"Hai, Kak! Teman-teman Kakak kayak binatang, ya." Bibir Sena mengatup, membeku saat melihat seorang gadis kecil berdiri di hadapannya. Gadis itu mengulurkan tangan kecilnya seraya tersenyum manis.
"Uhm, makasih." Entah kenapa Sena merasa lumayan ngeri, bagaimana seorang anak kecil bisa semudah itu mengatakannya seolah itu bukan apa-apa?
"Sama-sama, Kakak Cantik!" Hah? Cantik? Benarkah? Menjulurkan tangan kikuk, menerima bantuan anak kecil tersebut dengan berat hati. Sena langsung bangkit, tak mungkin, kan, dia malah bertumpu pada uluran tangan gadis yang tenaganya belum sebesar orang dewasa?
Terus ... sejak kapan dia muncul?
Sena menduga kalau anak kecil ini adalah anak dari salah satu guru di Jewel High School, tetapi dirinya sepertinya memang baru pertama kali melihat anak kecil dengan perawakan girly laksana tuan putri baik hati di negeri dongeng.
Akibat tindakan pahlawan anak ini, banyak murid-murid yang berbisik-bisik mencela keduanya seakan menempatkan bandul raksasa di paru-paru, mereka jadi mengira tontonan gratis kini telah berakhir. Berbagai tatapan terus dilayangkan, Sena terbiasa, sedangkan anak yang berada di sebelahnya? Belum tentu sama, kan?
"Namamu siapa, Cantik?" Gadis kecil sekitaran enam tahun itu perlahan menatapnya sayu, sorot cerianya seakan hilang tertiup angin.
"Hm? Cantik? Ila nggak cantik, Kakak. Ila cuman rongsokan sampah yang nggak berguna, katanya Ila anak haram yang beruntung bisa lahir ke dunia, hehe," bisiknya tersenyum kecut, bola mata bening itu nampak berkaca-kaca—mati-matian menahan isak tangis.
Deg. Sena dibuat tertegun mendengar penuturan gadis yang mengenalkan dirinya sebagai Ila. Dari mana anak sekecil Ila belajar kosakata yang bersifat meremehkan itu?
Kasian. Sebenarnya pemicu apa yang membuat Ila dikatai anak haram dan rongsokan sampah? Anak kecil yang tak tahu apa-apa ini sepertinya selalu memperoleh kebencian tanpa alasan yang kuat.
"Siapa yang bilang begitu sama Ila?" Sena mengelus rambut pirang gadis lucu itu dengan lemah lembut. Ila yang baru mendapat perlakuan hangat menunduk, bungkam saat diinterogasi oleh dirinya.
Mungkin saja Ila begitu karena merasa tak nyaman dan takut.
"Na, kenapa lo masih diem? Pindah ke bangku lain, yuk!"
Rachel menyadarkan Sena yang terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Gadis itu terkesiap saat Ila melambai dalam keadaan satu tangan kecilnya sudah menggandeng jari kelingking Sena.
"Ayo main bareng sama Ila, Kak!" seru Ila bermanja ria menarik-narik jari-jarinya dengan gerakan tak sabar. Sena yang tak bisa menolak hanya mengiyakan ajakannya, meski tahu kalau sekarang jam pembelajaran sekolah tengah berlangsung.
"Lo nggak takut dihukum karena bolos, Na?" Bisa ditebak Sena sedang bolos bersama Rachel juga Ila. Sang sahabat jarang absen kelas, biasalah anak murid teladan yang disayang guru. Anak yang tak pernah bolos.
"Bodo' amat, Chel. Kayak lo nggak tau gue orangnya gimana. Bolos itu udah kayak n*****a, bikin gue candu."
"Kak Sena pengguna n*****a? Ila ingat, lho, kalo papa pernah bilang n*****a dilarang, berbahaya! Kakak nggak sayang orang tuakah?" Rachel diam-diam tertawa puas di belakang Ila. Sena gemas bukan main, terutama sama kepolosan anak yang duduk di pangkuannya ini.
Sena pernah mengutip bahwa anak kecil biasanya bersikap jujur juga apa adanya. Namun, kasusnya bisa saja berbeda jika dikaitkan pada anak ini yang cenderung anteng, tidak rewel seperti anak kecil pada umumnya. Pandai mengontrol emosi selama pengamatan yang dilakukan sejak bertemu di kantin.
"Ila, Kakak enggak pernah memakai n*****a. Malah Kakak sayang banget sama keluarga Kakak." Sena mencoba memberi pengertian kepada Ila yang manggut-manggut, tanda mengerti.
"Oh, Ila kirain Kakak beneran pengguna n*****a yang suka nongol di berita. Maaf karena Ila udah salah paham sama obrolan kalian." Pipi gembul Ila yang bergoyang-goyang bikin Sena gregetan pengin mencubit sampai melar—itu pun kalau bisa.
Rachel yang selesai tertawa, segera berucap, "Nama lengkap Ila siapa?"
"Shaquilla Tarisa, papa suka panggil Ila." Gadis kecil lucu itu cengar-cengir tidak jelas, menampilkan gigi-giginya yang putih bersih. Sena menghela napas lega, padahal dirinya tak begitu akrab bergaul dengan anak kecil.
"Boleh nggak Kakak karungin Ila?" Ila langsung menggeleng, bercerita kalau dia takut terkena ceramah dari papa yang overprotektif setibanya di rumah.
"Coba lo bayangin, Na. Ila aja cantik imut gini, gimana bapaknya? Pasti nggak kalah gantenglah." Sena bergumam menyetujui celetukan Rachel yang tak salah lagi, gen keturunan keluarga Ila memiliki paras-paras yang rupawan.
"Bye-bye Kakak-kakak cantik, Ila mau pulang duluan, bisa-bisa papa Ila yang lagi nunggu nanti khawatir!"
***
Selain hobi aneh Sena yang senang membaca pikiran dan mengoleksi mantan-mantan. Dia punya satu lagi kebiasaan lain yang dilakukannya selepas pulang sekolah, yakni turun tangan menyiram bunga-bunga anggrek yang ditanam di halaman belakang Jewel High School.
Mengapa Sena ikut-ikutan menyiram bunga yang jelas-jelas sudah rutin dikerjakan oleh sekelompok orang yang diketuai seorang lelaki dengan sejuta rumor buruk bernama Frasa?
Konon katanya, jangan pernah coba-coba mendekati Frasa Astial Juanda kalau masih ingin menjaga keutuhan mahkota suci untuk calon suami masa depan karena cowok itu sering sekali meniduri cewek-cewek yang tergila-gila padanya, hingga saat ini dikabari memiliki buah hati hasil hubungan wanita di kelab malam.
Seharusnya jangan mencap orang sembarangan, kebanyakan manusia lupa memanusiakan manusia lain. Selalu mengadili seseorang yang bisa jadi lebih baik darinya. Memalukan diri sendiri itu, mah, kalau terungkap bukti yang sesungguhnya.
Sena menyambar gembor sebelum beralih mengisinya sampai penuh di dekat salah satu sumber mata air.
Menurutnya, keistimewaan bunga anggrek terletak pada jenis bunganya yang beragam dalam bentuk mahkota bunga serta warnanya dan sulit untuk layu .... Sementara bentuk bunganya unik, cantik, menarik, dan beragam sehingga membuatnya berbeda dengan bunga dari jenis tumbuhan lain dalam satu suku.
Sena sesekali menghirup aroma wangi bunga anggrek yang menguar lembut selama berkeliling menyirami kebun bunga milik yayasan sembari tersenyum dengan wajah berseri-seri.
"Lo suka bunga anggrek juga?" Tiada angin tiada hujan, suara berat masuk ke panca indera. Sena terperangah, reflek menjatuhkan gembor yang digenggam sedari awal, sisa-sisa air menjamah rok abu-abunya.
"Astaga, lo jangan bikin kaget, dong!" seru Sena spontan hampir melatah.
Setelah membalikkan badan untuk melihat siapa yang mengejutkannya, Sena lantas tergagap mengetahui orang yang sempat dipikirkan menampakkan batang hidung.
Tingkah Sena mengundang tanya di benak Frasa yang memperhatikan gadis itu sejak masuk wilayah atas kuasanya. "Gue ulang sekali lagi, lo suka sama bunga anggrek?"
Manik hitam Sena berpendar liar, mencari cela agar bisa kabur sesegera mungkin. Nihil, dirinya terjebak bagai peribahasa *patah kemudi dengan ebamnya.