Ayo Mandi Bersama...

1283 Kata
Malam itu hujan turun disertai suara gemuruh yang membuat Tiffany terjaga. Ia tak bisa tidur tenang, baru saja dia duduk lampu tiba-tiba mati. "Dimas!" teriak Tiffany. Bruk! "Ada apa?" tanya Dimas. Tiffany langsung memeluk suaminya tersebut. Tubuhnya bergetar ketakutan. "Aku benci gelap," ujarnya sambil terisak. "Sudah tenanglah, aku di sini," jawab Dimas sambil mengusap punggung Tiffany. "Sekarang, tidurlah sudah tengah malam," ujar Dimas. "Tapi, aku takut," jawab Tiffany semakin mengeratkan pelukannya. "Aku akan tetap di sini," jawab Dimas meyakinkan. "Tapi, kita tidur bareng ya?" tanya Tiffany. "Iya, eh apa?" "Ayo sini," ujar Tiffany sembari menarik tangan Dimas. Di balik gelapnya kamar, Dimas menelan ludah apalagi saat Tiffany semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Dimas. Dapat ia rasakan tubuh Tiffany yang terbuka terlebih lagi dad@nya menempel ke p******a Tiffany. Menyiksa sudah pasti. Biar bagaimanapun Dimas hanyalah manusia biasa yang memiliki hawa nafsu yang normal. Keduanya pun sama-sama memejamkan mata di gelapnya kamar. Tenggelam dalam mimpi indah yang menenangkan. Masih dalam pelukan yang hangat. Bunyi alarm yang berasal dari ponsel Dimas berhasil membangunkan Tiffany. Wanita itu mengerjapkan kedua matanya. Memaksa untuk menormalkan pandangannya yang mengabur. Setelah mematikan alarm itu, Tiffany melirik Dimas yang masih terlelap dengan tangan kanan terlentang yang dijadikan bantal oleh Tiffany. Ntah sejak kapan lampu menyala. Yang pasti tangan Dimas sudah merasa pegal yang luar biasa sekarang. "Tampan," gumam Tiffany menelisik wajah Dimas dengan telunjuknya. Kenapa aku baru menyadarinya. Tiffany membatin. Sekali lagi, suara alarm berbunyi. Barulah Dimas mengerjapkan mata terbangun dari tidurnya. Di hadapannya tampak Tiffany yang sudah menyambutnya dengan senyuman. Salah tingkah langsung mendera hatinya. "Aku mau wudhu dan shalat dulu," ucapnya sembari bangkit dari tempat tidur. Tiffany tertawa melihat tingkah lucu Dimas saat malu. Wanita itu kembali membaringkan tubuh sembari memainkan ponselnya. Dua puluh menit kemudian, Tiffany keluar menuju toilet karena kebelet. Setelah dari sana, Tiffany kembali ke kamar. Akan tetapi, ia tidak jadi baring lagi karena melihat ponsel Dimas yang masih tertinggal di kamarnya. Tiffany kembali keluar dari kamar berjalan ke kamar Dimas. Ketika hendak masuk, langkahnya terhenti. Mendengar alunan ayat yang Dimas lantunkan. Wanita itu terkesima akan kelembutan suara Dimas. Dimas telah selesai, Tiffany membuka pintu kamarnya. Lagi, Dimas terlonjak kaget. Pakaian Tiffany yang terbuka yang bagaikan bencana baginya. "Ini HP kamu ketinggalan di kamarku," ujar Tiffany seraya memberikan ponsel Dimas. Dimas mengangguk, "terima kasih," ucapnya lembut. Tiffany tersenyum, "tadi suara kamu bagus banget lho," pujinya dengan tulus. "Hah?" Tiffany menggaruk punggungnya, "oh ya, kapan-kapan ajak aku mengaji juga ya," pinta Tiffany. Dimas membelalakkan mata, tak percaya. Perlahan ia pun mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba suara gemuruh dari perut Tiffany keluar dengan cepat wanita itu memegang perutnya. "Hehehe...sepertinya aku lapar," ujarnya sambil tersenyum malu. Dimas segera bangkit, meletakkan peci serta Al qur'an ke atas nakas. "Tunggu sebentar aku masak dulu," jawabnya sembari beranjak ke dapur. Tiffany tersenyum senang, ia lalu mengikuti Dimas ke dapur. Tiffany memangku wajah dengan kedua tangannya memperhatikan Dimas yang sibuk dengan masakannya. Ia tampak terkesima dengan pergerakan Dimas yang tampak serius membuatkannya makanan yang sudah pasti enak untuknya. Tiffany bangkit dari duduknya mendekati Dimas yang sedang mengaduk masakannya. "Masak apa?" tanyanya dengan suara lembut. "Sup ikan," jawab Dimas. "Oh aromanya nikmat sekali, pasti rasanya sangat enak," puji Tiffany. Dimas tidak menjawab, lagi-lagi bibirnya kelu akan penampilan terbuka Tiffany. Dua gundukan milik Tiffany benar-benar membuatnya tersiksa. Hasrat yang tak ia inginkan itu muncul. Menganggap cobaan ini sangat berat baginya. "Kamu tunggu saja di sana sebentar lagi akan selesai," ucap Dimas sambil menunjuk ke arah meja makan. Bukannya menjawab, Tiffany malah menyentuh tangan Dimas yang sedang mengaduk makanan tersebut. Lelaki itu semakin terkejut ia hampir saja terperanjak. "Aku ingin mencobanya," ucap Tiffany dengan suara manjanya. "Baiklah, aku buatkan teh hangat dulu," jawab Dimas seraya beralih ke dispenser. Tiffany tersenyum, ia memiliki niat untuk menggoda seberapa tahannya Dimas mempertahankan nafsu manusiawinya tersebut. Tak disangka, Dimas masih bisa menahannya. Tiffany semakin bersemangat untuk menjaili suaminya tersebut. Kini, mereka sudah duduk di atas kursi. Di atas meja telah tersaji hasil masakan mereka. Tiffany langsung menyuapkan makanan tersebut ke mulutnya. Lain halnya dengan Dimas yang memilih berdoa terlebih dahulu. Tiffany berhenti mengunyah menatap Dimas yang telah selesai berdoa. "Kenapa tidak mendoakan makananku juga?" protesnya. Kedua mata Dimas membulat, ia bingung harus menjawab apa. "Aku pikir kamu sudah berdoa dalam hati," jawabnya. "Aku tidak tahu doa makan," ujar Tiffany. "Hah? Bagaimana bisa doa seringkas itu kamu tidak tahu?" Dimas menatap tak percaya. Tiffany malah membahu, ia juga tidak mengerti mengapa ia lemah dalam beragama. "Apa kamu bisa shalat?" tanya Dimas dengan tatapan serius. Sejenak, Tiffany terdiam lalu menggeleng. Dimas langsung mengelus dadanya. "Astagfirullah, apa di sekolahmu dulu tidak ada pelajaran agama?" "Ada." "Tapi, bagaimana bisa kamu lulus?" "Karena aku kaya," jawab Tiffany dengan mulut yang sudah penuh makanan. Dimas terbungkam, hal yang dikatakan Tiffany katakan memang sudah lumrah terjadi. Tetapi, bagaimana bisa Aji membiarkan putri semata wayangnya itu buta akan agama? Dimas merasa tak percaya pada sikap ayah mertuanya itu. "Eh, makannya yang fokus dong." Dimas dikejutkan dengan Tiffany yang mengelap bibirnya dengan tisu. Tak sadar lelaki itu memakan banyak sambal hingga menempel di bibirnya. "Apa kamu tetap tidak mau belajar agama?" tanya Dimas dengan pandangan sendu. "Aku mau, apa kamu bersedia mengajariku?" tanya Tiffany dengan ketulusan penuh. Dimas tersenyum, "iya, tentu saja aku mau," ucapnya memandang haru pada Tiffany. Tiffany membalas senyuman itu, "terima kasih," ucapnya. Mereka kembali mengunyah makanan tersebut. Hampir setengah jam mereka berada di sana. Akhirnya sarapan pagi telah terlewati. Dimas segera beranjak hendak mencuci piring. "Tunggu, biar aku saja," ujar Tiffany seraya beranjak menuju westafel dengan piring yang sudah kosong hanya menyisakan minyak bekas makanan mereka. Dimas tersenyum bangga pada perubahan Tiffany. Lelaki itu bangkit hendak beranjak. Brak!!! Langkahnya terhenti langsung menoleh pada Tiffany yang tak sengaja menjatuhkan salah satu piring. Segera Tiffany menyentuh pecahan tersebut. "Jangan." Dimas menahan tangan Tiffany. "Ka-kamu duduk saja biarkan aku yang melakukan semuanya," ujar Dimas. Tiffany mengangguk lalu kembali mencuci piring tersebut. Akan tetapi, lagi-lagi tangan Dimas menahannya. "Kamu istirahat saja, ya," ucap Dimas dengan selembut mungkin. Tiffany mengerutkan dahinya. Dimas memberi kode agar keluar dari dapur. Dengan kesal, Tiffany beranjak dari sana. Kakinya dihentakkan dengan kuat ke lantai untuk menunjukkan kemarahannya. Dimas menghela lalu membersihkan pecahan kaca tersebut. Kemudian ia menyelesaikan cucian piring yang ditinggalkan Tiffany. Di ruang tengah, tampak Tiffany yang sibuk mengecat jemari kakinya. Sekilas ia menatap Dimas yang baru keluar dari dapur. Segera wajahnya berubah kecut begitu melihat suaminya tersebut. "Mau teh?" tanya Dimas seraya menyodorkan segelas teh ke hadapannya. Tiffany tak bergeming, ia mengabaikan Dimas yang duduk di depannya. "Maafkan aku," ucap Dimas seraya mengulurkan tangannya. Tiffany menatap Dimas. Tampak wajah itu memohon agar segera dimaafkan. Tiffany membalas uluran tangan itu. "Hari ini, aku mau ke rumah Papa," ujar Tiffany. "Aku ikut," jawab Dimas. Tiffany berhenti dengan aktifitasnya, "bukannya kamu mau bantu mantan terindahmu itu untuk beres-beres," sindirnya. Dimas mengerutkan dahinya, "itu bukan urusanku, kamu istriku aku harus ikut denganmu," jawab Dimas. "Istri? Oh, aku lupa status itu, hahaha...." "Apa kamu masih berhubungan dengan Miko?" tanya Dimas pelan. "Jangan sebut nama si berengsek itu di hadapanku," jawab Tiffany kesal. Dimas terdiam, sesaat kemudian senyumannya mengembang. "Sudah, ah aku mau mandi dulu. Hari sudah mulai panas," ujar Tiffany. Dimas mengangguk. "Apa kamu berniat mau mandi lagi?" tanya Tiffany. "Hah?" "Kalau iya, ayo kita mandi bersama," goda Tiffany. "Apa?" Dimas membelalakkan mata, tak percaya dengan yang ia dengar barusan. Tiffany tersenyum nakal, lalu menghilang di balik tirai pintu kamarnya. Dimas mengibas-ngibaskan tangannya merasa gerah dengan rayuan Tiffany tersebut. Terima kasih sudah membaca. Maaf, updatenya lama...akhir-akhir ini saya merasa mual dan pusing yang luar biasa. Dan minggu kemarin saya baru mengetahui bahwa saya sedang hamil. Jadi, harap maklum teman-teman semua. Jangan lupa like, komen dan tap love nya ya. Segala komenan maupun hujatan kalian sangat berarti untuk saya. Salam semuanya....???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN