Mas…. Satu kata itu jatuh tanpa sengaja, tapi dampaknya seolah memecah udara di ruangan itu menjadi serpihan-serpihan yang tajam. Lara sendiri yang pertama kali tersadar. Napasnya tercekat, matanya membesar, dan dalam sekejap tubuhnya menegang. Ia langsung melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan Niko, mundur setengah langkah dengan wajah yang memucat drastis. “Maaf…,” ucapnya cepat, terlalu cepat hingga terdengar tidak alami. Suaranya bergetar halus. “Maksud saya … Tuan….” Tangannya yang tadi menahan Niko kini jatuh lemas di sisi tubuhnya. Ia menunduk dalam-dalam, seolah berharap lantai bisa menelan dirinya hidup-hidup. Hening. Benar-benar hening. Tak ada yang berani langsung berbicara, tapi semua mata tertuju pada dua orang itu—pada Lara yang gemetar, dan pada Niko yang masi

