"Ila ngapain nongol kayak hantu, sih?" Astaga, beruntung Sena belum latah mulut—kebiasaan buruk setiap dirinya marah karena diganggu dan sebagainya. Gadis cupu itu buru-buru menarik tangan yang menjadi biang keladi di antara kegaduhan yang Ila ciptakan.
"Kak Sena habis bikin Papa nangis, eh?" Anak kecil itu tergopoh-gopoh mendekap Frasa yang masih doyan menutupi wajahnya—gagal, deh, buat mengurangi rasa malunya. Ila terlihat mencemaskan keadaan duda itu.
"Oh, Kakak tadi cuman coba hibur Papa Ila aja. Nangis katanya dia lagi kangen nenek sama kakek." Sena menyilangkan dua tangan, berupaya memberi pengertian sedikit pada Ila yang tidak terima sang ayah gadis itu dibegitukan.
"Ila nggak percaya Kakak, tuh!" Cuek. Gadis kecil itu memberikan selembar tisu kering ke arah Frasa yang masih bungkam. Sena tak terkejut melihat perhatian yang lebih mementingkan cowok itu dibanding dirinya sebab salahnya mengungkit-ungkit masa lalu kelam duda muda tersebut.
"Aduh, maafin gue bikin lo jadi gini!" Sena kelabakan saat Frasa membuka wajahnya dan menemukan cairan kental berwarna agak kemerah-merahan, sedang cowok itu hanya meratapi masa lalu yang telanjur dikisahkan. Ya ampun, bisa-bisanya dirinya tenang saat mimisan!
"Papa bobok aja di kamar Ila." Gadis kecil itu menyela omongan Sena yang tiada habisnya, mengusulkan ide yang cukup bagus untuk situasi sekarang di saat Frasa linglung dan raga hampa.
"Kak Sen pulang ke kandang Kakak sana, biar Ila yang nganterin Papa ke kamar," ketus Ila membikin Sena jadi mencebikkan bibir dongkol. Kandang katanya? Memang dirinya itu sejenis hewan peliharaan bertuan? Oh, jelas!
Jelas Sena adalah manusia, hukumnya mutlak. Kalau ada yang menyalahi ini tentu akan memperoleh sanksi—jadi babunya sebulan penuh, hahaha. Tak boleh membantah perintah darinya sedikit pun sepanjang hari. "Ila, baik-baik dikit ngomong sama yang lebih tua. Ila mau dijadiin adonan kue?"
"Nggak apa-apa, Ila tinggal ngadu ke Papa kalau Kakak jahatin Ila." Gadis berambut pirang itu tersenyum picik sembari memeluk boneka Popeye.
"Kakak kelihatan kesepian, karena Ila baik hati jadi Ila ngasih boneka yang Ila punya," ucapnya memberikan satu boneka yang merupakan pasangan Popeye, yaitu Olive. Dia langsung membantu Frasa menuju ke kamar yang terletak di belakang.
Sena yang mendapat perlakuan seperti itu hanya pasrah memegang boneka Olive pemberian Ila.
Dari mana Ila mendapatkan warna pirang? Dilihat dari warna rambut Frasa, sepertinya bukan, deh. Jadi apa mungkin dari mendiang ibunya? Hm, padahal setahu Sena—actually, surai yang berwarna lebih terang tak begitu dominan dibandingkan rambut yang lebih gelap.
Namun, bisa saja Ila memiliki paduan warna yang indah akibat kombinasi warna kedua orang tuanya. Hal itu bergantung pada warna rambut orang tuanya, tetapi menariknya ada juga anak yang bisa meraih rambut coklat kehitam-hitaman, padahal kenyataan kedua orang tuanya memiliki rambut yang hitam pekat. Apakah Ila masuk ke golongan yang misterius itu?
Tebersit rasa penasaran di benaknya tentang bagaimana penampakan ibu kandung dari Ila. Secantik apa sosok itu sampai Frasa terjerat pesonanya hingga melahirkan buah hati yang lucu dan menggemaskan?
Oke, jangan pusingkan hal yang kurang penting, sekarang Sena sendirian karena ditinggal bapak dan anak itu. Lebih baiknya dirinya memberhentikan taksi yang lewat, lalu menunjukkan arah pulang.
***
"Sena pulang, Ma," salamnya ketika kaki miliknya menyentuh lantai pualam rumah kediaman, tempat yang ditinggalinya bersama Cecil beserta kenang-kenangan dengan almarhum sang papa, Hamdan.
To be honest, Sena sedikit belum rela ditinggal Hamdan untuk selamanya. Beliau adalah cinta pertama, patah hati terhebat, dan rasa penyesalan terbesar yang pernah dirasakan seumur hidupnya.
Andai saja Hamdan masih ada, Sena akan berusaha membahagiakannya sampai akhir hayat. Namun, saat ini semua itu hanya tinggal angan-angan kosong dan tiada makna. Beliau telah berpulang lebih dulu dibandingkan keinginan Sena untuk mewujudkan cita-citanya dan melihat senyuman puas tercetak di wajah keriput dan rambut yang sudah ditumbuhi uban yang banyak tersebut duduk di kursi penonton.
Sena tak bisa lagi melihat eksistensi Hamdan yang tengah membaca koran di ruang tamu maupun bersandar di bahu ringkih, tetapi mampu menahan untuk tidak melepaskan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Sena tidak memiliki kekuatan untuk meraung sekuat tenaga saat berita kematian Hamdan sampai ke telinga saat itu karena saking terpukulnya. Gadis itu jatuh ke titik paling rendah di sepanjang sejarahnya.
Menghela napas, Sena berusaha menyimpan luka tak kasat mata itu sendirian, tak terkecuali Cecil.
Gadis remaja itu menyusuri ruangan demi ruangan, mencari sosok yang senantiasa menyambut kepulangan Sena, tetapi dirinya hanya mendapati seorang pria yang sangat dihindari dan diharapkan tak pernah muncul.
"Kenapa kamu baru pulang? Nggak lihat udah jam berapa, hah?" Gadis itu menatap Dalilan dengan tatapan datar. Ada apa gerangan pria itu menanyakan alasan pulang malam? Aha, biar bisa cari muka sama Cecil dengan alasan menghukumnya yang nakal?
"Gue nggak buta jam, Om." Akhirnya karena terlalu lelah menahan emosi, Sena mengeluarkan topeng aslinya saat Cecil tidak ada. Ya, bersikap tak sopan agar Dalilan tidak betah untuk meneruskan rencana pernikahannya dan sang mama.
"Wah, berani nantang saya, ya, kamu? Nyali kamu ternyata besar juga, Na."
Sena me-upgrade keberanian sejak masih ada di rahim mamanya, kali. Dalilan saja yang belum tahu, beda dengan Cecil yang hafal kelakuannya!
Sena mengatur tempo napas yang tadi memburu, menetralkan amarahnya yang menggebu-gebu. Gadis itu tiba-tiba tersenyum seperti orang gila kala sebuah ide mampir ke otak pintarnya.
Cara tepat untuk menjinakkan pria genit yang memperalat harta wanita seperti Dalilan!
"Oi, kadal gurun!" Dalilan yang duduk di sofa menyesap kopi, tak menjawab Sena yang panggilannya bermaksud ditujukan untuk pria genit tersebut.
"Om! Gue panggil lo, tau!" kesal Sena yang tidak digubris sama sekali. Nah, kini Dalilan menoleh dengan malas. Gadis itu mendekat, lalu meraih dua bahu pria itu dengan elusan lembut.
"Apaan? Lagi ada maunya?" tembak Dalilan langsung. Kalau ada maunya, berarti harus panggil Papa? No way, dirinya tak akan sudi 'menjilat' orang keji ini. Sena menggertak giginya sebagai respon, pertanda bukan.
"Om, gue punya satu permainan yang seru. Mau main sama gue nggak?" Dia menaikkan alis bingung mendengar permintaan Sena. Lapor komandan, Dalilan mulai terpancing dan terlihat tertarik.
"Permainan apa, sih?" Sena samar-samar mengeluarkan senyum miring. Gadis itu bangkit dari jongkok, lantas memperagakan permainan yang dia maksud sedari tadi, meminta Dalilan agar mengikutinya dari awal ke akhir.
Waktu berselang cukup lama hingga bel rumah berbunyi, menampakkan Cecil yang lelah sekali dibuat terkejut tatkala melihat pemandangan Sena yang sedang membekuk batang leher Dalilan yang tertelungkup di bawah jangkauan anak semata wayangnya.
"Apa yang Mama lewatkan, Na?"