Bab 59

2467 Kata

Pagi harinya, dapur sederhana di belakang rumah itu penuh dengan aroma bawang merah goreng yang menyeruak bersama suara-suara obrolan ibu-ibu desa. Panci besar berisi sayur lodeh mengepul di tungku kayu, sementara beberapa ibu duduk di tikar sambil mengupas bawang atau memotong tempe. Suara gelak tawa bercampur lirih doa dan kenangan tentang almarhumah Bu Ratih. Lara berdiri di dekat tungku, sesekali mengipas api agar tidak padam, keringatnya menetes di pelipis. Ia menunduk, merasa sungkan karena tamunya, Marinka, ikut terlibat dalam kesibukan ini. Gadis itu terlihat canggung saat pertama kali masuk ke dapur desa yang lantainya masih tanah, tapi kemudian dengan cekatan ikut menyalin air di ember, memotong sayur, bahkan sempat membantu menimba dari sumur yang berada agak jauh di belakang r

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN