Keping - 7 - Rasa Benci Arya

2242 Kata
 Benar apa kata orang, karena suatu kebencian, maka akan membuat sifat manusia berubah. Seperti salah satu tokoh penjahat dalam serial superhero—Joker. Awalnya, ia adalah pria yang baik. Namun, ia berubah menjadi jahat karena tersakiti. Jadi, apakah Arya saat ini adalah seorang Joker? Entahlah, ia juga bingung menentukan sikapnya kepada sang istri. Setiap kali ia melihat wajah Shennina, rasanya mulutnya tak bisa berhenti mencaci maki wanita itu. Ia selalu teringat perjodohan mereka karena Shennina yang mencintai dirinya. Sebenarnya, tak ada yang salah dalam mencintai, tetapi Arya rasa Shennina terlalu memaksakan kehendaknya sendiri tanpa memikirkan perasaannya juga. Alhasil, semua yang ia rasakan dan ia simpan di dalam hatinya mulai ia tunjukkan kepada wanita itu. Arya sudah tak peduli lagi jika wanita itu merasa tersakiti karena sikapnya atau tidak. Itu bukanlah salah dirinya, siapa suruh wanita itu ingin menikah dengannya? Yang sama sekali tak mencintainya. Banyak lelaki di luar sana kenapa wanita itu harus mencintai dirinya? Arya meremas rambutnya dengan frustasi. Astaga ... memikirkan hal itu membuat kepalanya terasa ingin pecah. Akhir-akhir ini, bayangan wanita itu selalu muncul di benaknya. Dan saat itu pula ia merasakan rasa bencinya kian membesar. Haruskah ia berkata bahwa perasaan ini adalah perasaan bencinya kepada wanita itu? Rasanya terlalu kejam saja. "Bos!" Mata Arya tertuju kepada pintu ruangannya yang terbuka dan menampakkan seorang sahabatnya yang tengah tersenyum begitu lugas. Arya menghela napasnya pelan. Ah, jika Rian sudah datang ke kantornya, pasti keadaan kantornya akan tak sama lagi. Dalam artian, pria itu akan melakukan suatu hal yang tak terduga.  "Kenapa lesu begitu? Walah, penganten baru kok mukanya ditekuk gitu, sih? Kenapa? Kenapa? Sini cerita sama gue, bos! Istri lu kagak ngasih jatah atau gimana ini?" "Yan ... astaga ..." "Bener ya tebakan gue? Lu kurang jatah dari istri. Haduh ... kalau gue jadi lu sih, ya, gue bakalan betah di rumah aja, gue kurung tuh istri gue yang cantik kayak bidadari itu." "Astaga ... Rian. Tolong jangan bahas itu! Sekarang, kasih tau gue ... ngapain lu dateng ke kantor gue? Ada yang mau lu sampaikan atau bagaimana?" Artarian Atmaja tertawa lepas mendengar ucapan dari sahabatnya itu. Ia pun langsung duduk di hadapan Arya yang kini tengah duduk di kursi kebesarannya. Matanya menatap ke semua sudut ruangan itu. Lalu, keningnya mengernyit dalam. Tunggu ... seperti tak ada bedanya sama sekali dari terakhir kali ia datang ke ruangan ini. "Bro! Kok nggak ada foto pernikahan lu, sih? Sumpah, ruangan lu itu menoton banget, coba lu pasang foto pernikahan lu di tembok, ya, minimal di atas meja lu ada gitu fotonya." "Nggak! Gak mungkin gue lakuin itu." "Kenapa? Lu masih belum terima Shennina sebagai istri lu?" "Gue gak tau, Yan. Rasanya ... rasanya tiap kali gue liat mukanya, hati gue panas, gue benci itu." "Mulai sekarang, lu harus biasain diri lu sama kehadiran Shennina. Gue liat, dia itu gadis yang baik. Nggak kayak mantan lu yang model itu. Shennina lebih memiliki harga diri yang tinggi, bahkan jauh banget dari Diandra." "Jangan membandingkan Diandra dengan Shennina, Yan. Gue gak suka. Walau bagaimana pun kelakukan Diandra, dia tetep perempuan yang gue cintai." Kening Rian mengernyit dalam. Ia berusaha mencerna ucapan Arya. Demi Tuhan! Katakan jika yang ia dengar itu adalah sebuah kesalahan.  "Bo-doh! Lu bakalan jadi orang terbo-doh sedunia kalau lu masih mencintai wanita itu, Ya. Diandra bukan perempuan yang baik. Lu tahu sendiri itu. Bahkan, Shennina jauh lebih baik dari dia. Seharusnya lu bersyukur bosa dapetin Shennina. Dia tuh paket lengkap." "Paket lengkap apa? Lu kira makanan? Ngeliat aja nggak bisa dia. Apa yang harus dibanggain?" "Wah, jahat banget ucapan lu, bos! Istri sendiri malah digituin, giliran cewek lain lu bangga-banggain." Arya memutar bola matanya malas. Ia sungguh tak tertarik untuk membicarakan perihal pernikahannya saat ini. Rian malah datang dan membicarakan soal itu terus yang membuat Arya muak. Apalagi, Rian selalu memuji Shennina. Bagaikan wanita itu adalah wanita satu-satunya yang sempurna di muka bumi. Cuih! Sampai kapan pun Arya tak bisa menganggapnya seperti itu. "Lu ada urusan apa ke sini? Kalau cuma mau bahas pernikahan gue, mending lu balik aja dah. Gue lagi males banget, Yan." "Kalau gue bilang ... kasih Shennina buat gue, gimana?" Mata Arya membulat sempurna. Lalu, tawa kencang keluar dari mulutnya. "Ngacok, lu!" "Gue serius, Ya." "Lu mau bekas gue? Dia udah gue sentuh." "Why not? Walaupun begitu, dia tetep perempuan, Ya. Nggak ada bedanya." "Boleh, tapi nanti, ya. Kalau gue udah bosan pakai tubuh dia. Gue baru menikmatinya, Yan. Gak bisa gue kasih ke orang gitu aja sementara gue gak pernah puas sama Shennina." "Bang-sat!" Bugh! Tangan Rian memukul dengan kencang meja Arya hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring. Da-da pria itu kembang kempis, matanya menatap nyalang sahabatnya yang kini tengah menatapnya dengan bingung. "Gue nggak nyangka lu sebe-jat ini, Ya. Sumpah ... lu beda banget. Dulu lu nggak gini, lu paling menghormati yang namanya perempuan. Tapi kenapa sekarang berbeda?" "Gue ... gue ... rasanya gue benci sama dia, Yan. Dia yang buat gue masuk ke dalam pernikahan yang nggak sama sekali gue pengin." "Gue lebih memilih dicintai seseorang daripada mencintai orang." "Itu lu, tapi gue penginnya nikah sama cewek yang gue cinta. Gue bisa kasih semua hal buat Shennina, tapi buat cinta ... gue rasa itu hal yang mustahil." Arya memijat pelipisnya dengan kencang. Ah ... rasa pusing ini kembali menyerang dirinya. "Lu punya saudara perempuan, coba lu bayangin kalau Amora merasakan apa yang dirasakan sama Shennina, Ya." "Kok lu ngomong begitu, sih, Yan!" Rian tertawa renyah. Ia menatap Arya dengan tatapan yang meremehkan. Rasanya ia ingin sekali membenturkan kepala pria itu agar ia cepat sadar bahwa kelakuannya itu sangat salah.  "Nah, kan. Lu jadi marah kalau keadaan itu dibalik jadi adek lu sendiri. Bayangin gimana perasaannya Irfan kalau sampai tahu adeknya lu sakitin begitu?” Arya menelan salivanya. Ada benarnya juga ucapan Rian. “Ck! Udah deh, Yan. Jangan berlebihan gitu. Ini pernikahan gue, jadi biar gue yang urus, lu gak perlu repot-repot ngomong begitu.” “Gue cuma memperingati lu aja, Ya. Hukum tabur tuai masih berlaku. Ingat, karma.” Rian berdiri dari kursi. Ia merapikan sebentar jasnya yang kusut. Setelah itu, ia pun berjalan menuju pintu keluar. “Lu mau kemana?” Sebelum pintu itu tertutup, Rian menatap Arya sejenak. “Tawaran gue masih berlaku, Ya. Kalau lu bosan sama Shennina, lebih baik lu kasih dia ke gue. Gue bakalan bikin dia bahagia sampai dia menjadi perempuan paling bahagia di muka bumi.” “Rian, lu—astaga Rian sia-lan!” Arya memukul mejanya denga frustasi. Dari ucapan pria itu, sepertinya ia bersungguh-sungguh. Sebenarnya apa yang sudah Shennina berikan kepadanya sampai membuat pria itu begitu menginginkan istrinya itu? Sebelum ia melanjutkan ucapannya, Rian sudah lebih dahulu menutup pintu ruangannya dan pergi begitu saja. ••••• “Halo, Tuan Putri yang cantik jelita.” Shennina tersenyum senang mendengar panggilan yang biasa diucapkan oleh sahabatnya—Yuda. Ia saat ini berada di toko kerajinan tanah liat milik pria itu. Rasanya … ia bosan jika berada di apartemen terus, jadi ia memutuskan untuk datang ke toko Yuda dengan sopir pribadi Bundanya. Sebelum ke sini, Shennina sudah menghubungi supir itu. Shennina masih belum berani pergi menggunakan kendaraan umum, pernah suatu waktu ia menaiki taksi, namun yang ada bukannya ia sampai ke rumah malah ia dibawa menuju gedung tua dan hampir diper-kosa. Untungnya ia bisa terselamatkan saat itu karena ia berteriak kencang hingga beberapa orang datang. Dan sampai sekarang … Shennina sudah tak berani lagi untuk menaiki kendaraan umum. Ia masih trauma, mungkin karena ia tak bisa melihat jadi orang menganggapnya ia adalah wanita yang lemah. Tangan Shennina meraba satu per satu kerajinan tanah liat yang berada di etalase. Ia mengambil salah satu kendi dari sana, meraba semua permukaannya, lalu senyuman manis terukir di wajahnya yang cantik. “Ini bunga, lucu sekali.” Yuda yang melihat hal itu ikut tersenyum. “Ya, itu aku kasih hiasan bunga di pinggirannya supaya terlihat lebih cantik, seperti kamu.” “Ah, Mas Yuda nih, suka banget ngegombal.” “Abisnya, kamu lucu banget, Nin.” “Dari dulu aku lucu, kok baru nyadar sekarang, sih?” Mereka berdua pun tertawa bersama. Setiap kali Shennina datang ke toko Yuda. Ia selalu merasa senang. Dan saat ini, ia kembali datang ke toko Yuda untuk menghilangkan rasa sedihnya karena ucapan Arya yang begitu menyakiti hatinya. Mungkin, ia bisa mendapatkan hiburan di sini. Mas Yuda selalu mengerti tentang dirinya. Mereka sudah lama kenal dan sebelum menikah dengan Arya, ia selalu datang ke toko Yuda setiap hari minggu. “Mau bantuin aku nggak, Nin?” “Wah, mau banget dong.” “Aku dapat pesanan banyak banget. Dia pesen satu set teko sama tiga cangkir buat souvenir pernikahannya. Dan dia meminta ada ukiran nama dia dan juga suaminya di setiap teko dan cangkirnya.” “Oh, ya? Pasti lucu sekali.” “Nah, kamu tahu dia pesan berapa? 1000 set, Nin!” Shennina tampak kaget mendengar nominal yang disebutkan oleh Yuda. “Astaga banyak banget, Mas.” “Iya, alhamdulillah kebanjiran order.” “Ya udah, ayo kita bikin.” Yuda tersenyum senang. Ia pun menuntun Shennina berjalan bersamanya menuju tempat pembuatan kerajinan tanah liat. Shennina duduk di bangku kecil. Tepat di hadapan meja putar tempat pembuatan kerajinan tanah liat. Tangannya meraba ke samping kanannya yang biasanya ada air dan juga tumpukan tanah liat. Dan benar saja, bahan-bahan itu masih diletakkan di samping kanannya. Seperti biasa. Tampaknya Mas Yuda tak pernah memindahkannya karena ia tahu Shennina sudah terbiasa jika air dan tanah liat berada di samping kanannya. Tangan Shennina dengan telaten mengambil sedikit demi sedikit tanah liat lalu diletakkan di atas meja putar. Agar tanah liat dapat menyatu ia menggunakan sedikit air agar tanah liat itu menjadi lentur dan mudah dibentuk. Sementara itu, di sisi lain, Yuda menatap Shennina begitu intens. Ia melihat Shennina yang tampak senang membuat kerajinan tanah liat. Walaupun itu membuat kuku jarinya yang cantik kotor, namun Shennina tak peduli. Yuda mengakui bahwa kerajinan tanah lit yang dibuat oleh Shennina rapi dan memiliki kualitas yang bagus. Setiap datang ke tokonya, Shennina tak pernah absen untuk membantunya membuat kerajinan tanah liat. Bahkan, wanita itu sama sekali tak pernah meminta bayaran untuk kerja kerasnya itu. Shennina bilang kalau dia melakukan itu semua karena itu keinginannya. Dan Shennina sudah menetapkan bahwa membuat kerajinan tanah liat adalah salah satu hobinya. Yuda ingat, saat pertama kali ia bertemu dengan Shennina di toko ini. Saat itu, Shennina berusia 20 tahun. Dan ia datang bersama Bundanya. Mereka membeli banyak kendi, teko, vas bunga, cangkir dan piring. Entah bagaimana bisa, mereka berdua pun menjadi teman karena Shennina sering datang bersama ibunya ke tokonya. “Nin …” “Iya, Mas?” “Kamu … kamu bahagia sama pernikahanmu?” Yuda bisa melihat tubuh Shennina menegang. Jujur, sejak ia bertemu dengan suaminya Shennina di pesta pernikahan gadis itu. Ia merasa ada yang tidak beres dengan pria itu. Ia jadi selalu kepikiran tentang Shennina. Dan akhirnya … ia pun berani bertanya seperti itu kepada Shennina langsung. “Maaf … aku nggak bermaksud apa-apa, Nin. Aku hanya ingin tahu.” Dan kini, Shennina tersenyum. Membuat kencantikan gadis itu bertambah berkali-kali lipat. Yuda selalu terpesona akan dirinya. Shennina gadis yang lembut dan juga baik. “Nggak usah minta maaf, Mas Yuda. Aku senang Mas Yuda bertanya seperti itu. Aku bahagia sekali dengan pernikahanku. Bahkan Mas Arya memperlakukanku dengan sangat baik.” Namun, Yuda tahu bahwa semua ucapan Shennina itu adalah suatu kebohongan. Tampak jelas sekali dari mata wanita itu yang tersirat bahwa ia merasa tersakiti. Entahlah, mungkin itu hanya perasaannya saja. ••••• Saat jam kantor selesai, Arya bersiap-siap untuk pulang. Namun, ia dikejutkan oleh suara ponselnya yang berdering. Arya menatap nama yang tertera di layar ponselnya. Keningnya mengernyit dalam saat nama ‘Bunda’ tertera di sana. Untuk apa Bunda Shennina menelepon dirinya? Apa yang dilakukan oleh Shennina? Apakah wanita itu sudah mengadu kepada ibunya? Dan saat ini, ibu mertuanya itu menelepon dirinya untuk marah-marah? Astaga … mengapa terdengar sangat dramatis. Arya pun dengan cepat mengangkat telepon itu dan meletakkannya di telinga kanannya. “Halo, Bunda …” “Halo, Ya. Kamu lagi apa sekarang?” Kening Arya mengernyit. Ucapan Bunda sangat lembut, tak ada kemarahan yang terdengar. Sepertinya pemikirannya salah besar. Shennina masih memegang ucapannya itu untuk tak mengadu kepada siapapun. “Baru mau pulang kantor, Bun. Memangnya kenapa, ya? Bunda butuh sesuatu?” “Iya, Bunda butuh bantuan kamu. Nanti setelah pulang kerja, tolong mampir ke toko kerajinan tanah liat milik Yuda, ya? Jemput Shennina di sana. Soalnya mobil sama supirnya mau Bunda pakai ke acara arisan.” Arya memutar bola matanya malas. Astaga ada-ada saja. Dan Shennina mengapa bisa ada di sana? Apakah wanita itu tengah berselingkuh dengan pemilik toko kerajinan tanah liat itu? “Arya? Kamu denger Bunda ‘kan? Jadi, bisa nggak kamu ngejemput Chenin? Bunta minta tolong sama kamu, ya, Ya?” “Oh, iya, Bunda. Arya akan menjemput Nina. Bunda tenang saja. Nikmati acara arisannya. Shennina akan baik-baik saja bersama Arya.” Mudah sekali ia mengucapkan kata-kata penuh kebohongan seperti itu. Itu berlaga menjadi seorang menantu yang baik kepada mertuanya saat ini. Ia tak bisa membayangkan jika Bunda sampai tahu kelakuan aslinya kepada putri kesayangannya itu. Mungkin ia sudah mati terbunuh nantinya. “Oke, Arya. Terima kasih, ya. Bunda tutup dulu teleponnya.” “Iya, Bunda.” Setelah itu, Arya kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia membawa tas laptop di tangannya dan bersiap untuk pulang. “Ck! Shennina bisa tidak kau diam saja di apartemen? Menyusahkan sekali wanita itu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN