Keping - 8 - Kedatangan Mama dan Bunda

1434 Kata
Langkah kaki Arya yang besar masuk ke dalam sebuah toko. Di depan toko itu terpampang nama yang cukup besar ‘Kerajinan Tanah Liat Yuda’. Ya, tentu saja Arya tak asing dengan nama itu. Pertemuan pertama mereka di pernikahannya. Ia penasaran … untuk apa Shennina pergi ke sini? Oh, ya, tentu saja untuk berselingkuh darinya. Shennina dan Yuda sangat dekat, sudah seperti sepasang kekasih. “Selamat malam, ada yang bisa saya bantu, Pak? Silahkan dilihat-lihat dulu barang-barangnya.” Mata Arya tertuju kepada seorang perempuan yang tengah berbicara padanya. Sepertinya perempuan itu adalah salah satu karyawan di toko ini. Kini, matanya melirik satu per satu hasil kerajinan tanah lihat yang ada di etalase. “Silahkan dilihat-lihat saja dulu, Pak.” “Oh, nggak. Saya mau ngejemput istri saya.” Kening wanita itu mengernyit. “Istri Bapak?” “Namanya Shennina. Dia kata ibunya datang ke sini.” “Oh, si teteh. Iya, Pak! Dia ada di sini.” “Di mana dia sekarang?” “Ayo, Pak, ikut saya.” Arya menganggukkan kepalanya. Ia pun mengukuti langkah wanita di depannya. Hingga ia sampai di sebuah ruangan. Di sana ada seorang wanita dan seorang pria yang tengah bercanda ria. Wanita itu tampak senang sekali. Tawa lebar muncul di wajahnya sampai membuat matanya menyipit dan gigi-gigi putihnya terpampang dengan jelas. Astaga … Shennina benar-benar cantik. Arya akui itu.  “Itu, Pak, mereka.” Arya tersenyum kecil seraya mengangguk. “Terima kasih.” “Kalau begitu saya kembali bekerja lagi, ya, Pak.” “Oh, silahkan.” Arya menatap kepergian wanita itu. Setelah itu, tatapannya kembali tertuju kepada seorang wanita yang sudah resmi menyandang status sebagai istrinya itu. Dengannya, Shennina tak pernah tertawa selebar itu. Baru kali ini ia melihatnya. Arya menghela napasnya pelan. Ia pun berjalan mendekati mereka. “Wah, romantis sekali,” ucapnya dengan kencang. Senyuman miring terbit di wajahnya. Matanya menatap Yuda yang kini tengah menatapnya dengan datar. Lalu, beberapa saat kemudian, senyuman kecil pun terbit di wajah pria itu. “Arya. Selamat datang di toko saya.” Pria itu berdiri. Menyuci tangannya yang kotor karena memegang tanah liat, setelah itu ia pun membalikkan tubuhnya lagi untuk berhadapan dengan suami dari Shennina itu. Yuda dapat melihat sifat arogansi dari pria di hadapannya ini. “Nin, suami kamu, nih.” Yuda dapat melihat tubuh Shennina yang menegang. Lalu wanita itu pun tersenyum kecil seraya menganggukkan kepalanya. “Oh iya, Mas.” “Ayo kita pulang, Nin.” Arya mendekati Shennina. Yuda sudah terlebih dahulu membantu Shennina untuk berdiri, Arya mengangkat sebelah alis menatap mereka. “Biar saya saja, kalau kau lupa dia istri saya.” “Saya tak pernah lupa, Arya. Dia memang istrimu.”  “Ayo, pulang, Nin.” Arya menyentuh pinggang istrinya. Dapat ia rasakan tubuh Shennina yang terasa kaku di sebelahnya. Entahlah, mungkin Shennina tak terbiasa dengan perlakuannya kini. Arya hanya ingin menunjukkan kepada Yuda bahwa pernikahan mereka bahagia, ia harus pandai berlaga mulai sekarang. Agar tak ada satu pun orang yang mengetahui hubungan mereka aslinya bagaimana. Kecuali Mbak Sri tentu saja. “Mas Arya, aku belum pamit sama Mas Yuda.” Arya memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan Shennina. “Nggak usahlah,” bisiknya. “Tapi, Mas—” “Pulang sekarang, Shennina,” geram Arya seraya meremas pinggang Shennina hingga wanita itu meringis pelan. Arya pun membawa Shennina menuju mobilnya. Setelah sampai di mobil, Shennina duduk di depan bersamanya. Selama perjalanan pulang tak ada yang membuka suara satu pun. Hanya suara musik dari mobil yang menemani mereka. Namun, sesekali Arya mencuri pandang ke arah Shennina. Dapat ia lihat mata wanita itu selalu memandang lurus ke arah depan. Mata cantik berwarna hijau yang membuat siapapun melihatnya berdecak kagum, namun sayangnya mata itu tak berfungsi dengan normal. “Senang ya, habis bertemu dengan pacar,” Arya mulai membuka pembicaraan dan dia menekankan kata ‘pacar’ di akhir kalimatnya. “Dia bukan pacarku, Mas.” “Oh, ya? Kalian kelihatan sangat dekat, lho.” “Kami dekat bukan berarti berpacaran. Dia hanya teman sekaligus sahabatku saja.” “Saya nggak percaya perempuan dan laki-laki bisa menjalin hubungan pertemanan tanpa melibatkan perasaan. Saya yakin, salah satu di antara kalian pasti mempunyai perasaan lebih.” “Nggak seperti itu, Mas. Kami benar-benar hanya berteman.” “Sepertinya Yuda yang memiliki perasaan lebih untukmu, kalau kamu kan saya tahu kamu mencintai saya.” Dapat Arya lihat wajah Shennina yang mulai memerah sekarang. Jujur, Arya melihat itu terbayang kegiatan panas mereka. Saat Shennina berada di bawah kungkungannya, dan saat wanita itu mendapatkan kepuasannya. Wajahnya akan memerah. Di mata Arya itu terlihat sangat seksi. Astaga … memikirkannya saja sudah membuat sesuatu di bawah sana mengeras. Shennina … sebenarnya apa yang sudah dia lakukan sampai dirinya menjadi maniak se-ks seperti ini? “Mas jangan berpikiran buruk tentang Mas Yuda, dia tidak seperti itu. Aku mengenalnya dengan baik.” “Kita tidak tahu perasaan orang lain, Nin. Sebelum orang itu yang menyatakannya sendiri.” “Iya, Mas betul.” “Kita lihat nanti, apakah ucapan saya benar atau tidak?” Arya tersenyum miring. Lalu, terdengar suara telepon berbunyi. Arya memegang ponselnya sendiri, namun tak berdering sama sekali. Diliriknya Shennina yang kini tengah memencet satu tombol di ponsel miliknya. Ponsel itu ponsel jadul yang tak menggunakan teknologi touchscreen. Padahal uang keluarga mereka sangat banyak, mengapa hanya membelikan ponsel usang ketinggalan zaman seperti itu? “Halo, Bun?” Arya memasang telinganya dengan lekat. Ia akan menguping semua pembicaraan Shennina kepada Bundanya. “Oh, iya … ini Mas Arya udah ngejemput aku. Bunda mau pulang dari arisan? Hah? Jangan, Bun. Gak usah datang. Astaga … Bunda jangan. Hah? Bunda dalam perjalanan sama Mama? Ya ampun … oke … oke. Aku tutup teleponnya, dah, Bunda.” Arya melihat Shennina yang kini tampak panik. “Kenapa?” “Bunda mau ke apartemen, dia lagi di jalan sama Mama.” “Sh-it!” Arya memukul stirnya dengan kencang. “Mau apa mereka ke sana?” Shennina menggelengkan kepalanya. “Aku juga nggak tahu.” “Kenapa kamu nggak mgelarang mereka, sih, Nin?!” geram Arya. “Sudah, Mas, tapi mereka tetap ingin datang ke apartemen. Maafin aku.” “Ah, si-al!” Arya mulai mempercepat laju mobilnya. Ia tak ingin Mama dan ibu mertuanya duluan yang sampai ke apartemen miliknya. Ia tahu, Mamanya sudah hafal dengan akses masuk ke dalam apartemennya. Jangan sampai mereka melihat keadaan yang sebenarnya. Apalagi kalau mereka sampai tahu bahwa dirinya dan Shennina tak tidur satu kamar. “Mas, jangan cepat-cepat bawa mobilnya, aku takut.” “Kalau tidak cepat nanti mereka sampai duluan ke apartemen! Kamu gimana, sih?!” ucap Arya kesal. Emosinya sudah tak bisa ia kontrol lagi sekarang. Shennina menundukkan kepalanya. “Maaf, Mas … aku hanya nggak bisa jika mobilnya terlalu cepat, aku takut.” “Mulai dibiasakan sekarang. Jangan jadi wanita manja.” Tanpa Arya sadari, mata Shennina sudah mengeluarkan air mata. Wanita itu menangis dalam diam. Dengan segera, ia pun menghapus air matanya. Ia takut jika Arya melihatnya menangis maka pria itu akan kembali memarahinya. Ia tak ingin membuat Arya marah karena ia tahu pasti Arya sudah sangat lelah setelah pulang kerja dan malah menjemputnya di toko Yuda. Jadi, Shennina lebih memilih diam hingga mereka sampai di apartemen. ••••• Sesampainya di apartemen, Arya dengan cepat menyuruh Mbak Sri memindahkan seluruh pakaian Shennina ke dalam kamarnya. Dan barang-barangnya tentu saja. Ia membantu Mbak Sri agar pekerjaannya cepat selesai sebelum Mama dan Ibu Mertuanya datang. Lalu, terdengar suara beling kaca jatuh ke lantai. Dilihatnya Shennina yang berdiri di dekat pecahan kaca itu. Arya berdecak kesal. Wanita itu benar-benar tak berguna sama sekali. Hanya bisa merecokan saja. “Sudah saya bilang, lebih baik kamu diam dan duduk saja, Nin.” “Tapi, aku ingin membantu kalian, Mas …” “Kamu bukan membantu namanya, tapi malah merepotkan! Sekarang siapa yang akan membersihkan semua itu?!”  Arya melihat Shennina yang menundukkan kepalanya. “Maaf, Mas. Biar aku yang membereskannya.” “Gak usah, Non. Biar Mbak aja yang membersihkannya.” “Tapi, Mbak—” “Sudah. Jangan membantah lagi, Shennina. Biar Mbak Sri yang membereskan semuanya. Kamu lebih baik duduk diam saja dan tak melakukan apapun dari pada harus merepotkan orang disaat genting seperti ini.” “Maaf, Mas. Aku nggak akan mengulanginya lagi.” “Bagus, sekarang lebih baik kamu tunggu di ruang tamu.” Belum sempat Shennina pergi ke ruang tamu. Tiba-tiba suara heboh terdengar. “Arya! Yuhuu … Mama datang.” Arya langsung membulatkan mata mendengarnya. Dilihatnya tumpukan baju yang berada di tangannya. Astaga … ia belum menaruh baju ini di kamarnya. Namun, Mamanya sudah datang. “Argh, si-alan!” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN