bc

Di Balik Cadar Sang Pengganti

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
age gap
fated
arranged marriage
badboy
goodgirl
mafia
drama
sweet
bxg
city
substitute
like
intro-logo
Uraian

Shanum dipaksa menggantikan adiknya, Syifa, untuk menikah dengan Ghazi Rayyan Alfarizzi demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran finansial. Ghazi yang dingin dan penuh ancaman memaksa pernikahan itu dengan tekanan dan bukti kejahatan keluarga Shanum. Meski hancur dan terluka, Shanum akhirnya menerima demi ayahnya, namun ia bertekad kuat tidak akan tunduk dalam hidup barunya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Pengorbanan yang Dipaksakan
Suasana di ruang tamu kediaman keluarga Adiningrum terasa sebeku es. Aroma teh melati yang biasanya menenangkan, kini justru tercium menjijikkan dan membuat perut Shanum mual. Di balik selembar kain hitam yang menutupi seluruh wajahnya, hanya tersisa sepasang mata bening yang kini menyala menahan amarah. Shanum menatap ayahnya dengan pandangan tak percaya, seolah tak mengenali pria yang selama ini ia hormati itu. Di hadapannya, Bambang Adiningrum duduk terpekur dengan wajah yang tampak menua sepuluh tahun dalam semalam. Sementara di sudut ruangan, Syifa, adik kandung Shanum, bersimpuh di lantai sambil mengeluarkan isakan tangis yang terdengar dibuat-buat dan berlebihan. "Tidak, Yah. Shanum tidak bisa melakukan hal ini," suara Shanum terdengar lembut karena teredam kain cadar, namun ketegasan dan penolakannya sama sekali tidak goyah. Bambang menggebrak permukaan meja jati di hadapannya hingga benda-benda di atasnya bergetar. "Lalu siapa lagi kalau bukan kau? Adikmu ketakutan setengah mati! Dia secara tidak sengaja merusak kesepakatan bisnis paling besar yang pernah keluarga kita lakukan dengan keluarga Alfarizzi. Dan satu-satunya cara agar kita tidak jatuh miskin, hancur lebur, bahkan dipenjara, adalah dengan memenuhi janji pernikahan ini!" Shanum mengalihkan pandangannya ke arah Syifa dengan perasaan perih yang menusuk d**a. "Syifa sendiri yang menjanjikan dirinya untuk dinikahkan dengan Ghazi Alfarizzi. Sekarang, setelah dia tahu betapa dingin, kejam, dan mengerikannya pria itu, kenapa justru aku yang harus menjadi tumbal demi menyelamatkan kesalahan dia?" Syifa merangkak mendekat ke arah kakaknya, tangan mungilnya terulur hendak memegang ujung pakaian Shanum, namun urung bergerak saat ia menangkap sorot mata tajam dan dingin yang dilontarkan kakaknya. "Kak... Tolong aku. Kabar yang beredar itu benar. Ghazi itu sama sekali tidak punya hati nurani. Aku dengar dia tidak segan-segan menghancurkan hidup dan masa depan orang lain hanya karena masalah sepele yang menyinggung egonya. Aku takut, Kak! Aku pasti tidak akan kuat hidup di samping pria mengerikan seperti dia," rengek Syifa penuh kepura-puraan. "Dan kau kira aku tidak memiliki rasa takut yang sama?" Shanum berdiri tegak, lalu merapikan ujung abaya hitam panjang yang ia kenakan dengan gerakan tenang namun penuh wibawa. Shanum tahu persis siapa sosok bernama Ghazi Rayyan Alfarizzi itu. Seorang konglomerat muda yang sangat sukses, berpengaruh luas, namun dikenal bertangan besi dan kejam tanpa ampun. Hal yang lebih membuat Shanum merasa resah dan gelisah adalah fakta bahwa Ghazi dikenal sebagai pria yang tidak memedulikan nilai-nilai agama dan norma kebaikan. Menikah dengan pria seperti itu, bagi Shanum, sama saja dengan melompat masuk ke dalam sumur gelap yang tidak memiliki dasar, tempat di mana cahaya dan kebaikan tidak akan pernah bisa menjangkaunya. "Shanum..." suara ibunya, Sri Wulandari, terdengar parau dan memelas. "Hanya kau yang memiliki keteguhan hati dan kekuatan untuk bisa menghadapi pria sekeras dan seberbahaya itu. Kau teguh pada pendirianmu, kau memiliki prinsip hidup yang kuat, dan kau pandai menjaga diri. Tolong... Selamatkan masa depan keluarga kita. Perusahaan Ayah akan segera disita oleh pihak berwenang besok pagi jika akad nikah ini batal dilakukan." Tepat saat Shanum hendak melontarkan kata-kata penolakan yang tegas dan keras, pintu besar ruang tamu itu tiba-tiba terbuka lebar tanpa ada yang mengetuk atau mempersilakan. Seorang pria berdiri tegak di sana, mengenakan setelan jas gelap yang dipadukan dengan kemeja hitam yang sangat rapi dan mahal. Aura yang ia pancarkan begitu mendominasi dan kuat, membuat ruangan yang luas dan mewah itu seketika terasa sempit, pengap, dan menekan. Tidak ada keraguan sedikit pun. Sosok yang berdiri di sana adalah Ghazi Rayyan Alfarizzi. Sepasang mata elangnya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan dengan pandangan yang mengintimidasi, sebelum akhirnya berhenti dan tertuju tepat pada sosok Shanum. Ia tampak sedikit tertegun dan terkejut, seolah tidak menyangka bahwa calon pengantin pengganti yang dipilih untuknya adalah seorang wanita yang menutup rapat seluruh tubuh dan wajahnya, hingga hanya menyisakan sepasang mata bening yang kini menatapnya tajam, seolah mampu menembus dan membaca isi hati gelapnya. Ghazi melangkah masuk dengan santai dan tanpa permisi. Suara hentakan sepatu kulitnya yang berat beradu dengan lantai marmer yang dingin, menciptakan irama langkah yang terdengar mengancam dan membuat nyali siapa saja yang mendengarnya ciut seketika. "Aku datang ke sini bukan untuk mendengarkan sandiwara penolakan yang menyedihkan ini," suara Ghazi terdengar rendah, berat, dan penuh penekanan yang membuat suasana semakin mencekam. Ia berhenti berdiri tepat di hadapan Shanum, membuat jarak di antara mereka menjadi sangat dekat. Meski tubuh dan wajah Shanum tertutup rapat oleh kain, ia bisa merasakan betapa tajam dan menyelidiknya tatapan mata pria itu, seolah ingin merobek cadar yang ia kenakan demi melihat wajah di baliknya. Ghazi merundukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Shanum, lalu berbisik dengan nada suara yang sangat dingin, datar, dan berbahaya. "Kau pikir kain cadar yang kau pakai itu mampu melindungimu dari kewajiban dan takdir yang menantimu ini? Pilihannya sangat sederhana, Nona. Kau duduk tenang di sampingku saat akad nikah dilaksanakan besok pagi, atau kau berdiri diam dan saksikan ayahmu sendiri diseret oleh petugas ke penjara karena kasus penggelapan dana dan penipuan bisnis yang baru saja berhasil kutemukan buktinya." Shanum tersentak hebat di tempatnya berdiri. Matanya yang indah membelalak lebar karena keterkejutan. Ancaman yang dilontarkan pria itu bukan sekadar gertakan kosong, melainkan sebuah kenyataan pahit yang siap menelan mereka kapan saja. Pria di hadapannya ini bukan sekadar sosok yang dingin dan angkuh, dia adalah seekor predator yang cerdas, kejam, dan sudah menghitung setiap langkah serta kelemahan mangsannya dengan sangat teliti. Dengan napas yang mulai terasa sesak dan berat, Shanum mengepalkan kedua tangannya erat di balik lipatan kain abaya yang ia kenakan. Ia menoleh sejenak menatap ayahnya, yang hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan wajah merah padam karena rasa malu yang luar biasa. Sikap itu menjadi pengakuan bisu atas kesalahan dan dosa finansial yang telah dilakukan ayahnya selama ini. Perlahan namun pasti, Shanum kembali menatap lurus ke manik mata Ghazi yang kelam. Tatapannya kini tidak lagi hanya berisi kemarahan atau keterkejutan, melainkan sebuah keteguhan hati yang kuat dan teguh, yang secara tak sadar membuat Ghazi sedikit terkesima dan menahan napasnya sejenak. "Keluar dari rumah saya sekarang," desis Shanum rendah namun tegas, menahan emosi yang meluap-luap di dalam dadanya. Ghazi menyeringai tipis, sebuah lengkungan senyum yang sama sekali tidak ramah, namun justru terlihat semakin mengerikan dan menantang. "Itu belum terdengar seperti sebuah jawaban yang menyenangkan buatku. Jadi, apa keputusanmu?" Shanum memejamkan matanya rapat-rapat sejenak, menyebut nama Tuhannya di dalam hati dan memohon kekuatan serta ketenangan yang rasanya hampir runtuh sepenuhnya saat ini. Ia tahu, menolak pria ini sama saja dengan menghancurkan masa depan keluarganya sendiri. "Keluar sekarang dari rumah ini... Dan saya akan hadir di Masjid Jami' Al-Hidayah besok pagi sesuai waktu yang ditentukan," jawab Shanum dengan suara yang stabil dan tenang, meski hatinya bergetar hebat. "Saya bersedia menjadi istrimu, tapi jangan pernah berharap sedikit pun bahwa saya akan menjadi wanita yang patuh, tunduk, dan melayani keangkuhanmu layaknya pelayan rendahan." Anehnya, Ghazi tidak terlihat marah atau tersinggung mendengar ucapan penantang itu. Ia justru menaikkan sebelah alisnya, menatap Shanum dengan sorot mata yang terlihat tertarik dan penasaran, seolah baru saja menemukan sesuatu yang langka dan berharga yang selama ini ia cari. Di balik sikap santun dan penampilan tertutup wanita ini, tersimpan jiwa yang kuat dan berani, layaknya seekor singa betina yang tersembunyi di balik penampakan yang lembut. "Besok pagi, tepat pukul delapan. Jangan terlambat sedetik pun, atau pengacaraku akan langsung bergerak menuju kantor polisi dan menyelesaikan urusan ini dengan cara yang jauh lebih buruk," ucap Ghazi dingin dan penuh ancaman, sebelum akhirnya ia berbalik badan dan melangkah pergi dengan penuh keangkuhan, meninggalkan keluarga itu dalam kebisuan yang berat dan menyesakkan d**a. Shanum jatuh terduduk di lantai yang dingin. Di balik cadarnya, ia menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga hingga terasa perih, berusaha menahan isak tangis agar tidak meledak di hadapan mereka. Besok, hidupnya akan berubah selamanya. Ia akan melangkahkan kaki ke rumah Allah, tempat yang seharusnya menjadi saksi atas janji suci dan kebahagiaan, namun baginya itu hanyalah awal dari neraka dunia yang ia jalani demi menyelamatkan nyawa dan masa depan orang-orang yang justru telah mengkhianatinya. Syifa, yang sejak tadi bersimpuh di lantai dengan wajah pucat dan tangis buatan, tiba-tiba bangkit berdiri segera setelah sosok Ghazi menghilang di balik pintu. Wajah ketakutannya lenyap seketika, digantikan oleh rona cerah dan lega, seolah beban seberat gunung yang menghimpit bahunya baru saja diangkat paksa oleh tangan takdir. Ia bergegas mendekati Shanum yang masih terkulai lemas, lalu mencoba merangkul dan memeluk lengan kakaknya dengan senyum lebar yang terlihat sangat tulus namun justru menjijikkan di mata Shanum. "Kak Shanum... Terima kasih! Terima kasih banyak, Kak! Aku tidak tahu harus berbuat apa kalau bukan karena Kakak," ucap Syifa dengan nada suara yang kembali ceria dan riang, sangat kontras dengan hati Shanum yang sedang hancur berkeping-keping. "Aku memang tahu kalau Kakak itu yang terbaik di antara kami semua. Kakak sangat kuat, tegar, dan berani, tidak sepertiku yang lemah dan penakut. Aku yakin Kakak pasti bisa menghadapi pria sedingin dan sekejam Ghazi Alfarizzi itu dengan baik." Shanum tersentak hebat. Rasa perih, sakit, dan kekecewaan yang mendalam menjalar memenuhi rongga dadanya melihat betapa cepatnya adiknya itu berubah sikap dan melupakan rasa takutnya. Dengan kasar Shanum menarik lengannya dari genggaman Syifa, menolak sentuhan itu seolah-olah adiknya membawa wabah penyakit yang mematikan. Shanum menegakkan tubuhnya, lalu menoleh menatap Syifa dengan pandangan yang begitu tajam, dingin, dan mengerikan hingga membuat langkah Syifa terhenti dan ia mundur selangkah dengan ragu. "Jangan terlalu cepat merasa senang dan aman, Syifa," desis Shanum rendah di balik kain cadarnya. Suaranya bergetar, namun mengandung ancaman yang sangat nyata dan menakutkan. Senyum lebar di wajah Syifa perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi bingung dan sedikit takut. "Maksud Kakak apa? Bukankah sekarang semuanya sudah aman dan beres?" Shanum melangkah maju perlahan, memojokkan tubuh mungil adiknya ke dinding ruang tamu yang dingin. "Dengar baik-baik. Pengorbanan yang aku lakukan ini tidak berarti aku memaafkan atau merelakan semuanya begitu saja. Jangan kau pikir aku menjual masa depanku dan menyerahkan hidupku secara cuma-cuma hanya demi kenyamanan dan kebebasanmu yang egois ini. Aku melakukan ini karena kesalahan besar yang kau buat dan karena dosa yang Ayah perbuat dengan ceroboh." Shanum melirik sekilas ke arah ayahnya yang masih terpaku di kursi dengan wajah tertunduk dalam rasa malu, sebelum kembali menatap lurus ke manik mata Syifa yang mulai berkaca-kaca. "Mulai detik ini, kau berutang nyawa dan hidupmu padaku, Syifa. Jangan pernah berharap aku akan memaafkanmu dengan mudah, dan jangan pernah berpikir kau bisa tidur nyenyak serta hidup tenang di atas penderitaan dan air mataku," lanjut Shanum dengan suara bergetar hebat, menahan tangis yang enggan ia tumpahkan di hadapan mereka. "Nikmati kebebasan dan kemudahan yang kau dapatkan saat ini sepuasnya. Tapi ingatlah, suatu hari nanti, akulah yang akan datang menagih semuanya kembali, dan aku akan memastikan kau merasakan betapa sesak, betapa sakit, dan betapa hancurnya perasaan menjadi aku saat ini." Syifa terdiam seribu bahasa, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa takut melihat kilatan kemarahan yang membara di mata kakaknya yang biasanya teduh dan lembut. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa Shanum yang ia kenal dan ia perlakukan seenaknya selama ini telah mati sejak detik ia menyanggupi pernikahan mengerikan itu. Tanpa menambahkan sepatah kata pun lagi, Shanum membalikkan badan dan melangkah pergi dengan langkah yang masih sedikit goyah menuju kamarnya. Ia harus bersiap. Bukan bersiap untuk sebuah pesta pernikahan impian yang penuh bunga dan kebahagiaan, melainkan bersiap untuk sebuah peperangan panjang yang akan dimulai besok pagi tepat saat ia mengucapkan ijab kabul di depan penghulu. Pintu kamar tertutup rapat di belakangnya dengan bunyi debuman pelan, namun getaran yang ditimbulkannya terasa hingga ke dalam tulang dan d**a Shanum. Begitu kunci pintu diputar dan ia tahu dirinya sudah aman sendirian, pertahanan kuat yang ia bangun di depan Ghazi dan keluarganya runtuh seketika tanpa sisa. Shanum melempar dirinya ke atas permukaan tempat tidur. Tubuhnya yang terbalut abaya hitam panjang itu tampak begitu rapuh dan kecil di atas kain sprei putih yang bersih. Ia membenamkan wajahnya ke dalam bantal, dan seketika tangisnya pecah. Tangis yang tertahan sejak tadi, tangis yang menyakitkan, dan tangis yang penuh keputusasaan akhirnya meledak memenuhi ruangan sunyi itu. "Kenapa harus aku lagi...?" bisiknya parau di sela-sela isak tangis yang teredam kain cadar yang masih melekat erat menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Kenangan-kenangan pahit yang tersimpan di sudut ingatannya mulai berputar kembali di dalam kepalanya layaknya kaset rusak yang tak henti memutar adegan yang sama, menyakitkan, dan tak adil: - Saat ia masih kecil, ia harus merelakan mainan kesayangannya yang sangat ia cintai hanya karena Syifa menangis dan mengamuk menginginkannya. ​ - Saat ia menginjak usia remaja dan bersekolah, ia harus mengalah dan membatalkan rencana melanjutkan kuliah di luar kota demi menabung biaya sekolah Syifa yang mahal dan mewah. ​ - Dan kini, di usianya yang seharusnya bersiap membangun masa depan cerah, ia harus menyerahkan harga dirinya, kebebasannya, dan seluruh hidupnya untuk menanggung dosa dan kesalahan yang sama sekali tidak ia perbuat. Ia merasa seolah-olah peran yang diciptakan untuknya di dalam keluarga ini memang hanya sebatas "pemadam kebakaran". Ia hanya dicari, dipanggil, dan diingat hanya saat api masalah sudah melahap segalanya dan mereka butuh seseorang untuk dikorbankan demi keselamatan yang lain. Mereka berpura-pura mencintainya hanya saat mereka sedang membutuhkannya. Namun saat keadaan berjalan baik dan aman, ia hanyalah bayangan samar yang tersembunyi di balik punggung Syifa yang selalu dipuji, diagungkan, dan dimanja layaknya permata berharga. Dengan tangan gemetar, Shanum meraba kain cadarnya yang kini sudah basah kuyup terkena air matanya. Besok, di dalam masjid itu, ia tidak akan berdiri di sana sebagai wanita yang akan dipersunting oleh pria yang mencintainya dengan tulus, yang melindunginya, dan yang menghargainya. Ia justru akan menyerahkan dirinya pada seorang pria yang baru saja mengancam akan menghancurkan dan memenjarakan keluarganya dengan tangan dinginnya sendiri. "Ya Allah... Jika memang ini garis takdir yang telah Engkau tuliskan untukku, berikanlah aku kekuatan yang cukup agar aku tidak hancur dan tenggelam dalam keadaan yang menyakitkan ini," rintihnya pelan, memohon pertolongan hanya kepada Sang Pemilik Segala Takdir. Perlahan namun pasti, tangisnya berhenti dan mereda, menyisakan ruang kosong yang terasa hampa dan dingin di sudut hatinya. Shanum bangkit dari tempat tidur, lalu duduk di tepi kasur sambil menatap ke luar jendela yang menampilkan pemandangan langit malam yang gelap gulita tanpa secercah cahaya bintang pun. Matanya yang sembab dan bengkak kini perlahan mulai menampakkan sinar yang berbeda. Sinar itu bukan lagi sinar kesedihan atau keputusasaan, melainkan sebuah sinar tekad yang dingin, keras, dan tak tergoyahkan. Jika keluarga ini menganggapnya sebagai tumbal yang mudah dikorbankan demi keuntungan mereka, maka ia akan memastikan bahwa pengorbanan ini adalah yang terakhir kalinya. Ia akan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah besar milik Ghazi Rayyan Alfarizzi bukan sebagai tawanan yang lemah dan patuh, melainkan sebagai wanita yang akan menjaga, mempertahankan, dan menegakkan harga dirinya serta prinsip hidupnya sampai napas terakhirnya terhembus.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
704.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
944.5K
bc

A Warrior's Second Chance

read
338.8K
bc

Not just, the Beta

read
337.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook