14. Weekend, Check!

1753 Kata
Setelah melakukan performa terbaik dengan lagu milik grup band kenamaan Dewa 19, lima sekawan itu lantas berkumpul di kamar Ziyan yang luasnya bisa digunakan untuk anak-anak bersepeda. Sultan mah bebas. Pun pintu kamar dibiarkan tetap terbuka agar lebih leluasa. Di tengah ruangan yang didominasi warna putih dan emas itu, terdapat satu set sofa dengan warna biru dongker yang disinggahi oleh dua dokter cantik, Qiara dan Anya. Mereka sedang asyik memakan camilan seraya membuka laman belanja online. Di sisi lain, trio dokter ganteng itu sedang berkumpul di sudut lain sambil bermain game online milik Ziyan dengan perkakas super lengkap. Mulai dari komputer super besar, dua kursi yang nyaman dan lain sebagainya. Tawa ketiga lelaki itu menyeruak ke seluruh ruangan, hingga dua sahabat perempuan mereka sempat menutup telinga dan keheranan dengan tingkah para gamers itu. Terlebih teriakan Musa paling mendominasi, padahal yang sedang bermain VR Game adalah Ziyan. Musa yang sedang tengkurap di atas ranjang berukuran king size seraya mengunyah camilan itu terbawa suasana saat Ziyan merasakan melawan musuh sungguhan. Tertawa membahana melihat ekspresi konyol Ziyan. Sementara Jio yang duduk di samping Mama-Boy hanya tertawa seadanya dan tak terlalu berlebihan seperti Musa. “Orang ganteng kaya lo bisa jelek juga, ya” Kata Musa di tengah tawanya. “Musa kalau ketawa udah kelewat batas, nih!” Celetuk Anya menggeleng kepala heran. Pun Qiara sambil menyeruput minumannya mengarahkan kepala ke arah Musa. Tak perlu mengucapkan sepatah kata, perempuan itu lantas mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Musa. Alih-alih merengek seperti biasa, kini Musa bisa menghindar dan justru menjulurkan lidah ke arah Qiara, musuh bebuyutannya. Qiara lantas berkacak pinggang. Tak mau menghiraukan Qiara, Musa bangkit dari ranjang dan berdiri di samping Ziyan saat pria berparas oriental itu sudah menyelesaikan permainannya. “Zi.. coba gantian Jio!” Pinta Musa. “Barengan aja kali. Kita main game yang battle. Gue punya satu lagi” Ziyan beranjak dari kursi hendak mencari satu alat virtualnya yang lain. “Nggak usah” Musa lantas meminta Jio untuk duduk di tempat Ziyan “Pake ini!”. “Gue nggak bisa mainnya. Gue bukan gamer” Kata Jio. “Ntar gue kasih tau” Tambah Musa membantu mengenakan alat tersebut ke kepala Jio. Saat sudah terpasang sempurna, dengan usilnya, Musa menyalakan permainan yang berbeda dari Ziyan sebelumnya. Ia justru memutarkan permainan roller coaster virtual. Sehingga Jio menjerit tak tertahan saat dirinya seolah berada di atas ketinggian. Sementara gelak tawa Musa membahana. Ziyan yang mulanya merasa kasihan dengan Jio atas ulah si tengil satu itu, kini justru ikut tertawa tak tertahan. Pun begitu dengan Qiara dan Anya yang dari ujung sana sedang memperhatikan ulah sahabat mereka yang tak ada habisnya. Mereka bisa melihat dengan jelas wajah Jio yang semula kuning langsat berubah menjadi kemerahan akibat terlalu banyak menjerit ketakutan. “Udah! Musa!” Teriak Jio merengek. “Udah.. udah” Ziyan menyentuh satu bahu Musa. Ia terlalu banyak tertawa, rasanya jadi lemas. Masih berbalut tawa, akhirnya Musa mematikan video virtual tersebut. Jika sang pemilik tak meminta, tentu ia akan terus membiarkan Jio terhuyung bersama roller coaster itu. Musa dan Ziyan masih menyisakan tawa seraya bergabung bersama Qiara dan Anya di sofa. Jio terkurai lemas saat video tersebut dimatikan. Uhuk.. uhuk.. Musa sampai harus terbatuk-batuk karena banyak tertawa. Pria mungil itu segera meneguk air mineral yang ada di atas meja. “Lo jahat banget tau, Musa! Kasihan Jio” Anya masih sedikit tertawa, apalagi melihat Jio yang tak berdaya di kursi sana. Tak bisa dipungkiri ekspresinya sangat lucu “Gue tau Jio itu anaknya diem, tapi jangan lo kerjain lah.. kasihan”. “Gue jadi.. Jio udah gue smack down lo!” Semprot Qiara. Wlek! Musa justru kembali menjulurkan lidahnya pada Nyai. Tapi sepertinya Qiara sedang lelah, jadi ia tak ingin banyak menimpali anak itu. “Guys, gue ke bawah bentar, mama barusan bawain kwetiau dari luar” Kata Ziyan kembali memasukkan ponsel ke dalam saku yang disambut anggukan yang lainnya. Anya pemilik hati lembut sebagai ibu dari Halaman Belakang Squad itu lantas menghampiri Jio dan memberikannya air mineral serta perhatian dan mengajaknya untuk kembali bergabung di sofa saat tenaganya perlahan pulih. Disana Musa masih saja menertawai Jio yang kini sedang mengisi energi. Memakan banyak cemilan berat, mulai dari bika ambon sampai kebab. Energinya sudah terkuras habis akibat dikerjai Musa. Pun pria berkepribadian kaku itu tak berkutik. Diam seribu bahasa dan tetap tabah. “Eh, gue semalam ke rumah lo, kata Tiara lo lagi makan di luar?” Tanya Musa ditengah aktifitas makannya. “Uhm” Jawab Qiara seraya sibuk dengan ponsel “Gue diajak Ridwan makan di luar”. “Hah?!” Musa terkejut sampai bangkit dari duduknya. Pun Ziyan yang hendak masuk kamar mendadak menghentikan langkahnya sembari membawa nampan di tangan. Ia berusaha menerka banyak hal dan memtuskan untuk menyimak kelanjutan kalimat yang barusan di dengarnya itu di luar. “Ridwan yang ngajak lo? Apa lo yang ngajak Ridwan?” Musa penasaran akut. “Dia yang ngajak gue” Qiara meletakkan ponsel ke atas meja. “Kenapa? Selama ini nggak ada yang pernah ngajak lo jalan selain kita berempat. Emangnya Ridwan nggak takut sama Nyai kaya lo?”. “Punya rasa kali sama Qiara” Sambung Anya. Ziyan di luar sana mendadak gemetar. Tangannya semakin menggenggam nampan dengan sangat bertenaga. Rahanganya sempat mengeras sekilas sampai pada akhirnya ia memilih untuk masuk ke dalam dan membagikan kotak berisikan kwetiau itu pada para sahabatnya. “Ah, nggak mungkin!” Musa mengelak seraya terkekeh “Mana ada yang suka ama lo. Ya lo pinter, cantik sih, tapi lo itu----” Ia menimbang banyak kata “Ah.. sudahlah”. Lagi-lagi Qiara jengah untuk menimpali Musa. Ia hanya memutar bola matanya malas, sebab hari-harinya memang selalu dipenuhi kerusuhan yang disponsori olehnya, belum lagi keduanya bertetangga. “Kenapa?” Tiba-tiba Ziyan menimpali, membuat semua antusias menyimak “Anggap aja Meira masih waras pada masa itu, kenapa dia mau nikahin orang kaya Musa?” Ziyan bergeming sejenak “Iya lo cerdas, tanpa belajar semuanya tetap berjalan baik, tapi... ah sudahlah”. Entah mengapa, sepanjang Ziyan bertukas, Qiara merasakan hatinya berdesir. Terus memandangi cara bicara pria oriental itu dengan seksama. Musa membuang napasnya kasar sembari memasang wajah konyolnya “Nggak usah dimasukkin hati dong, bro. Pake hati banget, sih”. Kalimat itu seolah menyadarkan Ziyan akan dirinya yang terlalu berlebihan menghadapi sebuah situasi dan dirinya juga tak sepenuhnya mengerti, gerangan apa yang membuatnya terlalu menanggapi hal-hal sederhana itu. “Oke.. Berarti Ridwan emang suka ama lo” Jio ikut nimbrung, mengejutkan keempat sahabatnya “Ketika seorang laki-laki mau melakukan apapun demi seseorang yang dianggapnya spesial, se-ngeri apapun perempuan itu. Kalau lapar ya makan”. “Kalau seandainya omongan Jio bener---” Musa sedang mencari kalimat. “Hey! Apaan, sih!” Qiara menyergah “Ridwan ngajakin gue makan di luar karena dia merasa sudah melakukan operasi dengan baik! Kenapa kalian pada berasumsi yang aneh-aneh?”. “Ah~ gitu ceritanya” Ziyan mengangguk paham, merasa lega. “Terus.. Bang Harun gimana?” Tiba-tiba Musa membuat semua mata membelalak. “Bang Harun? Kenapa dia?” Anya menyatukan alisnya. Qiara berusaha tenang seraya tertawa kaku “Ah~ senin besok aku ada meeting sama Dokter Harun. Kenapa lo jadi bawa-bawa dia, sih!” Kemudian ia melayangkan tatapan pedangnya pada Musa yang kini mengulum bibir rapat-rapat. ^^^ Minggu pagi adalah hari yang cukup tenang bagi para dokter. Setidaknya hari itu bisa menjadi hari untuk bernapas. Musa yang selalu menambah masa tidurnya setelah subuh dan tadarus, kini harus terbangun saat alarmnya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Alarm yang disetel khusus untuk hari libur setelah dirinya resmi menyandang status duda. Masih berbalut piyama serta mata sipit, ia menjawab panggilan telepon dari Qiara. “Mau sarapan kaga?”. “Iya, otw”. Musa bergegas keluar dengan wajah kusutnya dan menekan beberapa tombol di depan unit apartemen milik Qiara. Jika perempuan itu sudah menghubunginya, pertanda Musa boleh masuk dan ia sudah mengenakan hijab. Tapi kali ini ada yang aneh, password-nya tak dikenal. Musa mengulang lagi dan itu juga tidak bisa. Detik selanjutnya ia tersadar jika kemarin Qiara sempat mengancam akan mengubah kata sandi rumahnya. Musa lantas menekan bel beberapa kali, hingga akhirnya pintu itu terbuka. Alih-alih Qiara, yang menyambutnya justru saudara kembarnya, Tiara. “Oh?!” Musa mengerjap “Kok lo rapi banget pagi ini?” Tiara mengulas satu senyum lembut “Ah, aku ada janji. Masuk, Musa”. Musa lantas memasuki kediaman Qiara yang sudah rapi dan sangat wangi. Begitulah si kembar itu merawat rumah, tak seperti rumahnya yang selalu seperti kapal pecah. Musa lantas duduk di meja makan dan melihat Qiara sedang memasak. Musa bangkit dari kursi menuju kulkas. “Stop!” Teriak Qiara “Duduk lo! Nggak usah deket-deket kulkas!” Sepertinya ia parno bilamana kehilangan jelly lagi. Musa menunduk lesu dan kembali ke kursi layaknya seorang bocah. Pun rambutnya sangat berantakan. Qiara sangat andal memasak. Ia sedang membuat tumis bakso bakar ala-alanya sendiri. Masakan yang simple namun tetap nikmat. Perempuan berbalut hijab bergo itu menuangkan masakan ke mangkuk dan dibawanya ke atas meja. “Yaa Allah enak banget baunya~” Musa makan dengan lahap, disusul Qiara yang juga sedang menyendok makanannya. Semenjak menjadi duda dan berpindah di gedung apartemen yang sama dengan Qiara, perempuan dingin itu tak mau membiarkan sahabatnya terpuruk. Ia lantas berinisiatif untuk selalu mengajaknya sarapan bersama, meski setiap hari keduanya selalu berselisih tak ada habisnya. “Qiara, Musa. Gue keluar dulu, ya” Tiara melambaikan tangan. “Uhmm” Balas Qiara datar. “Gue curiga deh sama lo, Ti” Musa menyelidik pakaian rapi Tiara yang membuatnya terlihat sangat anggun. Mint dress hijab putih dan vest rajut senada “Lo---”. “Udah, ah. berangkat dulu. Assalamu’alaikum”. “Wa’alaikumussalaam”. “Eh.. biasanya Tiara itu elegan penampilannya. Jadi, kesan ibu kapolseknya itu masih melekat gitu loh walaupun nggak lagi tugas” Musa meopang dagunya di atas tangan, sementara Qiara asyik makan “Tapi kali ini dia malah keliatan manis. Apa Tiara punya pacar?”. “Emang”. “Hah?!” Jerit Musa berlebihan “Siapa?” Qiara hanya menimpalinya dengan mengedikkan bahu “Kok lo cuek banget, sih?! Kalau gue jadi lo, gue tanyain sampe dia jawab”. “Ngapain? Ya nggak tau sih pacar atau apa.. yang jelas ada yang deket. Ah udahlah.. Terserah dia, mungkin dia memang butuh waktu. Yang jelas gue udah ngasih pengertian supaya jangan terjebak dengan hubungan yang nggak jelas dan harus segera kenalin ke gue”.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN