Dengan satu gerakan mantap, Niko menunduk, dan mengangkat tubuh Marinka dalam gendongan ala bridal style. Perempuan itu sempat menahan napas, wajahnya memerah karena malu dan terkejut. “Hati-hati. Jangan terlalu banyak bergerak.,” bisik Niko lirih di telinganya, nada suaranya terdengar lembut namun tegas. Lara yang berdiri agak jauh hanya bisa terpaku. Ada sensasi aneh yang menjalari dadanya, seperti ada sesuatu yang menusuk halus namun tajam. Ia tahu Marinka memang tunangan Niko, dan adegan itu seharusnya terasa wajar. Tapi entah kenapa, hatinya terasa bergetar, antara getir dan tak nyaman. Begitu masuk ke ruang tamu, ibu-ibu yang ada di sana langsung heboh. “Aduh, kasihan, cepet dibaringkan dulu, Den,” ujar Mbok yang datang tiba-tiba sambil menyiapkan bantal. Marinka diturunkan pelan

