokus dengan apa yang ia makan.             “Halah! Nggak mungkin” Balas Ziyan juga tak peduli.             “Keysha siapa sih?” Tanya Musa berusaha mengais asumsi “Keysha yang cantik itu? Spesialis mata?”.             “Iya. Cantik banget, kan dia” Jawab Jio.             Musa menghentikan aktifitas makannya, sedang berpikir sejenak “Wah.. bagus tuh.. sikat, bro!”.             Ziyan berdecak. “Apaan sih.. nggak jelas banget”.             “Yah.. yah... kalah kan gue” Rengek Ziyan setelah mendapatkan kekalahan di permainannya “Gara-gara kalian, sih!”.             Musa masih membayang "Bayangin dong sosok Keysha.. dia primadona rumah sakit ini! Eh, bahkan dari dia di UGM dulu, dia udah jadi primadona. Cantik, putih, tinggi, matanya coklat, pinter, tajir pula! Sepadan banget sama lo, Zi!".             “Gini.. gini.. Lo tuh yang peka dikit napa, Zi. Cewek itu ditakdirkan sebagai makhluk penuh teka-teki” Tukas Jio kembali melanjutkan topik pembicaraannya.             Ziyan terkesiap, ia lantas terkekeh “Ngaca, dong! Lo kaya udah peka aja. Perjaka tua tau apa, sih?”.             “Kurang asem lo!” Hardik Jio.             “Tapi bener, sih.. Keysha itu udah mepetin lo sejak lama, kan? Peka, dong, Zi!” Qiara ikut angkat suara sembari menggigit pizza.             Ziyan menghentikan aktifitas bermain game-nya. Menatap perempuan mungil yang masih terus mencecapkan mulutnya dengan roti khas Italia itu “Lo sendiri, gimana? Emangnya lo udah peka?”.             Pizza yang hendak mendarat di mulutnya mendadak terhenti “Lo ngomong ama gua?” Pun Ziyan mengangguk pasti. Qiara mengulum bibir sejenak “Hmm.. I don’t sure. Gue jalanin aja hidup apa adanya” Katanya, kemudian kembali asyik pada makanannya.             Entah mengapa jawaban dingin yang seolah tak peduli dari sosok Qiara menggoreskan kekecewaan dalam hati Ziyan. Dalam hati terus membatin banyak kata. Hati dan pikiran sedang beradu tak selaras. Semuanya terasa abstrak. Hatinya seolah sedang mengembara ke antah berantah. Berlayar tanpa peta. Semua tak berujung.             “Nggak usah nanyain tembok. Dia mah nggak akan peduli, buktinya dia juga belum nikah” Semprot Musa memecah keheningan Ziyan.             Tanpa ada yang tau, Qiara menunduk sembari membasahi bibir bawahnya penuh gelisah. Setelah acara makan-makan usai, Qiara—si galak itu langsung mengomando kawan-kawannya untuk membereskan sampah, terlebih kali ini ruangannya yang menjadi rumah makan.             Jio menyudahi waktunya untuk kembali bekerja di klinik. Kini hanya tersisa Qiara, Musa dan Ziyan disana. Ziyan si gamer itu asyik bermain permainan online di gawainya. Sebenarnya Musa juga gamer gila seperti Ziyan, tapi kali ini, ia sedang fokus membahas jadwal operasinya dengan tim melalui telepon. Sementara Qiara sedang membersihkan wajahnya yang begitu kusam di depan cermin. Bando lucu itu melingkar diatas hijabnya.             Musa mendengus kasar setelah menutup pembicaraan tersebut. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu “Qiara, Lo kemaren sempat nanganin pasien tapi dia gak punya biaya, kan?”             “Ho’oh” Balas Qiara sambil menepuk-nepuk wajahnya dengan essance.             “Terus gimana? Pake BPJS?”.             “Bukan. BPJS mah ribet, trus juga nggak seratus persen gratis, kan? Cuma potongan aja. Fasilitas juga tergantung kelas yang diambil” Jelas Qiara menghentikan aktifitasnya di depan cermin. Ia mengambil ponselnya “Coba gue kirimin nomer ke lo”.             “Nomer siapa? Indonesia Peduli Group?” Tanya Musa bingung setelah menerima nomor tersebut “Ini semacam yayasan gitu, ya?”.             “Nggak tau sih. Mungkin semacam yayasan gitu. Dia udah biasa ngebantu segala pasien yang kekurangan biaya berobat dan operasi, bahkan sampai seratus persen”.             “Serius lo?” Musa membalalak.             Qiara mengangguk “Gue udah beberapa kali pakai bantuan dia. Tanya aja mama-boy, katanya dia masih ada kerja sama gitu sama Papah Fardan”.             “Woi!” Musa menyentil Ziyan yang masih asyik bermain “Beneran tuh kata nyai?” Ziyan hanya mengangguk tak peduli “Bagus deh.. btw persyaratannya ribet, nggak? Apa harus ada spesifikasi atau kualifikasi tertentu?”.             “Nggak ada. Semuanya bisa dibantu” Qiara beranjak dari tempat duduk, mengambil air mineral dari dispenser “Tinggal kasih data diri pasien lengkap sama riwayat sakit doang”.             “Ok. Gue mau siap-siap dulu, nih” Musa beranjak.             “Musa!” Qiara menghentikan langkah lelaki berparas menggemaskan itu.             Musa berbalik “Apaan?”.             Qiara menimbang banyak hal dalam kepalanya. Pipinya mulai bersemu kemerahan. Detik selanjutnya ia menampakkan senyuman innocent-nya “Hehehe.. Gak jadi deh”. “Issh!” Baru sekali melangkah, ponselnya kembali berdering. Namun kali ini berbeda, matanya nampak berpijar. Dengan semangat ia menerima panggilan tersebut.             “Assalamu’alaikum, honey” Jika sudah seperti ini, pasti panggilan dari sang istri. “Sekarang? Wahh.. okey.. aku kesana”.             “Ngapa? Bini lo kemari?” Selidik Qiara sambil meneguk segelas air.             Gurat rona bahagia itu terpancar jelas di wajah Musa “Ngajak dinner. Gak biasa banget, biasanya mah lembur mulu dia. Gue cabut!”.             Ia bergegas beranjak dari tempatnya berpijak untuk menemui wanita paling dicintainya itu. Musa mempercepat langkah sembari tak kuasa menahan pipinya yang bersemu merah setiap kali hendak bertemu dengan istrinya, meski sudah dua tahun pernikahan. Pasalnya, keduanya memang jarang bertemu karena pekerjaan masing-masing.             Setelah mengganti pakaiannya menjadi sangat rapi, tak lupa Musa menyemprotkan parfum kesukaannya. Di dalam mobil, ia sempatkan memeriksa penampilan lagi sebelum bertemu dengan Meira di salah satu restoran mewah yang terletak di salah satu hotel berkelas. Sepanjang langkah, ia bernyanyi kecil.              Seperti berkelana di Negeri Dongeng. Dicecap hati tak sabar saat mendapat perlakuan nan romantis dari istri tercinta. Seperti akan menjadi malam indah bagai kamelia yang bermekaran cantik di langit musim semi.             Kemeja putih bergaris tipis, celana krem dan sneaker putih terlihat begitu cocok sebagai look makan malam yang casual tapi tetap elegan. Musa yang nampak baby face itu menjadi semakin maskulin. Dokter satu ini rupanya menyimpan banyak pesona.          Setelah melihat aura kecantikan sang istri, ia segera menghampirinya di tempat paling ujung, tepat disamping jendela maha besar yang menampilkan gemerlap Kota Jakarta.             Wanita anggun dengan berbalutkan dress dengan warna putih tulang, beserta rambut panjangnya yang tergerai itu duduk sembari menunduk.             “Kamu udah nunggu lama?” Tanya Musa mengambil tempat dihadapan sang istri “Woah.. kamu pinter banget cari tempat romantis” Ia menerawang ke segala sudut ruangan yang megah, namun tak ada respon lebih dari sang istri.             “Udah lama banget kita nggak ngadain romantic dinner kaya gini. Maaf ya, sayang” Sambung Musa lagi.             “M-musa” Panggil Meira sedikit ragu. Pun Musa sedia menanti kelanjutannya, sampai akhirnya Meira memberanikan diri menatap suaminya “Aku mau kita bercerai”.             Musa mendadak kaku, selanjutnya ia berusaha tertawa “Apa sih.. nggak usah nge-prank. Pamali tau!”.             “Aku serius, Musa” Katanya lagi berusaha meyakinkan. Pun Musa menghentikan tawanya berusaha menyimak “Aku sudah nggak bisa menjalani ini semua. Aku terlalu buruk buat kamu, maaf” Air mata Meira jatuh perlahan melewati pipinya.             Musa masih bergeming, berusaha mencerna situasi yang ada. Ia membeku, menatap lurus tepat di bola mata hitam milik Meira. Dunianya seolah berhenti berputar. Napasnya terasa begitu sesak. Sesuatu menikam disana. Berkelana ke antah berantah, berharap semuanya hanyalah mimpir buruk.             “Tolong ceraikan aku, Musa!” Meira memohon.             Ya, terkadang manusia memang hidup di dalam kerajaan mimpi. Musa menyipit bersama asumsinya “Kamu... mencintai orang lain?”.             Meira menarik satu napas berat “Aku akui aku salah...” Ia mengarahkan pandangan ke perutnya. Memberikan usapan disana “Aku benar-benar nggak punya pilihan lain karena semua sudah terjadi”.             Musa yang masih merasa kosong itu terkekeh sembari menggabungkan seluruh petunjuk yang ada “Jadi, itu yang kamu lakukan selama aku nggak ada di rumah. Selama aku ada operasi, selama aku membantu menyelamatkan nyawa orang, selama aku mencari nafkah, bahkan di tengah malam?”.             Musa memperhatikan pergerakan Meira yang sedang mengusap perutnya “Kamu hamil?” Ia terkekeh lagi “Apa ini cara kamu menginginkan seorang anak? Padahal Allah sedang menyuruh kita untuk ikhtiyar dan bersabar”.             “Sebenarnya aku nggak ada niatan untuk seperti itu, tapi aku nggak tau kalau akhirnya aku melewati batas” Jelasnya lagi di tengah tangisnya “Maafin aku, Musa. Aku sebenarnya nggak mau mengakhiri semua ini begitu saja, tapi setelah aku pikir, aku pantas mendapatkan semua ini”.             Rahang Musa nampak mengeras. Wajahnya terbakar. Sosoknya yang terkenal lawak mendadak berubah seratus delapan puluh derajat “Penghianat!” Sarkasnya sembari mengepalkan kedua tangannya "Apa kamu nggak tau? akad yang kuikrarkan di depan ayahmu itu bukan candaan, Mei! Aku sedang berjanji sama Allah".             Meira menangis "A-aku tau, Musa. Aku tau".             "Tapi kenapa---" Musa kehilangan kata-katanya. Tenggorokan terasa kering.             "Aku kelewatan. Aku salah. Makanya aku mau minta maaf dan biarkan aku yang menanggung smeua ini" Meira tersedu penuh sesal.             Musa mengusap wajahnya berkali-kali "Yaa Allah... apa salahku sehingga semua ini bisa terjadi?".             "Kamu nggak salah, Musa. Kamu orang baik. Ini salahku".              “Ternyata kita nggak selevel ya, Mei” Ia lantas terkekeh, masih tak mempercayai situasi yang terasa asing baginya dan sama sekali jauh dari apa yang ada di pikirannya.             Musa benar-benar hancur. Ia menjerit dalam hati. Apa ini cara Meira membalas ketulusannya? Bahkan memori dimana keduanya pertama kali bertemu di kampus dan segala perjuangan Musa untuk meminang Meira kembali mendominasi otaknya.             Kala itu, Musa hanyalah mahasiswa kedokteran biasa yang tak sengaja bertemu di perpustakaan dengan si cantik dan idola banyak orang, Meira. Paras dan prestasi yang sejalan, membuat Musa sempat ingin mundur, namun 'Halaman Belakang Squad' selalu memberikan semangat untuk tetap percaya diri demi mendapat cinta sang ratu.             Beberapa kali penolakan sempat diterima Musa. Sebab, Meira sedang menggandeng pria lain. Namun cinta dan keyakinan Musa begitu besar dan tanpa babibu, ia langsung menghampiri ayah dari Meira yang merupakan seorang panglima TNI.             Sempat dicaci sebab Musa masih belum lulus dari kedokteran. Musa belum punya apa-apa. Tapi ia tetap berjuang. Setelah mendapatkan gelar dokter spesialis, dengan cepat ia kembali datang bersama niat baiknya pada kedua orang tua Meira. Perjuangan yang panjang bukan?.              Sebuah malam yang agaknya dikiaskan sebagai musim semi dengan bunga kamelia yang bermekaran, kini justru harus menjadi guguran daun yang lekas meninggalkan tangkainya menuju musim dingin, tanpa ada yang menghangatkan.             Malam yang menyakitkan.             Keharmonisan dan keromantisan keduanya selama dua tahun menjadi pasangan suami istri, tak seindah akhir dari perjalanan cinta mereka. Semua harus kandas karena sebuah penghianatan. ___________ Meira: Kim Hye Yoon
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN