4. Keputusan

3793 Kata
“Menjadi seorang dokter adalah tentang keputusan. Setiap hari adalah keputusan. Bahkan, nyawa pasien ada pada keputusan seorang dokter” ***             Dokter Akmal—dokter ahli bedah transplantasi, mengajak dua dokter residen bedah untuk sarapan bersama di kantin spesialis. Lebih tepatnya mentraktir makan bersama. Ralat, mungkinkah makan siang? ini sudah pukul sepuluh, terlalu terik untuk sarapan. Semalam mereka tergabung dalam satu tim untuk mengoperasi pasien transplantasi organ.             Dokter Rania—dokter residen bedah umum tahun ketiga itu memilih tempat di bagian tengah. Kini ketiganya sudah duduk saling berhadapan bersama Dokter Ridwan juga. “Makan yang banyak!” Seru Dokter Akmal yang disambut semangat dari Rania dan Ridwan. Baru saja hendak mengigit roti, tiba-tiba Rania mematung. Matanya terfokus pada meja diujung sana. “Kenapa?” Tanya Ridwan. “Oh!” Sadarnya “Eungg.. Nggak apa-apa. Cuma seru aja gitu ngeliat mereka”. Pun Dokter Akmal dan Ridwan menoleh bersamaan, menemukan keributan yang disponsori oleh Musa yang berseragam operasi serba biru. Ia tiba-tiba datang menghampiri Qiara, Anya dan Jio yang sedang sarapan. Musa yang hendak mengoperasi itu mampir untuk meneguk s**u kotak stroberi Qiara secara tiba-tiba. Sudah jelas respon dari perempuan itu tak baik. Ia mengomel pada pria tengil itu sembari melayangkan pukulan seperti biasanya. Rania, si dokter ayu nan manis dalam balutan tudung islami yang selalu berpenampilan chic itu tertawa renyah “Lucu banget, ya. Lagian usil juga Dokter Musa, udah tau Dokter Qiara horor”. “Horor tapi imut” Ceplos Ridwan. Dokter Akmal berbalik “Makin rame karena semuanya kumpul di rumah sakit ini”. “Dokter Akmal satu angkatan sama mereka, kan?” Selidik Ridwan “Katanya mereka populer banget waktu kuliah. Suka nge-band, suka main theater, berprestasi juga”. Dokter Akmal mengangguk “Halaman belakang squad itu emang paling populer” Mendengar kalimat itu, keduanya semakin terpikat untuk mendengarkan lebih jauh “Halaman belakang?”. “Iya. Itu gara-gara markas mereka di halaman belakang rumah Ziyan” Jelas Dokter Akmal “Tapi mereka juga terkenal solid sejak dulu. Walaupun mereka suka ribut kaya gitu, tapi mereka saling mempedulikan satu sama lain”. “Wah! Keren ya” Ucap Rania dan Ridwan kompak. “Dokter Akmal” Panggil Ridwan yang disambut dengan anggukan pria berkulit tan itu “Dokter Qiara kan, dingin banget ya.. datar aja gitu.. kira-kira ada tips buat bikin beliau menjadi lebih hangat gak?”. “Eh, Dokter Qiara teh sebenarnya hangat loh” Sargah Rania dengan dialek sundanya yang disetujui oleh Dokter Akmal “Aku pernah ditraktir beberapa kali, tapi sekedar beliin makanan doang, gak ada ngobrol yang gimana-gimana gitu”. “Bener. Qiara itu hangat, tapi dengan caranya. Baik kok dia” Kata Dokter Akmal membenarkan. “Tapi sebagai junior, kita kan pengen gitu bisa dekat, bisa merasakan kehangatan seorang senior panutan seperti Dokter Qiara” Tutur Ridwan lembut, menjaga sopan dan santunnya. “Siram air panas aja biar anget” Celoteh Dokter Akmal yang dihadiahi tawa puas dari Rania. Pun Ridwan hanya bisa memurungkan wajahnya. “Assalamu’alaikum” Dokter Aisyah meletakkan nampan di meja dan mengambil kursi disamping Rania untuk bergabung. “Wa’alaikumussalaam” Jawab yang lain kompak. “Ngobrol apa nih? kayanya rame” Aisyah lantas menatap ketiganya satu persatu berselimut penasaran. “Lagi ngebahas rumput tetangga” Bisik Rania yang disambut anggukan kepala Aisyah. “Kenapa? Lo mau nanya tentang Jio?” Tanya Dokter Akmal seolah mampu membaca pikiran Aisyah. Perempuan berambut ikal itu tertawa malu-malu sembari mengibaskan jemarinya ke sekitar wajahnya “Tau aja sih, dok”. “Lo udah nanya dari kemaren tentang dia”. “Iya” Wanita bermata bulat itu meringis, menyilakan helaian rambut ke belakang telinga “Lagian beliau tuh terlalu profesional banget dan jaim abis sama kita-kita, helloooo~” Gerutu Aisyah geregetan. Ia juga ingin mengenal dekat sosok Jio. “Dok, saya permisi duluan, ada panggilan dari IGD” Kata Ridwan, pria berdarah Pakistan-Indonesia itu setelah sempat menerima telepon. Semuanya menoleh berjamaan ke arahnya memberikan semangat “Good Luck!” Kini hanya tersisa dua wanita yang sangat antusias menanti Dokter Akmal berkisah. Keduanya kembali fokus pada sosoknya. “Mereka beneran punya bakat nge-band?” Tanya Aisyah masih penasaran seraya menirukan gaya orang bermain gitar. Dokter Akmal meneguk orange squash sebelum berucap “Bukan berbakat, tapi nekat” Rania dan Aisyah menyipit berjamaah. “Iya. Dulu waktu kuliah ada semacam kontes band antar kampus se-JABOTABEK. Dengan ke-nekatan yang mereka punya justru membawa keberuntungan” “Mereka juara?” Selidik Rania menggebu-gebu. Dokter Akmal meletakkan gelas ke meja setelah meneguknya “Pastinya. Semua itu bukan karena bakat tapi karena nekat dan ke-solidan mereka sebagai kelompok”. Rania dan Aisyah terlihat takjub. Kemudian Rania menyambung “Apa sampai sekarang mereka masih suka nge-band?”. Dokter Akmal mengedikkan kedua bahunya “Kurang tau. Yang jelas sejak intern, mereka udah hiatus gitu karena udah pada sibuk sama urusannya masing-masing”. Membicarkan lima sekawan itu memang tak ada habisnya. Kenangan itu terlalu panjang untuk dikisahkan, terlebih jika harus membahas satu persatu dari setiap personil, itu akan semakin panjang. Tapi, semua itu tak melunturkan rasa penasaran Rania dan Aisyah. ^^^ Qiara, Anya dan Jio sedang asyik menikmati roti beserta s**u sambil mengobrol ringan. Keadaan sudah tak lagi gaduh lantaran Musa sudah pergi untuk operasi. Mereka menceritakan banyak hal, mulai dari kegiatan di rumah sakit hingga keluarga. Kebetulan, Ziyan masih membuka praktik sehingga ia tak bisa bergabung. “Lo abis ini mau kemana, Nya? Main sama Choki?” Tanya Jio, lalu mengunyah rotinya. Anya menggeleng “Gue mau belanja bulanan ama Choki”. “Wah, seru ya!” Ucap Jio membayang karena dirinya baru membuka praktik di rumah sakit pukul satu siang. Ia mendengus kasar “Abis ini gue masih praktik, nanti sore juga praktik lagi di klinik, besok gue dinas ke Bogor”. Sejak awal, cerita Anya dan Jio memang paling mendominasi. Qiara hanya makan, makan dan minum. Ia sudah menghabiskan empat bungkus roti dengan rasa yang berbeda-beda. Dua s**u siap minum dan satu es krim. Kini, ia tengah melahap roti milik Jio yang tak lagi dimakannya. Drrt.. Drrt Qiara tersedak saat merasakan getaran disaku jasnya. Mulutnya yang masih penuh makanan itu sedang tergesa-gesa untuk menelannya sembari mengangkat ponsel dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya memegang roti. “Halo?” Jawabnya, lalu hening sambil menyimak panggilan tersebut. “Tertancap besi panjang dan beton disisinya sampai tembus?” Qiara mengulang lagi ucapan Ridwan dengan datar dan santai yang disambut teriakan ngeri dari dua teman di hadapannya. “Iya, dok. Tadinya saya panggil Dokter Harun, tapi beliau sedang ada jadwal operasi, harus menunggu lima belas menit lagi”. “Ok, Tolong stabilkan FAST[1]-nya, saya kesana sekarang!” Qiara memutus panggilan sepihak. “Gila?! Nancep? Nembus perut gitu, Qi?” Anya masih tak bisa membayangkan kengerian itu sambil memperagakan bagaimana benda ketika tertancap hingga menembus perut. Qiara mengangguk sekilas dan langsung pergi meninggalkan sisa rotinya di meja. Pun Anya dan Jio yang saling berhadapan, bergidik ngeri. Keduanya sama sekali tak bisa membayangkan bilamana menjadi seorang ahli bedah umum. Cukup baginya sebagai dokter spesialis non bedah. Hanya orang-orang antik yang bisa mengambil spesialis bedah. ^^^ Setelah menelepon atasannya, Dokter Ridwan segera melakukan pengobatan awal untuk pasien yang merupakan pekerja bangunan tersebut. Para perawat membantu memasang infus dan yang lainnya. Ridwan yang merupakan dokter residen tahun ke empat itu mendadak gugup saat harus menangani kasus pasien yang tak biasa ini. Sembari mengatur pernapasan, pria berkulit kuning langsat itu mengambil senter, memeriksa bagian mata, memasang beberapa alat di d**a setelah pakaiannya sudah di robek. Dokter Indah yang merupakan dokter jaga IGD juga turut membantu memberikan obat merah pada bagian luka. Semua bergerak cepat. Suasana menjadi sangat rusuh dan bising. Banyak orang yang menyaksikan kejadian ini di luar ruang hibrida. “Dokter Qiara!” Seru Dokter Indah heboh di tengah aktifitasnya mengobati pasien seolah baru saja mendapatkan sebuah keberuntungan berlebih. “Vitalnya?” Tanya Qiara sembari mengenakan gloves. Ia bergerak begitu cepat, tak ingin menunda waktu. “Tekanan darahnya berada pada 119. Denyut nadi, 130. Tidak ada perdarahan yang berlebih” Jelas Ridwan sembari bergetar. Ia masih dirundung kecemasan. Antara yakin atau tidak dengan keputusannya. “Minggir!” Teriak Dokter Dion sembari mendorong monitor ke ruang hibrida membelah kerumunan. Pun kejadian yang tak terduga terjadi.. Dion yang sedang membawa monitor yang cukup besar dan berat itu tak dapat melihat arah depan dengan baik, ia juga sedang terbawa suasana sehingga ia terburu-buru dan pada akhirnya... Bug! Monitor tersebut menabrak salah satu suster. Suster itu tak bisa menahan diri. Tangannya tak sengaja menyenggol besi panjang yang tertancap dalam sisi perut pasien hingga benda tersebut terjatuh begitu saja dilantai, terlepas dari perut pasien. Semua mata membelalak panik bersamaan dengan darah yang mencuat begitu banyak dari sisi perut yang berlubang akibat bekas besi yang tertancap tadi. Dokter Indah segera menutup bagian pendarahan dengan tangannya. Semua itu terjadi begitu saja. Dengan sigapnya, para perawat membantu menyumbat pendarahan dengan kain kasa. Pun Ridwan membeku. Wajahnya dipenuhi oleh cipratan darah. Tangannya bergetar. Matanya tak mampu lagi berkedip. Dunianya seolah berhenti begitu saja. Semua yang ada di otak seolah memudar. Ia bahkan tak bisa mendengar semua orang yang sedang memanggilnya untuk membantu menyelamatkan pasien. Kehebohan itu terasa sunyi. Panggilan dan teriakan Qiara seolah hanya bisikan. Kini ia sadar, bahwa ia tak bisa melakukan apapun. “BP-nya menurun dengan sangat cepat!” Dokter Indah kembali heboh. “Oksigen!” Teriak Qiara memerintah. “Intern!” Dokter Dion memanggil dokter magang “Ambilkan lebih banyak kasa!” Pun para dokter magang juga turut bergerak cepat. Situasi semakin menegangkan. “Ridwan!!!” Teriak Qiara lagi untuk yang kesekian kalinya “Dalam situasi seperti ini kamu masih diam? Kamu dokter, bukan?” Kini Qiara sedang bersiap. Ia mengambil baju operasi yang kemudian dibantu oleh Suster Fira. Lagi-lagi Ridwan mati gaya. Ia benar-benar tak bisa bergerak. “Tolong bilang ke mereka, kita perlu draper” Titah Qiara tak memandangi lawan bicaranya. Ia masih fokus dengan apa yang harus dilakukannya. Mengambil gunting dan kembali membuka kasa yang sudah dililitkan ke tubuh pasien. “D-dokter Qiara?” Semua mendadak heboh. Pasalnya kain kasa yang berfungsi untuk menghentikan pendarahan hebat itu justru dibuka kembali. Qiara berucap sambil tetap fokus memotong kain kasa yang sudah terlanjut terlilit tebal “Jika seperti ini, dia bisa melukai aorta toraks-nya. Kita gak punya waktu lagi” “Gila! Lo mau buka disini? sekarang?!” Dokter Dion masih tak bisa mencerna dengan baik. Pikirannya dipenuhi dengan kekacauan. Qiara tak ingin menjawab. Ia bergerak cepat seperti seorang dokter profesional. Karena jika terlambat sedikit, pasien akan memiliki pendarahan internal yang cukup banyak. Jadi, Qiara melakukan yang terbaik untuk mengalirkan penumpukan darah. Para suster segera menututp bagian perut yang lain dengan kain khusus demi melancarkan aksi heroik Qiara. “Berikan aku kain kasa yang banyak!” Perintahnya lagi. Selanjutnya ia mengambil pisau bedah dan memulai pembedahan darurat. Banyak wali pasien yang penasaran dengan kehebohan ini, para dokter magang berusaha keras untuk membuat mereka beralih, namun itu tak mudah. Semuanya mendadak kepo akut dengan insiden paling heboh ini. Perlahan dan sangat hati-hati, penuh ketenangan dan menyebut nama Allah dalam hati, Qiara memasukkan telunjuknya ke dalam. Semua mata memandangnya dengan tatapan kacau dan heran, semua menjadi satu. Tubuhnya sedang dibanjiri keringat maha dahsyat. Sesekali ia memejam untuk menetralkan suasana. Dokter Harun yang baru saja menyelesaikan operasinya langsung mendatangi ruang hibrida, masih dengan setelan serba biru, bahkan topi pelindung yang digunakannya saat operasi juga masih melekat. Ia sengaja mempercepat operasinya demi panggilan darurat ini. Namun fokusnya pecah saat menemukan aksi Qiara yang terbilang cukup berani. Ekspresi wajahnya boleh datar, tapi hati dan pikiran dokter berhijab itu sedang berkecamuk. Membiarkan wajahnya penuh oleh cipratan darah, pun begitu dengan kaca matanya. Ia memposisikan tangannya dengan baik di dalam sana. Menggunakan jari telunjuknya untuk menyumbat pendarahan pada arterinya. Semua merasakan ketegangan berlebih seperti sedang terombang-ambing di tengah lautan yang mengamuk bersama ombak yang bergelut. “Dapat!” Ucap Qiara datar setelah berhasil menemukan titik pendarahan. Seluruh penghuni ruangan membelalak. Tak terkecuali yang sedang berada di luar, termasuk Dokter Harun yang sudah terlanjur membeku. “Sepertinya itu arteri limpa, bukan arteri utama” Lanjut Qiara sambil merasakan apa yang diraba olehnya. Semua mata membelalak kala darah yang mengalir deras bak hujan di bulan desember itu mendadak menyusut secara perlahan. Tak ada lagi bercak merah yang kembali jatuh, seperti menutup keran air yang menyala. “Kondisi pasien sudah stabil, dok” Tutur Perawat Reza. “Alhamdulillah” Semua kompak berseru. Qiara menoleh ke arah monitor, memastikan pergerakan jantung dan nadinya. Saat semuanya terasa nyata dan pasien benar-benar stabil, Dokter tersebut menghembuskan napas begitu kencang. Rasanya seperti baru saja menyelesaikan permainan roller coaster tertinggi dan tercepat di dunia. Ia kembali memejam sejenak untuk menetralisir hati dan pikiran yang sudah terlanjur abstrak. “Ayo kita bawa ke OR!” Qiara menyerukan ultimatumnya setelah ia bisa bernapas normal. Semua penghuni ruang hibrida kompak medorong bangkar yang diatasnya terdapat pasien dan juga Qiara. Meninggalkan Ridwan yang sampai sekarang masih kehilangan akal. Pria itu masih gemetaran di tempat. Dokter berhijab tiga puluh empat tahun itu masih memegangi arteri limpa dengan jari telunjuknya sampai di OR nanti. Sepanjang bangkar itu berjalan, semua orang masih terus menyaksikannya, tak terkecuali Dokter Harun yang sedang melongo melihat aksi heroik Qiara yang luar biasa hebat. Pria itu tak bisa berkedip. Kali ini, ia benar-benar sedang dibuat takjub oleh alam semesta untuk menunjukkan eksistensi seorang Qiara yang pernah ia ragukan kualitasnya sebagai seorang dokter bedah umum. Qiara bisa mengambil keputusan dengan benar di tengah situasi yang tak bersahabat. Dengan keputusan itu, ia bisa menyelamatkan pasien. ^^^ Ziyan, dokter spesialis paru-paru super tampan itu mengarahkan stetoskop ke d**a pasien yang berusia 20 tahun. Ia nampak serius dalam aktifitasnya. Mengangguk paham saat menyadari sesuatu dari paru-parunya. Ziyan mempersilakan pasien untuk kembali ke tempat duduk bersama orang tuanya. Ia menjelaskan diagnosa secara perlahan sembari menunjukkan hasil rontgen pekan lalu, serta hasil pemeriksaan kultur BTA melalui sampel dahak sekaligus untuk mendeteksi keefektifan obat TBC yang akan digunakan, serta hasil tes darah dan juga CT Scan. Semua pemeriksaan itu dilakukannya demi mendapatkan diagnosa yang akurat. “Jadi, melalui rangkaian pemeriksaan yang sudah kami lakukan atas keluhannya, maka hasil menunjukkan bahwa Ananda Fatih usia 20 tahun mengalami TBC atau tuberkulosis” “Itu berbahaya gak, dok?” Sang ibu cemas. “Apa perlu sampai opname?” Mungkin ibu itu tak perlu bertanya, karena penyakit TBC sudah sangat familiar, namun tingkat kecemasan seorang ibu akan meningkat bila hal buruk menimpa buah hatinya. Ziyan tersenyum lembut, mengalirkan ketenangan disana “Jadi, TBC ini bisa disembuhkan dan tidak berakibat fatal bilamana Fatih mengikuti anjuran dokter” Hembusan napas lega dari pasien beserta walinya itu terdengar menyeruak. Ziyan kembali menyambung “Sebenarnya prinsipnya mudah.. hanya perlu patuh pada dokter untuk rutin memngkonsumsi obat”  “Ah~ itu mah gampang” Ceplos sang ayah sembari mengusap bahu putranya. “Memang gampang, Pak. Tapi perlu diketahui bahwa kegiatan yang banyak, apalagi putra bapak ini sedang kuliah, bisa saja melupakan kewajiban dia untuk patuh terhadap anjuran kami” Kalimat Ziyan bagai alarm yang memembangunkan kesadaran pasien beserta walinya. Kedua orang tuanyapun mulai memahami akan satu hal yang sangat remeh, namun berurjung fatal. Ziyan membenarkan posisi duduknya lebih tegap. Menyatukan kedua tangannya diatas meja. “Jika berhenti mengkonsumsi obat sebelum waktu yang dianjurkan, maka si TBC ini akan berakibat fatal dan sulit diobati, Pak, Bu, Dek”. Pun ketiganya mengangguk paham dengan penjelasan Ziyan. “Okey” Ziyan mengambil kertas dan menuliskan resep disana sambil kembali berucap ramah “Jadi, saya tuliskan resep obatnya” Ia kembali menghadap pasien dan walinya sejenak “Nanti bisa langsung diambil di depan”. “Baik, Dok”. “Untuk selanjutnya, Adik Fatih ini harus sering datang kemari untuk pemeriksaan rutin” Ziyan mengakhiri aktifitas menulisnya, kembali fokus menjelaskan “Seperti pemeriksaan dahak serta memantau keberhasilannya” Senyum dokter kelahiran ’85 itu begitu meneduhkan. “Terima kasih banyak, dok” Semuanya kompak berseru. Ziyan mengangguk “Sama-sama. Jangan lupa untuk taat peraturan, Fatih” “Siap, dok” Katanya, lalu berbalik bersama kedua orang tuanya untuk keluar ruangan. “Aduh!” Ziyan segera menyandarkan diri ke punggung kursi. Hari ini pasien lebih banyak, membuat badannya terasa sakit semua. “Sudah selesai semua, dok” Ucap Perawat Aldi. “Iya.. alhamdulillah” Balas Ziyan sambil memeriksa pesan masuk di ponsel bersamaan dengan suara pintu terbuka yang menyeruak. “Dokter Ziyan” Panggil seorang dokter berambut panjang kecoklatan dengan kulit putih bagaikan s**u. Ia nampak bersinar meski sudah sore. Dokter Keysha namanya. Seorang dokter spesialis mata. “Hmmm” Tapi Ziyan bergeming. Ia bahkan tak terbius dengan kecantikannya. Tetap fokus pada ponselnya. “Aku mau nebeng pulang, dong. Aku tadi buru-buru, jadi gak bawa mobil. Lagian rumah kita juga searah” Pintanya mendekati Ziyan “Sekalian makan bareng”. Ziyan memasukkan ponsel ke dalam saku “Ah~ gue ada---”. Belum sempat menjawabnya, Jio tiba-tiba datang dengan penuh kehebohan memecah suasana “Zi.. Zi.. Lo tau kehebohan di IGD?---” Pria berwajah indo dengan kulit sawo matangnya itu mendadak menghentikan kalimatnya saat menyadari ada Keysha disana serta perawat dan residen disana. “Oh, Keysha” Sapanya hanya sebagai formalitas yang disambut senyum super manis dari si cantik. “IGD emang selalu heboh, kan” Ziyan tak merasa heran. “Bukan” Jio menggeleng “Si Qiara sakit kayanya. Ayo ikut gua!” Ia menarik satu lengan Zian “Maaf ya, Key” Serunya pada Keysha membawa Ziyan keluar ruangan. “Kuli bangunan ketancep besi yang ada betonnya ampe nembus. Terus besinya kesenggol dan darahnya muncrat semua. Lo tau? Si nona judes berhentiin pendarahan pake telunjuknya” Celoteh Jio yang begitu takjub dengan tindakan Qiara. “Dibelek perutnya?” Kaget Ziyan. “Iya.. Parah tau tu cew---”. Semakin lama suara-suara itu semakin menghilang karena keduanya telah berbelok jauh dari ruangan kerja Ziyan yang kini hanya tersisa Keysha, Aldi dan satu residen. Pun Keysha sejak tadi sibuk menyimak kehebohan dua pria tesebut. “Woah?! Salut banget sama persahabatan mereka” Ceplos Aldi. Keysha mengangguk “Andai aku bisa menjadi bagian dari mereka” Gumamnya penuh harap akan sesuatu yang sedang tersirat dalam hati. ^^^ Ridwan masih mondar-mandir. Berjalan kesana kemari di depan ruang operasi. Ia terus-terusan menggigit jemarinya. Sesekali mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana tidak? ia seorang dokter, namun bertindak layaknya pecundang. Ketakutan dan penyesalan sedang bergelut dalam dirinya. Di depan ruang operasi terdapat papan digital yang bertuliskan data perihal operasi yang sedang dilakukan. Pun terpampang pula nama Dr. Qiara Shandriena, Sp.B, M.Ked sebagai pemimpin operasi disana. Tak disangka, setelah berjam-jam berlalu, pintu otomatis itu terbuka akibat sensor gerak dari langkah kaki Qiara yang akhirnya menyelesaikan operasi. “D-dokter Qiara” Panggil Ridwan gugup. Mata tajam Qiara seolah mampu menyayat jantung Ridwan, meski tanpa mengucap sepatah katapun. “Tolong maafin saya, dok. Saya tadi benar-benar kehilangan akal. Saya tidak tau untuk mengambil tindakan apa. Saya takut melakuk---”. “Untuk apa minta maaf?” Tanyanya datar. “Saya sama sekali tidak bisa membantu dokter dalam menangani masalah ini” Ridwan berucap sembari menahan ngilu di matanya. “Minta maaf-lah pada pasien jika sudah siuman. Mau kamu tidak bekerja, itu bukan masalah untukku, tapi masalah besar bagi nyawa pasien” Kata Qiara menarik satu napas begitu berat “Dokter itu bukan tentang seberapa pintarnya dirimu, tapi seberapa bisa kamu mengambil keputusan. Hidup dan mati seorang pasien memang berada di tangan Allah, tapi jangan lupa bahwa dokter adalah perantara untuk mewujudkan antara hidup dan mati itu sendiri”. Kalimat-kalimat itu bagaikan bom yang meledak-ledak di kepala pria pemilik berewok tipis itu. Ia seperti baru saja mendapatkan tamparan keras yang membangunkannya dari kebodohan, dari ketidaksadaran diri. Selama ini ia selalu mendapatkan nilai yang nyaris sempurna, namun semua seolah sia-sia hanya karena ia tak bisa mengambil keputusan dengan baik. Ridwan menunduk sembari membasahi bibir bawahnya “S-saya sama sekali belum pernah mendapatkan pasien yang seperti ini sebelumnya”. “Kamu pikir aku pernah?” Kata-kata Qiara terdengar ketus “Ini adalah kejadian yang tak terduga, Ridwan. Seorang dokter harus bisa menghadapi situasi apapun beserta keputusannya”. “Buka mata, buka hati, kembalikan niat awalmu untuk apa kamu menjadi dokter” Qiara mengepalkan tangan dan menepukkannya kencang di d**a Ridwan “Teguhkan pendirianmu. Jangan biarkan ketakutan menghalangi kita untuk berhenti berjuang. Berani bertindak dan mengambil keputusan adalah cara terbaik untuk melawan ketakutan” Perempuan mungil itu terus mendongak, menatap Ridwan yang jauh lebih tinggi darinya. Berucap dengan nada tegasnya.  “Aku tau kamu bingung tentang keputusan apa yang harus kamu ambil. Yakinkan dirimu bahwa ada nyawa yang harus diselamatkan. Menunda untuk mengambil keputusan adalah kesalahan besar seorang dokter” Ia menepuk bahu Ridwan kencang, seolah memberikan kekuatan disana sebelum ia pergi meninggalkannya. Entah mengapa perasaan tenang dan hangat itu mengalir cepat ke seluruh pembuluh darah Ridwan. Perasaan aneh itu sedang menjeratnya. Perlahan, ia mengarahkan tangannya untuk menyentuh bahunya sembari mengingat bagaimana Qiara memberikan energi disana. Detik selanjutnya ia menyunggingkan sebuah senyum yang tak lagi bisa ia tahan. Semua yang diucapkan Qiara begitu berbekas. Sorot mata tajamnya beserta kata-kata bijak dan tegas yang tersemat itu melekat bagaikan perangko dalam hati dan pikiran Ridwan. “Woy, Mak Lampir!” Teriak Musa sambil mengangkat empat kotak pizza yang bertumpuk di kedua tangannya. Pun disampingnya ada Jio dan Ziyan yang membawa minuman dan makanan lain. Wajah datar Qiara berubah menjadi berbinar. Langkah tegasnya juga berubah menjadi seperti anak kecil yang sedang berlari menghampiri kakak-kakaknya. Ia merubah ekspresi dinginnya menjadi menggemaskan. “Aww.. Pizza ang.. angg...” Qiara menyenggol satu lengan Musa seraya mengedipkan sebelah mata. “Dih!” Musa mengernyit melihat ekpresi imut perempuan berkaca mata itu, seperti bukan Qiara yang dikenalnya. Pun perempuan mungil itu tertawa renyah “Gini nih kalau ada maunya.. baik banget ama gua” Sambung Musa langsung memasuki ruangan Qiara bersama Ziyan dan Jio yang letaknya kebetulan tak jauh dari ruang operasi sambil membahas kejadian siang tadi, tertawa dan heboh bersama. “Gila, lo megang arteri pake tangan?”. “Telunjuk, Zi”. Pun Qiara hanya mengangguk santai menanggapi kedua temannnya yang heboh. “Eh, lo ngomelin anak residen, ya?”. Ridwan masih betah memaku di tempat. Dari ujung sana, ia tak bergeser walau se-sentipun demi menatap sisi lain dari seoang Qiara yang belum pernah orang tau sebelumnya. Ia juga bisa melihat kehebohan Qiara bersama teman-temannya sampai suara obrolan mereka perlahan menghilang seiring langkah kaki mereka yang memasuki ruangan. “Dia memang terkesan dingin, maka dari itu, kita harus tau bagaimana cara membuatnya lebih hangat. Lagi, dia adalah panutan yang luar biasa. Perempuan keren” Gumamnya dalam hati. Pipi Ridwan lantas bersemu kemerahan. [1] FAST : Sebuah metode untuk mendeteksi gejala stroke ___________ Dr. Akmal : Kai (EXO) Rania: Seulgi (Red Velvet) Ridwan: Lee Taeyong (NCT) Keysha: Lee Sungkyung Terimakasih telah membaca!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN