Tatapan Niko menajam dan penuh tanda tanya. Raut wajahnya jelas menyimpan heran, keningnya berkerut tipis, rahangnya mengeras. Namun ia menahan diri, tak membiarkan satu kata pun meluncur di tengah suasana duka. Sekilas, matanya mencari Roy yang berdiri tak jauh di samping. Begitu tatapan mereka bertemu, Roy langsung membaca ada sesuatu yang mengganggu pikiran atasannya. Ia mengangkat alis sedikit, seolah bertanya lewat gestur. Niko hanya menghela napas pelan, sorot matanya dalam, lalu memberi anggukan tipis yang ambigu, antara menahan emosi dan menegaskan bahwa mereka akan bicara nanti. Roy pun membalas dengan anggukan singkat, tangannya meremas pelan map yang ia bawa. Ia tidak tahu apa-apa, tapi isyarat itu cukup baginya untuk paham bahwa bukan saatnya bertanya. Di antara isak tangis

