7

1742 Kata
Nashville, Indiana adalah tempat yang Mary pilih untuk menjadi tujuannya pergi. Tidak ada alasan khusus selain bahwa Negara bagian ini cukup jauh dari Seattle. Ia tersenyum muram saat pertama kali menginjakkan kaki di komunitas kuno itu. Mungkin itu juga yang Sue pikirkan saat kabur dari Zac dulu. Mencari tempat yang jauh dari asal mereka dan tidak familier. Kenapa ini terasa seperti cerita yang berulang? Sue pergi dari pria yang dicintainya sementara dirinya pergi dari pria yang akan selalu menyiksanya. Lalu siapa yang akan menemukannya nanti? Apakah Gideon akan menyusuri semua negara bagian untuk mencarinya? Bagaimana jika ternyata Gideon memang sepintar itu dan sengaja mencari ke tempat-tempat yang tidak akan pernah ia tuju sebelumnya? Mary yakin jika daerah ini bukanlah tempat yang akan Gideon tuju karena jelas pusat bisnis besar tidak berkembang di sini. Brown County adalah sebuah komunitas kuno  di selatan Negara bagian. Tempat ini adalah surga bagi para pecinta seni karena tempat ini penuh dengan studio-studio unik tempat para seniman menjual dan memamerkan karya mereka. Bukan tempat manusia modern dan haus uang seperti Gideon. Selain itu, untuk sampai di tempat ini, ia juga harus melalui jalan-jalan yang berbukit dan berkelok-kelok. Hal itu tidak lepas dari sejarah terjadinya kota ini yang memang berasal dari perbukitan, hutan dan lembah. Dulu, jumlah serigala di tempat ini bahkan begitu banyak. Jadi ia berharap, Gideon akan mencoret tempat ini dari daftar kunjungannya. Sejujurnya, Mary senang hidup di sini. Populasi kota kecil ini sangat sedikit dan jumlah anak mudanya jauh lebih sedikit lagi dari warga usia tua. Berinteraksi dengan para orang lanjut usia jauh lebih membuatnya bahagia. Itu membuatnya bisa menjalani hidupnya dengan tenang selama beberapa bulan ini. Ia menyewa rumah mungil dengan biaya murah dari uang yang Viona berikan padanya. Walaupun kecil, tetapi itu terasa nyaman dan jelas membuatnya aman karena Mary memiliki tempat untuk berlindung sekarang. Dan sejujurnya, Mary berharap ia bisa menunjukkan pada Viona dan John. Bahwa dirinya sudah melanjutkan hidup. Viona. Jujur, Mary begitu merindukan wanita itu dan juga John. Namun, seperti yang Viona katakan padanya dulu, ia tidak boleh menghubungi mereka. Tidak ada kabar berarti kabar baik. Itu adalah hal yang selalu Mary ingat dan ia benar-benar berharap Viona dan John tidak mendapatkan masalah karena dirinya. Gideon pasti akan mencari siapa orang yang membantunya untuk kabur. Juga mencari bukti cara Mary melarikan diri yang berarti mungkin seluruh rumah akan ditelusuri pria itu. Mary hanya berharap, pencarian itu akan memakan waktu yang lama. Sangat lama. Sampai ia mendapatkan banyak uang untuk kabur lebih jauh lagi. Sekarang ini, Mary mendapat pekerjaan di sebuah galeri seni dan memulai hidup barunya sebagai Valerie Dahl. Sampai saat ini, setiap malam, Mary selalu berdoa agar Valerie tenang dan bahagia dalam tidur abadinya. Dan juga meminta maaf karena ia harus menjadi wanita itu. Namun Mary tidak memiliki pilihan lain selain menjadi Valerie sekarang. Ia butuh identitas baru agar bisa tetap menjalani hidupnya dengan normal. Mary mendesah saat hujan turun lagi dengan deras. Hujan turun terlalu sering di sini pada bulan Januari hingga Mei. Sekarang bulan Mei, waktu di mana intensitas hujan terjadi paling tinggi dan sering, jadi ia berharap matahari akan lebih sering muncul bulan depan nanti. Namun, menurut penduduk lokal, hari berhujan masih jauh lebih baik daripada musim kemarau karena kekeringan di daerah ini  cenderung parah dan sangat panas. “Valerie, kau ingin menumpang? Aku akan pulang sekarang sebelum hujan semakin deras.” Mary tergagap mendengar suara itu memotong lamunannya. Ia menoleh dan tersenyum pada Lucas, pria tua pemilik galeri seni tempatnya bekerja. “Aku membawa payung. Aku akan pulang sebentar lagi, kau duluan saja.” Galeri sudah tutup sejak setengah jam yang lalu. Tempat ini tidak terlalu ramai. Setiap harinya hanya ada kurang dari tiga puluh orang yang berkunjung untuk melihat foto-foto yang dipamerkan maupun melakukan transaksi jual beli langsung dengan Lucas maupun Luca, sang kurator sekaligus anak kandung Lucas. Luca sudah pergi sejak satu jam yang lalu. Menemui fotografer yang ingin melakukan pameran di sini dan kemungkinan tidak akan kembali lagi ke galeri. Lucas mengangguk dan menyambar jaketnya dari gantungan. “Jangan lupa cek semua pintu dan jendela sebelum kau pulang,” pesan Lucas sebelum pria itu melambai dan keluar dari galeri. Lucas adalah pria yang baik. Pria paruh baya itu tidak menanyakan latar belakangnya dengan terlalu mendetail saat Mary melamar pekerjaan di tempat ini. Lucas percaya padanya dan memberi Mary kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu bekerja di tempat ini. Mary menatap hujan yang turun semakin deras. Airnya menampar jendela dan daun pintu yang terbuat dari kaca dengan keras. Suara petir menggelegar di kejauhan membuat suasana semakin muram. Menjadi Valerie jauh sedikit lebih mudah untuk dijalani. Terutama karena ia merubah drastis penampilannya. Rok-rok lebar yang panjang seperti gadis gipsi, sweater-sweater kuno, kacamata berbingkai besar, dan juga rambut kusut warna pirang pudarnya yang selalu diikat ekor kuda adalah gaya sehari-harinya sekarang. Tidak ada lagi Mary Swan yang trendi dan bergaya. Yang ada hanyalah Valerie Dahl yang kuno dan tidak menarik perhatian. Ia mendesah sekali lagi seraya membereskan kertas-kertas laporan administrasinya. Pekerjaannya di sini tidak jauh berbeda dengan pekerjaan di studio tari dulu. Bedanya, dulu ia mendata manusia, sekarang ia mendata benda-benda seni. Bagaimana keadaan Sue dan Zoe sekarang? Apa mereka merindukannya seperti ia merindukan mereka berdua? Lalu Myra, apakah kakaknya itu tahu jika ia kabur dari rumah Gideon? Jika iya, apakah Myra mencoba mencari ke mana ia pergi? Dan apakah Mom benar baik-baik saja seperti yang dulu Viona katakan padanya? Sudah hampir tiga bulan berlalu dan tidak sekalipun Mary mendengar atau memberi kabar pada mereka. Ia tidak punya ponsel. Ia masih belum memberanikan diri memiliki ponsel dan mendaftarkan nama Valerie. Mary tahu itu melanggar hukum jadi sebisa mungkin ia hidup dengan apa adanya. Tanpa ponsel dan juga rekening bank. Dan sejujurnya, itu menyenangkan. Hidup tanpa teknologi canggih nyatanya membuatnya santai. Hanya ada satu hal yang tidak pernah Mary lewatkan, yaitu menonton televisi atau membaca koran yang selalu datang ke galeri. Mencari berita tentang hilangnya dirinya yang, beruntungnya, tidak pernah ada. Apa tidak ada orang lain yang menyadari jika ia telah menghilang? Mungkin Gideon menutupinya dengan sangat baik seperti selama ini. Membalas semua pesan yang masuk ke ponselnya dan menolak semua panggilan telepon atau video dengan alasan sibuk. Ya, itu yang paling mungkin terjadi sehingga orang lain mengira dirinya baik-baik saja. Gideon pasti akan berusaha menutupi kepergiannya. Yah, semua orang melanjutkan hidupnya. Begitu juga dirinya. Hanya karena kepergian satu orang, bukan berarti hidupmu akan berakhir. Terlebih, ia memang sudah menjauh dari teman-temannya setelah sah menjadi b***k Gideon. Jadi adalah hal yang wajar jika tidak ada satu pun yang kehilangannya. “Dia tidak akan berani menyentuhnya seujung kuku pun. Aku jamin itu. Yang aku takutkan, dia justru akan mencarimu.” Kata-kata John itu selalu ada di benak Mary selama tiga bulan terakhir ini. Karena itulah ia tidak pernah melewatkan tayangan berita. Jika Gideon mencarinya, ia bisa segera bersiap-siap kabur ke tempat yang lebih jauh lagi. Mary melepas kacamatanya yang berat itu. Sebenarnya, ia tidak suka memakai kacamata. Matanya jelas-jelas normal tanpa gangguan. Namun, benda itu mampu melindungi jiwanya. Atau setidaknya, itu yang ia percayai. Mata adalah jendela jiwa, karena itulah ia tidak ingin orang memperhatikan matanya. Mary tidak ingin orang-orang tahu bahwa dirinya menyimpan banyak kebohongan dalam hidup baru yang ia jalani ini. Selain itu, dengan kacamata, penampilan Mary akan semakin terlihat kuno. Jadi, orang-orang tidak akan menoleh dua kali padanya atau memperhatikannya. Gadis yang tidak cantik dan tidak berpakaian seksi tidak akan bisa menarik perhatian. Hujan yang tidak juga mereda, membuat Mary cemberut sementara ia mengunci laci-lacinya. Payungnya tidak akan berguna di hujan sederas itu. Lagipula, ia memandang sepatu barunya, Mary tidak ingin sepatunya basah. Sepatu itu adalah satu dari sedikit ‘benda mewah’ yang Mary miliki sekarang. Ia baru membelinya dua hari lalu di toko barang bekas diskon yang berjarak beberapa blok dari galerinya. Di awal kepindahannya kemari, Mary harus menghemat uang yang Viona berikan padanya. Tiket perjalanan dan juga biaya sewa rumah hampir menguras semua uang yang dimilikinya itu. Karena itulah, Mary membeli barang-barang bekas yang murah untuk mengisi rumahnya. Juga baju-baju yang dipakainya sekarang. Pakaian yang Viona berikan masih terlalu trendi untuknya. Mary masih menyimpannya dan berharap bisa mengenakan pakaian-pakaian itu suatu saat nanti. Entah kapan. Mary bangkit dari duduknya untuk memeriksa dan mengunci semua pintu juga jendela. Ia bersenandung pelan demi menghibur dirinya sendiri. Sebenarnya, ia agak takut berada di sini terutama ketika hari hampir gelap seperti ini. Foto-foto dan lukisan yang disimpan tidak semuanya menyenangkan untuk dilihat. Dirinya bukan orang yang terlalu mengenal seni fotografi, jadi kadang agak aneh baginya melihat beberapa foto yang mungkin menurut orang yang paham akan seni terlihat luar biasa. Hanya karena ia sangat butuh pekerjaanlah akhirnya Mary melamar bekerja di sini. Lagipula, saat itu, hanya tempat ini yang membuka lowongan pekerjaan. Mary baru saja mengecek ruang kantor Lucas saat melihat sosok itu berdiri di belakang foto Sungai Mississippi. Bagaimana orang itu bisa masuk? Bukankah sudah jelas tanda ‘tutup’ telah terpasang di pintu? Ia memang belum mengunci pintu setelah Lucas keluar tadi, tetapi orang yang bisa membaca seharusnya tidak masuk sembarangan. Tubuh Mary sedikit gemetar saat berjalan pelan mendekati pria itu. Itu bukan Gideon. Pria itu masih kalah besar dari Gideon walaupun bukan berarti tubuh itu kecil. Gideon hanya terlalu besar. Dalam hati, Mary berdoa semoga pria ini bukan orang jahat. “Maaf, Sir, kami sudah tutup,” kata Mary dengan suara yang dibuat untuk terdengar tegas. Ia tidak boleh terlihat takut di hadapan orang asing ini. Menghadapi orang asing, terutama pria, selalu membuat Mary merasa gemetar. Trauma dan ketakutannya masih belum hilang. Rasanya ia tidak bisa tidak berpikiran buruk tentang orang asing yang ia temui. Dulu, saat baru pindah kemari, Mary hanya berani keluar rumah saat hari sudah gelap atau masih pagi-pagi sekali. Ia akan ke toko bahan pangan secepat mungkin dan kembali ke rumahnya. Sekarang ini, hal itu sudah sedikit berkurang. Akan tetapi, masih belum hilang terutama saat ada orang asing di suasana yang sangat sepi begini. Biasanya, aka nada Lucas dan Luca di sini sehingga ia merasa aman. Berbagai pertanyaan selalu muncul di benaknya setiap kali berhadapan dengan orang yang tidak dikenalnya. Apakah orang ini suruhan Gideon? Apakah orang ini kemari untuk memata-matainya? Apakah orang ini orang baik? Dan berbagai pertanyaan lain yang Mary tahu tidak seharusnya ia pikirkan karena jelas tidak semua orang itu jahat seperti Gideon. Pria tinggi itu masih tidak bergerak dari posisinya semula. Setengah berdeham, Mary membuka mulut dan bicara lebih keras. Pria itu seolah tersentak dari lamunannya lalu menoleh pada Mary. Mary terkesiap. Sialan! Pria itu Ben!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN