bc

HASRAT TERLARANG SANG PROFESOR

book_age18+
312
IKUTI
3.1K
BACA
HE
teacherxstudent
age gap
arrogant
bxg
campus
city
professor
like
intro-logo
Uraian

HATI-HATI!! BACAAN DIATAS 21++

Amerta Putri (22 tahun) adalah mahasiswi Fakultas Hukum yang sedang berada di fase paling membingungkan dalam perkuliahannya. Di saat teman-teman seangkatannya mulai mengajukan seminar proposal, Amerta justru masih berkutat mencari judul penelitian yang tepat. Ditambah dengan kesibukan magang yang menyita waktu dan tenaga, hari-harinya dipenuhi tumpukan jurnal, konsultasi yang tak kunjung membuahkan hasil, serta tekanan untuk segera menyusul teman-temannya menuju tahap skripsi.

Merasa penat dengan rutinitas yang terus berulang, Amerta akhirnya menerima ajakan kedua sahabatnya untuk pergi ke klub malam untuk pertama kalinya. Namun ternyata itu keputusan yang langsung disesalinya.

Alih-alih menikmati suasana, Amerta justru pusing melihat lampu yang berkelap-kelip, musik yang memekakkan telinga, dan berbagai pemandangan yang membuat wajahnya memanas. Setelah beberapa gelas alkohol yang bahkan tidak ia ingat rasanya, Amerta memutuskan kembali ke hotel lebih dulu.

Namun dalam keadaan setengah sadar, ia melakukan kesalahan yang mengubah seluruh hidupnya, Amerta malah salah masuk kamar hotel.

Adiguna Maharaja (38 tahun) adalah sosok yang nyaris sempurna di mata banyak orang. Guru Besar Fakultas Hukum termuda, advokat ternama yang menangani berbagai perkara besar, sekaligus salah satu figur berpengaruh di yayasan yang menaungi universitas tempat Amerta berkuliah. Dengan kecerdasan, ketegasan, dan karisma yang dimilikinya, Adiguna menjadi sosok yang dihormati sekaligus ditakuti oleh mahasiswa maupun para dosen.

Karier gemilang, keluarga terpandang, wajah yang selalu menjadi bahan pembicaraan, dan seorang kekasih influencer terkenal membuat hidupnya tampak berjalan tanpa cela. Namun tidak ada yang tahu bahwa Adiguna memiliki satu kebiasaan buruk. Setiap kali masalah datang dan pikirannya terlalu penuh, ia memilih menenggelamkan diri dalam alkohol.

Dan malam itu, ia minum jauh lebih banyak dari biasanya hingga ketika seorang wanita tiba-tiba masuk ke kamarnya, Adiguna yang mabuk berat mengira wanita itu adalah kekasihnya hingga ia menciumnya, memeluknya dan membelainya.

Di sanalah semuanya bermula……

Sebuah kesalahan yang seharusnya hanya berlangsung satu malam justru menyeret mereka ke dalam hubungan yang tidak pernah mereka rencanakan. Terhalang usia, kedudukan, status sosial, serta norma yang tidak boleh dilanggar, Amerta dan Adiguna berusaha meyakinkan diri bahwa mereka berasal dari dua dunia yang berbeda.

Namun semakin keras mereka menjaga jarak, semakin sering takdir mempertemukan mereka.

chap-preview
Pratinjau gratis
Malam Gairah
“A— ahhh…. Pelan-pelan, Sayang. Milikku perih….” “Tahan sebentar! Jangan rapatkan kakimu… Arghhh!” Suara-suara laknat itu nyatanya tetap menyentuh gendang telinga walaupun perempuan bernama Amerta Putri. Sayangnya ia sulit kabur dengan kondisi kepala yang pening dan penerangan yang tidak jelas, kelap-kelip lampu malah menyebabkan matanya terasa sakit. “Aaaahhh! Anghhh! Udah! Keluarin!” Sialan! Seharuanya Amerta tidak ikut ajakan kedua temannya, Arthika dan Rumi yang mengajaknya ke klab malam. Mereka menjanjikan menyewa ruang VIP untuk Amerta yang pertama kali ke tempat seperti ini. Namun, ruangan ini lebih mengerikan daripada lantai dasar dimana orang-orang meliukan badan. VIP Room ini dipenuhi desahan sepanjang Lorong, manusia-manusia itu bersetubuh dengan gilanya, suara yang mengganggu hingga pintu yang tidak tertutup. Tidak tahu malu! “Anjir, anjir! Emang harusnya gak kesini. Emang itu gak sakit kah dipake rame-rame gitu? Mamah…. Gak mau kesini lagi,” gumamnya sembari melangkah lebih cepat menuju VIP Roomnya. Ini semua gara-gara toilet di ruangannya rusak, Amerta terpaksa keluar dan melihat sangat banyak adegan menjijikan. Tidak, nyatanya semua ini berawal dari proposal skripsi yang belum kunjung terjadi. Bagaimana bisa seminar, apabila Amerta tidak memiliki satu judul pun untuk diajukan. Sebab ketentuan di kampusnya, tiap mahasiswa memiliki tiga judul untuk diseminarkan, sayangnya Amerta tidak memiliki satupun. Selain otaknya yang termasuk rata-rata, Amerta ini type mahasiswa kupu-kupu yang tidak memiliki banyak relasi. Bahkan tidak ada satupun dosen yang mengingat nama dan wajahnya, jadi kemana ia akan meminta bantuan? Kadang Amerta menyesali dirinya yang memiliki sifat kurang terbuka dan pemalu ini. “Rum? Mana Arthika?” Tanya Amerta begitu memasuki kembali VIP Room. “Ada cowok ngajak kenalan terus dia kebawah,” gumam Rumi yang tampak sangat mabuk, tengah berbaring di sofa dengan botol di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya sibuk melambai seolah hendak menangkap udara. “Uwuuuu… kapan ya datangnya cowok ke gue?” “Rum, gue mau balik duluan deh. Pusing banget ini. Tapi kayaknya gak kuat kalau ke kostan, lo sewa hotel ‘kan?” “Ha’ah….” “Mana kartunya?” “Hah? Nomor hape? Nanti ya, nunggu putus dulu sama yang ini, he he he…” Rumi mulai melantur kemana-mana. Amerta menghela napasnya dalam, kepalanya sudah sangat pening meminum cairan kekuningan tadi. Jadi dengan nekat, ia mencari kartu akses ke kamar hotel di tas kedua temannya. “Kita balik kalau udah agak seger,… hnghh… mendingan lo pulang sih daripada nyusahin,” gumam Rumi membalikan badan menghadap punggung sofa. “Ck, gue dapet nih kartunya. Gue balik dulu ya,” ucap Amerta. Tapi sebelum keluar dari sana, ia meraih sebuah botol air minum mineral. Ia meneguknya cepat tapi kemudian menyadari sensasi hangat di tenggorokannya. “Ini bukan alkohol kan?” gumamnya. Mengabaikan segala bentuk pertanyaan, Amerta segera keluar dari sana. Begitu pintu tertutup cukup kencang, Rumi membalikan badan dan melihat botol yang habis diminum oleh temannya tersebut. “Vodka… punya…. Si Tika… Mana kadar alkoholnya tinggi.” Bergumam sambil mencoba meraih kesadarannya lagi dengan duduk. “Minumannya dicampur gak ya sama si Tika? Ah bodo amat, lagian dia balik ke hotel…ngh… gak akan ketemu sama cowok aneh-aneh.” Dan Rumi melanjutkan tidurnya. *** “Ini kenapa… makin pusing,” gumam Amerta bahkan ketika ia berdiri diam di dalam lift. Kepalanya terasa sangat berat, seolah ada seseorang yang meletakkan batu besar tepat di atas ubun-ubunnya. Namun anehnya, tubuhnya justru terasa ringan, terlalu ringan, sampai-sampai ia merasa kalau berdiri sedikit lebih lama lagi mungkin dirinya akan melayang seperti balon yang terlepas dari genggaman. Perutnya juga mual, pandangannya berkunang-kunang, dan hawa panas yang menjalar dari tengkuk hingga pipi membuatnya ingin mengeluh sepanjang jalan. Padahal tadi abis minum gak separah ini, kenapa ini makin…. “Kenapa juga kemarin milih kamar suite...” dumalnya pelan sambil bersandar pada dinding lift. Padahal kamar biasa dekat lobi juga tidak masalah. Tapi demi pengalaman sekali seumur hidup merasakan lantai paling atas hotel mewah, mereka rela patungan. Sekarang Amerta menyesalinya. Rasanya perjalanan menuju kamar seperti perjalanan menuju puncak gunung. Begitu pintu lift terbuka, Amerta melangkah keluar dengan langkah yang tidak lagi lurus. Lorong panjang berlapis karpet tebal itu terlihat bergoyang di matanya. Lampu-lampu kuning hangat yang biasanya indah justru membuat kepalanya semakin berdenyut. Ia beberapa kali harus berhenti dan menempelkan telapak tangan ke dinding. “Nggak lucu kalau aku pingsan di sini...” gumamnya. Napasnya mulai terasa berat. Tubuhnya semakin panas. Pandangannya semakin buram sampai nomor kamar di ujung lorong terlihat seperti deretan angka yang menari-nari. Akhirnya ia sampai di depan pintu suite. Dengan susah payah Amerta mengeluarkan kartu akses dari saku jaketnya. Tangannya gemetar ketika menempelkan kartu itu ke sensor. Tut. Lampu merah. “Huh?” Amerta mencoba lagi. Tut. Lampu merah kembali menyala. “Kok nggak bisa...?” Amerta mengerutkan dahi. Kepalanya makin pusing. Dalam keadaan setengah sadar ia menempelkan kartu itu sekali lagi, namun kali ini kesabarannya habis. “Aduh, terserah deh...” Dengan kesal ia mendorong gagang pintu dan pintu itu terbuka. Amerta membeku beberapa detik. “Loh?” Namun otaknya sudah terlalu lelah untuk memikirkan alasan kenapa pintu itu ternyata tidak terkunci. Yang ada di pikirannya hanya satu hal yaitu kasur. Ia masuk begitu saja tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Tasnya bahkan jatuh begitu saja di dekat pintu. Langkahnya terhuyung menuju tempat tidur besar di tengah ruangan. Begitu melihat kasur empuk itu, seluruh pertahanannya runtuh. Bruk! Amerta langsung menjatuhkan diri dengan posisi tengkurap. “Ya Tuhan...” Ia memejamkan mata rapat-rapat. Kepalanya terasa seperti diputar-putar. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Tubuhnya panas. Sangat panas. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, atau mungkin hanya beberapa detik. Amerta sudah tidak yakin sebab kesadarannya seperti naik turun di tengah kabut tebal. Lalu... Ia mendengar suara langkah yang sangat samar. Amerta mengernyit. Apa ada orang lain di kamar ini? Pikirannya terlalu lambat untuk memproses hingga suara langkah itu semakin dekat. Lalu berhenti tepat di dekat tempat tidur. Dan saat itulah Amerta merasakan seseorang naik ke atas ranjang, merangkak mengukung tubuh kecilnya yang tengkurap. Apa hantu? Amerta dengan sisa kesadaran dan kekuatannya itu berusaha menoleh melihat siapa yang ada diruangan ini bersamanya. “Sia— hmphhh!” Belum selesai ia bicara, bibirnya dibungkam oleh ciuman yang begitu dalam. Tidak memberikan kesempatan Amerta untuk kabur, daada bidang pria itu menekan punggung Amerta hingga ia tidak bisa berontak. Panasnya ciuman juga membelah kesadaran perempuan 22 tahun itu. Ciuman yang sepanas dan sebasah ini baru ia rasakan, bahkan dengan jelas ia merasakan lidah itu melumat bibirnya, memaksanya membuka bibir. Dan seolah tahu mendapatkan penolakan, pria itu menghentikan ciuman. “Buka mulut kamu.” Amerta mengerutkan kening, suara ini…. perlahan mata Amerta menyipit, mencari fokus supaya tahu siapa sebenarnya pria bajiingan yang berani menciumnya. Bukan mimpi ‘kan? Dan detik itu…. Jantungnya seketika berhenti berdetak selama sepersekian detik melihat pria yang ada di atasnya. Profesor Adiguna Maharaja. Nama yang begitu dikenal di Fakultas Hukum. Dosen yang membuat mahasiswa gemetar setiap kali memasuki ruang kuliah. Advokat ternama yang wajahnya kerap muncul dalam pemberitaan nasional. Salah satu tokoh penting yayasan yang menaungi kampus mereka. Sosok yang nyaris mustahil dijangkau mahasiswa biasa seperti dirinya. Namun sekarang pria itu berada tepat di hadapannya. Terlalu dekat dan terlampau nyata. Amerta bahkan mulai meragukan kesadarannya sendiri. Apakah demam dan pusing ini membuatnya berhalusinasi? Bibirnya bergerak hendak mengucapkan sesuatu, “Ba— hmphhh!” Tapi kesempatan itu tidak disia-sia kan oleh pria di depannya. Saat mulut Amerta terbuka, lidah panas itu dengan mudah menyusup, mengabsen deretan gigi, melumat hingga saliva bertebaran. Dan Amerta mulai kehilangan tenaga, bahkan untuk mendorongnya saja, tangannya yang gementar malah ditahan oleh pria bertubuh besar ini.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
743.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.7M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
976.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
357.4K
bc

Not just, the Beta

read
347.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook