15. Sunday

1909 Kata
            Sebuah mobil SUV mewah pabrikan kota mode sedunia itu terparkir di depan gedung apartemen. Sosok pria pemilik tinggi standar sedang bersandar di kap mobilnya. Sebuah kaca mata bulat juga bertengger di hidungnya. Berbalut celana denim, jaket senada serta kaos biru langit dan sneaker putih. Pun rambutnya nampak sangat elegan seperti gaya lelaki kekinian, curtain hair.             Tiara mendadak menghentikan langkahnya. Pesona pria itu sangatlah kuat sampai akhirnya dia, Jio—melambaikan tangan padanya dari kejauhan. Senyum pria pendiam itu nampak sangat manis.             Tiara meluaskan senyumnya. Gigi-gigi itu berbaris rapi. Matanya tenggelam bagai bulan sabit nan cantik di malam hari. Bergegas menghampiri Jio seraya berlari kecil. Keduanya memang sudah berjanji untuk sarapan pagi bersama.             “Mak Lampir lagi ngapain?” Tanya Jio sambil memesang sabuk pengaman, bersiap mengemudi “Pasti di rumah pake daster kalau enggak, piyama? Ya, kan?”.             Tiara tergelak. Tertawa membayangkan keseharian saudara kembarnya yang selalu rebahan dan mengurus rumah jika tak sedang libur “Iya. Lo udah tau sendiri gimana sahabat lo? Tapi dia lagi sarapan sama Musa tadi”.             Jio memutar roda kemudinya sembari menghela napas pelan “Walaupun Qiara sama Musa nggak pernah akur, tapi kembaran lo selalu bisa menjaga sahabat dengan baik. Lo tau kan keadaan Musa?”.             “Uhmm.. Kadang gue mikir, tawa Musa untuk menutupi rasa sepi yang ada” Tiara mengangguk, merekam betul kisah sedih Musa setelah dikhianati istrinya sendiri “Qiara itu sebenarnya perhatian dan penyayang banget, cuma dia nggak mau dibilang kaya gitu”. ^^^             Ridho orang tua adalah ridho Allah, sedangkan murka orang tua adalah murka Allah—H.R. Muslim.             Hadits tersebut rupanya selalu diterapkan Ziyan sepanjang hidupnya. Terlebih saat dirinya dewasa. Ia sadar betul, bahwa tak ada hal yang lebih penting selain menuruti titah orang tua dan selalu merawatnya dengan baik.             Sebagai anak tunggal, tentu harta yang paling berharga bagi kedua orang tuanya adalah Ziyan. Dokter spesialis paru-paru itu selalu meluangkan waktu di akhir pekan bersama orang tua. Seperti halnya melakukan hobi mahal sang ayah, sekalipun sebenarnya Ziyan tak berminat.             Papa Fardan gemar sekali bermain golf di akhir pekan bersama rekan kerja yang tentunya orang elit. Bagaimana tidak? permainan ini adalah permainan kelas atas.             Mengusung konsep Waterfront City seperti di Dubai, Golf Island PIK merupakan pulau reklamasi seluas 303 Hektar yang di dalamnya dilengkapi hunian mewah, dikelilingi komersial area berupa Rukan Boulevard, Rukan Theme Park, Rukan Beach View, dan fasilitas-fasilitas mewah lainnya, seperti: Lapangan Golf 18 Holes, China Town PIK.             Dikelilingi Laut yang begitu indah di kawasan Golf Island PIK, akan menjadi mercusuar bagi lingkungan sekitarnya. Konsep rumah hunian eksklusif di tengah hamparan Lapangan Golf yang bertaraf Internasional, dimana lapangan Golf ini menjadi lapangan golf pertama di Indonesia dengan view langsung ke laut, dan menjadikannya sebagai daya tarik dan melengkapi fasilitas di Golf Island - Pantai Indah Kapuk.             Angin sepoi dari lautan itu menerpa rambut Ziyan yang kini nampak sedikit berantakan. Pria itu tak peduli. Fokus dan mengambil kuda-kuda terbaik. Postur tubuh yang proporsional membuatnya nampak seperti golfer profesional, sampai akhirnya ia berhasil menyarangkan bola ke jurang.             “Yes!” Ziyan mengepalkan tangan. Senyumnya tak kalah cantik dengan bunga-bunga yang bermekaran di sekitar taman. Nayanika itu tenggelam cantik seiring dengan luas senyum yang tergambar di wajahnya.             “Wah” Mamah Linda menepuk tangannya “Anak mamah jago juga, ya” Wanita paruh baya itu tampak takjub dengan keahlian sang putra. Ia berdiri tak jauh dari Ziyan sambil dipayungi oleh petugas.             Ziyan tertawa “Lumayan, lah untuk Ziyan yang nggak begitu suka main golf”.             “Anak papah, gitu loh” Papah Fardan turun dari golf cart menghampiri dua cintanya “Ayo! Waktunya sarapan. Sebentar lagi tamu papah datang”.             “Tamu?” Ziyan mengerutkan kening yang dihadiahi anggukan Papah Fardan.             Setelah lebih dari satu jam berkutat di lapangan, menguras konsentrasi, sarapan akan membangkitkan energi yang sudah terkuras habis. Ziyan dan kedua orang tuanya menaiki golf cart menuju restoran terbuka dengan konsep terrace garden. Menunya sendiri terdiri berbagai masakan dari wilayah Indonesia, Weastern maupun Eastern.             “Assalamu’alaikum. Selamat pagi, Pak Fardan!”.             Ziyanpun otomatis ikut bangkit dari kursi makan, memberikan sambutan terbaik. Namun matanya membeku pada satu objek. Bukan tertuju pada pasangan suami istri teman Papah Fardan, melainkan dengan perempuan berambut panjang berbalut pakaian olahraga yang terpaku dibelakang.             “Kenapa dia disini?” Batin Ziyan berbisik.             “Oh? Keysha?” Mamah Puput terkejut. Pun perempuan bermata coklat itu langsung menyapa dengan sopan. Menyilakan sebagain rambut panjangnya ke belakang telinga “Kamu cantik banget, sayang”.             “Ah.. makasih banyak, Tante” Senyum Keysha nampak ayu. Sesekali melirik Ziyan, pun pria berparas oriental itu membalas senyum itu dengan baik.             Dua keluarga itu menikmati sarapan pagi mewah itu dengan dipenuhi obrolan. Ziyan tak menyangka bilamana orang tua Keysha akan menjalin kerja sama dalam bisnis. Tapi ada satu harapan yang tak ingin diungkit dalam pembicaraan ini.             “Jadi, Nak Ziyan ini senior kamu, Key?” Tanya Tante Karin—Ibu Keysha. Sang putri hanya mengangguk penuh gurat rona canggung, namun Ziyan langsung menimpali dengan ramah.             “Iya, Tan. Saya seniornya di UI dan sekarang kita bekerja di satu rumah sakit”.             “Ah~ kebetulan sekali” Om Hengky begitu antusias—Ayah Keysha. “Jika tau seperti itu dari dulu, besanan juga bisa ya, Pak Fardan”.             Papah Fardan meletakkan cangkir kopinya ke atas meja “Sekarang juga boleh, Ziyan masih single”.             Dua ayah itu tergelak. Kini tawanya kian membahana, ditambah para ibu juga ikut campur dan bahkan lebih bersemangat membicarakan topik yang tak pernah diminati Ziyan. Pria itu sudah kerap hendak dijodohkan dengan beberapa putri konglomerat rekan sang ayah, namun Ziyan selalu menolak.             "Kadang sebagai ayah, aku juga bingung apa yang ditunggu Ziyan" Sambung Papah Fardan di tengah tawanya. ^^^             Warna merah emas semu merah telur itu mengiringi langkah kaki Anya dan Dimas saat meluangkan waktu untuk quality time bersama putra mereka, Choky. Keluarga bahagia tersebut menjelajahi Taman Impian Jaya Ancol.             Choky yang bertengger gemas di atas stroler itu didorong sang ayah mengelilingi beberapa tempat. Ancol itu luas. Ada banyak hal yang harus diperhatikan ketika membawa anak kecil. Salah satunya agar anak tidak lelah.             Di dalam ancol ada Dufan wahana sejenis roller coaster dan sebangsanya, Atlantis wahana berenang dan ciprat-cipratan; Mall yang dalamnya senyap, Ecopark tempat main sepeda dan paintball, Gelanggang Samudra tempat melihat lumba-lumba. Pantai dan Taman tempat lesehan ibu-ibu bapak-bapak anak dan anak muda, Outboundholic wahana main panjat-panjatan seru dan juga ada Seaworld tempat melihat aquarium.             Di Seaworld ruangannya benar-benar gelap. Kecuali orang yang berpakaian putih seperti Troton. Bajunya bak disinari neon sampai-sampai hanya bajunya yang nampak, badannya samar. Selain aquarium raksasa, ada juga puluhan aquarium kecil yang dibagi berdasarkan jenis ikannya. Ada juga aquarium ubur-ubur yang memiliki lampu warna-warni sehingga nampak seperti lampu disko yang jalan kesana-kemari dan berubah warna pelangi.             Choky tertawa kegirangan, sesekali takjub melihat ubur-ubur.             “Choky suka?” Tanya Anya. Bocah dua tahun itu mengangguk kecil seraya mengulas senyum terbaiknya “Ini namanya ubur-ubur yang ada di dalam buku dongeng Choky”.             Pun Dimas tak ingin melewatkan momen seru ini dengan mengabadikannya ke dalam foto. Suami Anya ini selalu siaga. Ia membawa tripod untuk digunakan mengambil foto keluarga. 1, 2, 3. Ckrek!             Kemudian Anya dan keluarga bergeser ke tempat dimana pengunjung hanya perlu berdiam diri diatas eskalator datar yang bergerak mengitari tunnel aquarium itu. Hanya perlu menikmati ratusan ikan yang berenang-renang di kiri, kanan dan atas.             "Choky, liat atas, sayang!" Dimas menunjuk bagian atap ruangan yang dipenuhi aquarium raksasa di setiap sisinya.             Choky berteriak gemas seraya tepuk tangan dan sesekali ikut menunjuk-nunjuk bagian atas "Ikan!".             "Iya, itu ikan apa?" Anya nampak antusias menyambut "Itu ikan pari. Besar, ya, sayang".             Lagi-lagi Dimas selalu membuat memori dengan kameranya.             Wisata sederhana ini selain menyenangkan, juga mengedukasi anak. Agar anak mampu mengenal biota laut secara langsung. ^^^             Kring-kring.             Tawa matahari menghiasi cakrawala di bumi pertiwi. Langit selalu terpandang mesra. Birunya menyemai keteduhan di akhir pekan ini. Burung camar saling bersahutan dari balik awan sirus.             Tak mau melewatkan momen begitu saja, setelah menjajal sarapan pagi, Tiara dan Jio lantas menyewa sepeda di sekitar kawasan Pantai Indah Kapuk yang selalu hits dengan berbagai tempat menarik.             Jio mengarahkan matanya ke jok boncengan di bagian belakang sepeda. Pun Tiara mengerutkan kening.             “Ayo, naik!”.             “Emangnya nggak ada sepeda tandem?”.             “Nggak ada. Kita kehabisan, tinggal yang kaya gini”.             Mata Tiara yang teduh bagai telaga mendadak beriak. Iapun menurut. Wajah penuh rona canggung itu menghiasi wajah anggun nan cantiknya.             “Lo bisa pegangan sedel biar nggak jatuh” Tukas Jio agar Tiara merasa nyaman. Pun senyum indah yang serupa lukisan itu terpatri jelas di wajah kembaran Qiara itu.             Semilir angin beterbangan mesra. Ujung scraft yang dikenakan ibu polwan itu nampak beterbangan kecil. Pun rambut super licin dan lembut milik Jio juga ikut tertiup. Keduanya berboncengan melintasi bangunan-bangunan estetik.             Pun panorama menghadap laut serta jalan yang mulus menjadi satu dari sekian banyak alasan kenapa kawasan ini selalu dipadati setiap akhir pekan. Terlebih banyak kafe cantik. Baik Jio maupun Tiara, mereka saling membayang, merentang dengan wajah penuh syukur. Wajah nanar penuh kebahagiaan yang terasa begitu sederhana.             Namun senyum indah itu tak bertahan lama saat mendapati seorang pesepeda lain terjatuh secara tiba-tiba. Jio mendadak menekan bagian rem, membuat Tiara sempat terhentak. Dan memberikan sepeda itu pada Tiara. Sedang, pria pemilik tinggi badan standar itu lantas berlari menghampiri pesepeda yang sudah berada dalam kerumunan.             “Aduh. Gimana ini?” Rekannya nampak panik.             “Permisi” Jio membelah barisan “Tolong kakak-kakak semuanya minggir dulu agar bapak ini bisa dapat sirkulasi udara yang cukup”.             “Mas.. dokter?” Tanya pria empat puluhan tahun itu yang dibalas dengan anggukan Jio. Ia tak banyak bicara dan menguatkan fokusnya.             “Pak, buka mata, Pak?” Jio sedang memastikan keadaan dengan tenang “Dimana yang sakit? siapa nama bapak?”.             “K-kepala saya---” Belum sempat menamatkan kalimatnya, bapak tersebut mendadak kejang-kejang. Semua semakin panik, namun Jio mengisyaratkan semuanya agar tetap tenang. Ia kembali mendekatkan diri pada pasien. Menyentuh dadanya sembari mengais hipotesa dengan metode F.A.S.T.             Pertama, Face: menelaah perubahan pada wajah. Apakah pasien mengalami kesulitan dalam menggerakkan wajah atau indikasi ketidaksimetrisan pada wajah saat berbicara atau tersenyum. Arms: Lalu melihat gangguan sistem motorik dengan mengangkat satu lengan pasien. Kemudian Speech: Memperhatikan cara bicaranya. Dan terakhir adalah Time. Saatnya membawa pasien ke rumah sakit bilamana semua telah terdeteksi.             Tiara sempat terpaku seraya memegang sepeda penuh kagum saat berhasil merekam sikap tenang namun tetap cekatan dari Jio dalam menangani pasien dadakan seperti ini. Sekaligus ada rasa bangga tersendiri dalam hatinya. Dalam hati ia sibuk memperluas perasaannya. Jio yang seperti ini memang sangat mengagumkan.             “Tolong panggil ambulans, mungkin ini gejala stroke!” Titah Jio pada rekan bapak tersebut. Pun Tiara menjadi salah satu saksi atas tindak cepat Jio sebagai dokter.             Jio buru-buru melempar kunci mobilnya ke arah Tiara. Pun perempuan itu berhasil menangkapnya meski sempat terkejut.             “Hati-hati pulangnya. Sorry. Nanti gue telepon” Ucap Jio sebelum ia menghilang cepat bersama ambulans. Meninggalkan Tiara yang masih terpaku di tempat bersama sepeda berwarna biru pastel disampingnya.             Mungkin bagi sebagian orang, akan merasa sedih saat ditinggalkan pujaan hatinya begitu saja di tengah momen kebersamaan. Namun tidak bagi Tiara, ia justru senang dan bangga dengan aksi heroik Jio, sekalipun ia haru berakhir pulang dengan kehampaan.             Satu senyum yang merekah di wajah nan ayu Tiara bagai temaram senja di ujung hari sambil terus menatap ambulans itu sampai menghilang dari pelupuk mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN