Niko akhirnya keluar dari ruang kerjanya. Langkahnya cepat dan berat, sementara wajahnya masih terlihat dingin dengan rahang yang mengeras sejak tadi. Namun begitu sampai di area depan mansion, tatapannya langsung menyapu sekeliling halaman luas itu. Marinka sudah pergi. Yang tersisa hanya Roy yang masih berdiri di dekat mobil dengan tubuh tegap seperti biasa. Namun entah kenapa, begitu melihat lelaki itu, tatapan Niko langsung berubah dingin. Sangat dingin. Tatapan yang tidak meninggi, tidak pula penuh amarah terbuka, tetapi justru terasa jauh lebih menekan karena nyaris tidak memperlihatkan emosi apa pun. Roy yang menyadari sedang ditatap seperti itu langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres. Lelaki tersebut refleks menegakkan tubuhnya lebih lurus. “Tuan, saya—” “Tidak perlu menj

