“Sudah, Vana. Kamu ini ngomong apa?” timpal Mama Wina—ibu Marinka, dengan nada yang mulai kehilangan kesabaran. “Toh Lara sudah punya suami yang sedang bekerja di luar negeri. Apa yang kamu khawatirkan? Marinka benar-benar sayang sama Lara, jadi jangan selalu membuat sindiran atau masalah. Kamu bisa merusak suasana, Vana.” Vana menghela napas kasar, seolah enggan disalahkan. “Merusak suasana apa sih, Mba Wina. Aku ini cuma ngomong saja. Daripada jadi pelakor, lebih terhormat jadi pembantu kayak begini.” Ia santai memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya, seakan ucapannya tidak membawa beban apa pun. “Aku ngomong begitu juga karena ingat kasus teman aku. Suaminya diam-diam nikah sama pembantunya sendiri. Alasan klasik—katanya pembantunya lebih perhatian sama kebutuhan laki-laki itu. Pad

