Chapter 08

1140 Kata
Xander termenung memikirkan perkataan Lucas sewaktu di panti asuhan tempo hari. Jika ia menuruti permintaan Lucas agar tidak menggusur panti asuhan itu maka ia bisa saja kehilangan peluang usaha yang besar tetapi jika ia tetap pada pendiriannya maka Lucas bisa saja membenci dirinya, ia tak mau Lucas kembali menjauh darinya sudah cukup 7 tahun ia kehilangan Aquena dan juga anaknya dan sekarang ia tak mau lagi. Saat ini ia sudah ada depan sekolah Lucas, banyak pasang mata melihat dirinya heran. Tak ayal dia adalah pengusaha terkenal hingga semua orang mungkin mengenali nya. Banyak yang terheran pasalnya mereka tahu jika Xander duda tanpa anak karena istrinya terdahulu kabur meninggalkan dirinya dan dalam pernikahan mereka belum dikarunia seorang anak itu yang mereka tahu dari desas-desus yang beredar di luaran sana, tetapi kedatangan Xander ke pertemuan dengan wali murid yang lainnya membuat mereka bertanya-tanya untuk siapa ia hadir?  Xander tak memperdulikan tatapan penuh tanya orang sekitarnya, ia memilih untuk duduk di kursi yang paling belakang. Waktu berjalan dengan sangat lambat, Xander merasa bosan akan suasana didalam ruangan itu. Tak memperdulikan kepala sekolah yang sedang berbicara didepan Xander memilih untuk membuka ponselnya melihat email yang masuk. "Papa!" seru Lucas saat melihat Xander keluar dari ruang pertemuan Xander menyunggingkan senyumnya tatkala mendengar seruan Lucas, Xander merentangkan tangannya meraih tubuh Lucas dibawanya kedalam pelukan hangatnya. "Halo sayang, mau pulang sama Papa atau nunggu Mama jemput?" tanya Xander pada Lucas  "Sama Papa, Mama hari ini enggak bisa jemput pelanggan di cafe sedang ramai," ujar Lucas  "Mau langsung pulang atau pergi bermain?" tanya Xander  "Lucas pengen ke taman bermain, boleh Papa?" Lucas bertanya dengan sorot mata yang ugh Xander tak dapat menolaknya. "Baiklah, hari ini Papa bakalan ajak kamu main sepuasnya di taman bermain,"  "Yeay, thank you Papa," ujar Lucas ceria  "Let's go,"  Xander menggendong tubuh Lucas di punggung nya, tanpa menghiraukan tatapan bertanya orang-orang sekitarnya. Xander menaruh lucas pada kursi belakang, Xander juga mendudukkan tubuhnya disamping Lucas. "Kosongkan semua jadwal, hari ini saya tidak ingin diganggu," ujar Xander pada sekretarisnya dari balik telepon  "Tapi pak.."  "Tidak ada tapi-tapian atau kamu mau saya pecat?" tanya Xander dingin "Tidak pak, baik saya akan kosongkan jadwal bapak hari ini," Mobil sedan yang membawa Lucas dan Xander melaju membelah jalanan yang lumayan padat siang ini. Lucas tak henti-hentinya tersenyum senang "Hei, kamu terlihat senang sekali, ada apa?" tanya Xander pada Lucas "Hehehe, Lucas seneng banget Pa bisa pergi ke taman bermain, selama ini Lucas belum pernah kesana," sahut Lucas  "Apa Mama mu selama ini tidak pernah mengajak bermain ke taman bermain?" tanya Xander  "Tidak pernah, Mama sibuk untuk mengurus cafe. Kalaupun ada waktu senggang Lucas memilih untuk membiarkan Mama beristirahat saja dirumah," sahut Lucas "Hmm begitu ya, oke karena ini pertama kalinya Lucas kesana, Lucas boleh bermain semua permainan yang ada hingga Lucas puas, mau?" tanya Xander "Mau Pa, Lucas mau banget," sahut Lucas semangat  Mobil yang membawa keduanya kini sampai pada parkiran taman bermain, Xander segera turun dengan Lucas di gendongannya.  "Papa, Lucas mau jalan aja enggak mau digendong kayak gini," ujar Lucas meminta untuk diturunkan  Xander dengan segera menurunkan tubuh Lucas, Xander segera meraih pergelangan tangan Lucas agar bocah itu tidak berlarian yang bisa membuatnya kewalahan mencari Lucas  diantara ramainya pengunjung. "Lucas mau main yang mana dulu?" tanya Xander  "Mau naik bianglala boleh?" tanya Lucas  "Boleh, ayo kita ikut antre dibelakang,"  Xander menuntun Lucas untuk ikut antre dengan pengunjung lainnya agar mendapatkan tiket masuk kedalam bianglala.  Hari sudah beranjak sore, sudah banyak wahana yang mereka naiki kini mereka sedang ada di tempat makan karena Lucas mengeluh lapar sedaritadi. ~`~ Aquena cemas karena Lucas belum juga ada ke cafe, padahal tadi ia sudah berpesan agar pulang sekolah nanti ikut dengan Lala dan Mamanya, tetapi sudah sore begini Lucas belum juga datang. "Halo Mbak, beneran Lucas enggak ada sama Mbak?" tanya Aquena  "Iya Aquena , Lucas enggak sama Mbak, tadi saat Mbak mau ngajak Lucas pulang bareng ia bilang bakal pulang sama Papa nya," ujar Friska -Mama Lala "Pulang bareng Papa?" tanya Aquena meyakinkan "Iya Papa, Lucas bilang begitu. Makanya Mbak iya-iya aja," sahut Friska dari seberang  "Mbak tau siapa pria yang Lucas sebut ayah itu?" tanya Aquena  "Mbak enggak terlalu jelas liatnya, soalnya tadi pria itu membelakangi Mbak, tapi kalo dilihat-lihat dari samping wajahnya agak mirip Lucas gitu," beritahu Friska  "Hmm, baik Mbak kalo gitu aku tutup yaa," ujar Aquena lalu mematikan sambungan teleponnya  Aquena termenung memikirkan siapa yang membawa Lucas, tidak mungkin Xander kan? Ia masih tidak percaya jika Xander dapat menemukan dirinya apalagi mengenali Lucas secepat itu. Tok tok tok Suara ketukan pintu yang keras membuat lamunan Aquena terpecah, dengan segera dia membuka pintu dan mendapati Rara didepan ruangannya  "Ada apa?" tanya Aquena  "Itu Mbak, Lucas ada dibawah sama pria yang Rara enggak tahu siapa," ujar Rara memberitahu Aquena Aquena segera turun meninggalkan Rara yang masih berdirir di depan ruangannya. Aquena menemukan Lucas sedang duduk sendirian tak ada pria yang seperti Rara sebutkan tadi. "Lucas, kamu darimana saja nak? Mama khawatir tahu daritadi nungguin kamu enggak dateng-dateng," ujar Aquena memeluk Lucas dengan rasa khawatir  "Sorry Ma, tadi Lucas pergi sama Papa," sahut Lucas  "Papa? Mama udah bilangkan Papa udah bahagia sama keluarganya gimana kamu bisa ketemu Papa lagipula kamu belum pernah ketemu sama Papa sebelumnya," ujar Aquena  "Bukan Papa yang itu tapi Papa yang lain. Papa yang menyayangi Lucas bukan Papa yang meninggalkan kita, Lucas tadi diajak jalan-jalan sama Papa ke taman bermain, Lucas main sampe puas dan Papa yang bayarin, ini juga semuanya papa yang belikan,"  "Okey, jadi dimana Papa sekarang?" tanya Aquena  "Hmm, udah pergi tadi Papa buru-buru terima telepon jadi enggak sempet ketemu Mama deh," sahut Lucas  "Its okey, lain kali mungkin Papa ketemu sama Mama," ujar Aquena ia penasaran dengan sosok lelaki yang Lucas sebut Papa itu. "Ya udah sekarang Lucas ganti baju dulu sana, Mama mau siapan makan untuk kamu,"  "Enggak usah Ma, tadi Lucas udah makan sama Papa,"  Aquena menyunggingkan senyumnya, dia menuntun Lucas menuju ruangannya, duduk diatas sofa sedangkan Lucas merapikan mainan yang dibelikan oleh pria yang Lucas sebut sebagai Papa nya itu. Aquena memikirkan siapa pria yang Lucas sebut dengan Papa itu.  "Lucas!" panggil Aquena menghentikan pergerakan Lucas yang hendak menyusun kembali mainannya. "Ada apa Ma?" tanya Lucas "Lain kali kalo pergi dengan pria yang Lucas panggil Papa itu, beritahu Mama ya biar Mama tahu siapa pria itu. Mama khawatir jika pria itu adalah orang jahat!" ujar Aquena menampilkan raut khawatirnya menatap Lucas. "Mama enggak usah khawatir, Lucas yakin jika pria yang Lucas panggil Papa itu sangat baik. Buktinya dia membelikan Lucas mainan sebanyak ini dan menemani Lucas bermain siang tadi!" sahut Lucas mencoba menenangkan Aquena yang dilanda rasa khawatir  "Baiklah jika kamu bilang seperti itu, Mama hanya khawatir saja. Karena banyak modus penculikan anak saat ini," ujar Aquena "Don't worry Ma." Lucas memeluk tubuh Aquena dengan erat, dia melupakan untuk membereskan mainannya lagi karena sibuk bermanja ria dengan Aquena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN