Tentang Mantan

1376 Kata
Tiffany memakai dress tak berlengan. Rambutnya sengaja ia gerai menambah keanggunanya. Hari ini ia sengaja berdandan cantik dan tentu saja untuk memikat hati Dimas, sang suami yang membuatnya perlahan luluh. Tak lupa, ia membawa serta sling bag hitam merk Doer untuk menambah penampilannya. Kemudian, ia pun keluar. "Dimas," panggil Tiffany. Dimas menoleh sesaat ia langsung terpukau akan penampilan Tiffany. "Kenapa? Aku cantik ya," goda Tiffany seraya mengelus pipi Dimas. Kedua pipi Dimas seketika merona, "a-aku ambil sepatu dulu," jawabnya dengan sedikit terbata. Lagi-lagi Tiffany tertawa puas berhasil menjaili Dimas. Setelah memakai sepasang heels, ia pun keluar. Tak sengaja pandangannya mengarah pada Nada yang sedang menyiram bunga. Tiffany pun mengulum senyuman licik. "Sayang, sudah selesai belum?" tanya Tiffany lembut. Keluarlah, Dimas dengan memakai kemeja lengan panjang berwarna hitam senada dengan celana jeans. "Ini, kamu pakai nggak baik pamer aurat," jawab Dimas seraya mengulurkan jaket putih miliknya. "Tapi, kalau di rumah boleh kan?" Tiffany tersenyum nakal pada Dimas. Dimas terdiam sesaat kemudian ia mengambil helm mengalihkan perkataan Tiffany. Ih, ternyata membuatnya jatuh cinta nggak segampang yang kupikirkan. Tiffany membatin. Ia lalu berjalan ke tepi jalan tepat di depan pagar rumah. Sekilas Nada memandang, lalu kembali fokus pada tanaman yang ia siram. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara yang ternyata itu adalah Dimas yang sedang mengunci pintu dan menaiki motor hendak menghampiri Tiffany. "Pagi, Dimas," sapa Nada lembut. Dimas menoleh, "ya," jawabnya. Kemudian menghidupkan mesin motornya. Dari kejauhan Tiffany memandang dua sejoli yang pernah memiliki hubungan khusus tersebut. "Ini, pakailah," ujar Dimas lembut, sembari memberikan helm pada Tiffany. Pandangan Tiffany masih pada Nada yang masih menatap Dimas. Tiffany tersenyum licik. "Pakaikan dong," jawabnya manja. Dimas mengiyakan lalu memakaikan helm tersebut ke kepala Tiffany. "Ayo naik," ujar Dimas lembut. Kali ini, Tiffany dibuat tenang dengan suara suaminya yang khas dan membuatnya candu. Setelah naik ke atas motor, segera ia mengalungkan tangannya ke pinggang Dimas dan menyenderkan kepalanya ke punggung suaminya tersebut. Selain untuk memanas-mamanasi Nada, ia memang tenang bila memeluk Dimas. Benar saja, Nada yang memang terbakar api cemburu langsung masuk ke dalam rumahnya. Tiffany tersenyum puas, lain halnya dengan Dimas yang gugup akan perlakuan istrinya itu. Perlahan motor pun melaju. 40 menit berlalu, Dimas dan Tiffany telah tiba di rumah Aji. Lagi-lagi, Dimas dibuat takjub akan kemegahan rumah tersebut. Terkadang, pria itu bingung kenapa Aji menikahkan Tiffany dengan dirinya yang hanya seorang Polisi bisa, bukan pengusaha atau pejabat yang kaya raya. Di pintu tampak, Aji yang terlihat semringah menyambut kedatangan pasangan tersebut. "Hai, Pah!" Tiffany yang masih memakai helm langsung memeluk Aji. Ya, dia memang sangat merindukannya. Kedua mata Aji terfokus pada Dimas yang berjalan ke arahnya dan Tiffany. Pandangannya begitu bangga pada menantunya itu. "Assalamu'alaikum, Pa," sapa Aji sebari mencium tangan Aji. "Waalaikumussalam, Dimas. Ayo masuk," jawab Aji sembari menepuk pelan punggung Dimas. Dimas tersenyum, lalu mereka pun masuk. "Sudah makan Dimas?" tanya Aji. "Sudah, Pah," jawab Dimas sambil tersenyum. Di dalam rumah, terlihat Tiffany yang sedang duduk di sofa sambil mengerucutkan bibirnya. "Heran deh, kenapa kalo sama Dimas Papa jauh lebih perhatian sama Dimas dibandingkan Fany. Anaknya siapa yang disayang siapa," sindir Tiffany. "Tiffany agak gemukan ya sekarang. Jangan-jangan sudah berisi ya?" tanya Aji mengalihkan pembicaraan Tiffany. Kedua pasangan itu pun tersentak dan salah tingkah. "Nggak kok, orang dari dulunya memang kayak gini," sangkal Tiffany. "Lagian kalo Fany, gemukan itu karena akhir-akhir ini Fany banyak makan. Masakan Dimas enak sih," lanjut Tiffany. Aji terkejut, "jadi selama ini yang masak Dimas bukan Fany?" tanyanya tidak percaya. "Papah ini ada-ada aja deh. Tiffany kan memang nggak bisa masak." Tiffany mulai kesal pada Aji yang terlihat mengintimidasinya. Aji menggeleng, ia kini tersadar bahwa ia terlalu memanjakan Tiffany. "Maafkan Tiffany ya, Dimas. Seharusnya dia yang melayanimu bukan sebaliknya. Atau Papa carikan pembantu untuk kalian?" Dimas menggeleng, "nggak papa Pah, saya ikhlas namanya istri saya sudah tanggung jawab saya juga membuatnya nyaman. Tiffany tak berkedip memandang Dimas. Perasaannya sudah tak diragukan lagi. Dia benar-benar sudah jatuh cinta sekarang. "Fany, lelah Pah. Mau istirahat dulu ya," ujar Tiffany sembari meninggalkan ayah dan suaminya tersebut. Aji semakin menggeleng melihat anaknya kurang menghargai Dimas. "Apa sehari-harinya dia begitu Dimas?" tanya Aji lirih. Dimas tersenyum canggung, Aji pun menghela. Sementara itu, di dalam kamar Tiffany langsung menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidurnya yang super besar dan luas. Rasanya begitu nyaman dibandingkan kasur yang ada di rumah Dimas. "Capek banget," gumamnya sembari meregangkan otot-ototnya selama perjalanan tadi. Tok! Tok! Tok! "Maaf, apa aku boleh masuk?" tanya Dimas dari balik pintu. Tiffany tersenyum, "ya masuklah," jawabnya masih dengan posisi berbaring. Dimas masuk, ketika matanya menoleh Tiffany segera dialihkannya ke tempat lain. Tiffany semakin gemas dan ingin menjailinya lagi. "Maaf, Papah menyuruh saya untuk istirahat di kamar kamu," ujar Dimas. "Sinilah, bobo di sini," jawab Tiffany sembari menepuk sisa tempat tidur di sampingnya. Dimas terdiam, bibirnya seketika kelu. Tiffany berdiri, lalu membuka jaket yang ia kenakan. Tentu saja, itu rencananya untuk menggoda Dimas. "Maaf apa ada kamar lain?" Di luar dugaan Tiffany, Dimas justru terlihat secara terang-terangan menolaknya. Sontak Tiffany kesal. Entah sampai kapan lagi ia menunggu Dimas jatuh cinta padanya. Padahal dari segi manusia dia tidak memiliki kekurangan. Tetapi, mengapa Dimas tak tertarik padanya? "Ada tuh kamar bibik," jawab Tiffany kesal. Dimas terdiam, pandangannya pun menelisik pada kamar Tiffany yang luas dan mewah. Jauh lebih besar dari kamar yang ia berikan pada Tiffany membuat lelaki itu semakin merasa minder pada istrinya itu. "Kenapa sih? Bukannya masuk malah bengong," ujar Tiffany yang kini berada sejengkal dari Dimas. "Oh, iya maaf aku cuma memperhatikan kamar kamu bagus ya dibandingkan kamar yang-" Telunjuk Tiffany lebih dulu membungkam bibir Dimas membuat lelaki itu tak melanjutkan pembicaraannya. "Sudah, jangan banyak tingkah. Ingat, kita ini sudah suami istri. Ntar papah marah lho kalau tahu kita beda kamar. Saat ini, berpura-puralah menjadi suami yang baik," potong Tiffany. Tiffany menarik tangan Dimas, "masuklah nanti papah lihat." Dimas yang gugup ikut masuk dan memandangi kamar mewah Tiffany. Tiffany membuka pintu yang terhubung dengan balkon. Di balkon terdapan tanaman hias yang tampak subur. Dimas mengekor ketika Tiffany melangkah ke sana. "Ceritakan tentang kamu dong," ujar Tiffany setelah 5 menit terdiam. Dimas terdiam, "nggak ada yang menarik sih. Saya orangnya biasa saja jadi bingung mau cerita apa." Tiffany mendongak heran, lalu mulai memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian senyuman yang terlihat licik menyeringainya. "Ehm, tentang Nada dong. Mantan kamu yang itu tuh," jawabnya terdengar menyindir. "Ha?" Tentu saja Dimas terkejut. Bagaimana bisa Tiffany menanyakan bagian masa lalu Dimas yang itu? Sedangkan pria itu jelas sudah lama melupakannya. "Ta...pi itu- Segera telunjuk Tiffany mendarat di bibir Dimas. "Nggak ada tapi tapian. Ayo dong, please penasaran ini," mohon Tiffany dengan berlagak imutnya. Dimas menghela napas, ia benar-benar hanya bisa mengalah pada Tiffany yang notabenenya keras kepala. "Sebenarnya kami hanya teman biasa di bangku SMA. Hingga tiba perpisahan kelas, dia menanyakan di universitas mana aku akan kuliah.Singkat cerita kami bertemu di universitas itu. Dan tak lama kemudian kami pun memulai hubungan itu." "Pacaran?" Tiffany menimpali. "Iya dan-" "Ihhh, ceritamu itu terlalu singkat. Ceritakan juga dong tentang bagaimana kamu menembaknya dan selama pacaran kalian ngapain aja." Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali melihat tingkah Tiffany yang seolah mengintimidasinya. "Sebenarnya....bukan aku yang menembaknya." Perkataan Dimas membuat Tiffany terperanjat kaget. "Serius?" Tiffany memelotot tidak percaya. Dimas mengangguk pelan, merasa malu dengan tatapan Tiffany. "Dan kami berkencan hanya sekali dan waktu itu kami pergi ke bioskop untuk menonton film Habibi & Ainun. Itu keinginan dia karena kebetulan hari itu ulang tahunnya." Dimas menjelaskan apa adanya dan sepanjang Dimas bercerita ekspresi Tiffany seolah mengatainya kolot. "Oh ya, bagaimana tentang kamu dan Miko. Apakah-" "Jangan sebut nama si berengsek itu!" jawab Tiffany setengah berteriak. "Maafkan saya." Dimas mengangguk pelan. Tiffany menghela napas, "maafkan aku. Kalau aku sudah siap akan aku ceritakan." "Hemmm, i-ya kalau kamu nggak mau juga jangan dipaksa," jawab Dimas. Tiffany tersenyum, dia merasa gemas pada suaminya yang polos. "Oh ya, tapi yang aku herannya kenapa kalian bisa putus?" Dimas membelalakkan kedua matanya. Ternyata Tiffany masih membahas kisah masa lalunya. "Itu, dia sudah dijodohkan dengan orang lain," jawab Dimas. "Hah? Kamu kok nggak rebut aja dia dan kawin lari kemana gitu dan-" "Kamu sendiri kenapa tidak melakukannya?" Pertanyaan Dimas, membuat Tiffany kikuk. "Ya, aku juga tidak bisa menentang kedua orang tuanya. Nada adalah anak mereka sedangkan aku adalah orang lain yang baru hadir di kehidupannya," jelas Dimas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN