"Mama ..."
Ayudia menatap menantunya yang kini tengah berjalan ke arahnya seraya menggunakan white cane sebagai penuntunnya. "Loh, sayang? Sendiri aja? Mana Arya?"
"Kamu mau kemana?" Kini, giliran Deswita—ibu Shennina—yang berbicara.
"Aku ... aku mau ke ruang tamu, mau nonton televisi—ehm bukan nonton tapi ngedengerin hehe ... kalian temenin aku, ya?"
"Eh, Arya mana? Dia udah pulang kantor 'kan? Kata Bundamu Arya pulang kantor sekalian ngejemput kamu di toko kerajinan."
"Iya, udah kok, Ma. Sekarang dia lagi mandi dulu, gak enak katanya gerah."
Astaga ... maafkan dirinya ini Tuhan yang sudah berkata bohong kepada dua orang ibu di hadapannya. Ia melakukan ini semua untuk membantu Arya agar segera menyelesaikan pekerjaannya memindahkan barang-barangnya ke kamar milik pria itu.
"Eh tapi—"
"Yaudah, gak apa-apa, Des. Kita obrolin nanti aja setelah Arya selesai mandi." Ayudia berkata kepada besannya itu. Lalu, tangannya mengapit lengan Shennina dan mengajaknya untuk menonton televisi. Mereka pun duduk bertiga di depan sebuah televisi.
"Masih lama nggak Arya mandinya?" tanya Deswita kepada putrinya. "Kamu senang tinggal di sini? Betah?"
Shennina memejamkan matanya sejenak. Lalu, ia pun menyunggingkan sebuah senyuman yang manis. Menganggukkan kepalanya pelan berharap kedua ibu di samping kanan dan kirinya bisa menyimpulkan sendiri.
"Arya baik 'kan sama kamu, sayang?"
Tidak, Ma.
Rasanya Shennina ingin berkata jujur. Mengatakan semua perilaku pria itu kepada ibunya sendiri. Namun, Shennina tak ingin membuat Arya dimarahi oleh ibunya. Ia juga tak ingin Arya dibenci oleh ibunya. Lagi pula, dirinya sudah berjanji kepada Arya bahwa ia tak akan mengatakan apapun tentang pernikahan mereka kepada kedua orang tua.
"Kalau Arya melakukan hal yang menyakiti hati kamu, terus juga nanti kalau Arya amit-amit berlaku kasar sama kamu, kamu harus mengatakannya kepada Mama dan juga Bunda. Jangan didiamkan sendiri, Nin." Ayudia menggenggam tangan menantunya yang terasa dingin. Keningnya mengernyit pelan. "Tangan kamu dingin banget, kamu baik-baik aja 'kan, Sayang?" lanjut Ayudia.
"Ah, aku gak apa-apa, Ma. Cuma dingin aja kena AC terus di sini."
Ayudia terkekeh pelan. "Oh, begitu, nanti minta Mbak Sri buat naikin suhunya aja, biar kamu nggak kedinginan."
"Aku yakin Arya nggak akan berbuat hal serendah itu kepada Chenin, Yu." Deswita mulai membuka suara. "Dia pasti akan menjaga Chenin dengan baik. Dia tak akan menyakiti hati Chenin. Dia anakmu, aku yakin dia sama sepertimu yang punya rasa kasih sayang yang tulus."
Nyatanya ... anakmu ini sudah tersakiti, Bun.
Shennina memejamkan matanya. Pedih sekali saat ibunya sendiri seakan sudah sangat paham dengan tabiat menantunya. Dan ia mengira bahwa menantunya itu adalah menantu yang sangat baik. Nyatanya, tak seperti yang ia bayangkan.
"Des ... aku paham, tapi bukan berarti Arya anakku kamu jadi sudah sangat mempercayai dirinya. Kita nggak tahu ke depannya bagaimana," ujar Ayudia.
"Iya, yang penting sekarang kita harus perbanyak berdoa untuk kebaikan anak-anak kita. Agar pernikahan mereka langgeng dan bahagia," jawab Deswita.
Shennina hanya diam sambil mendengarkan pembicaraan kedua wanita paruh baya itu.. Saat ini, ia masih bisa menahan semua rasa sakit yang ia miliki. Tak tahu sampai kapan ia bisa menahannya. Tetapi, ia juga tak akan memberitahu siapapun perihal perilaku Arya yang sangat membenci dirinya. Biarlah, biarlah itu hanya dirinya yang tahu. Dan juga ... Mbak Sri tentu saja.
"Mama ... Bunda ... sudah lama datang?"
Ah, pria yang sedari tadi menjadi topik pembicaraan mereka akhirnya muncul juga. Shennina tertawa miris mendengar suara Arya yang terdengar lembut di telinganya.
"Sini, Sayang ... duduk di sebelah Chenin."
Shennina menegang. Lalu, ia pun merasakan tempat di sebelahnya mulai terisi. Ia juga merasakan tangan Arya yang kini sudah melingkar di pundaknya. Shennina meneguk salivanya dengan gugup. Perlakuan Arya kepadanya di depan kedua ibu mereka sangat lembut. Sepertinya ... ia tengah memerankan sesosok suami yang begitu menyayangi istrinya. Suaminya itu memiliki bakat yang tersembunyi, yaitu berakting. Mungkin, jika Arya mengikuti pagelaran piala Oscar, maka pria itu akan menjadi juaranya.
"Wah, kalian bener-bener serasi, Mama suka lihatnya."
Shennina tersenyum kecil mendengar suara Mama yang terdengar begitu senang. Lalu, ia merasakan tangan Arya yang menarik tubuhnya sampai tubuhnya kini sudah menubruk tubuh pria itu. Dan kepala Shennina berada di pundaknya. Shennina menghela napasnya dengan berat saat tangan besar Arya mulai mengelus rambutnya lembut.
"Iya, dong, Ma ... kita emang serasi banget, iya, gak, Nin?"
"I—iya, Mas."
"Shennina juga senang tinggal di apartemen Arya, kalian nggak usah mengkhawatirkannya lagi, Arya pasti akan menjaga Shennina dan memberikannya yang terbaik."
Kamu bohong, Mas.
"Nah, benar 'kan, apa kataku, Yu. Arya suami yang baik. Dia pasti nggak akan berbuat hal yang jahat ke Chenin."
"Ngomong-ngomong ... kalian berdua ada apa ke sini?" suara berat Arya kembali menginterupsi.
"Memangnya salah kalau Mama sama Bunda datang ke sini untuk melihat keadaan kalian?"
"Nggak gitu, Ma. Kan Arya cuma nanya, lagian tumben banget Mama datang ke apartemen, biasanya nggak mau terus."
"Kami berdua ada hadiah untuk kalian." Deswita tersenyum menatap Arya dan juga putrinya secara bergantian.
"Apa itu, Ma?" Kini, Shennina sudah penasaran. Ia sangat suka dengan yang namanya hadiah. Menurutnya, begitu menyenangkan bisa dapat hadiah dari seseorang karena ia merasa sangat spesial.
"Tiket perjalanan honeymoon!"
Arya menatap tangan ibu mertuanya yang sudah memperlihatkan dua buah tiket. Ia memejamkan matanya sejenak. Astaga ... ada-ada saja kelakuan dua orang ibu di hadapannya ini. Ia membayangkan pergi liburan bersama Shennina ke tempat itu. Yang ada bukannya mereka liburan malah dirinya yang repot harus mengurusi wanita itu. Tetapi, mungkin bisa dipertimbangkan lagi. Ia tak akan mengajak Shennina kemana pun, ia akan mengurung Shennina di kamar dan mereka menghabiskan waktu berdua. Ah, yang ini terdengar menyenangkan.
"Ho—honeymoon ke mana, Bun?" Shennina berkata dengan gugup setelah mendengar bahwa ibu mertua dan Bundanya sudah menyiapkan mereka tiket untuk liburan.
"Ke Maldives, tempat itu sangat bagus dikunjungi pasangan baru menikah seperti kalian."
"Percuma, Bun. Aku gak bisa melihat keindahan yang Bunda bilang. Lebih baik di sini saja, nggak usah ada honeymoon segala. Bunda tahu kan kalau aku paling nggak suka liburan. Karena aku nggak bisa menikmatinya." Shennina berkata dengan suara yang sedih.
"Chenin ..." Ayudia mulai berkata. "Jangan bilang begitu, ada Arya juga. Dia bisa jadi mata untukmu, dia nggak akan membiarkanmu sedih seperti itu, iya 'kan, Ya?" lanjutnya.
"Eh, ehm ... iya ... iya ... Ma. Kamu nggak usah mikirin hal itu, Sayang." Arya berkata seraya mengelus lengan Shennina yang tertutupi kaos. Dilihatnya Mama dan Bunda yang sudah tersenyum lebar menatap ia dan juga Shennina.
"Nah, gak ada yang perlu kamu takutkan lagi, Nin."
"Aku takut, aku takut hilang seperti terakhir kali kita berlibur ke Turki, Bun."
Deswita terkekeh pelan. “Nggak akan dong, Sayang. Pas itu kan kita memang banyakan sampai kamu bisa hilang seperti itu, kalau ini kan cuma berdua, Arya pasti akan lebih menjagamu di sana.”
Arya memutar bola matanya malas. Ia sudah seperti bodyguard untuk wanita itu. Dirinya yang dilimpahkan semua tanggung jawab. Ia tak akan bisa menikmati liburannya kali ini. Karena ia bersama seorang wanita yang tak bisa melakukan apapun seperti Shennina.
Sungguh, wanita itu sangat merepotkan!
“Jadi, gimana? Kalian mau ‘kan? Mama dan Bunda udah pengen banget punya cucu. Anak kalian nanti yang akan menjadi cucu pertama kami, lho.”
“Tapi, Ma … nggak perlu sampai honeymoon segala ‘kan?” Shennina masih berusaha untuk menolak.
“Haruslah, Chenin. Mama tahu Arya tuh paling senang bekerja. Dia pasti jarang ada waktu buat berduaan sama kamu. Jadi, lebih baik kalian pergi honeymoon saja. Waktu kalian bakalan lebih banyak berduaan di sana. Peluang kami memiliki cucu juga lebih besar, iya kan, Des?”
Mas Arya bahkan hampir setiap malam melakukannya, Ma.
“Betul. Betul, apa yang dikatakan sama Mama mertua kamu, Nin.”
Shennina jadi tak enak untuk menolaknya setelah mendengar ucapan Bunda dan ibu mertuanya yang terdengar ingin sekali mereka pergi berlibur. Jadi, apakah ia harus menerimanya? Lagian sayang juga jika tiketnya tak digunakan. Shennina paling tidak suka menghambur-hamburkan uang. Walaupun ia dari keluarga yang sangat berkecukupan, namun kedua orang tuanya sudah menanamkan sifat hemat sejak kecil. Dan hingga sekarang, Shennina pun menjadi wanita yang tak terlalu suka dengan kemewahan. Padahal, dengan uang yang ia miliki, dirinya bisa membeli apapun yang ia mau.
“Aku terserah apa kata Mas Arya saja, Ma, Bun. Soalnya dia juga kerja, aku nggak mau memutuskannya sendiri,” ucap Shennina.
“Kalau kamu mau, ya kita akan pergi berdua ke sana, Sayang …” ucap Arya dengan lembut. “Nggak usah pikirin pekerjaan, yang penting kita berlibur dulu, kamu mau?”
Shennina menghela napasnya sejenak sebelum akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya. “Iya, Mas.”
“Oke, Shennina mau. Jadi, kapan jadwal keberangkatannya?” Arya bertanya kepada kedua ibu itu.
“Lusa. Lusa kalian harus berangkat! Persiapkan semua kebutuhannya dari sekarang!” Mama berucap dengan antusias.
“Jangan lupa di sana kalian harus foto-foto dan mengirimkannya ke kami,” kata Bunda.
Shennina tersenyum kecil. Ia senang mendengar Bunda dan ibu mertuanya yang sangat antusias dengan rencana liburan ia dan suaminya yang sudah disetujui.
“Jangan merepotkan saya, nanti.”
Bulu kuduk Shennina menegang saat mendengar ucapan yang sangat kecil keluar dari bibir Arya tepat di telinganya. Ya Tuhan … semoga saja saat di sana ia tak diperlakukan yang aneh-aneh oleh suaminya. Jujur, Shennina menjadi takut sekarang.