Dimas beserta anak buahnya benar-benar berpikir keras bagaimana cara menemukan Miko beserta anak buah yang lainnya. Sedangkan anak buah yang tertangkap tak satu pun dari mereka mengaku tahu bahkan mereka hampir sekarat karena terus-terusan disiksa.
"Kita sudah kehilangan jejak, padahal brosur sudah disebarkan tapi tak satupun yang melaporkan keberadaannya. Gagal total!" Suara lantang Tora memecah kesepian.
"Woi, mulut kau itu nggak bisa diam ya. Napas kau bau neraka, kau tahu nggak!" Simson tak kalah lantangnya, dengan logat bataknya ysng keras mengundang tawa para anak buah lain yang telah kelelahan.
Tora semakin memanas, "bela terus," ujarnya semakin menjadi-jadi.
"Kau!" Simson bangkit, tangannya mengepal.
"Apa!" Tora tak mau kalah.
Dimas bangkit dari duduknya yang semula tenang. Lelaki itu melenggang ke luar meninggalkan para anggotanya.
25 menit berlalu, akhirnya Dimas yang sedari tadi berargumen dengan jendral pun ke luar dari ruangan. Simson yang setia menunggu menghampiri Dimas.
"Di dalam ngobrol apa sama ketua? tanya Simson penasaran.
Dimas mendesah pasrah, "aku mundur, Son," jawabnya lalu melangkah menjauh dari Simson yang mungkin kecewa pada sikapnya.
Hari itu, Dimas pulang awal. Ia antusias membuka ponselnya berharap ada kabar dari Tiffany. Akan tetapi, harapannya pupus karena Tiffany tak mengirim pesan apapun untuknya.
***
Sementara itu, Tiffany yang tengah disandera Miko hanya bisa diam. Kedua tangannya diikat di sisi kursi, begitu juga kedua kakinya. Keringat tiada hentinya mengucur.
"Bos, dia ini kita apakan?" tanya seorang anak buah Miko.
"Mulus, lumayan untuk menemani di ranjang," sahut seorang lagi.
"Jangan melakukan apapun padanya," ujar Miko.
Tiffany lega mendengar tutur kata Miko yang paling tidak masih melindunginya dari para anak buahnya yang m***m.
"Kenapa, Bos?" tanya seseorang bernada protes.
"Kalian boleh melakukannya ketika Aji Sudrajat mengirim uangnya!" Miko mengayun-ayunkan ponselnya. Senyumannya terlihat licik dan menyeramkan.
Tubuh Tiffany bergetar, keringat menderu semakin hebat mengucur di tubuhnya. Takut, ya saat ini tubuhnya merespon ketakutan yang luar biasa.
Napasnya tidak beraturan, kepalanya mendadak pusing luar biasa.
Tiba-tiba, sejumlah memori muncul di kepalanya. Memori yang tidak ia ketahui sebelumnya. Memori yang ia merasa tidak pernah menjalaninya.
"Aji membesarkanmu dengan baik ya!" Miko berada tepat dihadapan Tiffany, membuyarkan semua bayangan-bayangan tadi.
Tiffany menatap tajam ketika Miko dengan tidak sopannya menyebut nama sang papa.
"Ini kedua kalinya kita bertemu ya. Waktu itu, kau masih kecil dan kejadiannya sama dengan sekarang. Tak disangka remaja kita bertemu lagi. Dan dengan gampangnya aku mendapatkanmu. Hahaha...." Miko terkekeh dan itu sangat menyeramkan bagi Tiffany. Akan tetapi, apa maksud Miko yang mengatakan Sama Dengan Sekarang?
***
"Assalamualaikum." Ini ketiga kalinya, Dimas mengucap salam disertai mengetuk pintu.
Nihil, tak ada jawaban dari dalam. Dimas mengambil kunci cadangan, dan benar saja pintu langsung terbuka karena tidak dikunci dari dalam.
Dimas berdiri tepat di depan kamar Tiffany, segera disentuhnya gagang pintu bermaksud akan membukanya. Akan tetapi, ia tidak ingin gegabah mengingat dirinya sering mendapati Tiffany berpakaian yang membuatnya merinding disko.
"Fan... Fanny," panggil Dimas seraya mengetuk pintu. Lagi-lagi tak ada jawaban.
Dimas pun membukanya, khawatir kalau kalau terjadi sesuatu pada istrinya itu.
Tetapi, di dalam kamar sosok Tiffany tidak ditemukan. "Fanny.... " Dimas berjalan ke sana kemari mencari Tiffany.
Drrrrrrrrrrrtttt..... Drrrrrrrrttt...Drrrrrrrttt
Nomor yang tidak dikenal, menghubungi Dimas.
"Halo!"
"Ini Dimas, ya... ini gue Alena. Teman Tiffany." Suara Alena terdengar panik.
"Ya, kenapa Len?"
"Tiffany dalam bahaya! Tadinya kita janjian mau ketemuan sama Miko. Tapi, sial sinyal Tiffany hilang, kita nggak bisa melacaknya. Tolong! Please...."
Kedua mata Dimas membulat, seolah tidak percaya dengan hal barusan yang ia dengar.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 1 malam, Tiffany dengan pandangan kosong menatap dinding seolah pasrah dengan kenyataan hidup yang menimpanya kini.
Jauh di hadapannya, tampak Miko yang sedang mengasah pisau belatinya. Pisau yang ia tujukan pada dua orang targetnya, Aji dan Dimas. Ayah dan suami Tiffany.
"Gue tau arti pandangan Lo ke gue." Tersenyum sinis, pada Tiffany.
"Tenang, gue nggak akan membunuh Loe karena itu sama saja gue g****k. Gue akan tetap menjadi pacar Loe bahkan bisa menjadi suami Loe. Loe cantik, mubazir kalo gue lepas begitu saja," ujar Miko lalu membuka pakaiannya yang ternyata ada 3 lapis pakaian membalut tubuhnya.
Dengan, suara serak Tiffany bertanya, "kenapa kau melakukannya? Kenapa mendekatiku?"
Miko terkekeh, "sumpah sejauh ini Loe gak tahu apa-apa?"
Tiffany menggeleng lemah.
Miko membuang pakaiannya ke sembarang tempat. "Loe lihat ini, ini dan ini kan! Ini bekas cakaran mami gue. Iya! Mami gue frustasi dan melampiaskannya ke gue. Loe tahu nggak karena apa! Hah! Semua karena si Aji bokap Loe yang berengsek itu!"
Tubuh Tiffany bergetar hebat, kenapa sang papa dibawa-bawa?
"Mami yang bokap gue cintai itu suka sama Aji. Tapi, apa? Hah! Si Aji malah mengabaikan perasaannya membuat mami frustasi bahkan setelah menikah dengan bokap gue dia tetap frustasi. Dan bahkan ada gue! Loe tahu nggak apa yang dia bilang ke gue." Keringat membasahi tubuh Miko yang dipenuhi dengan luka yang sudah mengering.
"Anak b*****t, setan seharusnya gue nggak melahirkan anak kayak loe seharusnya anak Aji yang hadir di rahim gue bukan Loe! Hahaha...." Miko terlihat seperti orang kerasukan. Tiffany memasang wajah kasihan, ia tidak percaya masa lalu Miko sangat menyedihkan.
"Sudahlah, sekarang gue sudah bisa bernapas lega karena Aji akan merasakan semuanya! Penderitaan yang bokap gue alami semuanya!"
Salah satu anak buah Miko masuk, ia lalu membisikkan sesutu pada Miko.
"Berengsek! Beraninya dia mempermainkan kita. Berapa orang yang tertangkap?" Wajah Miko merah padam, tangannya mengepal kuat kemarahannya menjadi-jadi.
"Ti-tiga orang Bos," jawab sang anak buah.
"Sialan!"
Kini Tiffany yang tertawa, "kau pikir papaku sebodoh itu? Menggantikan nyawaku dengan uang? Tidak, kemana pun kau pergi, dia akan mengejarmu! Bahkan nyawamu pun tidak berharga," ujar Tiffany menatap sinis.
Miko memberi kode agar anak buahnya itu keluar meninggalkan mereka. Setelah pria itu pergi, Miko mendekati Tiffany. Wanita itu bergerak ketakutan pada tatapan Miko.
"Kalau begitu, gue akan menghancurkan hidup Loe sama seperti hidup Laura, sepupu Loe!"
"Bukan hanya itu gue akan menyuruh anak buah gue ikut mencicipi Loe!" Menarik kuat rambut Tiffany.
Tiffany mulai gontai, panik berusaha sekuat tenaga melepaskan tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya.
"Tidak! Jangan, menjauh dariku, tidak aku mohon! Tidak! Jangan sentuh aku!" Air mata Tiffany mengucur deras, ia terus bermohon agar Miko melepaskannya.
Tetapi, Miko yang tidak berperasaan itu semakin gencar pada Tiffany. Tangannya mulai membuka kancing pakaian Tiffany satu persatu.
Sementara itu, Tiffany berusaha melawan sekuat tenaga.
"Bodohnya gue dulu, kenapa menyia-nyiakan tubuh Loe. Gue baru ingat, Loe kan sok suci bilang nggak mau menambah dosa. Cuih! Alasan yang memuakkan berbeda dengan Laura yang dengan suka rela mengangkangkan kaki di hadapan gue!"
"Kau tidak malu dan sangat menjijikkan jauhkan tangan kotormu dariku. Tolong...!" teriak Tiffany.
Geram dengan suara Tiffany, Miko menyumpalnya dengan gulungan kertas yang ada di atas nakas.
"Teriaklah sampai suara Loe habis karena gue akan menggantikannya dengan kenikmatan yang belum Loe rasakan sebelumnya, hahaha.... " Bisikan Miko membuat Tiffany semakin ketakutan.
Tiffany mulai memberontak, itu malah membuat Miko tertawa jahat. Lelaki itu semakin bersemangat.
"Tenagamu lumayan juga ya," ujar Miko, memperhatikan Tiffany yang bergerak ketakutan.
Papa.... tolong Fanny Pa! Fanny takut. Dimas, maafkan aku!