13. Saturday Night

1971 Kata
Malam semakin pekat, para pasien yang semula melakukan pengobatan serta konsultasi bersama Ziyan di kliniknya, lantas berhamburan pulang secara bergantian. Tersisa satu pasien lansia yang masih dalam penanganan. “Jadi, Ibu sebelumnya belum pernah terkena sakit lainnya?” Tanya Ziyan disela aktifitasnya pada sang anak. “Alhamdulillah belum, Dok” Jawab anak laki-lakinya. “Maasyaa Allah.. sehat sekali, ya”. Di depan layar komputer yang menyala, Ziyan sedang fokus. Entah kenapa ketampanan dokter satu ini selalu tampak maksimal saat bekerja. Kaca mata yanag bertengger di batang hidungnya tak pelak membuat pesonanya semakin menawan, padahal semua itu terjadi secara alami. Ziyan kembali menghadap pasien dan walinya “Jadi.. dari hasil rontgen, ada gejala TBC” Ia kembali menatap komputer dan menunjukkannya pada mereka “Tetapi.. kita masih belum tau aktif atau pasifnya. Jadi, untuk mengetahui lebih lanjut, besok senin bisa temui saya lagi di Medical Hospital untuk tes mantoux”. “Prosedurnya seperti apa, Dok?”. “Tuberculin skin test atau TST adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui adanya paparan kuman TB pada tubuh” Ziyan menjelaskan dengan perlahan. Masih dengan nada berwibawa namun tetap hangat, Ziyan kembali menyambung “Tes mantoux dilakukan dengan cara menyuntikkan larutan tuberkulin di bawah kulit. Setelah disuntik, biasanya akan didiamkan hingga 48-72 jam untuk memperoleh hasilnya. Jika pada bekas suntikan muncul benjolan kurang lebih 10 mm, maka hasil tes dikatakan positif”. “Oh, begitu. Gimana, Bu? Nggak apa-apa, ya? kita besok ke rumah sakit” Tanya sang anak memastikan. “T-tapi sama Dokter Ziyan, kan?”. Senyum Ziyan kembali merekah “Iya, dong. Sama saya lagi. Jangan khawatir”. “Ya udah deh.. kalau sama Dokter Ziyan saya mau”. Ziyan tertawa, kemudian menulis resep di sebuah kertas. “Sebelum pulang—“ Ibu itu nampak kembali menimbang sesuatu “S-saya boleh minta tolong sesuatu, Dok?”. Dengan penuh sopan santun, Ziyan meletakkan sejenak pena dari tangannya “Silakan”. Ibu itu lantas mengambil sebuah ponsel dari tas dan memberikannya pada sang anak “Fotoin ibu sama Dokter Ziyan”. Sontak kalimat itu membuat seluruh penghuni ruangan mendadak membeku. Tercengang. Ya, sebetulnya mereka tak seharusnya kaget seperti itu, sebab hal serupa bukanlah pertama kali bagi Ziyan. Pun Ziyan sendiri hanya tertawa senang dan merespon dengan baik, tanpa memedulikan gurat rona canggung dari sang anak. “Ibu!”. “Nggak apa-apa, Mas” Ziyan menyergah “Tapi ibu harus semangat sampai sembuh dan bahkan setelah sembuh, ya?”. “Siap, Dok. Insyaa Allah”. Ziyan lantas berdiri, kemudian memposisikan dirinya tepat disamping Ibu Mutiara dan berpose dengan sangat manis. Nampak jelas wajah nanar penuh bahagia dari pasien tersebut. Pun Ziyan tak pernah sekalipun menolak permintaan pasiennya untuk berfoto bersama. “Oke.. cukup untuk hari ini!” Ziyan merenggangkan persendiannya. Beranjak mengambil jaket “Nanti habis beres-beres langsung pada pulang, ya. Istirahat”. “Siap, Dok!”. “Dokter mau pergi? Kan nanti ada temen-temen dokter yang lain” Celoteh Annisa. Ziyan memasukkan ponsel ke dalam saku “Iya, ini Anya ama suaminya mau jemput gue ke RS. Mau test drive mobil baru Jio, nanti kesini lagi” Ia berkelakar dengan meniru gaya orang mengemudi yang dihadiahi tawa para asistennya “Eh iya! Kenapa gue jadi cerita ke kalian? Pokoknya, gue pergi dulu, ya. Assalamu’alaikum!”. “Wa’alikumussalaam!”. “Wah.. gue bener-bener iri sama persahabatan mereka” Riky kembali berdecak kagum. “Iya. Hangat banget”. ^^^ Ting! Pintu lift terbuka. Ziyan dan Anya keluar dari sana. Berjalan bersama menuju tempat kumpul mereka. Ruangan Qiara sudah menjadi tempat nongkrong tersendiri. Pun Dimas sudah bergegas kembali ke rumah untuk menamin putra mereka, Choki—setelah mengantar Ziyan dan sang istri. Sesekali mereka tersenyum saat disapa para perawat, residen, intern ataupun sesama dokter. “Eh, Zi.. gue mau ke ruangan bentar. Ada berkas yang harus gue ambil. Mau masuk juga, nggak?” Tawar Anya saat langkah mereka terhenti dekat ruang kerja Anya “Atau lo mau naik langsung?”. “Nggak usah.. gue tunggu disini aja” Imbuhnya. Pun ibu beranak satu itu bergegas menuju ruangan. “Assalamu’alikum, Dokter Ziyan” Sapa para empat dokter residen. “Wa’alaikumussalaam" Balasnya ramah “Kalian jaga malam?” Tanya Ziyan. “Iya, Dok”. “Ah!” Ziyan mengambil id card dari saku “Ambil ini! Makan yang banyak”. Seketika itu membuat residen tersebut terperangah berbalut haru dan senang saat mendapat id card yang biasa digunakan juga sebagai alat transaksi pembayaran di Medical Hospital dengan cara memotong gaji. Mulanya mereka segan, namun Ziyan memaksa. ^^^ Keduanya lantas mengerem langkah saat sudah berada di depan ruangan Qiara. Mereka saling beradu pandang dengan asumsinya masing-masing. Kegaduhan itu memekik telinga. Ziyan lantas buru-buru membuka pintu. Bug! Bug! “Aduh!”. “Astaghfirullah!” Anya tercekat. “Mereka mulai lagi!” Ziyan mengempas napas. Keduanya nampak sudah bosan melihat situasi dimana Tom and Jerry kembali beraksi. Qiara dan Musa adalah sponsor dari kegaduhan yang sempat sayup-sayup terdengar dari luar sana. Pun di atas meja nampak banyak sekali sampah jelly. “Musa..” Anya buru-buru membuat perlindungan untuk Musa yang dihabisi oleh Qiara dengan pukulan mautnya. Meskipun berbalut bantal, tapi tenaga Qiara itu tak bisa dibandingkan dengan siapapun. “Udah, Qi!”. Hanya satu kalimat, namun dapat membuat Qiara luluh. Ucapan Ziyan bagai bius tersendiri. Kini kerudung bergo yang dikenakannya nampak miring sana, miring sini. Qiara segera membenahinya. “Sakit semua badan gue!” Keluh Musa. Lucunya, dia seolah tak pernah kapok menjahili Qiara meski tau akhir yang menyakitkan ini. “Sukurin! Salah siapa lo makan jelly gue! Lagian gue sering kasih ke lo” Hardik Qiara, napasnya terlihat naik turun “Parah sih, Musa. Dia udah habisin stok jelly gue di rumah, sekarang disini juga. Mana nggak pernah bilang! Awas, ya! gue ganti juga password rumah gue!”. Di sela omelannya, sebuah panggilan masuk. Ponsel Qiara yang berada di atas meja diambil alih oleh Ziyan. Pria itu lantas menyalakan speaker phone agar sang pemilik mendengar panggilan dari ruang operasi yang memberi kabar bahwa pasien sudah di anestesi. Qiara melakukan relaksasi sejenak sebelum ke ruang operasi. Menarik napas dan mengeluarkannya pelan. Lalu sempat memberikan simbol jempol ke bawah pada Musa. ^^^ Ziyan, Anya dan Musa menjejaki setiap lantai sambil tertawa dan sesekali dua orang itu menyalahkan Musa yang kerap usil terhadap Qiara. Sampai akhirnya langkah mereka terhenti di serambi depan rumah sakit, menanti Jio yang katanya hendak menjemput mereka untuk menikmati akhir pekan. “Jio beli mobil apa, sih?” Tanya Musa. “Tuh!”. Sebuah mobil SUV pabrikan Prancis berwarna hitam dov memelesat. “Wowowowow”. “Gila!”. Sorak ketiganya sampai mobil mewah itu berhenti tepat di depan mereka. “Ayo!” Seru Jio dari dalam, langsung disambut antusiasme ketiga sahabatnya itu. Anya mengambil tempat di depan dan dua pria lainnya di belakang. Namun ada satu hal yang membuat mereka bertiga keheranan selama perjalanan menggunakan mobil baru milik Jio. “Ji” Panggil Musa “Kok berisik banget, ya?”. “Apanya?”. Musa membenarkan posisi duduknya. Setiap bergerak, pasti ada suara-suara yang mengganggu. Begitu pula dengan yang lainnya. “Nggak mau dibuka gitu? Plastik joknya?”. “Nggak mau, lah! Biar nggak kotor joknya. Awas kalau lo buka!”. Lantas ketiganya menepuk dahi masing-masing dan menyadari bahwa sahabat mereka satu ini adalah spesies purba kala yang tak ditemukan dimanapun. ^^^ Ziyan menata makanan diatas meja yang sudah disiapkan Mamah Linda. Sang ibu selalu antusias bilamana ada sahabat-sahabat putranya berkumpul. Namun malam ini hanya ada empat orang, sementara Qiara masih belum datang. “Gimana? Qiara udah beres belum tuh operasinya?” Tanya Anya yang sejak tadi sudah melakukan pemanasan bersama bass-nya. “Udah sampe gerbang komplek tuh kata Si Mak lampir” Seru Musa membaca pesan dari Qiara sambil mengunyah kebab pemberian Jio “Hmm.. enak banget nih, Ji. Lo beli dimana?”. Jio menghentikan aktifitas mendentingkan gitar “Itu dikasih ama---” Ia memejam, berusaha mengingat nama sang pemberi. Anya menggeleng “Kumat dia. Nggak bisa ingat nama orang”. “Aisyah?” Tanya Musa memastikan. “Nah! Itu dia. Dokter Aisyah. Kemarin belum sempat makan, adik gue juga ngga di rumah ya gue taruh dikulkas”. Musa terkekeh “Pengagum rahasia mah emang beda”. “Maksud lo?”. “Kata si Akmal, kita tuh punya banyak pengagum rahasia” Musa tertawa puas sambil berjalan ke belakang kibor. Jio dan Anya kompak menggeleng heran dengan tingkah Musa yang selalu over confident. Selalu percaya diri tingkat dewa disegala situasi. Semua kompak berlatih sejenak untuk mengambil nada-nada lagu. Pun Ziyan sang vokalis justru menabuh alat musik milik Qiara. “Assalamu’alaikum!” Qiara memasuki ruangan setelah lewat lima belas menit. “Wa’alaikumussalaam”. “Katanya udah sampe gerbang, taunya lama bener” Keluh Musa sambil menekan-nekan tuts kibor asal-asalan. Perempuan yang selalu berpenampilan sporty itu meletakkan mini sling bag-nya ke atas sofa, lalu berjalan menuju drum-nya “Ya maap. Biasalah ketemu Mamah Linda di bawah. Nanya mulu kapan gue nikah”. “Heran deh.. nikah aja ama Mama-boy!” Celetuk Jio. Kalimat itu membuat Ziyan dan Qiara sempat saling bersitatap. Pikiran keduanya tengah beterbangan liar, mengembara entah kemana. Terlebih ada gurat rona canggung dari tatapan Ziyan. “Eh iya. Saking sibuknya, gue lupa” Musa menepuk dahinya “Si Qiara tu lagi jatuh cinta ama---”. Kreng! Belum sempat menamatkan kalimatnya, Qiara menabuh simbalnya begitu kencang. Tatapan matanya bagai belati yang siap menyayat Musa. Itu membuat semua orang terkesiap sembari menutup telinganya. “Gila.. gila” Jio mengusap telinganya yang panas “Apa? Qiara jatuh cinta?” Ia tak bisa menyembunyikan rasa penasaranannya. Pun pertanyaan itu cukup mewakili yang lainnya. Ziyan langsung berbalik, menatap Qiara dengan tatapan sendu. Perempuan itu terlihat cuek, asyik bermain dengan drum-nya. Musa melirik Qiara yang sedang menyiapkan nada “Dia lagi kesemsem ama Dokter Har---”. “Hari ini, Cukup Siti Nurbaya, kan?” Lagi-lagi Qiara memutus kalimat Musa. Sementara semua mata-mata itu tengah menatapnya tanpa berkedip. “Ayo, mulai!” Ziyan mengimbuh. Ia seolah tak ingin mendengarkan apapun. Mau tidak mau, yang lain menurut. Menyiapkan alat musik mereka masing-masing. Mereka membuat intro ala band kenamaan Indonesia, Dewa-19. Tangan Jio menari lincah diantara senar gitar listri penuh semangat. Pun disusul dengan yang lainnya. Mulai dari drum yang ditabuh kencang oleh Qiara. Bass dari Anya dan kibor oleh Musa. Semua menyamakan nada. Oh~ Masih ada.. belenggu ruang cinta Meresap kini, di dinding zaman Mencoba-coba kikis naluri agitasi murahan.. yang ada lagi Mohon acuhkan~ palingkan muka Semua musik terhenti, menghening. Detik selanjutnya, Qiara menabuh drum sekali sebelum Ziyan menyambung. Oh memang dunia, buramkan.. satu logika Seolah-olah, hidup kita ini, hanya ternilai sebatas rupiah *Dengarkan manusia yang terasah falsafah Sesaat katanya itu bukan dogma Meskipun perempuan, Qiara sangat handal dalam memainkan drum. Ia layak diadu dengan Didi Riyadi. Tabuhannya begitu menggema kencang, mendominasi bagian intro. Reff : Katakan.. (Oooh~) Qiara, Musa, Jio dan Anya menyahut sebagai backing vokal. Pada mama.. (Ooh~) Cinta bukan hanya harta dan tahta Pastikan.. (Ooh~) Pada mama (Ooh~) Hanya cinta yang sejukkan dunia~ Vokal lembut Ziyan terdengar nyaring dan bertenaga di setiap high note. (Bukan itu mama.. bukan itu papa 2x) Para backing vokal menyambung penuh semangat sembari fokus pada alat musiknya masing-masing. Oh~ Cukup Siti Nurbaya yang mengalami Pahitnya dunia Hidupku kamu dan mereka semua Takkan ada yang bisa Memaksakan jalan hidup yang kan tertempuh (Back to *- Reff) Jio dan Anya saling mendekat, seolah sedang beradu seberapa lihai tangan mereka diatas senar, meski dengan fungsi yang berbeda. Saling mengangguk mengikuti irama. Jio sang gitaris sampai menekuk-nekuk tubuhnya menikmati permainannya. Sementara Anya masih berdiri tegap sambil sesekali memejam, layaknya anak band muda yang penuh gairah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN