Niko perlahan benar-benar terbangun dari tidurnya. Pandangannya yang semula samar bergerak pelan menyesuaikan cahaya remang di ruang kerja itu, sampai akhirnya matanya jatuh pada sosok Marinka yang masih bersimpuh di dekat sofa tempatnya tertidur sejak semalam. Untuk beberapa detik, Niko tampak diam. Tatapannya terpaku pada perempuan di dekatnya, lalu perlahan bergerak pada bekas kapas dan obat-obatan yang masih berserakan di atas meja sofa. Namun sesaat kemudian, refleks tubuhnya bergerak mundur sedikit, menciptakan jarak tanpa sadar di antara mereka. Gerakan kecil itu sederhana, nyaris tidak terlihat, tetapi cukup untuk membuat hati Marinka kembali berdenyut nyeri seperti diremas perlahan dari dalam. Dadanya terasa sesak melihat bagaimana bahkan setelah semua yang terjadi, Niko masi

