DIMAS VS MIKO

1358 Kata
Tangisan Tiffany sudah membasahi tangan Miko yang menggunting pakaiannya dengan ganasnya hingga yang tersisa hanya tanktop hitam yang membalut tubuh Tiffany. "Apa suami Loe sudah menyentuh ini?" Miko menyentuh lengan mulus Tiffany. "Hahaha... belum kan sudah gue tebak Loe nggak akan menyerahkan tubuh Loe pada Dimas yang kampungan itu kan? Justru karena itu, gue akan mencobanya terlebih dulu karena ini tercipta buat gue." Miko mulai membuka resleting celananya, "Tapi, sebelum itu biarkan mulut Loe yang seksi itu bekerja." Tidak, siapapun itu tolong...tolong aku! Dimas, Dimas, Dimas..... Brak! Pintu terbuka, sosok Dimas dengan dua anak buah di tangan dan kirinya. Segera ia campakkan dua lelaki itu tepat di depan Miko yang hanya bertelanjang d**a serta celananya yang menggantung di betisnya. Kedua mata Dimas mengarah pada Tiffany yang sangat memprihatinkan. Bekas tamparan di pipi kanan dan kiri dan pakaiannya yang sudah digunting-gunting oleh Miko. "Berani Loe mendekat, gue bunuh dia!" teriak Miko. Dimas berdiri, sementara itu, Tiffany terus memberontak ketakutan ketika belati yang baru diasah Miko berada tepat di depan lehernya. "Hahaha... polisi cemen masa demi ini cewek Loe rela gua suruh-suruh. Padahal kemarin ganas amat Loe lumpuhin anak buah gua," gertak Miko. Mata Dimas terfokus pada tubuh Tiffany yang bergetar, napasnya yang tersenggal-senggal jelas terdengar. "Lepaskan dia!" tegas Dimas. Miko tertawa semakin menjadi-jadi, diliriknya Tiffany yang sudah tak berdaya. Lalu, mengambil pisau lainnya dari saku celananya. "Bisa gua lepas, tapi ada syarat!" "Katakan apa syaratnya?" Miko melempar pisau tersebut, "tusuk betis Loe." Tiffany menggelengkan kepalanya, agar Dimas tidak melakukan itu. Dimas memungut pisau tersebut, "lalu apa kau akan melepaskannya?" Menatap Tiffany yang berusaha melarangnya. "Ya, cepat atau gue bunuh dia!" Tiffany semakin memberontak hingga membuat kursi yang ia duduki oleng dan hampir terjatuh. "Cepat gua bilang!" Ancaman Miko semakin menjadi-jadi, dia bahkan menarik rambut panjang Tiffany, membuat wanita itu meringis. "Lepaskan kertas yang ada di mulutnya, biarkan aku mendengar suaranya," ujar Dimas. "Banyak maunya Lu," jawab Miko lalu membuka sumpalan kertas tersebut. "Nggak, jangan lakukan itu! Jangan, aku mohon!" teriak Tiffany. Sebenarnya Dimas ingin mendengar perkataan Tiffany untuk tidak menusuk betisnya. Akan tetapi, nyawa istri yang sangat ia cintai itu sangat terancam. "Sekarang!" teriak Miko. Syat! Dimas menusuk betisnya, seketika membuat darah segar keluar dari sana. "Jangan, lepaskan dia Miko. Tolong! Jangan lakukan apapun padanya. Tolong!" Tiffany semakin memberontak. Napasnya serak tak lagi berdaya. "Berisik!" Plak! Satu tamparan lagi mendarat di pipi Tiffany. Kali ini, wanita itu tumbang dan hampir tak sadarkan diri. Melihat itu, Dimas yang tadinya menahan sakit bangkit. Ia pun berlari menghampiri Miko. Bogem tanpa henti dilayangkan Dimas ke wajah, perut dan jantung Miko. Miko yang melemah, mengacungkan pisau namun berhasil ditendang Dimas hingga melayang jauh dari Miko. Lelaki itu ketakutan melihat raut wajah Dimas yang semula teduh menjadi bringas. "Aku benci orang yang tidak menepati janji. Tangan yang mana kau gunakan menampar istriku!" Dimas tanpa henti menghujani wajah Miko dengan tamparan demi tamparan. "Katakan tangan yang mana kau gunakan!" "Ki-kiri," jawab Miko melemah. Krak! "Aaaaaaaaakkkkkkkkhhhhhhhh..............!" Drap! Drap! Drap! Langkah kaki pun terdengar, para polisi berdatangan. Ada Aji serta Alena dan Greta juga di sana. Mereka segera melepaskan tali kur yang melilit tubuhnya dengan kursi "Fanny," panggil Aji panik. Tiffany tersenyum, tapi pandangannya lemah, "Papa," jawabnya hampir tak terdengar. "Sudah, biarkan dia hidup dulu." Seorang polisi menghalangi Dimas yang masih membogem Miko dengan brutal. "Iya, Mas nanti kau kena masalah," ujar Simson yang menarik Dimas menjauh dari Miko yang sudah babak belur. Dimas dengan kakinya yang terluka akibat pisau mendekati Tiffany yang digotong Alena dan Greta. "Biarkan saya yang membawanya," ucapnya sembari menyentuh tangan Tiffany. "Tapi kan Loe- Aji menyentuh lengan Alena, memberi kode agar melepaskan Tiffany dibawa Dimas. Dimas menggendong Tiffany, darah dari betisnya yang terluka berceceran di mana-mana. Akan tetapi, Dimas dengan gagahnya masih bisa menggendong istrinya yang sudah tak sadarkan diri. *** Tiffany tidur dengan tenang, hingga seseorang membuka gorden yaitu seorang perawat yang ditugaskan menjaga Tiffany. Dahi Tiffany mengerut ketika sinar mentari menusuk ke wajahnya. Samar-samar ia buka matanya. Dipandanginya langit-langit yang berwarna putih polos berbeda dengan rumah Dimas. "Akh." Satu kata yang keluar dari bibir Tiffany membuat kedua sahabatnya Alena Greta yang sedari tadi malam menginap di sana. "Loe udah sadar? Panggil Dokter, Gret, " ujar Alena. Greta mengangguk dan berlari keluar. "Jangan bergerak dulu, tubuh Loe masih lemah," ujar Alena sembari menyentuh dahi Tiffany. Tiffany memutar mata, "aku nggak demam Alena." Segera, Alena menjauhkan tangannya. "Hahaha... efek panik," jawabnya sembari terkekeh. Seorang Dokter pun masuk dan ada Alena di belakangnya. Ia lalu memeriksa Tiffany. "Gimana Dokter?" tanya Alena dan Greta bersamaan. Dokter tersenyum, "sudah mendingan, karena kemarin Tiffany mengalami dehidrasi yang lumayan cukup parah. Perbanyak makan buah dan minum air putih kalau bisa jauhi makan berlemak dulu dan porsi sayur-sayuran dibanyakin ya," jelas Dokter membuat Alena dan Greta tersenyum licik berbeda dengan Tiffany yang merenggut, karena ia sangat benci yang namanya sayuran. "Kalau begitu saya permisi dulu." Sang Dokter ke luar. Tiffany membuka selimutnya, "aku kira kemarin adalah hari terakhirku di dunia." "Ya, bakal kayak gitu sih kalo Dimas ga bantuin kamu," sahut Greta. Tiffany sontak berdiri, barulah ia teringat akan Dimas. "Dia di kamar berapa?" tanyanya mulai cemas. "110A," jawab Alena dan Greta bersamaan. Tiffany berlari cepat diikuti Alena dan greta. "Cepat banget wei larinya!" teriak Greta. *** Dimas duduk di tepian ranjang, ia dilarang tegas untuk tidak bergerak banyak termasuk berjalan. Akan tetapi, rasa cemas sekaligus rindunya lebih besar. Tiba-tiba, seseorang membuka pintu, dialah Tiffany sambil membawa selang infus. "Tiffany." Tiffany memeluk Dimas, lelaki itu seketika menjadi salah tingkah. "Gila, kenapa mau aja disuruh di berengsek itu," ujar Tiffany, masih di dalam pelukan Dimas. Dimas tak menjawab, ia hanya was-was jika Tiffany mendengar derap jantungnya yang berdisko ria. Tiffany menjauhkan dirinya, "ehm, apa itu masih sakit?" Dimas memandang ke segala arah sebisa mungkin tidak melihat Tiffany yang bisa saja membuat jantungnya meledak. "Kenapa kamu melakukannya?" tanya Tiffany masih penasaran. Dimas memandang Tiffany, rasanya ia ingin mengungkapkan perasaannya. Akan tetapi, ia takut Tiffany gusar. "Kenapa nggak jawab sih?" tanya Tiffany lagi. "Lalu, kamu kenapa menemui Miko diam-diam?" Dimas tak mau kalah menodongkan pertanyaan yang tak akan bisa dijawab Tiffany dengan jujur. "Papa." Jawaban singkat Tiffany membuat Dimas bingung. Tiffany mendesah kesal, "ya iyalah kan papa suruh kita bulan madu. Sedangkan misimu belum selesai jadi harus ditunda-tunda mulu. Jadi, mau nggak mau aku harus turun tangan. Aku nggak mau papa kecewa." Dimas memijat pelipisnya, "tapi, itu bahaya, Tiffany," jawabnya pasrah. "Iya sih, tapi kan nggak terlalu bahaya." Kedua matanya menatap pada betis Dimas yang diperban. "Aku kan sudah melarangnya, kamu saja yang ngeyel." Keduanya hening, ketika seorang Dokter memeriksa Dimas. Di balik, pintu ternyata Aji sedang mendengar percakapan putrinya dan menantunya. Senyumnya mengembang. "Akhirnya putriku mulai membuka hati, " gumamnya. "Gimana Dokter?" tanya Tiffany. Dokter tersenyum, pertanda memberi kabar baik. "Untungnya tusukannya nggak terlalu dalam. Kami juga sudah mengoleskan selep pereda nyeri, ketika kering nanti perban akan dibuka dan baru boleh terkena air." "Maksud Dokter saat ini Dimas belum boleh mandi?" tanya Tiffany memastikan. Dokter mengangguk, "baiklah kalau begitu saya permisi dulu." Setelah, Dokter berlalu pergi Tiffany mendekati Dimas yang masih berbaring di tempat tidur. Ada yang sangat ia tanyakan pada Dimas. Akan tetapi, bibirnya kelu dan berakhir diam. "Maaf." Satu kata yang keluar dari mulut Dimas, membuat Tiffany tercengang, seolah bertanya. Dimas menelan salivanya, ketika melihat bibir Tiffany yang mengerucut. "Maaf, untuk apa?" tanya Tiffany yang masih keheranan dengan satu kata yang dilontarkan Dimas. Sejenak Dimas terdiam, "maaf karena aku terlambat," jawabnya lirih. "Terlambat apanya?" tanya Tiffany tak mengerti. "Seandainya saja, aku bisa lebih cepat menemukan lokasi itu...Mungkin, pakaianmu masih utuh." Dimas menunduk tampak menyesal. Senyuman Tiffany mengurat, imutnya... "Dan seandainya saja, aku lebih cepat menangkap Miko, kamu pasti nggak akan terlibat. Sebenarnya, aku sudah menyerah, dan yang menangani kasus Miko adalah Banpol lain." Kedua mata Tiffany seketika memelotot. "Kenapa?" "Karena ingin menuruti keinginan Papa. Maksudku, bulan madu," jawab Dimas sambil menatap lama ke arah Tiffany. Kedua pasang mata saling memandang satu sama lain. Tak sadar, Dimas mengelus pipi kiri Tiffany. "Permisi!" Seketika keduanya terlonjak kaget, ketika Alena dan Greta tak sengaja memergoki mereka yang sedang saling pandang. "Eh, sorry ganggu," ujar Alena sambil menarik Greta. Dimas dan Tiffany spontan berdehem dan itu menghadang gelak tawa Alena dan Greta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN