48. Rentang Kisah

2566 Kata

Qiara masih terdiam menatap layar laptop yang menyala dengan wallpaper jingga bernuansa senja. Ia tertegun dalam diam, tetapi otaknya sedang beradu menemukan jawaban atas kebimbangannya. Ada hal yang begitu mengusiknya setiap kali mengingat potongan percakapannya dengan Musa tempo lalu mengenai permintaan tolongnya untuk menghentikan keputusan Dokter Harun. Kakinya tak hentinya bergerak. Ia menggigit jemarinya sembari bergetar. Haruskah ia melakukannya, mengalah dengan melanggar prinsip hidupnya?. Haruskah ia membiarkannya pergi?. “Oke.. biarin aja.. semua ini keputusan dia. Gue gak ada hak buat ikut campur. Harga diri Qiara.. harga diri!” Qiara meyakinkan diri, kemudian berusaha menyibukkan diri dengan kembali fokus pada laptopnya. Detik selanjutnya, Qiara bisa merasakan hatinya tera

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN